
Akupun segera mengambil kunci mobil begitu melihat Ivy sudah siap
dan bertepatan sekali dengan perginya Jeon. Sepertinya Jeon akan pergi ketempat
lain, bukan kantor yang ia datangi semalam, Aku dan Ivy sama-sama menebak
pikiran masing-masing mengenai Jeon. Dan ia berhenti didepan toko bunga.
" But, wait! What?? Toko Bunga? Apa ia akan bertemu dengan
kekasihnya?" Ivy trkejut saat tau Jeon membeli bunga,
" Kekasih? Apakah Chrysan?"
" hahahahahah…. Chrysan kau bilang? Mereka berdua tidak saling
menyukai!"
" Tapi, saat sebelum kami kemari mereka sangat mesra"
" Tentu saja mereka begitu manis saat berdua, Mereka itu dulu
saling bergantung satu sama lain, tapi, bukan berarti mereka saling
menyukai"
" Jinja? WOAHHH!! Daebak!! Kalau begitu aku nyatakan
perasaanku saja saat itu pada Chrysan"
" Dasar Buaya Darat!"
" Ani-ya.. Chagi. Aku tidak seperti itu"
" I don’t care! Itu Jeon pergi lagi, cepat ikuti!"
Akupun segera menyusulnya, sepanjang jalan kami berdua dilanda
keheningan karena tidak ingin kehilangan jejak Jeon. Dan ia berhenti didepan
reruntuhan gedung markas itu. Untuk apa ia kesana? Ia terlihat seperti
berbicara sendiri lalu menaruh bunga yang ia baru saja ia beli dan pergi begitu
saja. Tunggu, kenapa ia menaruh bunga disitu? Untuk Rex?
" Ayo kita turun Ivy" ujarku berlari menghampiri bunga
yang ditaruh Jeon
Sungguh aku tersontak saat melihat tulisan yang ada di bunga tersebut.
Aku tidak bisa berkata apapun, tidak bisa kupercaya semua ini.
" Ada apa babe? Kenapa Kau…"
To : Jeon Jackson
Rest in Peace
Ini tidak mungkin, tidak mungkin Jeon mati! Tidak, aku tahu ini
tidak benar. Ini hanya mimpi buruk, iya ini hanya mimpi buruk. Yang perlu
kulakukan adalah bangun. Ayo Youngboun bangun!
" Yeobo, katakana ini tidak benar! Kumohon Youngboun, katakana
ini hanyalah kebohongan kecil bukan?"
Ivy terus mengguncang tubuhku, air matanya mulai mengalir. Tidak
mungkin Jeon mati, tidak mungkin. Tubuhku melemas tidak percaya akan semua ini.
Ivy masih menangis tidak percaya. Jeon mengapa kau cepat sekali pergi, kau
berjanji pada kami akan selamat juga. Kau bohong Jeon! Kau bohong! Kau
pembohong Jeon!
………………….
Aku terbangun dan mendapati mataku sembab karena menangis semalam,
Entahlah aku sudah lelah dengan sikap Jeon yang terus saja bersikap dingin, Aku
pergi keluar kamar tidak ada orang, Lavender masih tertidur aku tidak tega
membangunkannya. Kemana semua orang pergi? Aku pergi ke kamar Lucas, dan
mendapati bahwa ia dan Bimo masih tertidur, Kamar Ivy kosong, Youngboun yang
biasanya tidur diruang tengah juga tidak ada. Jeon? Ah malas sekali aku masuk
kekamar Jeon, mungkin ia akan mengusirku.
Tapi, lagi-lagi hatiku mengalahkan akal sehatku, aku penasaran
apakah Jeon masih tidur. Ku beranikan diriku membuka pintu kamar Jeon dan apa
ini?! Steve?? Apa mala mini Steve tidur dikamar Jeon? Bukannya waktu itu Jeon
melarang siapapun masuk kedalam kamarnya?
" Steve? Apa yang kau lakukan disini? "
"sttt! Jangan berisik!"
" Youngboun menyuruhku untuk memeriksa kamar Jeon"
" Untuk?"
" Ah akhirnya kutemukan!"
" Apa yang kau temukan?"
Steve hanya menarikku keluar dari kamar Jeon kedalam kamar Ivy,
lalu mengeluarkan sebuah gelang dan foto dari sakunya.
" Aku menemukan ini, kalung dan foto dari kamar Jeon"
" kalung? "
" Sebaiknya kita tunggu Youngboun dan Ivy kembali, kau akan
mengetahuinya nanti"
Steve membuatku semakin penasaran, sebenarnya apa yang telah terjadi?
Mengapa mereka seperti mencurigai Jeon? Apa karena sikap Jeon yang berubah?
Berbagai pertanyaan muncul dibenakku tanpa henti, dan sialnya Youngboun tidak
kunjung datang semakin lama aku bertanya-tanya.
Satu jam kemudian……..
Akhirnya Youngboun datang bersama Ivy dengan wajah sedih, apa
mereka baru saja putus? Mata Ivy terlihat sangat sembab, apa dia habis
mengangis?
" Youngboun, kata Steve kau akan menjelaskan semuanya padaku.
Sekarang jelaskanlah" ujarku pada Youngboun
" Clarissa, aku tidak yakin kau akan percaya dengan
kata-kataku"
" Oh ayolah, kau ini temanku. Mengapa aku tidak percaya?"
" Baiklah, aku akan menceritankan semuanya demi kebaikanmu
juga Clarissa dan aku mohon sebelum aku selesai menjelaskan jangan ada yang
bertanya, aku menceritakan ini dengan sisa tenaga yang kupunya jadi kuharap
kalian berdua bisa memahaminya."
" iya Youngboun" ujarku
" Sebelumnya kalian harus tahu bahwa Jeon yang sekarang
bersama kita bukanlah Jeon yang kita kenal selama ini, ia adalah orang yang
berbeda bukan Jeon yang selalu ramah pada kita. Sungguh, aku tidak sanggup
menceritakan semuanya. Aku minta maaf padamu Clarissa tapi, Jeon sudah tiada,
ia sudah pergi"
Plakkkk…
Aku menampar Youngboun dengan sekuat tenagaku
" Aku tidak percaya akan ucapanmu Youngboun, Jeon ada bersama
kita lalu mengapa kau berkata bahwa ia orang lain? Apa karena sikap dia yang berubah jadi kau
menganggapnya orang lain?"
" Tidak Clarissa, sungguh aku menceritakan yang sebenarnya.
Sudah kuduga kau pasti tidak akan mempercayai ucapanku"
Air mataku menitik..
" Ivy, aku tahu kau tidak mungkin berbohong, apa benar yang di
katakan Youngboun?"
Ivy hanya mengangguk pelan sambil menseka air matanya yang kembali
turun.
" Tidak mungkin! Kalian hanya asal bicara bukan? Kalian hanya
mengada-ada kan? Iya kan?"
Mereka berdua hanya terdiam
" Kalian berbohongkan? Kalian hanya mengerjaiku bukan?"
" Katakan Youngboun! Ivy! Kalian Berbohong iya kan?"
" Mereka tidak berbohong Clarissa"
Suara itu.... Jeon?
………………….