The Five

The Five
25



" Kau memberinya kesan pertama kali dibentak.. ahahhha dia


berkata bahwa sebenarnya ia ingintertawa melihat ekspresimu saat itu, aku


membayangkan betapa merah nya wajahmu dan juga mata sembabmu itu… hahahahaha


lucu sekali"


" Jadi kau menertawaiku? Berani sekali kau menertawaiku"


" Kau itu sangat lucu tahu, Kau itu wanita berwajah polos yang


terlihat seperti orang bodoh, hahahaha"


" Ya! Michyeoss-eo?"


" Wah.. wah… sepertinya kau belajar banyak dari


Youngboun"


" Jeon! Berhenti menggodaku!"


" Hahahahahaha….dasar menggemaskan!"


" Tidak ada sesuatu yang aneh terjadi padamu bukan?"


" Tidak, memangnya ada apa?"


" Ah.. lupakan saja. Entah mengapa aku merasa ada yang aneh


terjadi"


" Dasar paranoid!"


" Biarkan saja!"


" Jeonnnnnnnnnnnn!!!!!!"


………..


3 hari berlalu….


Pagi ini dokter berkata bahwa Jeon sudah boleh pulang, aku merasa


sangat senang sekali, aku mendorong kursi roda Jeon ke lobby utama, Youngboun


akan menjemput kami. Suasana hari ini juga tengah bersahabat. Dan tanpa


disengaja sesoang menyenggol diriku.


" Maafkan aku" ujarku meminta maaf padanya


Ia hanya mengangguk tanpa sedikitpun melihatku dan pergi, dasar


aneh!


Tepat sekali Youngboun sudah datang, ia membantu Jeon masuk kedalam


mobil dan memasukkan barang-barang lainnya. Dijalan menuju rumah Jeon terus


saja menggenggam tanganku erat sambil tersenyum menatapi jalan. Dulu ia bahkan


sangat membenciku namun, sekarang ia malah tidak ingin jauh denganku.


DI rumah semua menyambut Jeon datang kembali kerumah, ada satu


cahaya lagi yang kembali setelah lama redup. Kami bersembilan akan selalu


bersama-sama mulai sekarang, mungkin kami akan berpisah nanti tapi, kami akan


terus menghubungi satu sama lain.


………….


Setelah kepulanganku ke rumah semua terasa nyaman, aku seperti


mempunyai keluarga lagi sekarang Jino juga lebih sering dirumah tidak seperti


dulu. Saat orang tua kami masih hidup ia tidak suka berada dirumah, ia benci


terus-menerus diomeli oleh orang tuaku. Aku bahkan masih ingat kata-katanya


jika ia kesal pada orang tuaku


" mengapa tidak sekalian saja buang aku seperti anak-anak


buangan lainnya diluar sana. Apapun yang kulakukan selalu salah padahal aku


sudah mencoba mengikuti detail perintahnya. Salahkan saja lagi-lagi dan lagi.


Panas telingaku mendengarnya."


Aku tertawa kecil mengingatnya, tidak jarang juga Jino menyalahkan


aku karena ia pikir aku ini tidak pernah mersakan rasanya menjadi dirinya.


Sekarang keluarga kami berbeda, kami akan saling mengingatkan satu sama lain


tanpa ada rasa benci bahkan dendam. Kurasa semua akan berjalan lancar.


Hari ini aku akan mengajak Clarissa berjalan-jalan santai karena ia


iri dengan Ivy yang terus saja berkencan dengan Youngboun, aku mengajaknya


ketaman kota, satu-satunya tempat yang paling asri karena sebenarnya aku ingin


mengajaknya kebioskop tapi, akan kulakukan itu di lain waktu saja. Aku ingn


menghabiskan watu dengannya berdua saja menikmati suasana alam sambil mengamati


perubahan dunia.


dirusak oleh tangan manusia sendiri dengan teknologi, rasa ketamakan dan rasa


serakah. Ego manusia memang diatas segalanya bahkan jika orang itu tidak bisa mengendalikan


dirinya seperti Rex, ia merasa dulu ia sengsara dan saat ia bebas dari


kesengsaraan itu di malah membuat orang lain menderita. Aku juga merasakan hal


yang sama namun, aku tidak akan berakhir seperti Rex. Aku akan membantu orang


lain keluar dari kesengsaraan itu dan mengajaknya berjalan bersamaku.


" Apa yang kau pikirkan Jeon?" pertanyaan Clarissa


membuyarkan lamunanku


" Tidak ada"


" Dasar tukang melamun!"


" Iya iya my honey"


Berkat Clarissa, aku sudah tidak pernah membentak orang lain lagi,


aku juga bisa mengontrol emosiku dan tidak bersikpa dingin pada orang lain.


Tiba-tiba kau teringat akan Chrysan, aku yakin Jino pasti sangat merindukan


Chrysan, aku akan ikut Jino menemui Chrysan dengan begitu aku tidak perlu


berpisah dengan Clarissa.


" Jeon, entah mengapa aku merasa ada yang janggal dengan orang


bertopi hitam disana"


" yang mana?"


" Yang bertopi hitam didekat pohon besar itu"


" memangnya dia kenapa?"


" Aku merasa ia mengamati kita terus, dan rasanya aku merasa


familiar dengan orang itu"


" Mungkin hanya perasaanmu saja atau bisa jadi ia iri dengan


kita berdua"


" Dasar tukang tebar pesona!"


Orang itu memang mengamati kita berdua Clarissa, entah sudah


beberapa hari beakangan ini orang itu selalu berada didekat kita. Aku harus


waspada, aku tidak akan membiarkan Clarissa dalam bahaya, aku harus melakukan


sesuatu terhadap orang itu.


…………………


" Jino, bisakah kau membantuku ?"


" Membantumu?"


" Akhir-akhir ini ada yang terus membututi aku dan Clarissa,


dan Clarissa sudah menyadari akan hal itu"


" Bukankah kau sudah menangkap semua anak buah Rex?"


" Iya, aku ingat sekali tidak ada yang tersisa lagi"


" Apa mungkin orang yang kau maksud itu sebenarnya adalah


robot?"


" Robot? Yang benar saja Jino! Masalahnya ia sama sekali tidak


terlihat seprti robot. Aku tahu gerak-gerik robot itu seperti apa. Lagipula


semua robot yang diuat Rex sudah hancur bersama bom itu"


" Kau benar juga, tapi siapa? Apa kau mempunyai musuh?"


" Jino… Berapa tahun aku tidak hidup sebagai manusia dan


berapa tahun juga aku kembali menjadi manusia lagi?"


" Bisa saja"


" Selama 3 tahun aku terkurung ditempat sialan itu, dan


setelah tiga tahun aku tidak berada di kota ini, aku pergi keluar negri mana


mungkin orang yang membenciku di negeri lain mendatangiku kemari untuk


membalaskan dendamnya dan lagi aku membuat masalah di kampus saja tidak


pernah"


" Aku rasa orang yang membuntuti kalian itu sudah lama


melakukannya bukan hanya akhir-akhir ini"


" Maksudmu?"