The Lost Love

The Lost Love
Terjebak Benang Merah




Hayat memijat keningnya pelan, lalu menghela nafas dalam. "Sudahlah, lagi pula juga sudah terlanjur. Besok saja kita periksa ke dokter." Imbuh Hayat, setelah itu melajukan mobil.


"Hayat.." Panggil Asha di tengah perjalanan. Hayat tak menjawab, hanya menoleh sekilas ke arah Asha. "Bisakah kau turunkan aku di kantor Dishub? Aku ingin mengurus mobilku yang diderek." Lanjut Asha ragu ragu.


Lagi lagi, Hayat tak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan. Tak hanya dingin, Hayat tampaknya juga irit bicara.


Setelah sampai di kantor Dishub, Hayat tak langsung pergi, ia menunggu sampai Asha selesai mengurus semua proses pengurusan.


Asha kembali menghampiri Hayat yang menunggunya di luar setelah selesai mengurus semuanya.


"Sudah selesai?" Tanya Hayat, ketika Asha sudah berdiri tepat dihadapannya.


"Emp.." Asha mengangguk.


"Aku akan kembali ke Bar, jangan lupa kirimkan kartu identitasmu pada petugas tadi." Imbuh Hayat, lalu beranjak dari sana, setelah mendapatkan anggukan dari Asha.


Asha hanya memperhatikan Hayat yang berjalan menuju mobil, dan setelahnya berlalu dari sana.


"Asha.. Kau benar benar gila!" Gumam Asha, setelahnya melangkah tampa semangat menuju mobilnya.


Masalahnya belum selesai hanya sampai disana. Masih ada Syafiq yang harus di hadapi dan juga Mia yang pasti akan sangat terkejut setelah tahu apa yang terjadi.


Dan Asha, harus mempersiapkan mentalnya untuk itu.


*


"Kemana kau bawa Asha? Tadi kekasihnya datang kesini mencarinya." Ujar Alex, menyambut kedatangan Hayatk yang kembali ke bar seorang diri.


Hayat tak menjawab, ia hanya mengembalikan kunci mobil pada Alex, lalu kembali melangkah menuju mess.


Namun kali ini Alex tak membiarkannya begitu saja. Alex mengikuti Hayat sampai mess.


"Apa yang terjadi? Mengapa Anya pulang dalam keadaan menangis?" Pertanyaan yang kembali di ajukan Alex.


"Bisa kau tinggalkan aku sendiri? Aku sedang sakit kepala sekarang!" Ujar Hayat, lalu duduk sambil mengusap kasar wajahnya.


Alex, berdiri di ambang pintu. Memperhatikan Hayat yang sepertinya benar sedang tak baik baik saja. "Baiklah.." Alex tak punya pilihan, kecuali mengikuti kemauan Hayat yang meminta Alex untuk meninggalkannya sendiri.


Hayat merasa sangat bersalah pada Anya. Sesungguhnya ia juga tidak tega menghancurkan perasaan Anya. Namun, keadaannya benar benar kacau sekarang.


Hayat memijat tengkuknya, menengadahkan wajahnya ke langit langit, setelahnya menghela nafas dalam.


*


Langkah Asha terhenti, ketika melihat Syafiq tepat di depan pintu apartemennya. Syafiq tak tau harus mencari Asha kemana lagi, yang bisa ia lakukan hanya menunggu sampai Asha kembali.


"Asha.." Syafiq langsung bergegas menghampiri Asha dan memeluk gadis itu dengan erat. "Aku sangat khawatir terjadi sesuatu padamu." Lanjut Syafiq.


Sedangkan Asha, masih terbujur kaku di tempat ia berdiri.


"Syafiq, ada yang ingin aku katakan padamu." Lirih Asha dengan suara nyaris tak terdengar.


Syafiq melepaskan pelukannya, "Apa?" Tanyanya kemudian. "Apa yang terjadi? Mengapa kau menangis?" Lanjut Syafiq kembali panik ketika air mata Asha kembali mengalir dari sudut matanya.


"Sebaiknya kita mengobrol didalam saja." Asha mengajak Syafiq untuk masuk ke dalam apartemennya.


Mereka berdua berakhir di ruang tengah. Asha duduk di samping Syafiq tanpa berani menatap matanya.


"Syafiq, aku minta maaf." Lirih Asha.


"Untuk apa sayang, kau tak salah apa apa. Mengapa justru minta maaf." Imbuh Syafiq sambil menggenggam punggung tangan Asha.


Mata Syafiq langsung tertuju ke arah tangan Asha yang di tarik dari genggamannya.


