
" tidak usah alay seperti itu Bimo! Belum tentu ia akan
menghajarmu"
" Alexia, apakah mereka semua…."
" tentu saja mereka manusia Steve, kau tidak perlu
mengkhawatirkan hal itu" balas Alexia.
" Alexia!"
…………..
Mengapa ia bisa bersama Bimo dan Steve? Ini pasti ulah Bimo, akupun
segera menghampirinya akan berbahaya jika Alexia tahu rencana kami yang
sebenarnya.
" oh, hai Jeon! Temanmu ini lucu sekali. Pagi ini Mr. Rex
memintamu untuk menemuinya"
" mengapa kau bawa mereka kemari?" tanyaku pada Alexia
" aku hanya memberi tahu mereka"
" sudahlah kembali ke pekerjaanmu dan termakasih telah memberi
tahuku"
" baik Jeon." Ia pun pergi meninggalkan kami diruang
latihan.
" Ya! Apa yang kalian lakukan disini dengan Alexia? Kalian
bahkan belum dibolehkan kemari" omelku
" entahlah, kau bisa menanyakannya pada Bimo. Aku tadi
melihatnya mengikuti Alexia dan jadilah kami disini" balas Steve
" sudah kuduga. Jangan tersenyum bodoh padaku seperti itu. Aku
tidak akan terpengaruh lagi" ujarku pada Bimo yang hanya tersenyum bodoh.
' Jeon, keruanganku segera' ah.. si tua Bangka itu
' baik boss'
Akupun segera meninggalkan mereka menuju ruangan Rex. Sejujurnya
aku merasa tidak perlu untuk bertem dengannya. Akhirnya, aku memilih untuk
kekamarku dan memasangkan chip di jam tanganku. Aku akan kesana bersama yang
lainnya saja.
……….
Mr. Rex rooms
Jeon memencet kode untuk masuk keruangan itu. Terasa asing saat
memasuki ruangan tersebut, hanya ada
pria paruh baya yang duduk dikursi putarnya.
" kami sudah datang" ujar Jeon, dan pria itu memutar
kursinya.
" selamat datang di perusahaan ini, aku Rex direktur
perusahaan ini"
' cih! Kau sebut ini perusahaan? Pusat penyiksaan manusia mungkin
maksudmu' batinku
Akupun duduk bersebelahan
dengan Youngboun dan Steve, sambil mengamati seisi ruangan aku terus membual
dalam hatiku rasanya aku ingin segera memberontak saat ini juga. Bisa-bisanya
si tua Bangka itu menyebut tempat ini perusahaan, tenpat ini bahkan lebih mirip
dengan rumah penyiksaan… oh shit!.
" kalian tahu mengapa kalian disini?" tanyanya dengan
nada yang sangat angkuh and all we can do is silence.
" kalian disini akan diltatih untuk menjadi orang yang kuat,
karena seperti yang kalian tahu banyak orang-orang diluar sana yang menggunakan
robot untuk melawan hukum dan juga melakukan kejahatan. Jadi, kalian harus
berhati-hati" lanjutnya sembari memberikan setumpuk kartu pada Jeon
" ini adalah kartu anggota kalian, ada beberapa tempat yang cukup jauh dari markas
ini yang bisa kalian gunakan untuk kepentingan perusahaan ini. Selain itu
kalian juga bisa menggunakannya sebagai markas kalian ataupun tempat
beristirahat kalian. Kartu ini adalah kunci dan kode kalian untuk masuk kesana
jadi, jaga kartu ini baik-baik hanya pemilik asli kartu ini yang bisa masuk dan
anggota kami selain itu, mereka harus mempertaruhkan nyaa mereka terlebih
dahulu. Di lantai dasar ada beberapa motor dan mobil yang bisa kalian pakai"
jelasnya. kami terdiam seakan-akan tersihir oleh perkataanya.
