
Clarissa pun segera naik keatas menuju kamar chrysan, tapi, ia kebingungan
dimana kamar chrysan karena kamar dilantai atas terdapat lima kamar yg sejajar.
Ia berhenti di ujung tangga dan mulai memilih, ' kedua, ya kamar kedua'
pikirnha. Ia pun mendekati pintu kedua dari pojok dan membuka pintunya. Ia
terkejut saat membuka pintu yg ia lihat ternyata adalah jeon yg tidak memakai
baju, awalnya ia merasa kasihan karena terdapat kaitan yg berdarah di punggung
nya dan tiba tiba ia merasa heran. ' apa ia tidak merasa sakit? Dengan darah yg
masih mengalir dari bekas jaitannya?' tanyanya bingung
" Apa kau masih akan terus memandangiku seperti itu dari balik pintu?
Hah? Clarissa"
Dan ternyata jeon mengetahui bahwa Clarissa mengamatinya sedari tadi.
" Maafkan aku, aku tidak bermaksud mengintip" ucap Clarissa
canggung
" Bagus, cepat tutup pintunya. Lain kali jika ingin masuk kekamar
seseorang ketuk pintunya dahulu" balas jeon dingin
" Tapi, punggung mu..."
" Aku tahu, tinggalkan aku cepat" jeon masih saja membalasnya
dengan dingin
" Aku bisa membantumu mengobatinya, jika dibiarkan luka itu akan
menjadi infeksi" ujar Clarissa
" Aku bisa mengobatinya sendiri"
" Lagipula, kau akan susah menjangkau punggungmu, biar kan aku
mengobatinya setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi"
" Hhhh... Baiklah. Tapi cepat karena aku tidak suka jika ada perempuan
dikamarku" tukas jeon.
Clarissa pun mengambil kotak p3k dari atas meja kamar jeon dan mulai mengobati
punggungnya yg terluka dengan sangat hati-hati
" Apa ini tidak sakit?" Tanya Clarissa
" Jika sudah selesai, kau boleh keluar"
" Aku serius bertanya kepadamu, apa ini masih sakit. Jika masih sakit
harus rutin diobati" tegas Clarissa
" Lalu apa pedulimu?! Jika ini masih sakit apa kau juga akan merasa
sakit?? " Bentak jeon
" Maafkan aku, aku hanya ingin membantu" balas Clarissa pelan
" Kau boleh keluar sekarang" ucap jeon dingin.
........
Clarissa keluar kamar dengan suasana hati yang sangat kacau. Ia berniat
membantu Jeon, namun yang ia dapat adalah cacian. Ia ingin sekali menangis
tapi, ia menguatkan dirinya sendiri. Baru kali ini usaha dan bantuannya terasa
tidak dihargai. Apa hanya karena ia mengetahui rahasia Jeon, ia akan dibenci
seperti ini. Ia sempat mendengar bahwa Jeon selalu kesal setiap kali
melihatnya, dan itu membuatnya sakit hati. Jika ia boleh jujur, ia sebenarnya
menyukai Jeon dalam diam. Ia selalu memperhatikan Jeon dikampus, ia tidak
peduli seberapa banyak saingan yang ia miliki tapi, rasa yang ia punya akan
tetap ada. Ia menyukai Jeon apapun adanya. Ia tidak peduli jika ia adalah robot
manusia, ia tidak peduli bahwa ternyata Jeon adalah yang selama ini membuatnya
dalam bahaya. Ia akan tetap menyukainya. Tapi, bagaimana rasanya dibentak dan
diperlakukan kasar oleh orang yang kita sukai? itu pasti sangat sakit.
..............
apa tidak cukup ia mengetahuiku lebih dari yang lain?! entahlah aku
benar-benar kesal dan muak saat melihat wajahnya. Arghh... Mengapa aku
tiba-tiba menjadi agresif ?? Emosiku juga menjadi tidak stabil seperti
Chrysan kemari saja, aku belum siap untuk menemui hal yang membuatku kesal
lagi, aku tidak ingin membentak siapa-siapa lagi.
" Chrysan, kekamarku sekarang!" teriakku dari lantai atas. Tak
lama iapun datang, sudah membawa alat medis sederhananya.
" aku melihat Clarissa menangis tadi, apa kau membentaknya?"
" bisakah kau tidak membahasnya?! aku memanggilmu bukan untuk membahas
dirinya!"
Chrysan terdiam ketakutan. Sial, aku membentak seseorang lagi.
" maafkan aku. Aku sedang tidak ingin membahas siapapun sekarang, kapan
jadwal penjemputan mereka, aku harus segera memulihkan emosiku yang mulai tidak
terkendali ini. Cepat periksa aku"
" besok pagi sepertinya Rex akan mengirimu sinyal untuk membawa mereka
kemarkas. Tunggu, apa jahitan punggungmu berdarah lagi?"
" ya"
" apakah Clarissa yang mengobatimu?"
"ya"
" kumohon jangan membentak siapapun lagi setelah ini Jeon dan jaga
dirimu. Tidak selamanya kita akan terus bersama orang-orang yang akan terus
mengingatkan kita akan sesuatu. Dan kumohon satu hal lagi, minta maaflah pada
Clarissa. Ia tidak bersalah.
......................
Tak lama setelah Chrysan memeriksaku, akupun segera keluar kamar dan mendapati
Clarissa didepan ruang kerja Chrysan dan sepertinya ia menangis. Akupun segera
menghampirinya untuk meminta maaf karena perlakuan dingin dan kasarku tadi.
" maafkan aku" ucapku
Ia pun menghapus air mata yang menitik di pipinya " untuk apa kau meminta
maaf?"
" atas perlakuanku tadi. Itu terlalu kasar. Maafkan aku"
" tidak perlu minta maaf. Aku yang terlalu berlebihan"
" itu tidak berlebihan, wajar kau menangis karena kau wanita"
" aku sungguh hanya ingin membantumu, kau belum menjawab pertanyaanku tadi.
Apakah kau merasa sakit saat ku obati tadi?"
Aku enggan sekali menjawab pertanyaannya tapi, aku tidak ingin menciptakan
kesan buruk lagi terhadapnya " tidak, itu tidak sakit sama sekali"
" bohong. Tidak mungkin luka seperti itu tidak sakit"
Damn it! Aku benci saat seperti ini " ini tidak sakit sama sekali"
aku mengulang perkataanku tadi
" apa kau yakin tidak merasa sakit sama sekali ?"
" tidak! Aku bahkan tidak tahu apa itu rasa sakit, aku.. aku tidak tahu
bagian mana tubuhku yang sakit. Aku tidak tahu! Dan tidak akan pernah tahu. Apa
kau puas dengan jawabanku sekarang?!" aku membentaknya lagi. Aku tidak
peduli jika Chrysan mendengar bentakanku ini, aku juga tidak peduli jika mereka
yang dibawah tahu bahwa aku mengida sebuah penyakit layaknya bom waktu.
" kau.. pengidap CIPA?" tanyanya dengan suara gemetar
" iya. Kukira kau sudah tahu, jangan beritahukan ini pada
siapapun" aku berjalan meninggalkannya
" tunggu! Ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan padamu"
Akupun menghentikan langkahku tanpa sedikitpun menoleh kepadanya
" apa Chrysan adalah kekasihmu?"
" tidak, dan itu bukan urusanmu"
…………