
3…
2….
1…
Pria itu datang aku menggas motorku
" Ivy, pukul sekarang"
Argh..!!! terdengar ringisan suaranya sesaat setelah Ivy
memukulnya, ku memutarkan motor ku 180 derajat lalu menghampirinya, mengambil
pistol dan menembakkannya keudara agar para polisi tahu bahwa kami ada disini.
" sialan kau!" Prai itu bangkit dan mencoba menghajarku,
aku segera turun dari motor.
Ia terus menghantamku namun, aku berhasil menghindari pukulannya.
Tiba-tiba saja jiwa psikopatku keluar begitu saja, aku tidak akan membiarkan ia
hidup ia akan mati sama seperti Rex, lihat saja itu. Aku berhasil membantingnya
ke tanah, aku mencekiknya tidak aka nada kemanusiaan kali ini untuknya, tidak
dan tidak pernah. Tidak peduli jika nanti aku ditahan oleh polisi. Aku tidak
peduli dengan itu yang aku mau adalah ia mati, mati mengenaskan ditanganku
sekarang, seperti Rex yang hangus dan hancur ditelan bom.
" Jeon hentikan! Kau bisa membunuhnya!" cegah Ivy
" DIAM!"
" Jeon, jika kau membunuhnya, aku akan ditahan"
" Aku tidak peduli! Aku ingin dia mati ditanganku
sekarang"
" JEON! Pikirkan Clarissa! Kau berjanji akan kembali padanya.
Ia tidak mau kekasihnya menjadi pembunuh!"
Ivy benar, jika aku membunuh pria ini Clarissa pasti akan sangat
sedih. Kulepaskan cekikanku dan beranjak pergi. Tidak lama para polisi
berdatangan. Setelah polisi datang aku memilih untuk pergi bersama Ivy.
ARGH… SIALL!!
………….
" JEONN!!!"
Pisau itu menancap dipunggung Jeon. Dasar pria sialan! Aku
menendang pria itu tepat di kebanggan pria itu. Kumohon Jeon bertahanlah.
" Ivy!"
" Yeobo, cepat panggil ambulan!"
" Oh shit! Dasar ********!" umpat Lucas
Youngboun segera memanggil ambulan dan beruntung mereka cepat
datang, jika tidak mungkin Jeon sudah tidak tertolong. Aku dan yang lainnya segera
menyusul ambulan itu dan pria sialan itu dibawa oleh polisi.
………..
Dirumah sakit….
Aku sangat khawatir dengan keadaan Jeon yang sedang di operasi saat
ini. Lucas menelfonku bahwa Jeon ditusuk oleh pria brengsek itu, aku yang
berada dirumah langsung pergi ke rumah sakit tempat Jeon di rawat. Dokter
bilang bahwa pisau itu menancap tepat di organ dalam tubuhnya dan sekarang ia
dalam masa kritis.
Jeon kumohon tetaplah hidup, bertahanlah. Kau berjanji padaku akan
kembali bukan? Aku akan tetap mendukungmu, jadi kumohon bertahanlah. Aku
merindukanmu dan tidak ingin kehilanganmu lagi, aku tidak ingin pulang, aku
akan menunggu sampai Jeon selesai dioperasi. Akan kupastikan sendiri bahwa Jeon
baik-baik saja.
" Clarissa, sedari tadi kau belum makan sekarang sudah malam,
ayo kita makan dulu" ajak Steve
" Tidak, Steve aku akan menunggu Jeon"
" Clarissa, jika kau tidak makan kau bisa sakit. Jeon akan
sedih jika tahu kau sakit" ucap Bimo
" Baiklah, tapi aku akan makan disini saja"
" Kami kebawah dulu membelikanmu makanan, akan kami bawakan
kesini"
" Terima kasih Steve"
Hp ku bergetar..
From : unknown number
Rupanya kau masih hidup
panggilan untuk mlihat apakah aku pernah menguhubungi nomor inim dan tidak kutemukan
nomor tersebut. Sudahlah mungkin ia salah nomor jadi pesannya terkirim padaku
padahal sebenarnya bukan untukku.