" siang ini kalian sudah bisa memulai latihan kalian, tempat
kemampuanmu di lantai 6. Kalian harus bisa membedakan mana yang manusia asli
dan mana yang bukan. Jeon yang akan menjelaskannya pada kalian. Sekarang kalian
boleh keluar ada Alexia yang sudah menunggu kalian"
Aku dan yang lainnya segera keluar dari ruangannya, didepan pintu
aku melihat ada seorang wanita berambut pirang dan kurasa ialah Alexia. Ia
tersenyum pada kami.
" Jeon kau tetaplah disini" sial! Jeon masih harus
berbicara dengannya, padahal aku ingin menanyakan suatu hal padanya. Aku akan
menunggu Jeon selesai saja, aku akan beralasan untuk kekamar mandi.
…………….
Mereka semua sudah keluar, hanya tinggal diriku dan Rex. Aku tahu
apa maksud ia menyuruhku untuk menetap. Dan kali ini aku tidak akan menjadi
boneka nya lagi.
" jangan pernah berfikir bahwa kau bisa mengubah mereka
menjadi sepertiku" ujarku memulai pembicaraan
" jaga ucapanmu! Begitukah cara mu berkata pada seorang
ayah?!"
" ayah katamu?? Cih! Bahkan kedua orang tuaku sudah lama
tiada, bisa-bisanya kau menyebut dirimu ayah!"
" apa kau lupa siapa yang memberimu harapan hidup?"
" harapan hidup katamu?! Oh really grateful shit! Yang ada kau
hanyalah membuat orang putus asa dan memanfaatkan keadaan itu untuk kepentingan
dirimu sendiri!"
" apa kau sudah bosan hidup? R-Jeon 1247?!" bentaknya
" aku akan hidup, dan dewa kematianku bukanlah dirimu! Aku
Jeon Jackson dan aku adalah manusia! Kau fikir aku tidak tahu bahwa kau lah
yang membunuh kekasihku tiga tahun yang lalu? Dan apa kau fikir aku tidka tahu
apa maksudmu berbuat gila seperti ini? jangan berfikir bahwa aku tidak
tahu!"
" kendalikan dirimu Jackson! Kau bahkan tidak tahu tengah
berbicara dengan siapa!"
" Damn it Rex! Ingat perkataanku aku tidak akan membiarkanmu
melakukan hal gila mu itu pada teman-temanku. See? Aku bahkan bisa mengancurkan
dirimu"
" kau yang akan hancur terlebih dahulu sebelum menghancurkanku!"
" kita lihat saja nanti, batu nisan siapa yang akan diukir
terlebih dahulu aku atau dirimu" ucapku menantangnya membuka pintu
" beraninya kau!"
" oh tentu aku berani. Dan pelu kau tahu, otakmu terlalu
rendah jika berfikir bahwa manusia bisa berubah seperti robot atau sebaliknya.
Ganti otakmu sebelum kadaluwarsa" balasku keluar ruangan itu.
Akan kupastikan kali ini ia tidak akan bisa berbuat sesukanya. Dan
akan kupastikan bahwa ia membayar semua perlakuannya pada orang-orang yang
sudah terkena hasutan rendahannya itu. Akupun berjalan kelift, dan mendapati
Clarissa tengah berdiri menunggu lift terbuka. Bukankah seharusnya ia sudah
berada diruang latihan sedari tadi?
" kenapa kau baru akan pergi keruang latihan? Kau tahu tempat
ini sangat mengahargai disiplin waktu" tanyaku padanya
" aku?.. aku tadi… baru selesai urusan… emm.. ya, aku baru
saja dari toilet jadi tertinggal tadi"
" diruang latihan ada toilet juga, apa Alexia tidak
memeberitahumu?"
" ti..tidak"
" lalu mengapa kau gugup begitu? Apa ada masalah?"
" tidak"
Pintu lift terbuka dan kamipun masuk bersama, aku memencet tombol
lantai 5. Selama di lift kami berdua hanya terdiam, aku bahkan tidak ingin
menatap wajahnya.dan tidak lama pintu terbuka dilantai 4. Oh shit! Itu Jason!.
Akupun segera menarik Clarissa dalam pelukanku agar Jason tidak dapat membaca
fikirannya. Aku mendekapnya sangat erat.