
"Apa kau harus berpakaian seperti itu?" Bentak Hayat, sesampainya di apartemen Asha.
"Apa perdulimu? Apa yang aku lakukan seharusnya tak ada sangkut pautnya dengamu, bukan!" Jawab Asha, lalu meraih jubah tidur dan memakainya. Ia duduk dengan kesal di atas sofa.
"Kau istriku, ingat itu!" Pungkas hayat, tampak tak kalah emosi dari Asha.
Asha terkekeh pelan, "Sebenarnya apa yang membuatmu sangat marah?" Tanya Asha bingung. Padahal, pagi tadi saat berangkat bekerja Hayat masih baik baik saja, lalu mengapa tiba tiba menjadi marah marah ketika di Bar.
"Lantas, kau sendiri? Mengapa tak memperdulikan ucapanku!" Balas Hayat.
Asha mengernyitkan keningnya, "Hanya karena aku tak memakai jaketmu? Makanya kau marah?" Tanya Asha.
Hayat tak menjawab, hanya menghela nafas sambil memijat tengkuknya. Lalu ikut duduk disofa.
"Atau karena wanita itu? Kau marah karena tak bisa bersamanya dan melampiaskannya padaku!" Lanjut Asha.
"Kau terlalu banyak berfikir." Kini, nada bicara Hayat mulai melemah.
Asha memutar bola matanya malas, "Akui saja jika memang iya."
Lagi lagi, Hayat kembali terdiam. Tatapannya kosong entah sedang memikirkan apa. "Ch!" Asha terkekeh pelan saat melihat Hayat yang justru termenung di tengah tengah percakapan mereka, Asha bangkit dari duduknya. Meninggalkan Hayat seorang diri, dan memilih masuk kekamar.
*
Om Darwin, tak tinggal diam. Ia sengaja dengan resmi menemui Om Efendi, yang tak lain adalah Papanya Hayat. Untuk membahas tentang pernikahan Hayat dan Anya.
Kedatangan Om Darwin di kediaman Om Efendi disambut dengan baik.
Walaupun, Om Efendi sedikit terkejut ketika mengetahui maksud kedatangan Om Darwin kerumahnya.
"Bukan apa, Fen. Anakku perempuan, tak baik berpacaran terlalu lama. Apalagi sekarang umur mereka sudah matang dan sudah bisa untuk menikah." Imbuh Om Darwin.
Om Efendi terkekeh, mengangguk anggukkan kepalanya. "Tentu saja aku mengerti, tapi kau kan tau sendiri, Win. Hayat itu keras kepala, Sudah satu tahun dia tidak pernah pulang. Tapi tak apa, untuk pernikahan ini. Aku akan mengaturnya, kau tenang saja." Ujar Om Efendi, dengan senyuman sumbringah.
Om Darwin tersenyum penuh arti.
Tampaknya, Om Efendi belum mengetahui tentang pernikahan Hayat dan Asha. Bisa dilihat dari betapa tenangnya ia kini.
Entah bagaimana jadinya, jika ia sampai tahu kalau Hayat menghamili dan harus menikahi seorang gadis tampa sepengetahuannya.
"Baik, kalau begitu aku permisi dulu. Aku tunggu kabar baiknya!" Imbuh Om Darwin lalu bangkit dari dari duduknya.
"Tentu! Aku akan mengabarimu secepatnya." Ucap Om Efendi, penuh keyakinan. Tentu saja ia percaya diri, Hayat tidak mungkin menolak untuk menikahi Anya. Terlebih, Hayat dan Anya sudah berhubungan sejak lama. Begitulah pikir Om Efendi.
"Ada apa? Apa yang sedang kau pikirkan." Tanya Tante Elvi, Ibu tirinya Hayat. Menghampiri suaminya, di ruang tamu rumahnya setelah kepergiam Om Darwin.
"Darwin meminta Hayat dan Anya segera menikah, tentu saja aku kepikiran. Bagaimana, Hayat akan menghidupi anak orang. Kerjanya saja serabutan." Imbuh Om Efendi.
"Sudahlah, untuk apa di pikirkan. Buktinya, pihak Anya saja tidak mempermasalahkan itu. Mungkin saja Hayat, akan mendapatkan posisi di perusahaan mereka setelah menikah nanti." Imbuh Tante Elvi.
