The Five

The Five
18



" Iya Clarissa, sekarang kau tidak perlu khawatir lagi"


Aku segera berlari keluar kamar, aku harus menemui Jeon. Aku harus


memastikan bahwa Jeon juga selamat. Namun, aku tidak menemukan ia diluar,


dihalaman atau dimanapun. Apa Jeon mati karena bom itu?


' Jeooooonnnnnn!!!!!' hatiku menjerit sejadi-jadinya. Air mataku


turun begitu deras, aku masih tidak percaya Jeon begitu cepat pergi. Aku belum


siap dengan kepergiannya.


" hei nona, kenapa kau menangis?"


Aku segera mendongak melihat siapa yang menanyaiku, kuseka air


mataku dan betapa terkejutnya aku saat melihat wajah Jeon,


" Jeon! Syukurlah kau masih hidup!" Ucapku memeluknya


erat


" aah.. iya tentu "


" Apa yang terjadi dengan wajahmu?"


" Ah.. ini, terkena sayatan besi tajam. Tapi, tidak apa, ini


hanya luka kecil. Sudahlah ayo kita masuk kedalam"


" Baiklah"


Sungguh aku sangat bersyukur Jeon selamat. Tidak bisa kubayangkan


jika ia tidak selamat, dan untungnya ia bisa menghabisi Rex, jadi kami tidak


perlu khawatir lagi.


…………


Beberapa Minggu Kemudian……


Malam ini aku dan Ivy akan pergi berkencan, ku harap cuaca


bersahabat dengan kami kali ini. Aku menunggunya diruang tengah. Untuk


sementara kami tinggal dirumah Jeon, awalnya kukira rumah ini adalah gudang


karena sangat kosong dan sunyi tapi, setelah Jeon menjelaskan pada kami bahwa


rumah ini sebenarnya adalah rumahnya, kami langsung membersihkan nya dan


sementara tinggal disini.


Aku masih terpaku dengan foto Jeon yng dipajang diruang tengah, ku


rasa ia memang sengaja memakai efek mirroring di fotonya, dan ternyata memang


dia sudah mempunyai tatapan yang dingin dan mematikan sejak kecil. Dasar pria


kulkas!


" Bagaimana penampilanku?" tanya Ivy dengan pakaian


simple khas dirinya, Kaos atasan berlengan panjang dan juga celana jeans


" Cantik dan seperti biasa memukau hatiku"


" Benarkah itu?"


" Tentu saja, Chagi-ya!"


" Gumawo.."


Aku pun mengambil kunci mobil dan menuju ke halaman.


" Kau ingin pergi kemana?" tanya Jeon padaku


" Aku ingin berkencan dengan Ivy, ada apa?"


" Bisakah kau pergi ke sebuah dealer motor didekat reruntuhan


gedung markas, katakana saja Jackson menagih pengantaran pesanan"


" Oh tentu"


" Baik, terimakasih"


" Mengapa gaya bicaramu menjadi kaku seperti ini Jeon?"


" Tidak, aku memang seperti ini dari dulu"


Mengapa ia menjadi semakin dingin begitu? Aneh sekali.


………


Di Café……..


" Yoebo… kenapa kau melamun lagi?" Tanya Lavender


" Aku merasa ada yang janggal.."


" Maksudmu?"


" Aku merasa Jeon berbeda, ia seperti orang asing"


" Aku juga merasa begitu, ia seperti tidak mengenal kita.


Bahkan untuk menyapaku saja ia tidak pernah"


" Ia selalu bersikap kaku dan dingin"


" Entah mengapa aku merasa bahwa ia bukan Jeon"


" Apakah ada hal yang berbeda lagi darinya?"


" Seingatku, ia tidak mempunyai bekas luka di pipi


kirinya"


Sejenak aku mengingat wajah Jeon untuk memastikan


" Kau benar Chagi-ya! Jeon memang tidak punya bekas luka di


" bisa saja, tapi, itu bekas luka yang sudah lama sekali!


