
Pintu lift terbuka dan kamipun masuk bersama, aku memencet tombol
lantai 5. Selama di lift kami berdua hanya terdiam, aku bahkan tidak ingin
menatap wajahnya.dan tidak lama pintu terbuka dilantai 4. Oh shit! Itu Jason!.
Akupun segera menarik Clarissa dalam pelukanku agar Jason tidak dapat membaca
fikirannya. Aku mendekapnya sangat erat.
" hai Jeon? Bagaimana kabarmu?" tanya Jason
" baik, seperti yang kau tahu" jawabku masih mendekap
Clarissa
" siapa yang bersamamu?"
" dia..dia hanya seorang teman, kau tahu terkadang manusia
sangat menyukai dekapan"
" setelah kau selesai latihan, bisa kau kekamarku aku btuh
sedikit bantuan karena sepertinya processorku belum waktunya untuk
dipakai" ujarnya
" ya tentu saja" balasku.
…………..
Hei! Apa-apaan ini?? sial! Dekapannya sangat erat. Jason? Siapa itu
Jason? Jeon belum pernah menceritakannya padaku, aku berusaha mengintip siapa
itu Jason namun, Jeon sepertinya tida membiarkan itu terjadi, ia mendekapku
sangat erat sampai aku bisa mendengar detak jantungnya. Dan kurasa pintu lift
sudah terbuka. Jeon menarik tanganku kuat
" siapa dia?" tanyaku menahan tarikan tangannya sebelum
kami sempat memasuki ruang latihan.
" kau tidak perlu tahu. Yang pasti jangan pernah sekalipun kau
berkomunikasi dengannya"
" kau melarangku untuk bertemu dengannya padahal kau tidak
memberitahuku siapa ia!"
" ayo, masuk. Tutormu sudah menunggu" ia kembali menarik
tanganku
" tidak mau" tahanku
" terserah" ia melepaskan genggaman tangannya, dengan
cepat kembali kuraih tangannya kembali
" beri tahu aku, atau aku akan kabur dari sini" ancamku
" kabur? Lakukan saja jika kau bisa" balanya melepaskan
tanganku dan meninggalkanku
Oh shit! Dia mengabaikanku, sebenci itukah dia padaku?? Lihat saja
aku akan membuatnya tidak mengabaikanku lagi. Akupun masuk keruang latihan dan
sungguh aku bingung harus melakukan apa, ada banyak latihan diruangan ini mulai
dari latihan menembak, bela diri, tinju, hingga bertarung.
"Clarissa, sebelah sini!" panggil seorang wanita berbadan
atletis
Akupun segera menghampirinya.
"aku Lavender, kau akan berlatih bersamaku" ucapnya
memperkenalkan diri
"senang bertemu denganmu, Lavender. Jadi, kita akan berlatih
apa?"
"kita mulai dari bela diri dahulu, jika kau sudah mahir
bertarung dengan tangan kosong akan mudah bagimu bertarung dengan alat ataupun
senjata"
"we like learn some military object"
"you're right, and I do this just for my revenge"
" baiklah kita mulai, kau akan melawanku dahulu, ketika aku
tahu dimana kelemahanmu akan kita perkuat dipertemuan selanjutnya"
"ok"
…………..
Ivy mengajakku kelantai dasar, ia ingin menguji seberapa mahir
diriku dalam berkendara, dan latihan pertamaku adalah mengalahkan Ivy dalam
balapan motor. Sesampainya dilantai dasar, ia melempar kunci motor kearahku.
"baiklah Youngboun, kita akan mengitari perumahan yang ada
didekat sini, siapa yang lebih dulu sampai kesini dia yang menang"
"yang kalah harus mentraktir makan diresto sebelah sana"
ujarku
"baik, siapa takut"
"ok, jangan menangis saat kau kalah nanti"
"tidak sebelum aku yang mengalahkanmu youngboun, bye"
Sial! Dia memacu motornya dan meninggalkanku, lihat saja Ivy aku
meninggalkan markas, dan saat aku melihat motor Ivy yang tidak seberapa jauh
jaraknya dariku. Akupun segera memacu kencang motorku untuk membalapnya.
