The Five

The Five
2



 Kumatikan earphoneku,


Chrysan.. Chrysan entah apa yang membuat dirimu terasa hidup kembali seperti


itu, dia sama denganku. Manusia robot. Aku mengenalnya saat kami bertemu


dimarkas sejak saat itu kami menjadi sangat dekat dan ya.. kami bekerja sama,


dan soal pemantauan itu tentu saja rahasia, Mr.Rex tidak akan mau jika anak


buahnya ikut campur dalam urusannya, tapi, aku bukanlah manusia robot yang


bodoh, walaupun aku sudah seperti robot sungguhan aku bisa saja membodohi Mr.Rex


semauku, sejujurnya aku sangat tidak suka diatur oleh sebab itu aku meminta


Chrysan untuk memantau diriku dan mensinkronisasikan nya dengan pemantauan yang


ada dimarkas. Lalu dimana Chrysan? Ah.. tenang saja ia berada di rumah suatu


kompleks yang tidak jauh dari rumah teman-temanku, aku tinggal bersamanya dan


lagi-lagi tanpa sepengetahuan Mr.Rex. aku merusak cctv rumah yang kutinggali


dengan begitu Mr.Rex tidak akan mengetahui hal tersebut.


Malampun datang, aku bergegas turun keruang makan untuk makan malam


lalu pergi kerumah Youngboun, aku tak ingin mendengar ocehan Chrysan malam ini


karena aku tak memakan masakannya jadi, aku akan makan malam terlebih dahulu


sebelum pergi.


" ada perlu apa kau memakai baju rapih seperti itu?"


tanya Chrysan penasaran


" malam ini aku akan kerumah Youngboun, ia bilang akan


memberitahu kami tentang baju yang akan kami pakai ke ulang tahun


Clarissa" Jelasku mengambil tempat dudukku


" oh.. jadi kau sudah ingat apa itu ulang tahun? Apa kau juga


ingat kapan hari ulang tahunmu?"


" tunggu, aku? Ulang tahun?"


" ah.. rupanya kau belum mengingatnya. Lebih sering kau


bersosialisasi akan lebih mudah kau akan mengingat semua tentang hidupmu,


selain masa kelammu itu"


" wah.. wah.. kau belajar banyak selama jauh dari markas


ternyata.. aku berharap kau bsa mengajariku lebih dari itu." Akupun segera


beranjak dari temat dudukku sambil memakai jaketku


" tumben sekali kau memakai jaket?"


" entahlah, belakangan ini aku merasa dingin jika malam


datang"


" sepertinya otakmu memberikan rangsangan itu, sepertinya kau


harus kedokter untuk mengotrol tubuhmu itu"


" ah sudahlah aku harus pergi.. dan satu lagi, saat aku pulang


aku mau kau menjelaskan apa itu ulang tahun. Aku pergi dulu" Balsaku


menutup pintu.


            Sudah


bertahun-tahun aku tidak bisa merasakan panas, dingin ataupun sakit. Itu karena,


aku mengidap penyakit CIPA, penyakit keturunan yang memengaruhi saraf untuk


mengendalikan sensasi atau bisa dibilang penyakit Neuropati Sensoris. Chrysan


memberitahuku semua itu, ia merasa janggal terhadapku yang tidak merasa dingin


walau angina malam terus berhembus, aku juga tidak bisa merespons dengan cepat


jika aku terkena rangsangan dari luar, dan juga penyakitku ini sama sekali


tidak bisa disembuhkan.


Sesampainya dirumah Youngboun, Lucas langsung menyeretku kedapur.


