
“Secepat itu..?” Nenek Ao bertanya sambil menaikkan alisnya menatap tetua Raiden. Sepertinya aku mulai pikun, ternyata aku sudah tua.” Dia tertawa kecil.
Raiden yang sedang meneguk minuman hampir tersedak mendengar ucapan nenek Ao.
“Aku tidak menyangka secepat ini.” Nenek Ao mencoba mengingat kembali peristiwa penyerangan yang dilakukan kaisar Bintang Merah ke wilayah kekaisaran Naga Emas 200 tahun yang lalu. Disaat Komet Merah melintasi Benua Timur, kaisar Bintang Merah mengaktifkan jutsu terlarang yang diwariskan secara turun temurun dari kaisar sebelumnya.
Jutsu tersebut dapat menyerap energi dari Komet Merah yang sedang melintas, sehingga dia dan pasukannya mendapatkan energi cakra dan kekuatan yang berlipat- lipat. Namun setiap jutsu terlarang pasti mempunyai resiko yang besar bahkan merenggut nyawa penggunanya.
Kaisar sudah dapat menangkal resiko dari jutsu tersebut untuk dirinya sendiri, namun tidak bagi pasukan yang dipilihnya menerima energi Komet Merah. Setelah pemakaian energi tersebut habis, maka pasukan yang menerimanya akan hangus menyisakan tulang.
Pada saat itu kaisar Naga Emas dan para petinggi kekaisaran berjuang mati-matian bersama rakyatnya untuk bertahan. Kota Lembah Suci yang dulunya masih kota kecil tidak luput dari gempuran.
Keluarga nenek Ao adalah keluarga utama yang berasal dari klan Naga Kuno, klan terkuat di kota Lembah Suci bahkan di wilayah kekaisaran. Mereka berjuang menghabisi setiap pasukan kaisar Bintang Merah yang datang, kaisar tidak menduga bahwa butuh separuh nyawa pasukannya untuk melewati kota kecil itu.
Keluarga nenek Ao terkenal dengan kemampuan mereka yang terlahir dengan menguasai satu jutsu terlarang. Dengan bantuan keluarga tersebut, kaisar Naga Emas dapat mempertahankan wilayahnya. Namun bayarannya sangat mahal, seluruh anggota keluarga yang menggunakan jutsu terlarang gugur.
Beruntunglah pada saat itu Ao yang sedang hamil muda masih selamat berkat pertolongan suaminya yang merelakan dirinya untuk menerima efek jutsu terlarang yang digunakan Ao.
“Senior..” Raiden membuyarkan lamunan nenek Ao, mereka melanjutkan diskusi untuk menghadapi kejadian 5 tahun yang akan datang.
***
“Ayo, kita harus lebih cepat.” Pemimpin dari 3 orang itu segera meningkatkan kecepatan melompatnya dari satu pohon ke pohon yang lainnya.
Setibanya di desa itu mereka mendapati beberapa penduduk yang tergeletak di tanah bersimbah darah, sebagian yang lain mencoba melarikan diri dari monster itu.
Sementara beberapa penduduk yang mempunyai kemampuan bertarung mencoba memberikan perlawanan. “Segera bantu mereka.” Tetua Shoru memberi perintah kepada dua gadis shinobi level S tahap awal.
Mereka adalah Midori dan Minori, master junior di Akademi Shinobi Cahaya. Mereka berdua segera melesat membantu penduduk yang mulai kewalahan melawan monster laba laba itu.
“Ranjau Batu Gunung.” Midori segera membentuk segel dengan jarinya dan menghantamkan telapak tangannya ke tanah. Segera muncul banyak batu-batu runcing dari dalam tanah yang tepat menghantam perut 2 monster laba laba itu. Monster itu tumbang dengan perut tertembus batu.
Penduduk yang melawan monster itu menatap tak percaya, hanya dengan satu serangan gadis itu langsung membunuh 2 monster yang memporak-porandakan desa mereka.
Tidak jauh dari tempat mereka satu monster laba laba yang lebih besar juga telah mati terbakar terkena serangan Minori.
“Terima kasih para master.” Seorang penduduk memberi hormat kepada mereka bertiga dan diikuti penduduk yang lain. “Saya adalah kepala desa disini.” Ia memperkenalkan dirinya. “Kalian pastilah para master dari Akademi Shinobi Cahaya.” Ucapnya sambil memperhatikan jubah mereka bertiga.
“Sementara waktu kalian sebaiknya mengungsi terlebih dahulu, kami harus segera melanjutkan perjalanan sebelum lebih banyak monster yang lolos keluar dari Hutam Kematian.” Tetua Shoru memberi saran.