The Lord of Shinobi

The Lord of Shinobi
Melawan Murid Akademi Langit Biru



Ketika telah menempuh setengah perjalanan tiba- tiba Ryu berhenti di satu ranting pohon membuat Reiko yang berada di belakangnya hampir saja menabraknya, namun Reiko dengan cepat mendarat di ranting pohon yang lain dan hampir saja terpeleset. “Kau baik- baik saja Reiko ?” Ryu bingung melihatnya yang hampir saja terpeleset. Dia


tidak pernah seperti ini bahkan jika mendarat di atas daun sekalipun pikirnya.


“A.. aku tidak apa- apa.” Dia  salah tingkah, ini terjadi karena dia kurang fokus ketika melompat dan memperhatikan punggung Ryu yang ada di depannya. “Mengapa kita berhenti ?” tanya Reiko cepat, dia tidak ingin Ryu memperhatikan wajahnya yang sedang merona merah. Ryu mengangkat jari telunjuk tangan kanannya seakan meminta Reiko untuk fokus mendengar sesuatu di sekitar mereka.


Benar saja, tak jauh dari tempat mereka terdengar suara anak yang sedang meminta ampun. “Ampunn... ampunn...” ucap seorang anak seusia mereka yang sedang berlutut di depan empat orang anak laki- laki yang berusia lebih tua. Dia meringis kesakitan sambil melihat seorang temannya yang telah pingsan di sampingnya.


Ke-empat anak itu tertawa penuh kesombongan, satu orang dari mereka kembali menendang dada anak yang sedang berlutut itu, Duuaak... anak itu terpental kebelakang. Ryu dan Reiko melihat kejadian itu dari atas pohon dengan geram. “Melihat jubah yang mereka kenakan, sepertinya mereka adalah murid dari akademi Langit Biru,


tapi mengapa mereka malah saling pukul.” Ucap Reiko.


“Bagaimanapun kita harus menolongnya.” Ryu langsung melompat turun dari atas pohon kearah anak- anak itu. Reiko yang hendak menahannya terlambat bergerak, akhirnya dia ikut turun menyusul. Ketika salah satu anak itu ingin kembali memukul wajah murid yang baru saja terpental itu, Ryu buru- buru berteriak untuk menghentikan


tindakannya.


“Maaf senior jika kalian merasa terganggu, tapi mengapa sampai memukuli mereka seperti itu bahkan dia telah meminta ampun, apa salah mereka ?” Ryu memaksakan sedikit tersenyum.


“Rupanya kau mencari masalah kau tidak tahu siapa kami ya” , dua anak laki- laki itu mendatangi Ryu, membuatnya menjadi lebih waspada. Ketika telah sampai di depannya, salah satu dari mereka tetap melanjutkan langkahnya melewati Ryu. Ternyata dia tertarik melihat gadis kecil yang ada di belakang, “Siapa namamu gadis manis ?” dia ingin menyentuh wajah Reiko.


Tetapi tangannya dengan cepat telah ditepis Reiko sebelum berhasil menyentuh wajahnya. Ryu semakin geram, kini senyum terpaksa itu telah hilang dari wajahnya. “Kami bertanya dengan baik- baik senior, tetapi kalian malah berbuat seperti ini, tanpa mendapat jawaban pertanyaanku tadi dengan melihat etika kalian ini, kalian tidak pantas menjadi murid akademi Langit Biru.” Tatapan Ryu sangat tajam kepada anak laki- laki yang ada di depannya.


“Bocah, kau menggurui kami ?” anak laki- laki itu geram kemudian melayangkan tinjunya kearah wajah Ryu. Duaakk... anak laki- laki itu terjungkal ke belakang tepat sebelum tinjunya menyentuh wajah sasarannya. Dia baru saja mendapatkan tendangan kaki kanan di depan hidungnya membuat darah segar segera mengucur membasahi mulutnya.


Tiga orang temannya merasa terkejut melihat hal itu, mereka segera berlari ke arah Ryu untuk menyerangnya, namun anak laki- laki yang berada di samping Reiko heran karena kakinya tidak dapat digerakkan, ketika dia melihat kebawah ia menemukan kakinya telah dililit rantai cakra dari dalam tanah. “Mau kemana senior ?” ucap


Reiko.


Anak itu semakin memberontak untuk lepas dari lilitan itu, tetapi semakin dia memberontak rantai itu malah semakin kuat melilitnya sehingga hampir seluruh tubuhnya telah dililit rantai. Dua anak yang lain telah bertarung dengan Ryu, mereka mengeluarkan kunai yang dibawanya.