The Five

The Five
11



" tidak usah alay seperti itu Bimo! Belum tentu ia akan


menghajarmu"


" Alexia, apakah mereka semua…."


" tentu saja mereka manusia Steve, kau tidak perlu


mengkhawatirkan hal itu" balas Alexia.


" Alexia!"


…………..


Mengapa ia bisa bersama Bimo dan Steve? Ini pasti ulah Bimo, akupun


segera menghampirinya akan berbahaya jika Alexia tahu rencana kami yang


sebenarnya.


" oh, hai Jeon! Temanmu ini lucu sekali. Pagi ini Mr. Rex


memintamu untuk menemuinya"


" mengapa kau bawa mereka kemari?" tanyaku pada Alexia


" aku hanya memberi tahu mereka"


" sudahlah kembali ke pekerjaanmu dan termakasih telah memberi


tahuku"


" baik Jeon." Ia pun pergi meninggalkan kami diruang


latihan.


" Ya! Apa yang kalian lakukan disini dengan Alexia? Kalian


bahkan belum dibolehkan kemari" omelku


" entahlah, kau bisa menanyakannya pada Bimo. Aku tadi


melihatnya mengikuti Alexia dan jadilah kami disini" balas Steve


" sudah kuduga. Jangan tersenyum bodoh padaku seperti itu. Aku


tidak akan terpengaruh lagi" ujarku pada Bimo yang hanya tersenyum bodoh.


' Jeon, keruanganku segera' ah.. si tua Bangka itu


' baik boss'


Akupun segera meninggalkan mereka menuju ruangan Rex. Sejujurnya


aku merasa tidak perlu untuk bertem dengannya. Akhirnya, aku memilih untuk


kekamarku dan memasangkan chip di jam tanganku. Aku akan kesana bersama yang


lainnya saja.


……….


Mr. Rex rooms


Jeon memencet kode untuk masuk keruangan itu. Terasa asing saat


memasuki ruangan  tersebut, hanya ada


pria paruh baya yang duduk dikursi putarnya.


" kami sudah datang" ujar Jeon, dan pria itu memutar


kursinya.


" selamat datang di perusahaan ini, aku Rex direktur


perusahaan ini"


' cih! Kau sebut ini perusahaan? Pusat penyiksaan manusia mungkin


maksudmu' batinku


Akupun duduk  bersebelahan


dengan Youngboun dan Steve, sambil mengamati seisi ruangan aku terus membual


dalam hatiku rasanya aku ingin segera memberontak saat ini juga. Bisa-bisanya


si tua Bangka itu menyebut tempat ini perusahaan, tenpat ini bahkan lebih mirip


dengan rumah penyiksaan… oh shit!.


" kalian tahu mengapa kalian disini?" tanyanya dengan


nada yang sangat angkuh and all we can do is silence.


" kalian disini akan diltatih untuk menjadi orang yang kuat,


karena seperti yang kalian tahu banyak orang-orang diluar sana yang menggunakan


robot untuk melawan hukum dan juga melakukan kejahatan. Jadi, kalian harus


berhati-hati" lanjutnya sembari memberikan setumpuk kartu pada Jeon


" ini adalah kartu anggota kalian, ada  beberapa tempat yang cukup jauh dari markas


ini yang bisa kalian gunakan untuk kepentingan perusahaan ini. Selain itu


kalian juga bisa menggunakannya sebagai markas kalian ataupun tempat


beristirahat kalian. Kartu ini adalah kunci dan kode kalian untuk masuk kesana


jadi, jaga kartu ini baik-baik hanya pemilik asli kartu ini yang bisa masuk dan


anggota kami selain itu, mereka harus mempertaruhkan nyaa mereka terlebih


dahulu. Di lantai dasar ada beberapa motor dan mobil yang bisa kalian pakai"


jelasnya. kami terdiam seakan-akan tersihir oleh perkataanya.


