The Lord of Shinobi

The Lord of Shinobi
Para Tetua Akademi



Panggilan Master K adalah sapaan akrab mereka bertiga kepada master Ken, karena dia adalah master pembimbing khusus mereka.


“Oh ..., ternyata kalian, master akan ceritakan besok. Aku harus segera melapor ke tetua.” Ucap Ken sambil tersenyum ramah kepada muridnya kemudian berlalu.


Mereka sebenarnya sangat penasaran  dengan apa yang terjadi, karena melihat beberapa senior yang bersama master Ken terluka ringan dan sebagian lagi membawa bagian tubuh laba laba raksasa.


***


Setibanya di ruangan para tetua akademi, Ken segera melaporkan kejadian di sungai. “Makhluk itu lagi.” Tetua kedua, Si Golok Neraka, Daichi terlihat geram.


“Yasashi, segera berangkat ke kediaman walikota, peringatkan mereka agar meningkatkan penjagaan keamanan kota!” Raiden, Ketua Akademi Shinobi Cahaya memberi perintah.


Yasashi yang merupakan Tetua Ketiga segera mengangguk sebelum meninggalkan ruangan.


“Daichi, sebagai Ketua Dewan Penasehat Komunitas Shinobi Bintang Terang, gunakan pengaruhmu agar para shinobi yang tidak dalam misi agar ikut menjaga keamanan kota.” Ucap Raiden sambil melirik Daichi.


“Tentu ketua, itu sudah menjadi kewajiban mereka jika bergabung dengan komunitas dan tinggal di kota ini.” Daichi yang terkenal tempramen dan sangar, hanya berkata sopan kepada tiga orang di dunia ini.


Pertama kepada Raiden Si Dewa Guntur, kedua kepada Nobunaga yaitu Kaisar Naga Emas, dan yang ketiga adalah seorang nenek tua yang tinggal di pinggir kota Lembah Suci.


“Kirei, perketat penjagaan keamanan akademi dan Ken, bantu nona Kirei!” Raiden menatap mereka berdua.


“Baik ketua” jawab mereka hampir bersamaan, sebelum pamit keluar ruangan.


Kirei adalah tetua keempat yang dijuluki Si Pedang Bunga, sekaligus tetua termuda di akademi. Kirei selalu diikuti puluhan kelopak mawar yang melayang di sekitar tubuhnya dengan pengendaliannya, membuatnya terlihat cantik dan anggun.


Pipinya terlihat merona merah ketika mendengar nama Ken disebut untuk membantunya, Ken juga hampir salah tingkah. Mereka berdua tidak terlalu pintar untuk menyembunyikan perasaan masing-masing di depan Raiden.


“Tetua Shoru...” Raiden memandang tetua pertama dengan penuh arti. Dia menambahkan kata tetua kepada Shoru krena usia mereka tidak terpaut jauh.


“Baik ketua, aku akan memeriksa keadaan di daerah itu.” Tetua Shoru tahu apa yang mau disampaikan oleh Raiden. Shoru adalah seorang wanita yang terkenal dengan julukan Raungan Pedang Warna.


***


Setelah kelas bubar, Ryu, Reiko, dan Isamu terlihat berbincang di taman kecil yang merupakan lantai teratas bangunan kelas murid tingkat 2.


“Mengapa master K lam... “ Belum selesai kalimat Ryu, terdengar suara bersin dari belakangnya. Mereka bertiga serentak menoleh kearah suara itu.


“Sedetik yang lalu.” Ucap Ken seakan tahu yang mau ditanyakan oleh Reiko, membuat gadis kecil itu menutup kembali mulutnya yang tidak sempat mengeluarkan suara.


“Master, tolong jelaskan tentang perihal semalam.” Ucap Isamu dengan cepat. Dia khawatir bernasib sama dengan Reiko.


“Ya..., tentu saja tetapi aku tidak akan membagi informasinya dengan mudah, setidaknya kalian bertiga harus mampu memaksaku untuk berbicara.” Ucap Ken dengan santai.


Mereka mengerti maksud master Ken, sejenak mereka saling tatap dan mengangguk serentak.


“Aku mulai.” Ucap Ryu, dia bergerak cepat dan mengarahkan tendangannya ke dada master Ken. Tetapi hanya mengenai udara kosong, karena Ken telah bergeser cepat.


Whuusss... Isamu segera mengayunkan kakinya kearah betis Ken, dia juga tidak beruntung karena Ken telah melompat cepat ke udara.


Ken berdecak kagum, kecepatan kedua muridnya meningkat drastis, “ Bagaimana denganmu Reiko?” ucapnya dalam hati sambil melirik kearah Reiko.


Namun Ken lebih terkejut lagi, ketika Reiko mengarahkan kedua telapak tangan kearahnya.


Tiba-tiba muncul rantai cakra dengan kecepatan tinggi yang memaksanya mencabut dua kunai untuk menepisnya, dan dia segera mendarat dari udara. Ryu dan Isamu juga terkejut dengan kekuatan terbaru Reiko.


“Sepertinya lantai di gedung ini akan hancur jika diteruskan disini. Ikuti aku!” Ken segera melompat dari atap gedung ke pucuk pohon dan terus melesat diikuti ketiga muridnya.


Setibanya di padang rumput yang tidak jauh dari akademi, ketiga murid itu langsung menyerang tanpa buang waktu. Ken mengeluarkan dua kunai , dia merasa akan mengeluarkan keringat juka tidak menggunakannya.