
" Kau memberinya kesan pertama kali dibentak.. ahahhha dia
berkata bahwa sebenarnya ia ingintertawa melihat ekspresimu saat itu, aku
membayangkan betapa merah nya wajahmu dan juga mata sembabmu itu… hahahahaha
lucu sekali"
" Jadi kau menertawaiku? Berani sekali kau menertawaiku"
" Kau itu sangat lucu tahu, Kau itu wanita berwajah polos yang
terlihat seperti orang bodoh, hahahaha"
" Ya! Michyeoss-eo?"
" Wah.. wah… sepertinya kau belajar banyak dari
Youngboun"
" Jeon! Berhenti menggodaku!"
" Hahahahahaha….dasar menggemaskan!"
" Tidak ada sesuatu yang aneh terjadi padamu bukan?"
" Tidak, memangnya ada apa?"
" Ah.. lupakan saja. Entah mengapa aku merasa ada yang aneh
terjadi"
" Dasar paranoid!"
" Biarkan saja!"
" Jeonnnnnnnnnnnn!!!!!!"
………..
3 hari berlalu….
Pagi ini dokter berkata bahwa Jeon sudah boleh pulang, aku merasa
sangat senang sekali, aku mendorong kursi roda Jeon ke lobby utama, Youngboun
akan menjemput kami. Suasana hari ini juga tengah bersahabat. Dan tanpa
disengaja sesoang menyenggol diriku.
" Maafkan aku" ujarku meminta maaf padanya
Ia hanya mengangguk tanpa sedikitpun melihatku dan pergi, dasar
aneh!
Tepat sekali Youngboun sudah datang, ia membantu Jeon masuk kedalam
mobil dan memasukkan barang-barang lainnya. Dijalan menuju rumah Jeon terus
saja menggenggam tanganku erat sambil tersenyum menatapi jalan. Dulu ia bahkan
sangat membenciku namun, sekarang ia malah tidak ingin jauh denganku.
DI rumah semua menyambut Jeon datang kembali kerumah, ada satu
cahaya lagi yang kembali setelah lama redup. Kami bersembilan akan selalu
bersama-sama mulai sekarang, mungkin kami akan berpisah nanti tapi, kami akan
terus menghubungi satu sama lain.
………….
Setelah kepulanganku ke rumah semua terasa nyaman, aku seperti
mempunyai keluarga lagi sekarang Jino juga lebih sering dirumah tidak seperti
dulu. Saat orang tua kami masih hidup ia tidak suka berada dirumah, ia benci
terus-menerus diomeli oleh orang tuaku. Aku bahkan masih ingat kata-katanya
jika ia kesal pada orang tuaku
" mengapa tidak sekalian saja buang aku seperti anak-anak
buangan lainnya diluar sana. Apapun yang kulakukan selalu salah padahal aku
sudah mencoba mengikuti detail perintahnya. Salahkan saja lagi-lagi dan lagi.
Panas telingaku mendengarnya."
Aku tertawa kecil mengingatnya, tidak jarang juga Jino menyalahkan
aku karena ia pikir aku ini tidak pernah mersakan rasanya menjadi dirinya.
Sekarang keluarga kami berbeda, kami akan saling mengingatkan satu sama lain
tanpa ada rasa benci bahkan dendam. Kurasa semua akan berjalan lancar.
Hari ini aku akan mengajak Clarissa berjalan-jalan santai karena ia
iri dengan Ivy yang terus saja berkencan dengan Youngboun, aku mengajaknya
ketaman kota, satu-satunya tempat yang paling asri karena sebenarnya aku ingin
mengajaknya kebioskop tapi, akan kulakukan itu di lain waktu saja. Aku ingn
menghabiskan watu dengannya berdua saja menikmati suasana alam sambil mengamati
perubahan dunia.
dirusak oleh tangan manusia sendiri dengan teknologi, rasa ketamakan dan rasa
serakah. Ego manusia memang diatas segalanya bahkan jika orang itu tidak bisa mengendalikan
dirinya seperti Rex, ia merasa dulu ia sengsara dan saat ia bebas dari
kesengsaraan itu di malah membuat orang lain menderita. Aku juga merasakan hal
yang sama namun, aku tidak akan berakhir seperti Rex. Aku akan membantu orang
lain keluar dari kesengsaraan itu dan mengajaknya berjalan bersamaku.
" Apa yang kau pikirkan Jeon?" pertanyaan Clarissa
membuyarkan lamunanku
" Tidak ada"
" Dasar tukang melamun!"
" Iya iya my honey"
Berkat Clarissa, aku sudah tidak pernah membentak orang lain lagi,
aku juga bisa mengontrol emosiku dan tidak bersikpa dingin pada orang lain.
Tiba-tiba kau teringat akan Chrysan, aku yakin Jino pasti sangat merindukan
Chrysan, aku akan ikut Jino menemui Chrysan dengan begitu aku tidak perlu
berpisah dengan Clarissa.
" Jeon, entah mengapa aku merasa ada yang janggal dengan orang
bertopi hitam disana"
" yang mana?"
" Yang bertopi hitam didekat pohon besar itu"
" memangnya dia kenapa?"
" Aku merasa ia mengamati kita terus, dan rasanya aku merasa
familiar dengan orang itu"
" Mungkin hanya perasaanmu saja atau bisa jadi ia iri dengan
kita berdua"
" Dasar tukang tebar pesona!"
Orang itu memang mengamati kita berdua Clarissa, entah sudah
beberapa hari beakangan ini orang itu selalu berada didekat kita. Aku harus
waspada, aku tidak akan membiarkan Clarissa dalam bahaya, aku harus melakukan
sesuatu terhadap orang itu.
…………………
" Jino, bisakah kau membantuku ?"
" Membantumu?"
" Akhir-akhir ini ada yang terus membututi aku dan Clarissa,
dan Clarissa sudah menyadari akan hal itu"
" Bukankah kau sudah menangkap semua anak buah Rex?"
" Iya, aku ingat sekali tidak ada yang tersisa lagi"
" Apa mungkin orang yang kau maksud itu sebenarnya adalah
robot?"
" Robot? Yang benar saja Jino! Masalahnya ia sama sekali tidak
terlihat seprti robot. Aku tahu gerak-gerik robot itu seperti apa. Lagipula
semua robot yang diuat Rex sudah hancur bersama bom itu"
" Kau benar juga, tapi siapa? Apa kau mempunyai musuh?"
" Jino… Berapa tahun aku tidak hidup sebagai manusia dan
berapa tahun juga aku kembali menjadi manusia lagi?"
" Bisa saja"
" Selama 3 tahun aku terkurung ditempat sialan itu, dan
setelah tiga tahun aku tidak berada di kota ini, aku pergi keluar negri mana
mungkin orang yang membenciku di negeri lain mendatangiku kemari untuk
membalaskan dendamnya dan lagi aku membuat masalah di kampus saja tidak
pernah"
" Aku rasa orang yang membuntuti kalian itu sudah lama
melakukannya bukan hanya akhir-akhir ini"
" Maksudmu?"