Seperti biasa ia akan menyuruhku mencicipi masakannya, karena aku tidak akan


pernah menolak, robot mana yang akan menolak jika diperintah majikannya. '


Jeon, kau harus ingat kau manusia, hilangkan mindset robotmu itu!'. Ah..


lagi-lagi Chrysan menasehatiku, aku tahu aku bukan sepenuhnya robot, aku tahu


itu dan aku menyadarinya tapi, apa aku bisa kabur dari Mr.Rex selama alat-alat


programnya masih menempel dibadanku?.


kutunjukan bajumu" panggil Youngboun dari depan kamarnya


" maafkan aku Lucas, sepertinya aku tidak bisa menemanimu


memasak, setelah melihat bajunya aku akan kemari lagi" Ucapku pada Lucas


yang hanya dibalas acungan jempol.


" Look! I got this denim and white T-shirt for you, try on


it" jelas Youngboun memberikanku satu paket bajunya


" bisakah kau keluar sebentar, aku butuh waktu privasi untuk


berganti baju" pintaku


" baiklah" balasnya menutup pintu


Akupun membuka bajuku dan tanpa sengaja aku memnadangi tubuhku yang


sudah dihiasi beberapa jaitan hasil karya majikanku itu, dan tiba-tiba aku


ingin merobeknya dn mengeluarkan alat yang ditanam ditubuhku, daripada aku


memikirkan hal itu lebih baik aku segera mengganti bajuku,


" Youngboun…"


Akupun tekejut ternyata itu Steve, dan dia melihat tubuhku.


" oh, Jeon maafkan aku, aku tidak tahu kalau kau…'


" tidak apa-apa masuk dan tutup kembali pintunya, jika kau


penasaran dengan apa yang terjadi padaku, duduklah dulu aku akan menjelaskannya


padamu."


Steve hanya diam dan duduk diatas kasur milik Youngboun, akupun


segera menyelesaikan sesi ganti bajuku.


" sebelumnya aku ingin kau menjaga ini sebagai rahasia, hanya


dirimu yang baru tahu tentang ini dan kuharap kau tidak memberitahukannya


dengan yang lain, aku adalah robot, em… maaf manusia robot" jelasku


" manusia robot? Maksudmu.."


" aku adalah manusia yang diprogram paksa seperti robot, tapi,


kuharap kau bisa menyimpan pertanyaanmu yang lainnya lain waktu, mereka akan


curiga jika kita berdua belama-lama dikamar ini" Ucapku membuka pintu dan


keluar dari kamar.


Diruang tengah…


" see?? Kalian semua tampak bergaya dengan baju-baju


itu!" ujar Youngboun bersemangat


" Kau bhenar sekali youngbhoun! Apik tenan yo rek..


rek.." Tambah Bimo


" oh.. ayolah Bim, apa kau harus memakai topimu itu setiap


saat, lepas dulu, itu membuat dirimu tidak keren" kritik Lucas dan Bimo


hanya memanyunkan bibirnya sambil melepas topi/ blangkonnya itu


" oh hell! Jeon.. sepertinya kau lebih mirip dewa Zeus saat


ini, its so Fantastically cool guys!" puji Youngboun padaku


" terimakasih, tapi ini juga bajumu, seharusnya kau tidak


harus memuji dirku" balasku


" tidak, tidak dan tidak! Mulai saat ini baju yang kuberikan


kekalian menjadi milik kalian. Jangan bilang kalian berpikir ku meminjamkannya,


oh tidak! Youngboun tidak akan seperti itu!"


" oh come on guys! Don’t be such a nerd, lets we enjoy this


night together!" Seru Steve mengangkat gelas birnya, dia adalah raja bir


yang tidak akan mudah mabuk walau sudah lima botol ia teguk, beda halnya dengan


Bimo yang baru lima gelas saja sudah tepar.


" cheers guys!"


Malam ini kami akhiri dengan menghabiskan bir yang disediakan oleh


Steve, dan aku meilih untuk pulang pertama karena aku yakin jika aku pulang


lebih malam lagi, Chrysan sudah siap dengan ocehannya. Lagipula aku harus


menepati janjiku untuk membahas apa itu ulang tahun bersama Chrysan.