
Tampaknya Bimo masih belum sadarkan diri dari tidur nyenyaknya
semalam, hanya ada Youngboun, Steve, dan Lucas yang berada di meja makan.
Baiklah, sepertinya skill stalking tidak berpengaruh pada Clarissa karena
sampai sekarangpun ia belum juga datang kerumahku, dasar tukang cari tahu.
" mana Bimo?" tanyaku
" masih diatas, bermain didalam mimpinya" jawab Lucas
santai, ia memang cepat sekali sadar setelah mabuk.
" bagus sekali!. Baik, kalau begitu aku akan memberitahu
kalian sekarang. Rex, tengah menghidupkan kembali Jason, robot eksekutor. Ia
yang akan menhabisi hidup kalian jika kalian tidak tunduk pada Rex, alih-alih
menjadikanku robot eksekutornya ia menjadikan Jason sebagai pengganti diriku.
Jadi, sesampainya nanti kita dimarkas bersikaplah bahwa kalian tidak tahu akan
apapun tentang rencana Rex, amati dan turutilah dulu setiap perintahnya, saat
kelemahannya terlihat kita akan menyerangnya" jelasku
" ok, mari kita lakukan" ujar Youngboun
" tunggu dulu, bukankah kau bilang waktu itu bahwa Clarissa
juga target? Dimana ia?" tanya Lucas
" jangan katakana, bahwa kau tidak memberitahunya alamatmu
saat kemrin dipesta ulang tahunnya?" sungguh aku sangat berterimakasih
padamu Steve atas pertanyaanmu
" ia bilang skill satlkingnya hebat. Jadi untuk apa aku
memberitahunya alamatku" jawabku santai
" kau pikir ia agen FBI atau CIA?! Disaat darurat seperti ini
bukan berarti kau bisa mengandalkan perkataannya!" komentar Youngboun
" lalu apakah aku salah? Bukankah harusnya Clarissa yang
disalahkan?! Ia mengetahui rahasiaku bahkan kami tidak saling mengenal!
Bukankah ia yang harusnya salah?!?" bentakku, sungguh wanita itu
benar-benar membuatku sangat tersinggung.
" Jeon"
Suara lirih itu. Oh tidak! Ia pasti mendengar bentakanku. Akupun
langsung memeluknya " maafkan aku Chrysan" ucapku, sungguh ini benar-benar
diluar kendali emosiku. " jangan menangis Chrysan, aku benar-benar minta
maaf" aku masih memeluknya, sungguh ia pasti sangat ketakutan. Chrysan
trauma dengan bentakan, entah itu kepadanya atau bukan.
" oh… damn it! Rasanya aku jadi ingin cepat-cepat punya
kekasih" umpat Steve
Grateful shit again for you Steve! Really really Shit! Aku dan
Chrysan sama sekali tidak mempunyai hubungan special. Kami hanya teman yang
saling membantu dan menjaga. Oh.. mengapa keadaan membuatku semakin membenci
dirimu Steve!
" apa kau perlu membentak seperti tadi? " tanya Chrysan
pelan
" maafkan aku, ini diluar kendaliku"
" jangan lakukan itu lagi, tidak hanya saat ada diriku. Tidak
semua orang bisa mendapat bentakan seperti itu, berjanjilah untuk tidak
mengulanginya lagi"
" baiklah, aku berjanji"
' hello!! Anybody home!' siapa yang bertamu?
Akupun segera membukakan pintu, dan ternyata itu adalah Clarissa.
Sungguh beruntung ia dapat menemukan rumahku, sangat beruntung dirinya. Entah
mengapa, aku menjadi sangat kesal melihat wajahnya.
" see?? Dia datang dengan skill stalkingnya. Apa aku masih
disalahkan dalam hal ini??" tanyaku dengan nada kesal
" jadi bisakah aku masuk?"
" tentu, kau boleh masuk" jawabku lalu langsung meninggalkannya kekamar. Aku harus
meredakan amarahku sebelum aku membentak orang lain lagi.
………………
" jeon memang biasa seperti itu,
cepat mengangguk karena dia paham betul jeon seperti apa, dari mereka berempat
youngboun lah yang paling dekat dengan jeon.