Bukan bekas luka yang baru ia dapat beberapa minggu belakangan ini, ia juga


tidak pernah mengobatinya"


" ini mencurigakan Ivy, aku rasa kita harus mencari tahu"


" kau benar"


………………..


Setelah kejadian di markas itu Jeon jadi berubah, entah aku yang


berubah atau dia yang berubah. Ia tidak lagi ramah denganku, menyapaku saja ia


tidak pernah bahkan tidak jarang ia memanggilku dengan sebutan nona, aku benci


dengan situasi seperti ini, aku juga mulai membencinya karena bersikap seakan


kita tidak pernah bertemu sebelumnya.


Jika ia memang tidak ingin aku mendekatinya, ia tidak harus


bersikap baik padaku. Hari-hari bersamanya selalu aku ingat, tapi, aku harus


melupakannya ia bahkan tidak mengingat namaku. Entah hatiku sangat sakit.


" Nona, kenapa kau menangis?" suara Jeon lagi!


" kenapa kau terus memanggilku nona?! Aku punya nama! Tidak


hanya itu kita pernah satu kampus kita bahkan berteman, tapi kenapa kau terus


menerus memanggilku nona, Jeon?!!" bentakku karena aku tidak tahan lagi


" Maafkan aku, aku hanya bermaksud sopan padamu"


" Sopan katamu?! Bahkan kau pernah membentakku! Kau pernah


mencaciku, memakiku bahkan merendahkanku! Dan sekarang kau mau bersikpa


sopan?!?"


Sungguh hati sakit sekali saat ia menjawab hanya ingin bersikap


sopan padaku, dulu ia mencaciku dan lainnya dan aku sudah terbiasa dengan itu.


Ia masih terdiam


" Kau bahkan tidak pernah menyapaku! Kau terus saja memanggil


wanita yang ada disini nona! Youngboun bahkan Steve juga tidak pernah mengobrol


lagi denganmu?! Kau ini sebenarnya kenapa Jeon?! Ada apa denganmu?!?" aku


terus memarahinya sambil menangis


Tidak peduli jika seisi rumah tahu aku sedang memaki Jeon, agar


mereka tahu bahwa Jeon sudah keterlaluan dengan sikapnya yang begitu dingin/


" Clarissa, tenanglah" Lucas mencoba menenangkanku


" Apa kau pernah berpikir Jeon, apa yang kami rasakan saat kau


bersikap tak acuh pada kami? Apa kau pernah memikirkannya, hah?!? Apa kali ini


sifat robotmu kembali??"


" Clarissa, tenangkan dirimu"


" DIAM LUCAS! Aku belum selesai bicara. Kami semua selalu bertanya-tanya


apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu? Apa karena kami menyusahkanmu? Jika ia


mengapa kau bantu kami? Mengapa kau bersikap pedui dan sekarang kau bersikap


egois seperti ini, Jeon?!?"


Ia masih terdiam, dan aku masih saja menangis


" Jawab Jeon!"


" Maafkan aku, sungguh maafkan aku"


" Jawab Jeon, aku bukan meminta permintaan maafmu, cukup jawab


mengapa kau seperti ini?!"


" Sungguh maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat kalian


marah"


"hikss… Jeon! Mengapa kau berlaku jahat seperti ini Jeon?! Kau


tahu aku menyukaimu! Dan aku selalu berusaha tidak menaruh harapan padamu tapi,


dimarkas saat itu tiba-tiba kau berubah menjadi sangat baik, bahkan kau


mengkhawatirkanku lalu sekarang kau seperti tidak mengenalku bahkan


teman-temanmu sendiri! Aku merasa sangat sakit karenamu Jeon!"


" Bukan begitu maksudku nona"


" Berhenti memanggilku nona!!"


" Maafkan aku, aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Maaf


aku harus pergi"


Air matak masih turun begitu derasnya, dan saat aku menuntut


penjelasan ia malah pergi. Jeon benar-benar sudah berubah. Aku masih bisa


memaklumi jika ia bersikap dingin padaku tapi, dengan teman-temannya sendiri


dia bahkan bersikap sangat dingin. Mengapa kau seperti ini Jeon? Mengapa????


………………….