" siang ini kalian sudah bisa memulai latihan kalian, tempat


kemampuanmu di lantai 6. Kalian harus bisa membedakan mana yang manusia asli


dan mana yang bukan. Jeon yang akan menjelaskannya pada kalian. Sekarang kalian


boleh keluar ada Alexia yang sudah menunggu kalian"


Aku dan yang lainnya segera keluar dari ruangannya, didepan pintu


aku melihat ada seorang wanita berambut pirang dan kurasa ialah Alexia. Ia


tersenyum pada kami.


" Jeon kau tetaplah disini" sial! Jeon masih harus


berbicara dengannya, padahal aku ingin menanyakan suatu hal padanya. Aku akan


menunggu Jeon selesai saja, aku akan beralasan untuk kekamar mandi.


…………….


Mereka semua sudah keluar, hanya tinggal diriku dan Rex. Aku tahu


apa maksud ia menyuruhku untuk menetap. Dan kali ini aku tidak akan menjadi


boneka nya lagi.


" jangan pernah berfikir bahwa kau bisa mengubah mereka


menjadi sepertiku" ujarku memulai pembicaraan


" jaga ucapanmu! Begitukah cara mu berkata pada seorang


ayah?!"


" ayah katamu?? Cih! Bahkan kedua orang tuaku sudah lama


tiada, bisa-bisanya kau menyebut dirimu ayah!"


" apa kau lupa siapa yang memberimu harapan hidup?"


" harapan hidup katamu?! Oh really grateful shit! Yang ada kau


hanyalah membuat orang putus asa dan memanfaatkan keadaan itu untuk kepentingan


dirimu sendiri!"


" apa kau sudah bosan hidup? R-Jeon 1247?!" bentaknya


" aku akan hidup, dan dewa kematianku bukanlah dirimu! Aku


Jeon Jackson dan aku adalah manusia! Kau fikir aku tidak tahu bahwa kau lah


yang membunuh kekasihku tiga tahun yang lalu? Dan apa kau fikir aku tidka tahu


apa maksudmu berbuat gila seperti ini? jangan berfikir bahwa aku tidak


tahu!"


" kendalikan dirimu Jackson! Kau bahkan tidak tahu tengah


berbicara dengan siapa!"


" Damn it Rex! Ingat perkataanku aku tidak akan membiarkanmu


melakukan hal gila mu itu pada teman-temanku. See? Aku bahkan bisa mengancurkan


dirimu"


" kau yang akan hancur terlebih dahulu sebelum menghancurkanku!"


" kita lihat saja nanti, batu nisan siapa yang akan diukir


terlebih dahulu aku atau dirimu" ucapku menantangnya membuka pintu


" beraninya kau!"


" oh tentu aku berani. Dan pelu kau tahu, otakmu terlalu


rendah jika berfikir bahwa manusia bisa berubah seperti robot atau sebaliknya.


Ganti otakmu sebelum kadaluwarsa" balasku keluar ruangan itu.


Akan kupastikan kali ini ia tidak akan bisa berbuat sesukanya. Dan


akan kupastikan bahwa ia membayar semua perlakuannya pada orang-orang yang


sudah terkena hasutan rendahannya itu. Akupun berjalan kelift, dan mendapati


Clarissa tengah berdiri menunggu lift terbuka. Bukankah seharusnya ia sudah


berada diruang latihan sedari tadi?


" kenapa kau baru akan pergi keruang latihan? Kau tahu tempat


ini sangat mengahargai disiplin waktu" tanyaku padanya


" aku?.. aku tadi… baru selesai urusan… emm.. ya, aku baru


saja dari toilet jadi tertinggal tadi"


" diruang latihan ada toilet juga, apa Alexia tidak


memeberitahumu?"


" ti..tidak"


" lalu mengapa kau gugup begitu? Apa ada masalah?"


" tidak"


Pintu lift terbuka dan kamipun masuk bersama, aku memencet tombol


lantai 5. Selama di lift kami berdua hanya terdiam, aku bahkan tidak ingin


menatap wajahnya.dan tidak lama pintu terbuka dilantai 4. Oh shit! Itu Jason!.


Akupun segera menarik Clarissa dalam pelukanku agar Jason tidak dapat membaca


fikirannya. Aku mendekapnya sangat erat.