
~Happy reading~
waktu tidak terasa cepat berlalu, bel pulang sekolah akhirnya berbunyi..
"Khay lo pulang dijemput?" tanya Ambar sembari merapikan alat tulisnya.
"Iya Am, aku dijemput papa. tadi papa udah telpon aku"
"oh yaudah kalo gitu gue duluan ya, udah dijemput soalnya" Ambar berlalu meninggalkan Mikhayla.
merasa semua sudah rapi Mikhayla bersiap melangkahkan kaki, namun sebelum tiba di depan pintu, seseorang mencekal pergelangan tangannya.
"apa kita pernah bertemu?" tanya orang itu.
saat Mikhayla berbalik ternyata orang yang mencegahnya adalah siswa laki-laki yang sedari tadi terus menatapnya.
Mikhayla melirik name tag yang terlihat di seragam sekolahnya., bernama Marcel Prayuda Arkana. anak dari pengusaha sukses di negara I.
"tidak" balasnya datar.
mendapat respon datar dari gadis dihadapannya membuat wajah Marcel terlihat kesal namun dengan cepat kembali normal, selama 15 tahun ia hidup tidak pernah ada orang yang mengabaikannya.
Marcel berlalu pergi meninggalkan Mikhayla yang menatapnya tajam, ia malas berurusan dengan gadis yang acuh tak acuh saat ditanya.
"dasar gak sopan, udah buang waktu aku, sekarang malah pergi tanpa pamit." gerutuan Mikhayla terdengar sepanjang ia melangkahkan kakinya di koridor sekolah.
sampai saat ia sampai digerbang sekolah terlihatĀ sang papa sedang menunggu didalam mobil.
"kenapa princess papa cemberut gitu, ada yang ganggu kamu?" tanya Deon saat melihat raut sang putri cemberut.
"bukan apa-apa, papa. aku hanya sedang kesal aja" balasnya kesal.
"hem, baiklah kalau begitu. tapi kalau ada yang ganggu kamu bilang papa ya princess" kata Deon sambil mengusap rambut sang putri.
"iya papa"
Tidak lama kemudian Deon menjalankan mobilnya menuju rumahnya.
Setelah 30 menit diperjalanan akhirnya mereka sampai dirumah.
"papa, aku mau langsung kekamar ya. papa makan duluan aja kalo laper, aku masih kenyang soalnya." pamit Mikhayla pada papanya.
"iya, kamu istirahat aja. Papa juga mau langsung balik ke kantor" jawab Deon pada sang putri.
"yasudah, papa hati-hati dijalan."
Mikhayla naik kekamar setelah Deon pergi kekantornya.
Didalam kamar, Mikhayla berbaring setelah membersihlan diri. Ia merasa lelah karena melakukan banyak aktifitas disekolah.
"aku rasa punya teman cukup menyenangkan, semoga tidak ada yang namanya teman munafik" gumam Mikhayla pelan, ia berharap tidak ada pengkhianatan dipertemanannya.
...****************...
"tanya aja deh sama bibi, aku juga sudah lama tidak mengobrol dengan bibi"
Dengan cepat Mikhayla bangkit dari kasurnya, ia turun kebawah untuk bertanya apakah papanya sudah pulang atau belum.
"bi,papa udah pulang belum?" Mikhayla bertanya saat melihat seorang pelayan yang sedang menyiapkan makan malam.
"belum non, apa ada yang bisa saya bantu non?" tanya pelayan itu.
"ah tidak, aku hanya bertanya saja. Yasudah kalau begitu aku mau telpon papa dulu ya bi." setelah diangguki oleh pelayan itu, Mikhayla berlalu pergi.
"halo papa" setelah panggilan tersambung Mikhayla langsung berbicara.
"---"
tanpa sadar airmata Mikhayla mengalir.
Ponsel dalam genggamannya terjatuh kelantai.
Pandangan matanya lurus kedepan, setelah beberapa saat ia luruh kelantai.
"papa bohong, aku sendirian lagi. Papa gak sayang aku lagi" racauan keluar dari bibir tipis gadis itu.
Mikhayla bangkit menuju kamar papanya, ia harus mencari tau apa yang terjadi sebenarnya.
Setelah sampai dikamar papanya, Mikhayla melihat sebuah buku catatan harian. dia tidak tau itu milik siapa namun yang pasti bukan punya papanya karena bersampul perempuan.
Ia membuka lembar pertama dalam buku itu. Tulisannya terlihat rapi namun entah kenapa gadis itu meneteskan airmata.
*Hari ini tanggal 20 mei xx
"aku tidak tau kenapa keluarganku begitu membenciku. Meskipun segala cara sudah aku lakukan untuk mencari perhatian pada mereka, namun tatapan mereka saat menatapku penuh benci. Kapan ya mereka sayang sama aku? Semoga suatu saat nanti ada seseorang yang menyayangiku dengan tulus*."
Leoni Sasmita Putri.
Mikhayla menangis tersedu melihat nama yang tertulis didalamnya.
Pantas saja selama ini ia bertanya-tanya kemana kakek nenek dan saudara ibunya, ternyata mereka sangat membenci ibunya.
Ia bertanya kenapa mereka sangat membenci keluarganya sendiri, apa salah ibunya?.
Hiks hiks hiks
"mama" tangan Mikhayla terulur kedepan seolah ia berusaha meraih sesuatu.
Padahal didepannya tidak terlihat apapun.
"mama, aku mau mama.."
Gadis itu menangis hingga kelelahan tidak lama ia terlelap dilantai kamar papanya.
~to be continued~