The Five

The Five
12



Pintu lift terbuka dan kamipun masuk bersama, aku memencet tombol


lantai 5. Selama di lift kami berdua hanya terdiam, aku bahkan tidak ingin


menatap wajahnya.dan tidak lama pintu terbuka dilantai 4. Oh shit! Itu Jason!.


Akupun segera menarik Clarissa dalam pelukanku agar Jason tidak dapat membaca


fikirannya. Aku mendekapnya sangat erat.


" hai Jeon? Bagaimana kabarmu?" tanya Jason


" baik, seperti yang kau tahu" jawabku masih mendekap


Clarissa


" siapa yang bersamamu?"


" dia..dia hanya seorang teman, kau tahu terkadang manusia


sangat menyukai dekapan"


" setelah kau selesai latihan, bisa kau kekamarku aku btuh


sedikit bantuan karena sepertinya processorku belum waktunya untuk


dipakai" ujarnya


" ya tentu saja" balasku.


…………..


Hei! Apa-apaan ini?? sial! Dekapannya sangat erat. Jason? Siapa itu


Jason? Jeon belum pernah menceritakannya padaku, aku berusaha mengintip siapa


itu Jason namun, Jeon sepertinya tida membiarkan itu terjadi, ia mendekapku


sangat erat sampai aku bisa mendengar detak jantungnya. Dan kurasa pintu lift


sudah terbuka. Jeon menarik tanganku kuat


" siapa dia?" tanyaku menahan tarikan tangannya sebelum


kami sempat memasuki ruang latihan.


" kau tidak perlu tahu. Yang pasti jangan pernah sekalipun kau


berkomunikasi dengannya"


" kau melarangku untuk bertemu dengannya padahal kau tidak


memberitahuku siapa ia!"


" ayo, masuk. Tutormu sudah menunggu" ia kembali menarik


tanganku


" tidak mau" tahanku


" terserah" ia melepaskan genggaman tangannya, dengan


cepat kembali kuraih tangannya kembali


" beri tahu aku, atau aku akan kabur dari sini" ancamku


" kabur? Lakukan saja jika kau bisa" balanya melepaskan


tanganku dan meninggalkanku


Oh shit! Dia mengabaikanku, sebenci itukah dia padaku?? Lihat saja


aku akan membuatnya tidak mengabaikanku lagi. Akupun masuk keruang latihan dan


sungguh aku bingung harus melakukan apa, ada banyak latihan diruangan ini mulai


dari latihan menembak, bela diri, tinju, hingga bertarung.


"Clarissa, sebelah sini!" panggil seorang wanita berbadan


atletis


Akupun segera menghampirinya.


"aku Lavender, kau akan berlatih bersamaku" ucapnya


memperkenalkan diri


"senang bertemu denganmu, Lavender. Jadi, kita akan berlatih


apa?"


"kita mulai dari bela diri dahulu, jika kau sudah mahir


bertarung dengan tangan kosong akan mudah bagimu bertarung dengan alat ataupun


senjata"


"we like learn some military object"


"you're right, and I do this just for my revenge"


" baiklah kita mulai, kau akan melawanku dahulu, ketika aku


tahu dimana kelemahanmu akan kita perkuat dipertemuan selanjutnya"


"ok"


…………..


Ivy mengajakku kelantai dasar, ia ingin menguji seberapa mahir


diriku dalam berkendara, dan latihan pertamaku adalah mengalahkan Ivy dalam


balapan motor. Sesampainya dilantai dasar, ia melempar kunci motor kearahku.


"baiklah Youngboun, kita akan mengitari perumahan yang ada


didekat sini, siapa yang lebih dulu sampai kesini dia yang menang"


"yang kalah harus mentraktir makan diresto sebelah sana"


ujarku


"baik, siapa takut"


"ok, jangan menangis saat kau kalah nanti"


"tidak sebelum aku yang mengalahkanmu youngboun, bye"


Sial! Dia memacu motornya dan meninggalkanku, lihat saja Ivy aku


meninggalkan markas, dan saat aku melihat motor Ivy yang tidak seberapa jauh


jaraknya dariku. Akupun segera memacu kencang motorku untuk membalapnya.


