The Five

The Five
8



Clarissa pun segera naik keatas menuju kamar chrysan, tapi, ia kebingungan


dimana kamar chrysan karena kamar dilantai atas terdapat lima kamar yg sejajar.


Ia berhenti di ujung tangga dan mulai memilih, ' kedua, ya kamar kedua'


pikirnha. Ia pun mendekati pintu kedua dari pojok dan membuka pintunya. Ia


terkejut saat membuka pintu yg ia lihat ternyata adalah jeon yg tidak memakai


baju, awalnya ia merasa kasihan karena terdapat kaitan yg berdarah di punggung


nya dan tiba tiba ia merasa heran. ' apa ia tidak merasa sakit? Dengan darah yg


masih mengalir dari bekas jaitannya?' tanyanya bingung


" Apa kau masih akan terus memandangiku seperti itu dari balik pintu?


Hah? Clarissa"


Dan ternyata jeon mengetahui bahwa Clarissa mengamatinya sedari tadi.


" Maafkan aku, aku tidak bermaksud mengintip" ucap Clarissa


canggung


" Bagus, cepat tutup pintunya. Lain kali jika ingin masuk kekamar


seseorang ketuk pintunya dahulu" balas jeon dingin


" Tapi, punggung mu..."


" Aku tahu, tinggalkan aku cepat" jeon masih saja membalasnya


dengan dingin


" Aku bisa membantumu mengobatinya, jika dibiarkan luka itu akan


menjadi infeksi" ujar Clarissa


" Aku bisa mengobatinya sendiri"


" Lagipula, kau akan susah menjangkau punggungmu, biar kan aku


mengobatinya setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi"


" Hhhh... Baiklah. Tapi cepat karena aku tidak suka jika ada perempuan


dikamarku" tukas jeon.


Clarissa pun mengambil kotak p3k dari atas meja kamar jeon dan mulai mengobati


punggungnya yg terluka dengan sangat hati-hati


" Apa ini tidak sakit?" Tanya Clarissa


" Jika sudah selesai, kau boleh keluar"


" Aku serius bertanya kepadamu, apa ini masih sakit. Jika masih sakit


harus rutin diobati" tegas Clarissa


" Lalu apa pedulimu?! Jika ini masih sakit apa kau juga akan merasa


sakit?? " Bentak jeon


" Maafkan aku, aku hanya ingin membantu" balas Clarissa pelan


" Kau boleh keluar sekarang" ucap jeon dingin.


........


Clarissa keluar kamar dengan suasana hati yang sangat kacau. Ia berniat


membantu Jeon, namun yang ia dapat adalah cacian. Ia ingin sekali menangis


tapi, ia menguatkan dirinya sendiri. Baru kali ini usaha dan bantuannya terasa


tidak dihargai. Apa hanya karena ia mengetahui rahasia Jeon, ia akan dibenci


seperti ini. Ia sempat mendengar bahwa Jeon selalu kesal setiap kali


melihatnya, dan itu membuatnya sakit hati. Jika ia boleh jujur, ia sebenarnya


menyukai Jeon dalam diam. Ia selalu memperhatikan Jeon dikampus, ia tidak


peduli seberapa banyak saingan yang ia miliki tapi, rasa yang ia punya akan


tetap ada. Ia menyukai Jeon apapun adanya. Ia tidak peduli jika ia adalah robot


manusia, ia tidak peduli bahwa ternyata Jeon adalah yang selama ini membuatnya


dalam bahaya. Ia akan tetap menyukainya. Tapi, bagaimana rasanya dibentak dan


diperlakukan kasar oleh orang yang kita sukai? itu pasti sangat sakit.


..............


apa tidak cukup ia mengetahuiku lebih dari yang lain?! entahlah aku


benar-benar kesal dan muak saat melihat wajahnya. Arghh... Mengapa aku


tiba-tiba menjadi agresif ?? Emosiku juga menjadi tidak stabil seperti


Chrysan kemari saja, aku belum siap untuk menemui hal yang membuatku kesal


lagi, aku tidak ingin membentak siapa-siapa lagi.


" Chrysan, kekamarku sekarang!" teriakku dari lantai atas. Tak


lama iapun datang, sudah membawa alat medis sederhananya.


" aku melihat Clarissa menangis tadi, apa kau membentaknya?"


" bisakah kau tidak membahasnya?! aku memanggilmu bukan untuk membahas


dirinya!"


Chrysan terdiam ketakutan. Sial, aku membentak seseorang lagi.


" maafkan aku. Aku sedang tidak ingin membahas siapapun sekarang, kapan


jadwal penjemputan mereka, aku harus segera memulihkan emosiku yang mulai tidak


terkendali ini. Cepat periksa aku"


" besok pagi sepertinya Rex akan mengirimu sinyal untuk membawa mereka


kemarkas. Tunggu, apa jahitan punggungmu berdarah lagi?"


" ya"


" apakah Clarissa yang mengobatimu?"


"ya"


" kumohon jangan membentak siapapun lagi setelah ini Jeon dan jaga


dirimu. Tidak selamanya kita akan terus bersama orang-orang yang akan terus


mengingatkan kita akan sesuatu. Dan kumohon satu hal lagi, minta maaflah pada


Clarissa. Ia tidak bersalah.


......................


Tak lama setelah Chrysan memeriksaku, akupun segera keluar kamar dan mendapati


Clarissa didepan ruang kerja Chrysan dan sepertinya ia menangis. Akupun segera


menghampirinya untuk meminta maaf karena perlakuan dingin dan kasarku tadi.


" maafkan aku" ucapku


Ia pun menghapus air mata yang menitik di pipinya " untuk apa kau meminta


maaf?"


" atas perlakuanku tadi. Itu terlalu kasar. Maafkan aku"


" tidak perlu minta maaf. Aku yang terlalu berlebihan"


" itu tidak berlebihan, wajar kau menangis karena kau wanita"


" aku sungguh hanya ingin membantumu, kau belum menjawab pertanyaanku tadi.


Apakah kau merasa sakit saat ku obati tadi?"


Aku enggan sekali menjawab pertanyaannya tapi, aku tidak ingin menciptakan


kesan buruk lagi terhadapnya " tidak, itu tidak sakit sama sekali"


" bohong. Tidak mungkin luka seperti itu tidak sakit"


Damn it! Aku benci saat seperti ini " ini tidak sakit sama sekali"


aku mengulang perkataanku tadi


" apa kau yakin tidak merasa sakit sama sekali ?"


" tidak! Aku bahkan tidak tahu apa itu rasa sakit, aku.. aku tidak tahu


bagian mana tubuhku yang sakit. Aku tidak tahu! Dan tidak akan pernah tahu. Apa


kau puas dengan jawabanku sekarang?!" aku membentaknya lagi. Aku tidak


peduli jika Chrysan mendengar bentakanku ini, aku juga tidak peduli jika mereka


yang dibawah tahu bahwa aku mengida sebuah penyakit layaknya bom waktu.


" kau.. pengidap CIPA?" tanyanya dengan suara gemetar


" iya. Kukira kau sudah tahu, jangan beritahukan ini pada


siapapun" aku berjalan meninggalkannya


" tunggu! Ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan padamu"


Akupun menghentikan langkahku tanpa sedikitpun menoleh kepadanya


" apa Chrysan adalah kekasihmu?"


" tidak, dan itu bukan urusanmu"


…………