
Ketika matahari tinggal setinggi satu tombak menuju peraduannya tim Ken dan rombongan dagang tuan Satoshi sudah memasuki wilayah Rawa Bangkai. Atas perintah tuan Satoshi, para pengawalnya segera menyalakan obor walaupun malam belum tiba. Tua Satoshi tidak mau mengambil resiko akan serangan makhluk misterius penghuni
Rawa Bangkai.
Sudah menjadi kebiasaan para pedagang atau orang yang sering melintasi Rawa Bangkai agar tidak bermalam di kawasan tersebut. Tetapi jika dalam keadaan terpaksa bermalam, maka obor atau api unggun harus tetap hidup di sekitar kemah yang didirikan sampai waktu fajar tiba. Karena jika itu tidak dilakukan maka mereka akan diserang makhluk misterius itu.
Pada saat ini situasi tuan Satoshi sedang dalam keadaan terpaksa karena jika mereka mendirikan kemah sebelum mencapai wilayah Rawa Bangkai, maka mereka akan sangat terlambat tiba di kota Danau Pelangi. Berhubung karena tambahan pengawal yang mereka minta ke komunitas Bintang Terang adalah seorang shinobi pilihan, maka tuan Satoshi merasa tenang.
Setelah beberapa saat lagi, tuan Satoshi meminta mereka berhenti untuk mendirikan kemah karena malam telah tiba. Para pengawalnya dengan sigap mendirikan kemah dan memasang obor disekeliling mereka serta menyalakan api unggun.
Setelah kemah selesai, putri bungsu tuan Satoshi keluar dari kereta kuda menuju tenda yang disediakan, sepintas dia melihat ke arah tiga anak seusianya yang sedang berkumpul dengan tuan Harimau Barat.
“Ternyata mereka masih sangat muda menjadi seorang shinobi, masih seusiaku.” Ucapnya lirih.
“Kalian sebaiknya tetap waspada, karena bila malam telah tiba, maka aktivitas di Rawa Bangkai baru saja dimulai.” Master Ken mengingatkan ketiga muridnya.
“Semuanya ! Jangan ada yang mematikan api dan obor, dan jangan jauh dari cahaya ! Ken juga mengingatkan semua rombongan.
Ketika waktu makan malam tiba, Miyaki memberanikan diri membawakan beberapa potong makanan untuk ketiga anak yang belum dikenalnya itu. Dia mengenalkan diri kemudian menyerahkan makanan yang dibawanya. Ryu, Reiko, dan Isamu menyambutnya dengan ramah dan juga mengenalkan diri. Miyaki adalah seorang putri pedagang besar yang berusia 13 tahun dan tidak setiap harinya boleh bertemu dengan anak seusianya untuk sekedar bercerita atau bermain.
Gadis kecil dengan rambut hitam panjang ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengikuti orang tuanya berdagang atau mempelajari ilmu dagang. Mereka berempat saling bertukar cerita hingga malam semakin larut, Miyaki yang dipanggil tuan Satoshi beranjak dari tempat duduknya untuk kembali ke tendanya agar beristirahat.
Tetapi begitu Miyaki berdiri, dia seperti kehilangan keseimbangan dan hampir saja terjatuh. Isamu yang ada di dekatnya dengan sigap menahan tubuhnya. Kejadian itu berlangsung tidak begitu lama, namun cukup membuat mereka yang melihat Isamu dan Miyaki tidak berkedip beberapa saat. Suara deheman tuan Satoshi membuat mereka berdua segera tersadar, tangan Isamu yang menahan pinggang Miyaki hampir saja terlepas dan Miyaki segera kembali ke posisi berdirinya.
Disaat Miyaki hampir memasuki tendanya, terdengar suara menggema tawa wanita muda yang sangat menyeramkan. Sebagian para pembantu tuan Satoshi yang tadinya telah menahan kantuk tiba- tiba langsung melotot tidak percaya seakan yang di dengarnya adalah mimpi, namun mereka yakin bahwa mereka belum tertidur.
Para shinobi yang tadinya terduduk tersentak bangun dan langsung berdiri, suara tawa itu membuat mereka semua merinding kecuali Ken, karena dia sudah memperkirakan ini akan terjadi. Ryu, Reiko, dan Isamu serta shinobi level A yang menjadi pengawal tuan Satoshi terlihat sedikit pucat. Tawa yang mereka dengar mengandung aura cakra yang gelap sehingga menekan mereka.
“Siluman Nure-onna !” Ken berteriak lantang.
“Inikah penguasa Rawa Bangkai ini ?” suara Ryu terdengar bergetar.
“Jangan ada yang lengah ! Pastikan semua api dan obor tidak ada yang padam !” Morio, shinobi level R yang menjadi pemimpin pengawal tuan Satoshi berteriak untung mengingatkan rekan- rekannya.
“Hihihihi.... aku tidak menyangka jika malam ini aku akan makan besar, sudah lama tidak ada yang berani bermalam di rawaku ini. Hihihihi....” suara makhluk yang dinamakan Nure-onna ini membuat tuan Satoshi, Miyaki, dan para pembantunya yang bukan shinobi terduduk lemas dan gemetar.
MAAF KK2 READER'S..
HARUSNYA UP CH INI RABU MALAM, BERHUBUNG AUTHOR KURANG FIT JADI TERKENDALA..
TERIMAKASIH MASIH BERSEDIA MENANTI..
JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, & RATE..
Luck Man