The Five

The Five
20



Akupun segera mengambil kunci mobil begitu melihat Ivy sudah siap


dan bertepatan sekali dengan perginya Jeon. Sepertinya Jeon akan pergi ketempat


lain, bukan kantor yang ia datangi semalam, Aku dan Ivy sama-sama menebak


pikiran masing-masing mengenai Jeon. Dan ia berhenti didepan toko bunga.


" But, wait! What?? Toko Bunga? Apa ia akan bertemu dengan


kekasihnya?" Ivy trkejut saat tau Jeon membeli bunga,


" Kekasih? Apakah Chrysan?"


" hahahahahah…. Chrysan kau bilang? Mereka berdua tidak saling


menyukai!"


" Tapi, saat sebelum kami kemari mereka sangat mesra"


" Tentu saja mereka begitu manis saat berdua, Mereka itu dulu


saling bergantung satu sama lain, tapi, bukan berarti mereka saling


menyukai"


" Jinja? WOAHHH!! Daebak!! Kalau begitu aku nyatakan


perasaanku saja saat itu pada Chrysan"


" Dasar Buaya Darat!"


" Ani-ya.. Chagi. Aku tidak seperti itu"


" I don’t care! Itu Jeon pergi lagi, cepat ikuti!"


Akupun segera menyusulnya, sepanjang jalan kami berdua dilanda


keheningan karena tidak ingin kehilangan jejak Jeon. Dan ia berhenti didepan


reruntuhan gedung markas itu. Untuk apa ia kesana? Ia terlihat seperti


berbicara sendiri lalu menaruh bunga yang ia baru saja ia beli dan pergi begitu


saja. Tunggu, kenapa ia menaruh bunga disitu? Untuk Rex?


" Ayo kita turun Ivy" ujarku berlari menghampiri bunga


yang ditaruh Jeon


Sungguh aku tersontak saat melihat tulisan yang ada di bunga tersebut.


Aku tidak bisa berkata apapun, tidak bisa kupercaya semua ini.


" Ada apa babe? Kenapa Kau…"


To : Jeon Jackson


Rest in Peace


Ini tidak mungkin, tidak mungkin Jeon mati! Tidak, aku tahu ini


tidak benar. Ini hanya mimpi buruk, iya ini hanya mimpi buruk. Yang perlu


kulakukan adalah bangun. Ayo Youngboun bangun!


" Yeobo, katakana ini tidak benar! Kumohon Youngboun, katakana


ini hanyalah kebohongan kecil bukan?"


Ivy terus mengguncang tubuhku, air matanya mulai mengalir. Tidak


mungkin Jeon mati, tidak mungkin. Tubuhku melemas tidak percaya akan semua ini.


Ivy masih menangis tidak percaya. Jeon mengapa kau cepat sekali pergi, kau


berjanji pada kami akan selamat juga. Kau bohong Jeon! Kau bohong! Kau


pembohong Jeon!


………………….


Aku terbangun dan mendapati mataku sembab karena menangis semalam,


Entahlah aku sudah lelah dengan sikap Jeon yang terus saja bersikap dingin, Aku


pergi keluar kamar tidak ada orang, Lavender masih tertidur aku tidak tega


membangunkannya. Kemana semua orang pergi? Aku pergi ke kamar Lucas, dan


mendapati bahwa ia dan Bimo masih tertidur, Kamar Ivy kosong, Youngboun yang


biasanya tidur diruang tengah juga tidak ada. Jeon? Ah malas sekali aku masuk


kekamar Jeon, mungkin ia akan mengusirku.


Tapi, lagi-lagi hatiku mengalahkan akal sehatku, aku penasaran


apakah Jeon masih tidur. Ku beranikan diriku membuka pintu kamar Jeon dan apa


ini?! Steve?? Apa mala mini Steve tidur dikamar Jeon? Bukannya waktu itu Jeon


melarang siapapun masuk kedalam kamarnya?


" Steve? Apa yang kau lakukan disini? "


"sttt! Jangan berisik!"


" Youngboun menyuruhku untuk memeriksa kamar Jeon"


" Untuk?"


" Ah akhirnya kutemukan!"


" Apa yang kau temukan?"


Steve hanya menarikku keluar dari kamar Jeon kedalam kamar Ivy,


lalu mengeluarkan sebuah gelang dan foto dari sakunya.


" Aku menemukan ini, kalung dan foto dari kamar Jeon"


" kalung? "


" Sebaiknya kita tunggu Youngboun dan Ivy kembali, kau akan


mengetahuinya nanti"


Steve membuatku semakin penasaran, sebenarnya apa yang telah terjadi?


Mengapa mereka seperti mencurigai Jeon? Apa karena sikap Jeon yang berubah?


Berbagai pertanyaan muncul dibenakku tanpa henti, dan sialnya Youngboun tidak


kunjung datang semakin lama aku bertanya-tanya.


Satu jam kemudian……..


Akhirnya Youngboun datang bersama Ivy dengan wajah sedih, apa


mereka baru saja putus? Mata Ivy terlihat sangat sembab, apa dia habis


mengangis?


" Youngboun, kata Steve kau akan menjelaskan semuanya padaku.


Sekarang jelaskanlah" ujarku pada Youngboun


" Clarissa, aku tidak yakin kau akan percaya dengan


kata-kataku"


" Oh ayolah, kau ini temanku. Mengapa aku tidak percaya?"


" Baiklah, aku akan menceritankan semuanya demi kebaikanmu


juga Clarissa dan aku mohon sebelum aku selesai menjelaskan jangan ada yang


bertanya, aku menceritakan ini dengan sisa tenaga yang kupunya jadi kuharap


kalian berdua bisa memahaminya."


" iya Youngboun" ujarku


" Sebelumnya kalian harus tahu bahwa Jeon yang sekarang


bersama kita bukanlah Jeon yang kita kenal selama ini, ia adalah orang yang


berbeda bukan Jeon yang selalu ramah pada kita. Sungguh, aku tidak sanggup


menceritakan semuanya. Aku minta maaf padamu Clarissa tapi, Jeon sudah tiada,


ia sudah pergi"


Plakkkk…


Aku menampar Youngboun dengan sekuat tenagaku


" Aku tidak percaya akan ucapanmu Youngboun, Jeon ada bersama


kita lalu mengapa kau berkata bahwa ia orang lain?  Apa karena sikap dia yang berubah jadi kau


menganggapnya orang lain?"


" Tidak Clarissa, sungguh aku menceritakan yang sebenarnya.


Sudah kuduga kau pasti tidak akan mempercayai ucapanku"


Air mataku menitik..


" Ivy, aku tahu kau tidak mungkin berbohong, apa benar yang di


katakan Youngboun?"


Ivy hanya mengangguk pelan sambil menseka air matanya yang kembali


turun.


" Tidak mungkin! Kalian hanya asal bicara bukan? Kalian hanya


mengada-ada kan? Iya kan?"


Mereka berdua hanya terdiam


" Kalian berbohongkan? Kalian hanya mengerjaiku bukan?"


" Katakan Youngboun! Ivy! Kalian Berbohong iya kan?"


" Mereka tidak berbohong Clarissa"


Suara itu.... Jeon?


………………….