
Udara malam terasa lebih sejuk meski api unggun sudah ada di tengah-tengah mereka. Seksi peralatan sudah menyiapkan semuanya untuk membuka kegiatan untuk malam ini dengan memilih beberapa orang untuk memberikan penampilan.
“Jantung pun bergetar. Saat engkau ada di dekatku. Mungkinkah diriku telah jatuh cinta, pada dirimu.” Robert membuka kegiatan pertama dengan mempersembahkan lagu berjudul kehadiranmu – Vagetoz.
“Sebisa diriku. Mencoba untuk melupakanmu. Namun 'ku tak bisa. Kau pun selalu ada dalam hatiku.” Dari awal hingga akhir ia tidak pernah menjauhkan pandangan pada pacarnya yang berada di seberang karena tempat cowok dan cewek dipisah sesuai aturan dari Sonya.
Kini kembali melakukan undian, menunggu nama yang keluar untuk memperlihatkan bakat menunggu kegiatan utamanya. Raka mewakili mengambil kertas yang jatuh lalu menyebutkan namanya, “Suatu kejutan. Buat abang kita, Izar shandi silakan menampilkan bakatnya,” celetuk Raka sekaligus mengejek.
“Skip gue, nunjuk anak didik gue aja tuh.” Raka memandang Adelia untuk bertanya tentang persetujuan, dan Adelia tidak bisa menolak karena mendapat tatapan peringatan dari Izar.
Adelie memainkan gitar akustiknya, setelah meyakinkan dengan suaranya ia mulai memetik gitarnya mengikuti alunan musik dari Fiersa Besari – Celengan rindu. Dan hampir semua cewek menyanyikan bersama-sama hingga selesai.
Sesaat api sudah tak lagi besar seperti sebelumnya, kini bagian perlengkapan sudah menyiapkan lampion-lampion yang akan diterbangkan bersama dengan ditambah musik persahabatan dari speaker.
Berbeda dengan Sonya, Dastin, Adelia dan Rosla mereka memisahkan diri, menyiapkan hidangan untuk makan malam setelah kegiatan. Kegiatan malam ini telah selesai tepat pada pukul sembilan malam dan setelahnya beberapa orang memilih kembali ke tenda masing-masing.
“Coba lo pikir, 20 orang? Nggak masuk akal.” Raka meninggalkan perkumpulan setelah mengatakannya kemudian kembali dengan gelas berisi kopi serta jagung bakar.
“Biasa aja sih menurut gue. Lo aja yang terlalu lebay,” celetuk Sonya yang menjadikan kaki Alfar sebagai bantalnya. Mereka berkumpul setelah selesai membereskan semuanya termasuk dalam barbeque.
“Eh, tapi followersnya cepat naik juga ya.”
“Siapa sih?” tanya Izar kesal karena sudah pasti Zharif tidak mendengarkan semua pembicaraan mereka. Sejak tadi ia sibuk membalas pesan Kath dan sesekali ikut dalam pembicaraan dengan jawaban yang keluar dari topik, “Lo lebih baik diam deh, nggak nyambung, sumpah,” sambungnya.
“Bisa aja sih menurut gue, dia juga termasuk anak populer bahkan dari SMP.” Rosla kembali memulai pembicaraan, merebut jagung bakar dari Raka dan memakannya tanpa dosa.
“Yang sering sama dia itu karena di bayar aja. Gue sering dengar tuh pembicaraan anak buah mereka. Tapi, katanya bulan depan mereka bakal ikut olimpiade.” Hanya Dastin yang tetap dalam posisi duduk, berbeda dengan ketiga cewek lainnya berbaring beralaskan bantal kaki orang lain.
“Gue jamin pasti dia.”
“Memangnya diizinkan? Bukannya kelas tiga dihentikan semuanya untuk ikut olimpiade,” tanya Adelia membuka mulutnya, menerima suapan dari Bian yang mengemil cookiesnya.
“Nggak ada larangan selagi dia mau. Dia orangnya berambisi, nggak percaya sama orang lain,” jawab Alkar mewakilkan.
Gibran yang sudah setengah jam menjauh untuk menghubungi Bundanya kini kembali dan berbaring di samping Zharif, “Ada masalah, Gib?” tanya Ravel menghentikan permainan gitarnya dan meletakkan di dekat Izar.
“Nggak ada masalah kok.”
