
Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian mereka mendekat ke tubuh itu. Ketenangan dan tetap waspada adalah kunci dalam menghadapi masalah ini. Sekitar 10 meter sebelum mencapai tubuh yang bergelimpangan itu, Ryu yang berada di posisi paling depan melebarkan mata demi melihat di depannya.
Ryu sangat mengenal pakaian yang korban kenakan. Pakaian tersebut berwarna merah hati dengan motif tiga gambar matahari membentuk segitiga sama sisi di punggungnya yang menandakan bahwa mereka adalah murid senior di Akademi Shinobi Cahaya. Dia dengan cepat melakukan lompatan dan sampai di sisi salah satu korban.
“Ryuuu...!! Hati-hati, jangan terburu-buru...!!” Reiko mengingatkan.
“Mereka adalah para senior ditingkat 3..”Jawab Ryu dengan sedikit menoleh ke arah Isamu dan Reiko, kemudian melayangkan pandangan ke arah tubuh yang lain.
Tak jauh dari posisinya masih ada 3 tubuh lagi yang tergeletak dengan 2 tubuh terendam di tepian sungai dan luka yang terus mengeluarkan darah, sepertinya mereka terluka parah akibat senjata tajam.
Isamu dan Reiko segera memeriksa keadaan korban yang lain, setelah diperiksa semua, ternyata tinggal 1 orang yang masih memiliki denyut nadi yang sangat lemah.
“Kau membawa cairan itu?” Isamu melirik ke arah Reiko.
Gadis itu langsung mengangguk dan mengambil sesuatu dari jubah hijau yang dia kenakan.
“Aku akan memeriksa sekitar tempat ini. Jika ada bahaya aku akan memberikan tanda. Isamu!, kau tetaplah bersama Reiko” Ucap Ryu.
“Jangan Ceroboh..!!” Tapi Ryu langsung melompat tanpa mendengarkan peringatan Isamu. Isamu segera berdiri dan mengambil 2 pisau kecil dari dalam jubah hijaunya untuk berjaga-jaga.
Reiko meneteskan 3 tetes cairan berwarna merah muda dari tabung kecil yang dia ambil, ke mulut murid senior yang mereka tolong. Cairan tersebut adalah ramuan racikan Reiko sendiri yang membuatnya menduduki peringkat 2 di tingkatnya, sungguh murid cantik yang berbakat.
Satu menit berselang, murid yang mereka tolong mulai tersadar dengan perlahan membuka matanya. Dia terkejut karena mengira mereka berdua adalah sosok yang menyerangnya, namun tak lama dia memperhatikan pakaian orang yang menolongnya ternyata adalah murid akademi tingkat 2.
“Bukankan kau murid tingkat 2 dan peringkat 2 itu?” Ucapnya dengan suara lemah, wajahnya juga masih terlihat pucat karena kehilangan banyak darah.
Reiko hanya mengangguk, Isamu mendekat untuk mendengarkan namun pandangannya tetap waspada mengawasi sekitar, dia berfikir bahwa Ryu terlalu lama jika hanya memeriksa keadaan, dia mulai terlihat cemas.
“Namaku adalah Eiji, kita harus segera meninggalkan tempat ini” ucapnya sambil memperkenalkan diri. Dia mengingatkan bahwa tempat itu tidak aman. Sosok yang menyerang mereka bisa saja kembali.
“Siapa yang menyerang kalian?” Isamu bertanya, namun sebelum pertanyaannya terjawab. Eiji kembali terkejut karena kedatangan Ryu yang tiba-tiba. Ryu menatap Isamu sambil menggelengkan kepalanya seolah berkata bahwa tidak ada apa-apa disekitar tempat itu.
Mereka segera meninggalkan tempat tersebut untuk kembali ke akademi dan melaporkan kejadian ini kepada para master dan ketua akademi. Ryu dan Isamu segera menopang Eiji agar dapat bergerak cepat dan segera mendapatkan pengobatan di akademi.
“ Teman-teman tunggulah, kalian akan segera dijemput”. Eiji melihat sekilas ke belakang menatap sedih ketiga temannya yang sudah tidak bernyawa di pinggir sungai.