
" gampang saja, semua yang datang pada Rex akan diperlakukan
dengan baik sehingga mereka akan merasa bahwa Rex bukanlah orang jahat. Dan
saat mereka lengah, Rex akan mulai memperalat mereka. Langkah pertamanya adalah
menanamkan cip pelacak atau gps ini pada mereka. Aku tidak tahu pasti kapan ia
melakukan hal itu, tapi sepertinya saat kau tertidur"
" what? Oh ghost! Jadi, tua Bangka itu melakukannya saat aku
tertidur? Berani- beraninya dia!! Lancang sekali!" omelku
" kau ini berpikir apa? Tentu saja para robot yang melakukan
itu, bukan tua Bangka itu"
" hhh… syukurlah kalau begitu"
" lagipula untuk apa ia repot-repot memasangkan itu padamu?
Hahhh.. sok cantik sekali"
" apa?"
" kau itu. SOK.CANTIK."
" kau ini!"
" I DON’T CARE"
Lihat?? Bahkan dia seaneh ini! oh sial, dia bahkan berhasil
mengataiku tadi. Sungguh ada apa dengannya?. Tuhan, cepat beri dia kesembuhan
dari kegilaannya ini.
" Kau mau ikut atau hanya akan melamun seperti patung?"
" tadi kau baru saja mengataiku sok cantik dan sekarang
patung??"
" aku tidak mengataimu patung, justru kau sangat cocok berlaga
seperti tadi dekat patung itu"
Aku melihat mengikuti arah tangannya yang menunujuk kearah sesuatu
dan..
" kenapa? Masih tidak terima?" godanya
" arghhh! Terserah kau saja"
" baiklah, nona stalking "
"huhh.! Biiklih nini stilking"
…….
Jeon membawa ku kerumah kosong yang mungkin dulunya adalah sebuah
gudang, aku hanya mengikutinya masuk kedalam rumah itu, sunyi dan senyap mulai
menyapa. Aku terpaku pada sebuah bingkai foto yang tergantung dipojok ruangan
dekat perapian, ternyata itu adalah foto Jeon saat ia masih dibangku sekolah,
ia sungguh menggemaskan walau dengan wajah sendu tapi, tunggu. Mengapa ada yg
membelakanginya, ah aku yakin itu adalah pantulan bayangan saja, mungkin ia
berfoto didepan kaca.
" apa yang sedang kau lihat?" suaranya mengagetkanku
" foto ini" jawabku
" kemari"
Akupun menghampirinya, ia membuka pintu kamar dan menyuruhku masuk.
Ini benar-benar diluar dugaanku, Jeon menyimpan banyak alat sadap dan alat
untuk menghack. Aku sungguh tidak menyangka bahwa Jeon pandai dalam hal semacam
ini.
" ambil ini" ujarnya menyodorkan alat kecil semacam pulpen
" untuk apa ini?"
" pulpen ini berfungsi untuk merekam. Ini adalah bagian dari
rencana ku untuk melaporkannya ke agen CIA, tapi, sebelum itu aku butuh bukti
untuk membuat CIA percaya padaku jadi, tugasmu adalah membantuku untuk merekam
semua percakapan Rex dengan siapapun itu. Ingat satu hal, kau harus melakukannya
dengan sangat berhati-hati kau berhadapan bukan dengan manusia tapi, dengan
para robot. Minggu depan akan kuajari kau cara menyadap mereka."
Aku hanya mengangguk tanda mengerti, melawan teknologi memang tidak
bisa diadu dengan kekerasan hanya otak pandai yang mampu melawan kekuatan
teknologi, jika manusia bisa membuat teknologi menjadi sangat berbahaya maka
manusia juga yang mampu mengahncurkannya dengan sangat mudah. Sungguh semakin
banyak yang kuketahui tentang Jeon semakin aku tidak bisa berhenti
mengaguminya.
