Svoteens

Svoteens
Episode 8



GIBRAN ARDIANSYAH


 


“Bagaimana keadaan bunda, Bang?” Gibran yang baru saja keluar dari kamar mendapatkan pertanyaan dari adiknya, Jay Putra Fardian. Gibran mengajak rambut adiknya dan mengambil tempat di sampingnya.


“Nggak usah dipikirin, biar kamu belajar aja yang baik ya.”


“Tapi, Bang...” Bantah Jay yang mendapatkan gelengan dari Gibran.


“Kamu sekolah aja yang baik, kalau urusan biaya serahin aja ke gue. Lo jaga bunda baik-baik.”


“Sekolah lo jadinya gimana?”


“Gue tetap sekolah, kalau ada waktu luang gue kerja. Tenang aja, gue udah dapat kerjaan kok.”


“Terus lo nggak ngumpul sama anak Svoteens?”


Gibran terkekeh, menggelengkan kepalanya sambil mengacak rambut adiknya, “Nanti gue izin sama mereka. Sesekali adalah gue ngumpul, lagipula bos gue orangnya baik kok. Lo belajar lagi, gue mau buat menu untuk makan malam kita.” Gibran bangkit, meninggalkan Jay yang masih menatap punggungnya. Jay tahu bahwa saudaranya tersebut sering menangis atau merenung sendiri di dalam kamarnya.


“Gue bantu ya. Gue lagi nggak ada tugas soalnya,” pinta Jay yang disetujui oleh Gibran.


Terkadang, mereka tidak pernah menyangka berada di suatu yang begitu sulit. Kehidupan yang bahagia berubah seperkian detik dan menghilangkan semuanya sekaligus. Mereka yang selalu menikmati semuanya, seketika harus menahan untuk kebutuhan hidup.


Semua kesalahan ini selalu bersangkutan dengan keegoisan seseorang. Kepala rumah tangga yang harusnya memberikan lahir dan batin, memilih untuk bersama dengan perempuan lain yang lebih muda. Meninggalkan istrinya bahkan sering sekali memukulnya karena penolakan penceraian.


Tidak pernah sadar, bahwa kesuksesan yang dicapainya adalah berkat dari istrinya yang terus menyemangati. Hingga Gibran dan Wahyu hanya berharap bahwa keduanya akan mendapatkan sesuatu yang setimpal.


“Yaudah, makan aja dulu. Nanti biar gue bawa makanan ke Bunda.” Jay menganggukinya, mengambil sedikit nasi dan lauknya membuat Gibran memerhatikannya dengan iba, “Makan yang banyak. Nanti lo jadi kurus lagi,” sambungnya menambahkan nasi dan lauk pada piring Jay kemudian mengambil bagian untuknya.


“Bang, apa kita nggak bisa bujuk Bunda aja buat cerai dari Ayah. Sebenarnya, kalau kayak gini sama aja. Ayah nggak ada nafkahi kita juga, untuk apa dipertahankan.”


“Nanti gue coba bicarain sama Bunda.”


Jay menganggukinya, “Bang, kalau kita harus jual rumah terus ngontrak aja gue nggak masalah kok.” Gibran menghentikan suapan terakhirnya, memandang Jay yang begitu yakin dengan jawabannya, “Gue tahu keadaan kita gimana, untuk meminimalisir ada baiknya mungkin kita harus pindah. Ayah juga nggak akan menemukan kita lagi,” sambungnya.


“Okelah. Nanti gue bicarain ke Bunda lagi.”


Gibran menyelesaikan makanannya, mengambil piring kotor dan meletakkannya di westafel, “Gue aja yang cuci piringnya. Lo kasih makan Bunda aja, takutnya terlambat minum obatnya," pinta Jay langsung mengambil alih sementara Gibran membawa makanan untuk Bundanya dan membantu untuk makan.


*****


“Gue udah tanya nyokap semalam, kalau lo mau, kami ada rumah nggak terlalu besar sih tapi masih bisalah,” ucap Ravel menawarkannya.


“Gue nggak mau numpang, Rav. Gue tanya kalian itu cuma mau nanya, ada nggak yang tahu kontrakan murah.”


“Yang bilang lo nggak bayar siapa. Bayarlah! 500 ribu sebulan, dan bisa lo cicil,” sambungnya membuat yang lainnya tidak percaya dengan jawaban tersebut. Pasalnya, kontarakan tidak ada yang memiliki harga segitu murahnya, belum lagi sudah pada tahu bagaimana tipe rumah yang dimiliki Ravel.


“Lo yakin? Kontrakan mana ada seharga itu?”


“Ada, gue buktinya. Lagian udah lama banget nggak di huni jadinya banyak kekurangan bahkan mungkin berdebu kali. Lo mau nggak? Penawaran gue nggak berlaku dua kali.”


“Okelah, gue ambil. Tapi serius lima ratus aja?” tanya Gibran meyakinkan. Ravel kesal dengan pertanyaan yang sama, ia melemparkan sisa kacang kulit kearah Gibran yang menyengir meresponnya.