"Aku telah menikah, dengan pria lain."


"Sayang, itu sama sekali nggak lucu. Katakan, jika itu hanya lelucon." Ekspresi Syafiq langsung menegang. Dan ia sangat berharap jika yang dikatakan Asha barusan hanya lelucon.


Asha menggeleng pelan, lalu kembali menangis tersedu. "Aku sudah melakukan kesalahan besar Syafiq, sepertinya aku hamil!" Lirih Asha.


Syafiq terkekeh tak percaya. "Apa katamu? Sepertinya? Berarti kau sendiri tak yakin dengan itu, bukan. Lalu mengapa begitu berani mengambil keputusan untuk menikah dengannya? Tatap mataku Asha, dan katakan jika itu hanya kebohongan." Bentak Syafiq.


Asha perlahan mendongakkan wajahnya, dengan linangan air mata. Menatap sendu netra Syafiq yang juga sudah berkaca-kaca dan penuh amarah. "Aku minta maaf." Hanya kata itu yang dapat di ucapkan Asha.


"Siapa pria itu?" Sarkas Syafiq.


"Ini bukan salahnya, aku yang salah." Emosi Syafiq semakin memuncak ketika Asha justru membela pria itu.


"Katakan padaku siapa pria itu, Asha!" Suara Syafiq semakin meninggi.


Asha semakin menggeleng dengan cepat. "Jika kau ingin marah, marah saja padaku. Jangan libatkan dia, jangan buat keadaan ini semakin rumit." Ujar Asha, dengan suara bergetar. Sebenarnya ia sangat takut, ia tak pernah melihat Syafiq semarah itu.


"Baik," Syafiq bangkit dari duduknya. "Jika begitu, ikut denganku kerumah sakit sekarang juga." Syafiq meraih tangan Asha, lalu menariknya.


"Untuk apa?" Tanya Asha, ketika sudah bangkit dari duduknya tapi masih menahan langkahnya.


"Bukankah kau ragu, jadi kita buktikan. Kau benar hamil atau tidak!" Syafiq tak segan menyeret Asha dan membawanya keluar dari apartemen. Karena kemarahannya, ia bersikap sedikit kasar pada Asha.


"Syafiq, kau menyakitiku." Imbuh Asha, ketika Syafiq menggenggam pergelangan tangannya cukup kuat.


"Hatiku lebih sakit dari ini Asha." Ujar Syafiq sambil mengangkat tangan Asha, tapi masih enggan melepaskannya walaupun tau itu menyakitkan Asha. Ia terus berjalan, membawa Asha menuju mobilnya.


*


"Anya, ada apa denganmu?" Tanya Tante Haidar, ketika melihat putrinya pulang dalam keadaan menangis sesegukan.


Anya duduk di sofa ruang tengah, menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu menangis semakin menjadi. Membuat Tante Haidar semakin panik. "Sayang ada apa?" Tanya Tante Haidar lagi yang kini telah duduk tepat di samping Anya dan mengusap punggung Anya pelan.


"Hayat, Maa..." Lirih Anya, dalam isakan tangisnya.


"Ada apa dengan Hayat." Tante Haidar lebih penasaran lagi, ketika Anya menggantungkan kalimatnya.


"Dia mau menikah dengan gadis lain." Ujar Anya, dan spontan membuat Tante Haidar terkejut.


"A-apa?" Tante Haidar terbata, jelas saja itu kabar yang cukup mengagetkannya. Hayat, bahkan baru minggu lalu mengunjunginya.


Hubungan Anya dan Hayat telah terjalin sejak lama, berawal dari hubungan persahabatan antara Papa Anya dan Ayah Hayat membuat Anya dan Hayat sering di jodoh jodohkan. Hingga akhirnya, ketika dewasa keduanya, Anya dan Hayat memutuskan untuk benar benar menjalin hubungan asmara.


Satu tahun yang lalu, Anya memutuskan untuk melanjutkan S2 nya di eropa. Dan itu membuat mereka harus LDR.


Padahal ia buru buru pulang dan menemui Hayat, untuk mengajaknya melangkah ke jenjang yang lebih serius.


Namun tampaknya, keinginan itu harus pupus.


Anya langsung menyeka air matanya ketika mendengar suara mobil Papanya.


"Ma, jangan beritahu Papa dulu tentang ini." Imbuh Anya, lalu bangkit dari duduknya dan beranjak menuju kamarnya.


Tante Haidar, menghela nafas dalam. Ia masih sangat terkejut, dan tidak habis pikir mengapa Hayat melakukan itu.


Next ✔️