"bye, Ivy" ujarku saat aku berhasil membalap laju


motornya.


" oh shit!" balasnya


Aku terus memacu motorku, jalanan terlihat sepi dan ini adalah


kesempatan besar untukku memenangkan balapan ini. kita lihat saja siapa yang


lebih mahir bermotor kali ini. aku tidak akan kalah!.


Dan benar saja, akulah yang pertama kali sampai dimarkas. Jadi, aku


tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun untuk makan siang kali ini. Makan


siang dengan menu khas kampungku dan jangan lupa gratis. Ivy harus segera


datang agar bisa membayar kekalahannya.


"baiklah, ayo kita berangkat ke resto itu. Aku sudah


menunggumu sejak tadi, kau lambat sekali" suara itu..


Oh damn it! Ivy berkata seperti itu sambil memegang helmnya. Jadi,


ia sudah sampai daritadi?? Really suck!


"bagai..mana.. tadi aku tidak melihatmu mendahuluiku!"


ujarku tidak terima


"tentu saja kau tidak melihatku, karena aku memakai jalan


pintas"


"shit! Itu curang, aku bahkan sudah mengikuti aturanmu dan kau


malah berbuat curang?? Ini tidak adil!"


"didunia ini akan selalu terjadi ketidakadilan Yougboun.


Lagipula aku tidak berkata bahwa tidak boleh melewati jalan pintas adalah


peraturan balapan ini, dan sekarang aku menunggumu membayar taruhan ini"


"hhh… baiklah, aku mengaku kalah.. tapi, tetap saja kau


curang"


"dan kau bodoh"


"ya! Neo


michyeoss-eo?? Neodo pabbo ya!!"


"I don’t care! I don’t care!"


Awas kau ya Ivy! Akan kubalas nanti!


……………..


Setelah kuastikan Clarissa aman diruang latihan, akupun segera


mencari Jason. Aku harus memperingatkannya. Tidak, tidak akan ada lagi korban


yang akan bernasib sepertiku. Aku berjalan menyusuri koridor untuk menemukan


Jason tapi, sialnya dia tidak ada dilantai ini.


Aku menaiki menuju lanta dasar, aku berfikir bahwa ia sedang berada


disana. Ku percepat jalanku, ku biarkan penghuni gedung ini tahu bahwa aku


sudah berubah. Mereka tahu sekali bahwa aku tidak pernah mempercepat langkah


atupun terburu degan tatapan dingin, aku berjalan seperti tidak terjadi sesuatu


disekelilingku namun, sekarang tidak lagi. Dan benar saja, ia tengah memantau


perbaikan penyimpanan transportasi, segera menghampirinya.


" bukankah kau harus menemani teman-temanmu latihan


Jackson?"


" oh, kau tenang saja, mereka mahir dalam urusan bela


diri"


" kau tahu, Mr. Rex memberitahuku untuk membawa mereka keruang


system bulan depan, tepat seperti dugaan Mr.Rex mereka mahir dalam bela


diri"


" tapi, sayangnya kau tidak akan membawa mereka kesana bulan


depan, sampai kapanpun kau tidak akan bisa Jason"


" kau akan membantah perintah Mr.Rex, Jackson?"


" itu bukan perintah bagiku Jason, karena aku bukanlah robot


rongsok seperti dirimu"


"beraninya kau!"


" satu hal lagi yang ingin kusampaikan padamu, jgn pernah


dekati teman-temanku, terlebih wanita yang bersamaku dilift tadi. Jika kau


berani menyentuhnya dengan tanganmu yang karatan itu, sungguh akan ku hajar kau


sampai mesin utamamu hancur"


Aku pun pergi meninggalkannya, aku tahu tindakanku tadi sama saja


mengibarkan bendera perang tapi, toh itu juga akan terjadi cepat atau lambat,


yang harus kulakukan adalah melindungi teman-temanku kupastikan mereka tidak


akan menjadi sepertiku. Kehidupan mereka terlalu nerwarna untk diubah menjadi


diriku yang suram ini.