The Lord of Shinobi

The Lord of Shinobi
GASHODOKURO



Ryu dan Reiko melanjutkan perjalanan mereka setelah dua anak yang dianiaya murid akademi Langit Biru itu mengucapkan banyak terimakasih, mereka berjanji pasti akan membalas kebaikan dan pertolongan yang mereka terima hari itu.


---


“Tuan Muda” seorang penjaga toko bunga yang telah berumur memberi hormat kepada Ryu begitu dia dan Reiko tiba di depan toko bunga milik neneknya, penjaga yang lain juga akhirnya mengikuti memberi hormat. “Dimana nenek, bibi Hana ?” Ryu bertanya ramah kepada wanita paruh baya itu. “Mari saya antar tuan muda, beliau ada di ruangannya.”


"Salam nenek” Ryu menyapanya begitu mereka memasuki ruangan nenek Ao. Wanita sepuh itu menoleh dengan wajah tersenyum karena dia sangat kenal dengan suara itu, “ohh.. cucuku.., bagaimana kabarmu ?, kau baik- baik saja bukan ? mengapa kau terlihat kurus ? apa kau sudah makan ? mengapa bajumu kotor ?” mulut Ryu hanya terbuka tanpa mengeluarkan suara, dia berniat untuk menjawab pertanyaan pertama neneknya, tetapi sebelum satu huruf  keluar dari mulutnya rentetan pertanyaan kembali menghujaninya. Reiko hanya tersenyum- senyum di belakang Ryu.


“Nenek, kau membuatku malu” Ryu melirikkan matanya ke kiri seolah mengatakan kalau dia datang bersama kawannya. “Ohh... aku sampai lupa ternyata kau membawa seorang teman, siapa namamu gadis kecil ?” nenek Ao mendekati Reiko dan mengelus kepalanya. Nenek Ao melebarkan matanya dan terkejut ketika menyentuh kepala Reiko.


“Namaku Reiko nenek” Reiko tersenyum manis. Raut wajah nenek Ao terlihat semakin gembira setelah mengetahui siapa teman cicitnya itu. “Ternyata kau adalah gadis kecil itu, kau dari klan Naga Baru bukan ? pasti kau adalah cucunya tetua akademi kalian, Raiden.” Nenek Ao bertanya sendiri dan menjawab sendiri, Ryu dan Reiko terkejut sekaligus bingung neneknya mengenal siapa Reiko, asal klannya dan keturunan siapa padahal dia hanya baru menyebut namanya.


“Hari ini aku sangat senang bertemu denganmu Reiko, suatu saat nenek harap engkau akan mau mewarisi jutsu yang kumiliki, karena hanya engkau yang mampu mewarisinya.” Nenek Ao tersenyum ramah. Kebingungan Ryu dan Reko pun semakin menjadi- jadi. “Ayolah jangan memasang raut wajah aneh seperti itu sebaiknya kita memakan sesuatu dulu, setelah kalian kenyang nenek akan mengijinkan Ryu untuk berangkat besok untuk menerima misi pertamanya, bawakan kami makanan Hana !” Nenek Ao tertawa lepas.


“Ketua Ao, apa maksud anda bahwa anak perempuan tadi akan menjadi pewaris jutsu yang anda miliki ?” Hana bertanya pelan setelah Ryu dan Reiko menerima bunga darinya yang di pesan master K dan meninggalkan ruangan nenek Ao. “Gadis kecil itu sama denganku Hana, dia terlahir dengan tubuh Samudra Cakra, hanya dengan tubuh


seperti kami yang dapat menguasai jutsu GASHODOKURO. Dia adalah anak yang berbakat, dengan usia semuda itu dia telah mencapai tingkat Laut Cakra tahap pertama.”


“A.. apa.. jutsu itu ?” Hana terkejut, dia tahu akan jutsu mengerikan itu. Sebuah jutsu terlarang yang dapat mengendalikan rangka tulang, baik rangka tulang tubuh yang masih hidup ataupun yang sudah tidak bernyawa dan pada tahap puncaknya sipemilik jutsu dapat membentuk monster tengkorak raksasa dengan tinggi 30 meter bahkan lebih. Dengan kekuatan monster itu sipemilik jutsu dapat menghancurkan sebuah kota besar dengan mudah.


---


“Kak Ryu, menurutku sebaiknya kita kembali ke akademi melintasi kota saja, jika keadaan seperti tadi terulang kembali maka bunga pesanan master K tidak akan selamat.” Reiko memberi usul sambil tersenyum. Ryu menyetujuinya saja dengan mengangguk karena dia juga punya rencana untuk melintasi kota. Dia ingin membeli sesuatu barang untuk dijadikan hadiah kepada seseorang.