
Hujan mulai reda...
“Junior...! tarik kembali bonekamu, biar aku yang menghadapinya.” Ken memberi perintah kepada shinobi di sampingnya.
Shinobi level Q itu juga terlihat telah kelelahan mengendalikan bonekanya, ia menggunakan banyak cakra untuk menekan lawannya. Ryu dan Isamu keluar dari tenda setelah mendengar suara ledakan. Mereka heran karena musuh yang dihadapi bukan lagi makhluk berwujud ular, melainkan wanita dengan pakaian setengah telanjang yang sangat cantik, tentu saja jika rambutnya bukan ular- ular kecil yang meliuk- liuk dan mendesis.
“Bentuk tubuhnya sudah menyerupai manusia.” Ucap Ryu yang ada di belakang Ken.
“Kalian tetaplah berada di sekitar tenda dan jaga keamanan mereka, biar aku sendiri yang mengurusnya.” Ken menatap kedua muridnya.
Dia kemudian melesat cepat ke arah Nure-onna dengan pedang pendek yang telah dialiri energi jutsu matahari di tangannya.
“Sial..! aku benar- benar bisa mati jika berhadapan langsung dengannya dalam kondisi seperti ini.” Nure-onna mengumpat dalam hatinya. Dan mencoba memikirkan cara untuk menghadapi Ken.
Dia menyadari jika Ken jauh lebih hebat dari boneka yang baru saja di hadapinya, bahkan dari shinobi yang hilang kesadaran karena gigitan ular kecil yang merupakan rambutnya. Begitu Ken dalam jarak beberapa meter di depannya dia menarik napas dalam- dalam kemudian menghembuskannya.
Udara yang dihembuskan keluar dari mulutnya berwarna gelap dan mengandung racun. Ken menahan langkah dan napasnya kemudian melompat mundur sambil menutup hidungnya. Belasan ular kecil tiba- tiba melesat dari kepulan udara beracun itu. Ken berusaha menghindar dan menangkis dengan pedang pendeknya.
Ketika Ken sedang sibuk menghadapi serangan ular- ular kecil beracun itu, dia tidak sadar bahwa itu adalah serangan pengalihan. Nure-onna yang berjarak puluhan meter dari tenda kini telah berada di depan Isamu dan Ryu. Shinobi level Q yang tidak jauh dari mereka segera menyerang dengan bonekanya.
Tetapi karena boneka itu hanya tinggal separuh tubuh, serangannya mudah saja di patahkan. Dengan sekali tebasan pedang Nure-onna, tubuh boneka itu terpotong menjadi dua. Isamu juga segera menyerang dengan pedang kecil berantainya yang sudah dialiri cakranya, tetapi Isamu terkejut karena senjatanya hancur berkeping- keping begitu terkena tebasan senjata raja wanita itu. Isamu juga terhempas karena gelombang energinya.
“Jangan bertarung jarak dekat dengannya...!”
Ken yang sadar telah teralihkan lawannya ingin memperingati muridnya, namun sepertinya peringatan itu terlambat. Melihat Isamu terhempas, Ryu segera menyerang wanita cantik yang bertaring itu.
Belati kembarnya yang telah diselimuti cakranya juga mengalami retakan ketika berbenturan dengan pedang Nure-onna. Ryu tidak menyadari Nure-onna sedikit penasaran karena seharusnya belati Ryu juga hancur jika berbenturan dengan pedang pusaka raja yang terbentuk dari lidahnya.
Cesss...
Sebuah goresan kecil mengenai lengan Nure-onna, dia terkejut dengan kecepatan serangan Ryu. Kemampuan Ryu dalam pertarungan jarak pendek sudah setara dengan shinobi level Q. Nure-onna yang merasa kesal karena telah meremehkan kemampuan bocah yang ada di depannya segera meningkatkan kekuatan dan kecepatan bertarungnya.
Dhuaaakk...
Ryu terpental terkena tendangan wanita siluman itu.
“Bocah sialan, beraninya kau menggores tubuhku.” Ucapnya kesal menatap Ryu.
Nure-onna menyambut serangan Ken dengan ayunan pedangnya, dia yakin tebasannya akan menghancurkan pedang pendek itu seperti senjata Isamu. Namun hasilnya dia mundur beberapa langkah karena benturan senjata mereka ditambah lagi pedang miliknya sedikit tergores. Ketika senjata mereka hampir beradu, Ken meningkatkan energi jutsu matahari yang menyelimuti pedangnya.
Berniat untuk segera mengakhirinya, Ken melemparkan pedang pendeknya ke arah leher Nure-onna. Siluman itu kembali menangkisnya dengan sisa tenaganya.
“Raungan Tornado..!”
Ketika Nure-onna sedang menangkis pedang itu, dia tidak menyadari Ken sedang membentuk segel untuk melepaskan jutsunya. Ken menggunakan jutsu kedua dari gulungan Harimau Putih.
Gghhuuaaaaa....!
Nure-onna tidak siap menerima serangan itu dan ia hanya berlindung dibalik pedangnya. Tubuhnya tercabik- cabik terkena serangan jutsu Ken kemudian terpental jauh. Dia segera berusaha bangkit namun hanya berhasil berlutut karena dia memuntahkan darah yang cukup banyak. Dia telah kehabisan kekuatan, bahkan untuk melarikan diri dia tidak sanggup lagi.
“Aku tidak menyangka akan mati sekarang, padahal aku baru saja menikmati puncak perubahan evolusiku.” Gumamnya.
“Andai saja aku... ”
Tiba- tiba sebilah pedang yang dialiri energi menembus dada kirinya.
“Jika saja kau berevolusi lebih cepat, mungkin aku harus menggunakan tehnik gulungan matahari untuk menghabisimu.” Ucap Ken dengan wajah tanpa ekspresi di depan wanita siluman itu.
Siluman itu kembali memuntahkan banyak darah, rambutnya yang berbentuk ular kecil menggeliat kemudian mati mengering karena tidak tahan dengan energi yang di alirkan Ken ke pedang yang menembus tubuh Nure-onna.
Akhirnya siluman itu sadar bahwa yang menyebabkan dia sangat kelelahan menghadapi serangan Ken adalah karena lawannya menggunakan energi jutsu gulungan matahari. Bagi Nure-onna yang baru saja berevolusi, terkena sinar dan panas matahari adalah sangat berbahaya. Walaupun nanti pada akhirnya setelah beberapa hari dia akan mampu berjalan di bawah sinar matahari.
“Apa yang kau tunggu..?
“Mengapa belum membunuhku..?
Suara Nure-onna terdengar sangat lemah.
“Pedangku tidak mengenai jantungmu, karena aku masih memberimu pilihan.” Suara Ken telah samar terdengar olehnya, pandangannya juga mulai gelap.
“Pilihannn....?? sebelum menyelesaikan kalimatnya, dia telah terjatuh ke tanah.