"bye, Ivy" ujarku saat aku berhasil membalap laju
motornya.
" oh shit!" balasnya
Aku terus memacu motorku, jalanan terlihat sepi dan ini adalah
kesempatan besar untukku memenangkan balapan ini. kita lihat saja siapa yang
lebih mahir bermotor kali ini. aku tidak akan kalah!.
Dan benar saja, akulah yang pertama kali sampai dimarkas. Jadi, aku
tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun untuk makan siang kali ini. Makan
siang dengan menu khas kampungku dan jangan lupa gratis. Ivy harus segera
datang agar bisa membayar kekalahannya.
"baiklah, ayo kita berangkat ke resto itu. Aku sudah
menunggumu sejak tadi, kau lambat sekali" suara itu..
Oh damn it! Ivy berkata seperti itu sambil memegang helmnya. Jadi,
ia sudah sampai daritadi?? Really suck!
"bagai..mana.. tadi aku tidak melihatmu mendahuluiku!"
ujarku tidak terima
"tentu saja kau tidak melihatku, karena aku memakai jalan
pintas"
"shit! Itu curang, aku bahkan sudah mengikuti aturanmu dan kau
malah berbuat curang?? Ini tidak adil!"
"didunia ini akan selalu terjadi ketidakadilan Yougboun.
Lagipula aku tidak berkata bahwa tidak boleh melewati jalan pintas adalah
peraturan balapan ini, dan sekarang aku menunggumu membayar taruhan ini"
"hhh… baiklah, aku mengaku kalah.. tapi, tetap saja kau
curang"
"dan kau bodoh"
"ya! Neo
michyeoss-eo?? Neodo pabbo ya!!"
"I don’t care! I don’t care!"
Awas kau ya Ivy! Akan kubalas nanti!
……………..
Setelah kuastikan Clarissa aman diruang latihan, akupun segera
mencari Jason. Aku harus memperingatkannya. Tidak, tidak akan ada lagi korban
yang akan bernasib sepertiku. Aku berjalan menyusuri koridor untuk menemukan
Jason tapi, sialnya dia tidak ada dilantai ini.
Aku menaiki menuju lanta dasar, aku berfikir bahwa ia sedang berada
disana. Ku percepat jalanku, ku biarkan penghuni gedung ini tahu bahwa aku
sudah berubah. Mereka tahu sekali bahwa aku tidak pernah mempercepat langkah
atupun terburu degan tatapan dingin, aku berjalan seperti tidak terjadi sesuatu
disekelilingku namun, sekarang tidak lagi. Dan benar saja, ia tengah memantau
perbaikan penyimpanan transportasi, segera menghampirinya.
" bukankah kau harus menemani teman-temanmu latihan
Jackson?"
" oh, kau tenang saja, mereka mahir dalam urusan bela
diri"
" kau tahu, Mr. Rex memberitahuku untuk membawa mereka keruang
system bulan depan, tepat seperti dugaan Mr.Rex mereka mahir dalam bela
diri"
" tapi, sayangnya kau tidak akan membawa mereka kesana bulan
depan, sampai kapanpun kau tidak akan bisa Jason"
" kau akan membantah perintah Mr.Rex, Jackson?"
" itu bukan perintah bagiku Jason, karena aku bukanlah robot
rongsok seperti dirimu"
"beraninya kau!"
" satu hal lagi yang ingin kusampaikan padamu, jgn pernah
dekati teman-temanku, terlebih wanita yang bersamaku dilift tadi. Jika kau
berani menyentuhnya dengan tanganmu yang karatan itu, sungguh akan ku hajar kau
sampai mesin utamamu hancur"
Aku pun pergi meninggalkannya, aku tahu tindakanku tadi sama saja
mengibarkan bendera perang tapi, toh itu juga akan terjadi cepat atau lambat,
yang harus kulakukan adalah melindungi teman-temanku kupastikan mereka tidak
akan menjadi sepertiku. Kehidupan mereka terlalu nerwarna untk diubah menjadi
diriku yang suram ini.