
Ketika rombongan tuan Satoshi mendirikan tenda, tidak jauh dari tempat mereka terlihat satu rombongan pedagang yang memasuki hutan Bambu Bersiul. Rombongan itu hanya sedikit lebih kecil dari rombongan tuan Satoshi. Rombongan itu hanya di kawal oleh tiga orang shinobi yang tersenyum kecil ketika melihat mereka mendirikan tenda di tepi hutan.
“Aku tidak suka tatapan dan senyum mereka !” Morio membalikkan badannya.
“Jika memang di dalam hutan ini ada perampok itu, apa tidak sebaiknya kita memperingatkan mereka ? Ryu memandang ke arah masternya dan tuan Satoshi.
Melihat Ryu dan temannya mempunyai niat yg baik seperti itu, maka tuan Satoshi memilih untuk menjelaskan tentang rombongan itu. Rombongan pedagang itu adalah rombongan Shigeru Kumuro, pedagang yang cukup besar dari kota kecil Bukit Angin. Shigeru Kumuro adalah orang yang licik, tuan Satoshi memastikan jika dia pasti memiliki hubungan dengan perampok di hutan itu sehingga berani memasukinya walaupun malam sebentar lagi tiba.
---
Sebelum mentari pagi muncul, Ryu telah bangun dari tidurnya dan keluar dari tendanya. Di luar dia menemukan master Ken, Reiko, dan Isamu yang sedang berdiri menghadap ke hutan Bambu Bersiul. Ryu yang datang dari belakang mereka menyapa dan menanyakan apa yang mereka lakukan.
Tetapi master dan kedua sahabatnya itu tidak ada yang menoleh dan menjawabnya, mereka benar- benar tidak bergerak sama sekali. Ryu merasakan ada yang tidak beres, kemudian dia berjalan untuk mendekat dan melihat keadaan mereka.
Deg...
Deg...
Ryu sangat terkejut sampai terduduk di tanah. Dia menemukan master dan kedua temannya melotot ke arahnya dengan wajah yang sangat pucat. Bola mata mereka terlihat menghitam, dan di tubuh mereka dipenuhi oleh luka bekas pertarungan. Ryu merasa sangat ketakutan dan ingin berteriak tetapi dia seakan tidak punya suara. Tiba- tiba muncul sebuah tangan raksasa dari hutan Bambu Bersiul yang kemudian mencengkeramnya dan menyeretnya masuk kedalam hutan.
Ryu...
Ryu...
Ryu...
“Kau membuat kami takut !” Isamu menepuk pundak Ryu.
“Apa yang terjadi ?” Reiko terlihat masih mengkhawatirkan Ryu.
“Mimpi buruk... mimpi itu terasa sangat nyata !” Ryu memandangi kedua wajah sahabatnya kemudian masternya, seakan memeriksa wajah mereka satu persatu.
“Itu hanya mimpi buruk Ryu ! segera persiapkan dirimu, kita akan segera berangkat !” Ken kembali menenangkan muridnya. Sebenarnya malam itu dia juga bermimpi buruk, seolah ini adalah pertanda buruk bagi perjalanan mereka ketika memasuki hutan Bambu Bersiul.
Mereka mulai berangkat dan memasuki hutan itu setelah matahari muncul. Semakin dalam mereka memasuki hutan, suara bersiul terdengar semakin ramai dan kuat. Siulan itu seolah menemani siapapun yang sedang melintasi hutan dengan irama berganti- ganti.
Jika bukan karena perampok kelabang hitam yang terkenal beberapa bulan terakhir ada di hutan ini, maka hutan ini sangat indah untuk di kunjungi. Tiupan angin yang berubah- ubah menjadikan bunyi siulan pada beberapa batang bambu yang berlubang itu semakin indah.
Ken mengingatkan para anggota rombongan untuk tetap waspada dan jangan lengah karena kemungkinan besar perampok menunggu mereka di hutan ini. Setelah hari hampir siang, mereka telah ada di pertengahan hutan dan mendadak bunyi siulan yang sebelumnya terus menemani perjalanan mereka hilang.
Angin seolah- olah berhenti berhembus, Ken yang berada paling depan mencabut pedang pendek yang ada di punggungnya. Dia kembali setengah berteriak untuk mengingatkan semuanya agar waspada, semua shinobi di rombongan itu mengikutinya untuk mengeluarkan senjata.
Ryu mengeluarkan belati kembarnya yg sudah retak namun masih cukup baik untuk digunakan. Isamu yang telah kehilangan pisau kecil berantainya hanya mengeluarkan 2 kunai sama seperti Reiko, dia belum mengeluarkan senjata pusakanya yang dia simpan di cincin ruang merah.
Ken semakin hati- hati, indranya menangkap adanya aroma darah. Beberapa meter di depannya dia melihat ada kereta kuda pedagang dan beberapa tubuh terbaring di tanah.