The Five

The Five
19



Air mataku masih turun begitu derasnya, dan saat aku menuntut


penjelasan ia malah pergi. Jeon benar-benar sudah berubah. Aku masih bisa


memaklumi jika ia bersikap dingin padaku tapi, dengan teman-temannya sendiri


dia bahkan bersikap sangat dingin. Mengapa kau seperti ini Jeon? Mengapa????


………………….


Jam menunjukkan pukul 09 :00 PM, Aku dan Ivy baru saja kembali dari


kencan menyampaikan pesan Jeon pada petugas dealer motor itu, sepertinya ia


membeli motor, untuk apa ia membeli motor?  Mengapa ia tidak memnitaku atau Ivy membawakan motor dari markas saat


sebelum gedung itu diledakkan, bahkan Steve dan Lucas bisa membantunya


membawakan motor itu.


" Yeobo.. Kau akan tidur diluar lagi?"


" Tentu,ada apa?"


" Temani aku tidur…" pinta Ivy.


" Baiklah, aku hanya menemanimu sampai kau tertidur saja


setelah itu aku akan tetap tidur luar"


" Ok! Kamsahamnida.."


" Kau semakin pintar berbahasa korea ya!"


" Aku ini belajar bahasa Korea demi dirimu tahu!"


" uhhhh menggemaskan sekali dirimu ini, baiklah aku akan mandi


dulu nanti aku kekamarmu"


" ok!"


Akupun pergi kekamar Lucas dan Bimo untuk mengambil baju dan


menaruh tas. Kulihat Clarissa menangis dan Lucas menenangkannya. Mengapa ia


menangis?


" Lucas, apa yang terjadi pada Clarissa?" tanyaku


" Ia baru saja selesai mengamuk pada Jeon"


" Mengamuk? Bagaimana bisa?"


" Panjang ceritanya, nanti saja ku jelaskan"


" Jeon mana?"


" Ia pergi"


Pergi? Setelah ia membuat Clarissa menangis ia pergi? Padahal


sebelumnya ia selalu menenangkan Clarissa dulu baru pergi meninggalkannya.


Sikap Jeon benar-benar berubah. Akupun membawa handuk kekamar mandi dan


mendapati Jeon yang hendak terburu-buru.


" Jeon, sebentar!" cegahku


" Ada apa?" tanyanya dengan raut wajah panic


" Kau mau pergi kemana?"


" Aku harus pergi kesuatu tempat, maafkan aku. Aku sedang


buru-buru"


Suatu tempat? Apa ia berusaha menyembunyikan sesuatu? Ah.. aku


tidak bisa diam saja seperti ini, malam ini juga akan aku ikuti dia. Akupun


segera ke kamar Ivy.


" Chagiya.. aku kita pergi!"


" Pergi? Lagi?"


" Ini masalah Jeon"


" Baiklah, katja!- ayo!-"


Aku mengintip dari jendela depan dan ternyata benar dugaanku bahwa


Jeon membeli motor dari dealer itu, aku segera mengambil kunci mobil dan mulai


mengikutinya, kali ini aku biarkan Ivy yang mengambil alih kemudi karena ia


lebih mahir dalam hal memata-matai.


Aku harap ia tidak merasa dibuntuti kami, ia menggunakan beberapa


jalan tikus yang mempunyai banyak tikungan. Argh! Harusnya aku mengambil motor


tetangga saja tadi! Akan lebih mudah jika menggunakan motor, pantas saja Jeon


memilih untuk memakai motor ketimbang mobil,


Ia berhenti didepan sebuah kantor yang gelap lalu masuk kedalam


kantor tersebut.


" yeobo, ayo kita kesana"


" hmm"


Aku dan Ivy turun dari mobil menuju kantor itu, kami berusaha


sebisa mungkin untuk tidak ketahuan, ditambah lagi kami juga melihat adanya


cctv disekitar kantor itu. Kami memilih untuk berpencar dan mengintai dari arah


belakang kantor tersebut.


" Kau tahu, kau bisa saja kami tahan"


Jeon? Ditahan? Apa apan ini?!


Aku pun segera bersembunyi saat Jeon keluar bersama dengan yang


lainnya dan beruntung Ivy sudah bersamaku.