" Ini Clarissa, makanlah dulu" Ujar Steve
" Terimakasih"
Makanan kesukaanku, Steve selalu tahu bagaimana membuatku lapar.
Aku segera memakannya dan tidak lama dokter keluar dari ruang operasi. Aku segera
menghampiri dokter dan dokter berkata bahwa operasi berjalan dengan lancar dan
Jeon sudah dipindahkan keruang rawat.
Aku sangat bersyukur akan hal ini, aku mempercepat langkahku
keruang tempat Jeon dipindahkan diikuti Steve dan Bimo, Aku segera masuk
keruangannya dan duduk disamping ranjang Jeon.
" Oh Syukurlah operasimu berjalan lancar" Ucapku
" Aku juga bersyukur bisa melihatmu lagi"
" Clarissa, kau tahu saat aku berusaha mencari siapa diriku
aku malah kehilangan kehidupanku lau aku merasa aku menggila. Dan saat kau
datang ntah mengapa aku merasa hanya dirimu yang mengerti diriku padahal aku
membentakku. Saat dimarkas setiap pagi aku menunggu kehadiran dirimu tanpa
kusadari, dan disaat kau pergi aku baru sadar bahwa kamulah cahaya itu, pagi
yang kutunggu. Dan saat aku hampir kehilanganmu saat itu aku mencoba
menjernihkan pikiranku namun tetap saja aku tidak bisa tidak mengkhawatirkanmu.
Dan alasanku bertahan setelah pengeboman itu adalah dirimu. Aku sadar kau
selalu ada untukku tapi, aku.. bahkan membiarkanmu pergi bersama Jason. Maafkan
aku, aku berjanji akan memperbaiki semuanya."
" Semua akan baik-baik saja Jeon, asalkan kau cepat sembuh"
" Aku senang kau menemaniku sekarang"
" Huaaa… Steve tolong aku!!!"
" Ada apa denganmu Bimo?" tanya DStv bingung
" Tolong aku, rasanya jiwa single ku meronta-ronta"
" Kalau begitu ayo!"
" Ayo kemana?"
" Ke rumah sakit jiwa, kurasa kau sudah tidak waras
Bimo!"
Aku dan Jeon tertawa melihat tingkah Bimo yang aneh, sudah lama
kami tidak pernah melihat tingkahnya yang aneh itu. Malam ini aku akan menginap disini menjaga
Jeon dengan Steve dan Jeon, besok giliran Youngboun dan Lucas.
" Kau sudah makan?" tanya Jeon
" Sudah, sebentar lagi waktunya kamu makan, jadi aku akan
menyuapimu"
" Sudah lama tidak ada yang menyuapiku"
" Jadi kekasihmu yang dulu itu tidak pernah menyuapimu?"
" Pernah"
" Ohhh begitu"
" Apa kau cemburu?"
" Tidak!"
" Ah.. Kau cemburu!"
" Ih… kiu cimbiri!! Terserah kau saja Jeon"
" Hahahaha…. Kau ini menggemaskan sekali ya!"
Aku hanya tersenyum padanya lalu mengambil makanan yang dibawa oleh
perawat yang datang. Aku menuangkan air ke cangkir dan mulai menyuapi Jeon,
wajahnya terlihat seperti anak kecil yang lapar sekali, rasanya aku ingin
mencubit pipinya, uhhh.. menggemaskan!
" Oh iya, apa kau benar-benar membentak Jino saat itu?"
" Dari mana kau tahu?"
" Tentu saja ia cerita padaku Clarissa"
" Benarkah? Aku jadi malu"
" Kau memberinya kesan pertama kali dibentak.. ahahhha dia
berkata bahwa sebenarnya ia ingintertawa melihat ekspresimu saat itu, aku
membayangkan betapa merah nya wajahmu dan juga mata sembabmu itu… hahahahaha
lucu sekali"