" Tapi, sepertinya Clarissa mengembalikan emosi manusianya lebih cepat,
setelah tiga tahun ia berperilaku seperti robot cukup sulit untuknya
mengembalikan dirinya menjadi manusia biasa lagi, terlebih sekarang ia belum
melepas beberapa perangkat yg menempel ditubuhnya" jelas chrysan
" Itu berarti bagus, karena jeon sudah bisa merasakan emosinya
kembali" balas Lucas
" Tapi, dengan kembalinya emosinya ia akan sulit mengontrol emosi dan
kendali dirinya dan berdampak buruk bagi orang sekitarnya. Ia adalah sosok yang
dingin" lanjut chrysan
Mereka pun mulai mendiskusikan apa yang akan mereka lakukan sebelum jadwal
penjemputan datang, sementara jeon masih mengurung diri di kamarnya. Ia masih
bingung dengan dirinya yang selalu disertai rasa kesal saat bertemu Clarissa, '
apa hanya karena ia tahu banyak tentang diriku, aku jadi kesal dengannya?'
tanyanya dalam hati namun, ia tetap saja tidak bisa menemukan jawaban mengapa
ia bisa merasa sekesal itu pada Clarissa. Tak lama ia mendengar suara dari
kamar tamu.
" Ayo hajar terus, hajar!"
Ia tahu suara siapa itu, dan saat ia membuka pintu ia mendapati Bimo tengah
bermain game dikamar tamu.
" Bim, jangan katakan sedari tadi kau hanya bermain game" kata
jeon
" Tentu, sungguh game ini seru sekali!" Balas Bimo
" Damn it! Kau hanya bermain game sembetara kami dibawah tengah
membahas cara menyelamatkan nyawa kami?! Hentikan" emosi jeon mulai meluap
lagi
" Oh, ayolah jeon! Game ini seru sekali"
" Hentikan Bimo "
" Sebentar lagi saja"
Jeon menitak kepalanya " kubilang hentikan ya hentikan!" Omel jeon
" Au! Sakit, jitakan mu itu seakan menunjukan bahwa tanganmu terbuat
dari baja tau!" Balas Bimo meringis kesakitan mengusap kepalanya
" Kau ini dibilangin susah sekali, turun dengar kan chrysan
menjelaskan! " Perintah jeon, Bimo hanya menurut tanpa melontarkan sepatah
katapun.
Sementara dibawah Clarissa mendengar semua penjelasan tentang semua rencana
yang akan mereka jelaskan, jika ia ingin jujur sebenarnya ia tidak terlalu
mengerti dengan rencana mereka. Ia hanya bisa mengangguk dan menggeleng padahal
sama sekali ia tidak menangkap inti dari pembahasan itu sendiri. Ia memang
mahasiswi dengan nilai IPK tertinggi tapi itu semua adalah hasil dari
pembelajarannya sendiri bukan karena ia mendengarkan dosen, ia lebih suka
mempelajari sesuatu sendiri daripada mendengarkan penjelasan orang lain.
"Chrysan, memangnya kapan penjemputan ya?" Tanya Clarissa
" Besok pagi, tapi akan ada perubahan jadwal karena Rex masih
memperbaiki jason"
" Bisakah aku istirahat sebentar, mendadak aku merasa pusing"
" Baiklah, kau boleh tidur di kamarku, lantai atas pintu kedua "
Clarissa pun segera naik keatas menuju kamar chrysan, tapi, ia kebingungan
dimana kamar chrysan karena kamar dilantai atas terdapat lima kamar yg sejajar.
Ia berhenti di ujung tangga dan mulai memilih, ' kedua, ya kamar kedua'
pikirnha. Ia pun mendekati pintu kedua dari pojok dan membuka pintunya. Ia
terkejut saat membuka pintu yg ia lihat ternyata adalah jeon yg tidak memakai
baju, awalnya ia merasa kasihan karena terdapat kaitan yg berdarah di punggung
nya dan tiba tiba ia merasa heran. ' apa ia tidak merasa sakit? Dengan darah yg
masih mengalir dari bekas jaitannya?' tanyanya bingung