" Baiklah, Jackson aku harap kau bisa membantu kami lagi


mencari bukti yang kami cari"


Jackson? Bukankah ia biasa dipanggil Jeon? Semakin janggal saja. Oh


" Sebaiknya kita pulang saja, Jeon juga hendak pulang"


ujar Ivy


" baiklah"


Kamipun memutuskan untuk kembali kerumah, aku terus saja memikirkan


kejanggalan yang kutemukan tadi, berbagai pertanyaan muncul dibenakku dan


firasatku mengatakan bahwa Jeon yang sekarang bersama kami bukanlah Jeon yang


kami kenal tapi, apa mungkin dia adalah orang lain? Tapi, bagaimana mungkin.


" Kau memikirkan apa?"


" Kejanggalan yang aku temukan tadi"


" Aku pikir kantor itu adalah kantor rahasia"


" Maksudmu?"


" Kau tahu CIA dan FBI?"


" Tentu, jadi maksudmu Jeon adalah salah satu agen itu?"


" Iya begitulah"


" Apa mungkin FBI?"


" Tidak, FBI mempunyai seragam khusus"


" Berarti dia adalah agen CIA"


" Tapi, Youngboun itu tidak mungkin. Jeon sudah menyerah akan


hidupnya tiga tahun lalu, dan butuh waktu lama untuk mengetahui bahwa Rex


membuka perusahaan kejam itu. Observasi dan pengintaiannya pun butuh waktu yang


lama"


" Aku tadi mendengar bahwa Jeon bisa ditahan, ia juga


dipanggil Jackson bukan Jeon"


" Kalau Jackson itu adalah nama belakangnya, Rex juga sering


memanggilnya begitu. Tapi, kalu sampai ia ditahan berarti ia membuat


masalah"


Siapa sebenarnya dirimu Jeon? Apa kau sebenarnya bukan Jeon? Semua


hal darimu sekarang terlihat mencurigakan, bahkan kami memata-matai dirimu


seakan-akan kau ini adalah orang jahat. Apa yang kau coba sembunyikan dari


kami? Sampai kapan kau menyembunyikan hal ini dari kami? Dan apa masalah yang


kau buat sampai kau diancam akan ditahan oleh mereka?


………………………….


Matahari sudah muncul, Ivy masih dalam pelukanku karena semalam ia


terlalu banyak berpikir dan menebak-nebak siapa sebenarnya Jeon ia tidak bisa


tidur dan meminta aku memeluknya. Kurasa aku harus mengintai Jeon lagi agar


mendapat kejelasan..


" Chagi-ya.. bangun ini sudah pagi"


" Aku masih mengantuk"


" Ayo kita bikuti Jeon lagi, tidak adil jika kita tidak


mencari kejelasan tentangnya"


" Baiklah, aku akan bersiap. Kau tunggulah diluar"


" Baik"


Akupun juga mempersiapkan diriku, Lucas masih tidur  mungkin ia kelelahan setelah menenangkan


Clarissa semalam. Bimo masih dengan kebiasaannya mendengkur dipagi hari.


" Youngboun, kemana saja kau semalam?"


" Steve, kau mengagetkanku!"


" Maaf"


" Aku kencan dengan Ivy, bukannya kau sudah tahu?"


" Ah… kencan rupamya.. Our baby boy sudah punya kekasih


rupanya"


" Kau menyapaku hanya untuk mengejekku hah?!"


" Bukan, aku hanya becanda Younboun-ahh. Tadi malam saat Jeon


pergi, aku diam-diam masuk kekamarnya dan menemukan ini"


Steve menyodorkan sebuah kalung dengan adanya tanda J


" Kalung?"


" Aku menemukan ini dibawah bantalnya, aku pikir kau tahu


tentang ini"


" Seingatku Jeon tidak memakai kalung"


" Itu dia yang membuatku merasa janggal, dulu Jeon tidak


pernah memakai kalung bahkan ia tidak suka dengan kalung"


" Begini saja, kau geledah lagi kamar Jeon aku dan Ivy akan


membuntuti kemana ia pergi"


" Baiklah"


Akupun segera mengambil kunci mobil begitu melihat Ivy sudah siap


dan bertepatan sekali dengan perginya Jeon. Sepertinya Jeon akan pergi ketempat


lain, bukan kantor yang ia datangi semalam, Aku dan Ivy sama-sama menebak


pikiran masing-masing mengenai Jeon. Dan ia berhenti didepan toko bunga.