
Ssrraakk...
ssrraakk...
ssrraakk...
Bunyi gesekan sesuatu terhadap semak- semak yang ada di sekitar mereka terdengar jelas oleh para shinobi.
“Morio, monster apa yang telah menjadi rekanmu ?” Ken bertanya kepada pemimpin pengawal tuan Satoshi. Dia ingin memastikan agar semaksimal mungkin tidak akan ada yang menjadi korban malam ini.
“Rekanku adalah Inugami kepala tiga, senior.” Morio menanggapi pertanyaan Ken.
“Sangat bagus, Inugami sangat cocok untuk menghadapi siluman seperti ini karena Inugami punya kalung api.” Ken terlihat yakin.
“Apakah cerita itu benar ? Apakah senior pernah melihatnya ?” Morio penasaran karena ia melihat Ken masih saja tenang terhadap makhluk yang sedang mengintai mereka.
“Master, sebenarnya makhluk apa yang akan kita hadapi ini ?” Isamu yang telah bersiap dengan pisau berantainya
juga penasaran.
Karena obor dan api unggun yang mereka buat masih menyala, makhluk itu tidak berani mendekati mereka karena dia sangat sensitif terhadap cahaya kecuali cahaya rembulan. Ken memutuskan untuk menjelaskan secara singkat tentang siluman yang sedang mengintai mereka dari kegelapan di Rawa Bangkai.
Nure-onna adalah salah satu siluman betina tingkat tinggi yang mempunyai wujud ular raksasa. Dia adalah siluman yang kuat dan gesit namun hanya keluar disaat malam hari karena dia sangat sensitif dengan cahaya kecuali cahaya bulan. Kulitnya akan terbakar jika terkena cahaya api, terlebih lagi jika cahaya matahari.
Jika telah berumur ratusan tahun dan memangsa manusia dengan jumlah yang banyak maka dia akan memiliki tubuh manusia mulai dari kepala hingga ke perut, dan jika telah mencapai usia seribu tahun maka dia dapat seutuhnya menyamar sebagai manusia dengan kekuatan tetap dan tanpa bisa di deteksi shinobi level R.
“Hihihihi....” suara tawa itu terdengar lagi, mereka semakin merasa tertekan dengan teror siluman itu.
Reiko yang merasa tertekan telah mengaktifkan cakranya untuk mengimbangi tawa yang disertai cakra gelap siluman itu. Ryu yang berada di dekatnya berusaha menenangkan Reiko dengan menyentuh pundaknya dan diam- diam mengalirkan energi tapak mentari ke tubuh Reiko. Alasan ketika murid dari akademi Langit Biru yang selamat dari serangan Ryu adalah pada saat itu dia mengeluarkan Tapak dan Tinju mentari sekaligus, namun pada malam sebelum keberangkatan misi master Ken menjelaskan kepada Ryu bahwa energi Tapak mentari adalah untuk pemulihan luka atau cedera dan dapat pula untuk memberikan rasa hangat yang menenagkan.
“Sebaiknya kalian menyerah saja, aku berjanji akan membuat kematian kalian terasa cepat, tetapi jika kalian melakukan perlawanan... hihihihi.... kalian akan terlebih dahulu kusiksa sebelum akhirnya kutelan. Hihihihi...” Siluman betina itu terdengar mengancam dan suaranya semakin mendekat.
“Semuanya tenang dan waspada, aktifkan cakra kalian untuk melawan tekanan tawanya, selagi api masih hidup dia tidak akan berani mendekat. “ Ken kembali menenangkan mereka, karena melihat beberapa shinobi sudah hampir kehilangan kontrol akibat tekanan cakra gelap tawa itu.
tesh..
tesh..
Beberapa tetes air mengenai tubuh mereka, semuanya terkejut dan segera menatap ke langit. Bintang yang tadinya terlihat banyak kini tidak ada sama sekali, cahaya bintang itu telah tertutup awan. Pertanda ini tidak baik bagi mereka, karena hujan akan segera turun yang berarti api yang mereka nyalakan akan padam.
Atas perintah Ken, mereka semua berkumpul ke dekat api unggun yang masih menyala. Para shinobi mengelilingi tuan Satoshi, Miyaki, dan para rombongan yang tidak memiliki kemampuan bertarung.
“Krraakk...” terdengar bunyi dahan kayu yang patah dari kegelapan.
“Bruussshh...” tiba- tiba, tiga obor yang mereka tancapkan di tanah padam karena dihempas oleh patahan dahan kayu. Morio melemparkan 2 kunai dan di ikuti oleh bawahannya ke arah asal dahan kayu itu datang.
Samar terlihat dari dekat obor yang telah padam itu muncul sosok ular besar dengan bentuk tubuh wanita telanjang sampai ke perut.
Ternyata dia telah berevolusi, ini semakin berbahaya. Ucap Ken dan menarik pedang pendek sepanjang 3 jengkal dari punggungnya. Kemudian dia mengalirinya dengan energi matahari dari pengolahan jutsu gulungan matahari yg juga dipelajari oleh Ryu, pedang pendek itu bersinar terang dan memanjang sampai 9 jengkal.
Siluman itu tersenyum dengan mulutnya yang lebar dan menatap mereka sambil menjulurkan lidahnya yang bercabang. “Ssshhh.... hihihihi... ada dua gigi taring yang runcing di sudut mulutnya.” Miyaki dan beberapa pembantu tuan Satoshi seketika pingsan melihatnya.
Para shinobi semakin merapat mundur ke arah api unggun. Semuanya telah mengeluarkan senjata mereka masing- masing.
“Reiko, Isamu ingat apa tugas kalian.”
“Siap master” jawab mereka serentak.
“Ryu dan Morio.” Master Ken menatap mereka berdua.
“Kami siap..”
“Tunggu aba- aba dariku, akan kita buat dia menyesal malam ini.” Ken balas tersenyum jahat dan tatapan yang menakutkan.