The Lord of Shinobi

The Lord of Shinobi
Tepi hutan Bambu Bersiul



Morio sadar begitu pagi telah tiba, beberapa orang yang ada di sekelilingnya tersenyum karena sekarang mereka semua dapat melanjutkan perjalanan tanpa ada yang terluka lagi. Melihat Morio yang kebingungan, shinobi level Q yang mereka panggil Shigeo memberi penjelasan kepadanya tentang kejadian selama dia tidak sadarkan diri.


Mereka semua segera berangkat dari Rawa Bangkai setelah menyantap beberapa makanan agar tiba di kota Danau Pelangi secepat mungkin. Perjalanan dari Rawa Bangkai ini, tim Ken memilih untuk berada di posisi belakang rombongan karena menurut perkiraan tidak ada lagi lokasi yang berbahaya sampai ke desa terdekat.


Setelah tidak begitu lama berangkat, Ryu menanyakan alasan masternya untuk tidak membunuh Nure-onna. Bahkan Ryu, Reiko, dan Isamu semakin penasaran ketika master mereka malah menolong siluman yang sedang sekarat itu dan memasukkannya ke cincin merah Neo yang ada di jarinya. Sebenarnya semua anggota rombongan


yang mengetahui hal itu sama penasarannya dengan mereka bertiga, hanya saja tidak ada yang berani menanyakan hal itu kepada tuan Harimau Barat.


Ken menjelaskan kepada ketiga muridnya itu bahwa dia memberikan pilihan kepada Nure-onna yang telah sadar di ruang cincin merah Neo, dan pilihannya adalah kematian atau siluman itu bersedia hidup dan akan berevolusi secara sempurna dengan bantuan Ken tetapi harus menyanggupi syarat yang ditawarkan Ken. Dan siluman itu ternyata memilih pilihan yang kedua.


“Apakah master tidak khawatir jika dia ....” pertanyaan Reiko belum lengkap keluar dari mulutnya.


Ken yang seperti biasa langsung menjawab pertanyaan muridnya sebelum kalimat itu selesai.


“Kita tidak perlu khawatir, karena jika dia mengingkarinya Neo yang memiliki mustika cincin merah ini akan membunuhnya di dalam ruang cincin dengan menghisap energi kehidupannya hingga habis. Dan jika dia berusaha kabur maka master akan mengaktifkan segel Eleman Angin yang telah terpasang di tubuhnya.” Ken tersenyum kepada ketiga muridnya yang saling menatap seakan mau bertanya lagi tetapi ragu.


“Baiklah.., apakah kalian ingin bertanya tentang segel Elemen Angin ?” Ken balik bertanya karena tidak ada dari mereka bertiga yang bertanya walau telah dia nantikan.


Tanpa perlu ditanya dua kali, ketiga muridnya itu mengangguk serentak dengan cepat.


Perjalanan mereka hingga sampai ke desa terdekat tidak mengalami hambatan apapun. Mereka tiba di desa itu tepat ketika siang hari sehingga mereka memutuskan untuk beristirahat sambil makan siang. Ketika makan siang disalah satu rumah makan di desa itu, Miyaki putri tuan Satoshi memilih untuk duduk di meja yang sama dengan ketiga anak shinobi yang menjadi teman barunya.


Sambil mereka makan siang, Ryu dan Isamu mencuri dengar percakapan master K, tuan Satoshi, Morio, dan Shigeo yang duduk semeja tidak jauh dari tempat mereka. Sementara Reiko dan Miyaki sedang asyik berbincang tentang hal yang membuat Ryu dan Isamu bosan mendengarnya, mereka berdua menyebutnya dunia anak perempuan.


Menurut informasi yang mereka dengar, besok sore rombongan mereka akan tiba di kota Danau Pelangi jika tidak ada hambatan di perjalanan. Yang menjadi kekhawatiran tuan Satoshi dan merupakan salah satu misi tim Ken adalah kelompok perampok Kelabang Hitam yang bisa saja menghadang rombongan mereka ketika berada di hutan Bambu Bersiul.


Ken menyarankan kepada tuan Satoshi agar rombongan mereka memasuki hutan Bambu Bersiul besok pagi, sementara saat ini setelah selesai makan siang mereka akan melanjutkan perjalanan sampai tepi jalan sebelum memasuki hutan itu. Menghadapi kelompok perampok Kelabang Hitam di dalam hutan Bambu Bersiul ketika hari telah gelap merupakan ide buruk.


Matahari hampir terbenam ketika rombongan tuan Satoshi tiba di tepi hutan Bambu Bersiul. Hutan itu berada di sebelah timur sehingga cahaya matahari yang hampir terbenam membuat seolah- olah daun bambu yang menari- nari dilapisi oleh emas, sungguh indah. Sementara ketika memandang ke sebelah barat, hamparan padang rumput


melambai- lambai ditiup oleh angin. Semua anggota rombongan seakan terbius oleh keindahan itu untuk beberapa saat.


“Hangat...” Isamu merentangkan tangannya.


“Damai...” Miyaki mengikuti gerakan Isamu yang ada disampingnya.


Sementara di sisi lain, Ryu memilih untuk berdiri di depan Reiko sambil menyerahkan sesuatu yang dia beli ketika mereka berdua melewati kota Lembah Suci sepulang dari menemui nenek Ao.


 


 


 


 


 


 


JANGAN LUPA LIKE SETELAH DIBACA Y GUYS...


SILAHKAN BERIKAN KRITIK & SARAN ATAS KEKURANGANNYA...