
Sambungan terputus, mobil kami masih melaju kencang diatas
rata-rata, beruntung jalan yang kami lalui sednag sepi, atau mungkin jalanan
ini memang jarang dilewati. Namun, Ivy tiba-tiba mengerem membuat kami
terlonjak kaget.
" mengapa kau berhenti?" tanya Lavender bingung
" Aku sudah memperhitungkan jarak kami bertemu disini. Pria
itu berkendara dengan kecepatan yang biasa kupakai saat bertugas dulu, tempat
ini juga aku sudah hafal, sebentar lagi deruan motor pria itu terdengar. Aku
yakin dalam 2 menit" jelas Ivy
Aku sungguh kagum mendengar penjelasan Ivy, ia bisa memperhitungkan
hal semacam itu saat berkendara, aku bahkan tidak bisa berpikir jernih saat
sedang panic begini. Dan benar saja Deruan motor pria itu sudah mulai terdengar
" Aku akan menghentikan motor itu" Ujar Ivy. Namun
anehnya, pria itu menghentikan motornya dan turun lalu menghampiri kami
Kami bertiga spontan heran mengapa ia malah menghampiri kami,
bukannya melewati kami. Pria itu datang lalu membuka helmnya, dan aku sungguh
terkejut bahwa ia mirip sekali dengan Jeon, atau mungkin ia adalah Jino? Aku
mulai bingung namun, aku segera melirik kearah pipi kirinya dan tidak kutemukan
bekas luka dipipinya. Apa benar ia Jeon?
" Sudah kuduga kalian akan mengikutiku dan menjebakku
disini"
"ka..kau?"
" Ya, kau benar Clarissa aku Jeon"
" Tapi, bagaimana bisa?" tanya Lavender
" Yang terpenting sekarang adalah kenyataan bahwa kau masih
hidup" balasnya
Aku segera memeluknya erat, Aku sangat senang ia masih hidup.
" Jeon, benarkah ini kau?" tanyaku dalam pelukannya
" Iya Clarissa, ini aku"
" Aku sungguh merindukanmu! Jino bilang kau sudah meninggal,
tidak tahukah kau aku sangat sedih mendengarnya"
" Aku juga merindukanmu, sekarang aku harus mengejar orang
tadi, ia adalah suruhan Rex. Kau naiklah ke mobil" balasnya
" Baiklah"
……………
Rupanya Ivy masih mempunyai keahlian menjebaknya, aku sengaja
melakukan ini untuk bertemu lagi dengan Clarissa, sudah lebih dari 3 bulan aku
tidak bertemu dengannya membuatku sangat merindukannya.
Saat pengeboman terjadi beruntung aku bisa menyelamatkan diri, aku
nekat loncat dair lantai paling atas yang menyebabkan tulang punggungku retak
dan kakiku yang patah, tidak ada yang menolongku jadi, aku berjalan kerumah
warga terdekat dan meminta tolong warga tersebut membawaku kerumah sakit.
Setelah 3 bulan penuh aku terbaring tidak berdaya diranjang rumah sakit
melewati banyak operasi dan terapi, akhirnya aku bisa sembuh walaupun
didampingi dengan obat-obatan.
Selama tiga bulan itu juga aku memantau teman-temanku, aku menyadap
hp Lucas dari situlah aku tahu bahwa mereka baik-baik saja. Sampai akhirnya aku
tahu bahwa Jino sengaja menyerahkan diri pada agen CIA tempat ia bekerja dan
mengaku bahwa ia yang melakukan pengeboman, akupun tidak tinggal diam. Setelah
aku sembuh aku berusaha untuk bisa bertemu dengannya dan menjelaskan semuanya.
Aku menjelaskan pada CIA bahwa aku sengaja melakukan ini karena
jika Rex dan perusahaannya masih mempunyai akar ia akan tumbuh kembali, oleh
karena itu aku mengebom tempat itu, semua sudah tertata dipikiranku, beruntung
CIA menerimanya dengan syarat aku bisa membuktikan bahwa Rex mempunyai koneksi
lain.
Aku dan Jino berusaha sebisa mungkin mencari orang yang bekerja
CIA, setelah aku memenuhi syarat yang diajukan CIA aku berfikir untuk kembali
dan bertemu dengan Clarissa, menjelaskan semuanya dan memulai kisah kita bedua,
namun, lagi-lagi aku terkena masalah karena ternyata ada yang sengaja
menjebakku. Jino ditahan lagi oleh CIA sampai aku bingung harus berbuat apa,
aku terus mencari informasi agar aku dapat membuktikan bahwa aku dan Jino tidak
bersalah.
Setelah kami sudah mendapatkan cukup banyak bukti bahwa kami tidak
bersalah, pria sialan itu datang kekantor kami dan membuat keributan. Ia
berusaha menembak kami berdua dan sayangnya meleset, beberapa anggota CIA ada
yang terluka parah akibat ulahnya dan lebih sialnya lagi ia berhasil melarikan
diri. Aku dan Jino langsung mengejar pria itu.
Jino memberitahuku bahwa pria itu sudah lam mengincar diriku, saat
ia sudah tahu aku masih hidup ia mengincarku untuk dibunuh, ia menyamar dan
berkat ulahnya juga Jino ditahan lagi oleh CIA, namun kali ini aku akan
menangkapnya dan menyerahkannya pada pihak CIA. Aku tidak akan bermain halus
lagi sekarang.
" Ivy, ikut aku. Lavender tolong antar Clarissa pulang."
Ujarku
" Jeon, kumohon berjanjilah bahwa kau akan kembali, aku takut
kehilanganmu lagi" ucap Clarissa
" iya aku berjanji, kau juga harus berjanji tidak akan
menangis lagi"
" baiklah"
" Aku pergi dulu"
AKu memacu kencang motorku, Jino sudah mengirimkan tempat mereka
aku akan menjebak orang brengsek itu dan tidak akan kuberi ampun ia kali ini.
ia sudah berani macam-macam denganku jadi jangan harap ia bisa kabur dengan
tenang, akan kupastikan bahwa aku yang menyerahkan dirinya pada pihak
kepolisian dan CIA nanti.
" Anak buah Rex sialan itu rupanya ingin bermain-main denganmu
Jeon"
"Tenang saja Ivy, aku yang akan memenangkan permainan kali
ini"
' Jeon, ia kearah selatan'
' sudah bisa kuduga Jino, aku sudah berada dijalan dimana ia akan
melewatinya, kejar terus, aku akan memblokadi jalan ini'
' baik'
Aku menyambungkan telefonku pada para polisi, untuk segera pergi
ketempat ku sekarang. Blockade jalan akan berjalan dengan sempurna sekarang
adalah giliranku yang bermain, ya aku akan membalas kan dendamku pada orang
itu.
" Ivy, kau lihat balok ditepi jalan itu?"
" tentu, Jeon"
" Ambil balok itu, dalam 5 menit, pria sialan itu akan lewat
dan berpapasan dengan kita, saat ia lewat pukul tengkuknya dengan balok itu kau
paham?"
" Aku paham"
3…
2….
1…
Pria itu datang aku menggas motorku
" Ivy, pukul sekarang"
Argh..!!! terdengar ringisan suaranya sesaat setelah Ivy
memukulnya, ku memutarkan motor ku 180 derajat lalu menghampirinya, mengambil
pistol dan menembakkannya keudara agar para polisi tahu bahwa kami ada disini.