“Bagi rokok lo, Zhaf,” pinta Raka yang langsung diberikan oleh Zharif tanpa menghentikan tangan kanannya untuk mengetik pesan, “Lo tumben nggak ngerokok, Far?” sambungnya bertanya setelah menawari pada Alfar dan mendapat penolakan.
“Sama aja, bahlul!” protes Sonya menarik bulu kaki Alfar hingga tercabut beberapa helai. Alfar memekik menahan sakit dan mengusap kakinya yang pedih sambil menatap protes ke Sonya.
“Oh ya, ada kenal dengan Vino anak kelas satu?” tanya Rosla tiba-tiba. Raka yang paling mengenal orang di sekolah langsung menganggukinya antusias bahkan mendekatkan tubuhnya untuk mendengar lebih jelas.
“Gue dengar anaknya pintar main skateboard. Pernah ikut lomba di luar kota, nggak juara satu sih tapi masuk lima besar,” sambung Rosla memberikan informasi.
“Seriusan? Gue baru tahu kabarnya.”
“Vino? Yang anaknya brandalan itu nggak sih? Sering bermasalah?” tanya Alkar setelah mengingatnya karena ia pernah menghukum Vino yang berusaha untuk cabut dari sekolah.
Rosla mengangguk membenarkan, “Dia pernah bertengkar sama anak Pak Begu. Tapi, gue paling rekomendasi dia. Biasanya anak yang kayak gitu bakal setia sama kawan.”
“Seingat gue dia nggak punya teman dekat di sekolah. Gue pernah tanya alasan dia cabut, katanya mau ketemu teman di warung perbatasan dengan anak STM.” Rosla melentikkan jarinya, membenarkan perkataan Alkar.
“Rak, tahu kan maksud gue?” Raka mengangkat jempolnya, seolah mengerti dengan perkataan Bian tanpa mendengarkan penjelasan apapun. Ya, mereka hanya bisa berharap bahwa semuanya tidak hanya berakhir sampai di sini saja.
*****
“Bersedia... siap... mulai!” kedua sisi saling menarik tali masing-masing, menentukan kekuatan hingga permainan selesai. Pijakan kaki pada tanah membekas, dengan nafas yang memburu karena mengeluarkan banyak tenaga.
Bisa dikatakan permainan ini tidak adil, karena di satu sisi memiliki postur tubuh yang besar meski tubuh tak menjamin tenaga setiap orang. Tapi tetap saja, bagi mereka kelas satu akan kalah dengan angkatan Bian yang rata-rata anggotanya memiliki hobi berolahraga, belum lagi dengan adanya, Zharif, Alfar dan Gibran. Ketiganya disebut sebagai perokok aktif tetapi tak membuat kekuatan mereka terkuras.
Karena permainan terdiri lima orang, hanya Bian dan Raka yang bisa menjadi tambahan sebab selebihnya mereka lebih menyukai hal santai bukan mengeluarkan tenaga seperti saat ini.
“Halah, badan besar-besar masa kalah,” ledek Izar yang bersandar pada batang pohon, menyaksikan pertandingan tarik tambang yang belum selesai juga sejak tadi.
“Diam lo, Zar! Kalau gue menang, lo cium ketek gue ya!” celetuk Raka ditengah mengatur nafasnya. Di saat seperti ini masih saja ia menyempatkan waktu untuk bertaruh.
“Lo pegang kata-kata gue,” jawab Izar menyetujuinya.
Sayangnya, keberuntungan berpihak pada Raka. Dengan sombong ia melepaskan tali tersebut dan berdiri di depan Izar dengan tangan menyilang, “Tadi ada yang bilang gue pegang kata-kata lo. Banyak saksi nih,” Izar yang ingin kabur langsung ditangkap oleh Gibran dan Zharif.
Kedua orang itu bersekongkol dengan Raka untuk mengerjai Izar, memang sebelah tangan Izar dan menanti pembalasan dendam atas kelakuan Izar yang menyebalkan menurut mereka.
“Mau lari seberapa jauh pun lo nggak akan bisa.” Raka mengangkat tangannya dengan senang, sementara Izar terus berusaha memalingkan wajahnya menghindar. Keempatnya melakukan aksi sementara yang lain hanya bisa melihat dan menertawakan kesialan dari cowok pemilik mulut pedas itu.
“Kayaknya besok mulut Izar bakal berubah, bukan pedas lagi tapi asin,” celetuk Alfar membuat tawa yang lainnya semakin besar. Siapa yang tidak tahu dengan mulut pedas cowok itu, hampir semua orang pernah merasakannya.