" ayo, kita kembali" ajaknya
" baik"
sudah menyiapkan ini sejak lama dan kuakui bahkan mungkin jika aku beradu
dengannya diolympiade dia akan menang dengan mudah. Bagai serigala yang akan
menerkam mangsanya, ia memang sangat lihai dalam mengamati dan merencanakan.
Sesampainya aku dimarkas, Jeon langsung meninggalkanku tanpa
sepatah katapun. Aku memilih untuk berjalan-jalan melihat-lihat isi markas ini
yang belum kuketahui seluruhnya. Dilantai dasaraku bahkan menemukan café,
bahkan robotpun mempunyai café? Oh boy.. manusia saja kalah dengan robot, aku akan keperpustakaan saja siapa tahu
aku bisa mendapatkan ilmu yang luar biasa disana. Aku mengambil buku yang
menurutku menarik dan duduk diposisi yang kuinginkan, selang beberapa detik aku
melihat Rex dengan robot rongsok yang mengikutinya. Beruntung sekali aku
menemukannya disini, ini adalah tugas pertamaku dan aku harus berhati-hati.
Aku berjalan kearah rak buku yang dekat dengan tempat duduk mereka,
menyelipkan pulpen yang diberi Jeon pada salah satu bukunya dan meninggalkannya
menuju rak disebelahnya, sebisa mungkin aku membuat mereka tidak merasa
diintai.
' Jason, kau harus terus memanta mereka berlima'
What?? Jadi, Jeon juga memasangkan earphone transparannya padaku?!
Tapi, kapan?? Ah sudahlah sekarang aku hanya harus fokus mendengarkan mereka
berdua, jadi nama robot itu adalah Jason, musuh Jeon.
" hei kau !"
Oh shit! Rex memanggil
diriku!! Bagaimana ini?? bagaimana jika ia menyadari bahwa aku mengintainya?
" kemari, ada yang ingin aku bicarakan"
Bodoh! Dasar bodoh!! Clarissa kau bodoh! Sangat bodoh!! Aku
merutuki diriku sendiri. Mau tidak mau aku menghampirinya, dan aku tidak boleh
bersikap takut.
" kau temannya Jeon bukan?" tanya Rex padaku
" tentu Mr.Rex"
" ah… kebetulan sekali, Jeon sangat berteman baik dengan
Jason"
" benarkah itu? Wah.. bagus sekali kalau begitu" '
berteman? Bahkan mereka bermusuhan!'
" aku ingin kau membantuku"
" membantu apa?"
" bisakah kau menemani Jason selama ia bekerja, ia baru pulih
belakangan ini. aku tidak ingin ia rusak lagi jadi bisakah kau membantuku untuk
merawatnya?"
Shitt!! Holly fucking shitt!
" tentu saja bisa Mr. Rex" suara itu.. Jeon?? Dia
membolehkanku??
" semua yang menjadi temanku adalah teman Jason juga Mr.Rex
jadi tentu saja bisa" ucap Jeon
" bagus.. kalau begitu mulai hari ini kau bisa menemaninya
bekerja. Terimakasih Jeon"
Balas Mr.Rex senang dan meninggalkan kami
" Jason, sebelum kau membawa Clarissa bisa aku bicara
dengannya?" tanya Jeon
" tentu"
Jeon menarikku keluar dari area perpustakaan
"temui aku dilobby nanti malam, ini akan menjadi pekerjaan
yang sangat sulit untukmu"
" baik"
Sial! Disaat aku ketakutan begini Jeon malah meninggalkanku begitu
saja, oh mean aku harus bagaimana ini??
………………
Kurasa Rex ingin menyabotase rencanaku, sialnya ia menyuruh
Clarissa untuk bekerja sama dengan Jason. Baiklah, jika itu yang ia inginkan
tidak masalah dia menghancurkan rencanaku aku masih punya rencana yang lain dan
akan kupastikan dia tidak bisa berkutik setelah ini. aku mencari keberadaan
Youngboun dan Steve harusnya mereka berada diruang latihan saat ini.