Sedangkan Om Efendi langsung berdehem, sambil memasang muka juteknya. Padahal Tante Elvi tahu jelas, betapa Om Efendi ingin menjadikan Hayat sebagai Hakim atau pengacara. Kalimatnya tadi justru seolah ingin memanaskan Om Efendi, bahwa harapannya untuk menjadikan Hayat, sesuai dengan keinginannya akan sirna.
Om Efendi, langsung mengalihkan pandangannya. "Reza.." Panggilnya, saat Reza, saudara tiri Hayat yang lebih tua dari Hayat 2 tahun baru saja pulang bekerja dan berniat naik ke lantai dua menuju kamarnya.
"Iya, Pa." Jawab Reza, lalu ikut duduk di sofa.
"Temui Hayat, dan suruh dia pulang. Katakan, pernikahannya dengan Anya akan segera dilangsungkan." Imbuh Om Darwin tanpa basa basi.
Reza mengernyitkan keningnya, sebenarnya ia agak keberatan dengan perintah Papanya, menemui dan bicara dengan Hayat, adalah hal yang paling buat dia malas.
"Sudah turuti saja," Sahut Tante Elvi. Yang mengerti rasa keberatan Reza. Namun, tak ada pilihan. Atau Papanya akan kesal dengan penolakan Reza.
"Tapi, Ma." Tetap saja, Reza merasa agak berat.
Tante Elvi, memberi kode dengan lirikan matanya.
"Baiklah!" Imbuh Reza akhirnya.
Reza, memang anak penurut. Walaupun terpaksa melakukan sesuatu yang diminta Papanya, ia akan tetap melakukannya. Untuk mengambil hati sang Papa. Ia ingin terlihat paling baik dari yang terbaik. Agar posisi Hayat, semakin tersingkirkan.
Dan Perusahaan Firma Hukum milik Om Efendi, akhirnya akan jatuh ke tangannya.
*
"Kau butuh bantuan?" Tanya Asha basa basi, padahal matanya tak menoleh dari benda pipih yang kini sedang berada dihadapannya.
"Emp, tolong cuci sayuran nya." Jawab Hayat, yang sedang sibuk di dapur menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
"Sebentar.." Imbuh Asha, tapi tetap juga tak beranjak. Ia masih sibuk scroll layar ponselnya.
Hingga beberapa saat kemudian, ketika Asha kembali teringat dengan kalimat Hayat terakhir. Asha mengunci layar ponselnya, meletakkannya di atas meja. Lalu beranjak dari duduknya.
"Kau sudah selesai makan?" Dengan mata terbelalak, langkah Asha terhenti ketika ia melihat Hayat baru saja bangkit dari meja makan dengan piring kotor ditangannya.
"Emp," Jawab Hayat datar, lalu berjalan menuju wastafel.
"Mengapa cepat sekali? Bukankah kau baru saja menyuruhku untuk cuci sayuran." Asha kembali berjalan dan duduk di kursi meja makan. Memperhatikan beberapa menu yang telah tersaji di meja makan.
"Jangan lupa cuci piringmu, setelah makan." Imbuh Hayat, lalu berjalan melewati Asha, menuju ke kamar.
Asha melirik sambil memanyunkan bibirnya.
"Dingin sekali!" Gumam Asha, setelahnya memilih untuk menikmati makan malamnya seorang diri.
*
Setelah kejadian malam itu, saat Asha untuk pertama kalinya membawa Hayat ke apartemen nya, keduanya memutuskan untuk tinggal bersama.
Selain karena mereka sudah berstatus suami istri, Asha juga merasa kasian pada Hayat yang hidupnya seakan tak terurus. Ya, Asha tak tahu latar belakang Hayat yang sebenarnya. Yang Asha tau, Hayat hidup sebatang kara dengan gaji tak seberapa dari hasilnya bekerja sebagai bartender di Bar Alex. Asha juga tak tega melihat Hayat tidur di Mess Bar yang sempit itu. Maka dari itu, Asha berbaik hati memberikan kamar tamu untuk Hayat.
Andai Asha tau, kalau ternyata tabungan Hayat bahkan bisa membeli beberapa unit Apartemen seperti miliknya. Hayat juga memiliki saham di perusahaan Firma Hukum Papanya. Walau tampaknya Hayat tak perduli, sebenarnya ia berfikir jauh kedepan. Dan memiliki planningnya sendiri untuk masa depannya.
Next ✔️