Svoteens

Svoteens
Episode 5



Kedatangan Adelia di tengah tawa yang mengisi di meja kantin tersebut berganti menjadi hening, semua memandang seolah bertanya tujuannya datang. Bahkan untuk sahabat Adelia sendiri tidak mengerti maksud kedatangan tersebut, sebab biasanya Adelia akan mengirimnya pesan lebih dulu.


“Kalian udah siap rapatnya, kan? Boleh gue pinjam Raka sebentar?” tanya Adelia memandang kedua belas orang yang berada di meja tersebut untuk meminta persetujuan. Salah satunya dengan Raka yang tak mengeluarkan suara tetapi merespon Adelia dengan langsung berdiri dan keluar dari bangkunya.


“Wahh, Abang Raka pintar ya. Tahu aja mana cewek yang cakep, langsung gercep gitu,” goda Zharif mengedipkan sebelah matanya pada Raka yang mendengus kesal. Menjitak kepala Zharif lalu berjalan menemui Adelia tanpa memperdulikan pekikan kesakitan dari Zharif.


“Gue izin bentar ya,” ucap Raka berjalan berdampingan dengan Adelia yang terus berjalan tanpa menjelaskan maksudnya memanggil Raka, “Jadi, ada keperluan apa?” Raka mengatakan pertanyaan yang sejak tadi terpikirkan olehnya.


“Sebentar, lo mau minum?”


“Gak usah, gue udah banyak minum tadi.”


“Sorry ya, kalau gue ngerepotin.”


“Ck. Ngerepotin apa sih, namanya juga teman. Karena lo udah tahu nama gue jadinya, kita udah berteman dong.”


“Jadi, kemarin lo pernah bilang kalau Argi saudara tiri lo. Gue mau minta penjelasan, maksud yang lo bilang kalau Argi cuma mau...”


“Ah itu, gak usah di jelaskan. Gue udah paham. Gini aja, sore ini lo sibuk?” bukannya menjelaskan, Raka malah mengajukan pertanyaan yang membuat Adelia menjadi kebingungan, “Gue gak bakal menjelaskan, biar lo tahu dengan mata sendiri,” sambung Raka membuat Adelia mengangguk paham.


“Gue kosong kok.”


“Okay, nanti gue tunggu di parkiran. Jadi, udah berapa lama dia gak ngehubungi lo?” pertanyaan Raka membuat Adelia terdiam bungkam, pasalnya pertanyaan tersebut begitu tepat dengan yang terjadi bahwasannya Argi sudah lama tidak memberinya kabar, berbeda dengan sebelumnya.


“Hampir sebulan.”


“Masih termasuk sebentar, untungnya lo gak bodoh yang sadar dengan keanehan dia. Beda sama mantan dia sebelumnya yang gak percaya perkataan gue.” Raka melipat kedua tangannya sambil bersandar pada bangku memerhatikan ekspresi dari Adelia yang selalu kebingungan dengan perkataan nya, “Tunggu saatnya lo tahu sendiri kok.” Kembali Raka mengatakan hal yang semakin membuat Adelia ingin tahu maksudnya.


“Oh iya, gue mau tanya nih.”


Adelia menaikkan sebelah alisnya, Raka tak langsung menjawab melainkan mendekat menegakkan tubuhnya dengan meletakkan kedua tangan yang terlipat di atas meja, "Lo udah sampai mana dengan Bian?” tanya Raka.


“Maksud lo?”


“Hubungan lo sama Bian? Kalian lagi pdkt, kan?”


Adelia memandang horor ke arah Raka yang seolah bertanya tanpa dosa, belum lagi dengan tampang menggodanya sambil menaik turunkan alisnya. Dan yang tak bisa membuat Adelia habis pikir, dia masih berstatus sebagai pacar dari saudara tirinya tetapi cowok itu malah mengajukan pertanyaan dengan tatapan menuduh.


Adelia tidak menjawabnya, sampai keributan terjadi dari meja tempat berada teman-temannya Raka membuat siswa-siswi yang berada di sana memandang ingin tahu. Dan tentu saja, Adelia termasuk salah satunya. Berbeda dengan Raka, yang memerhatikan dengan tangan terlipat dan senyuman mengejeknya. Ya, Raka sudah terbiasa dengan melihat hal yang sama seperti yang dilihatnya saat ini.


“Itu ada apa? Lo gak ngehampiri teman lo gitu?”


“Ah, udah biasa gue. Tunggu aja, entar lagi lo bakal dibuat terkejut.” Tepat setelah mengatakannya, Adelia benar-benar dibuat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Zharif mendapat tamparan langsung dari dua cewek sekaligus yang setelah melakukannya kedua cewek itu pergi dengan umpatan yang keluar dari bibirnya.


“Woahhh! Tamparan ke dua puluh. Lo emang ter the best, Zhaf,” teriak Raka dengan heboh tanpa lupa menepuk tangan dengan kuat. Tidak hanya Raka, untuk teman-temannya yang lain juga mengejek Zharif dengan apa yang didapatkan oleh cowok tersebut. Mereka lebih memilih menertawakan ketimbang merasa iba dengan apa yang terjadi.


“Kok bisa, sampai ke dua puluh gitu?”


Raka tak menjawabnya, melainkan mengajak Adelia untuk menemui temannya dengan senyuman mengejek yang masih tercetak jelas diwajahnya, “Bagaimana? Apa rasanya masih sama?” goda Raka ketika sudah mengambil duduk di depan Zharif setelah menggeser tubuhnya memberikan tempat kosong untuk Adelia.


“Duduk, kalau lo mau tahu jawabannya,” perintah Raka menganggukkan kepalanya meyakinkan Adelia.


“Lo kapan tobat sih, Zhaf? Jadi, apa kata mereka tadi?”


“Gak usah kepo lo!” omel Zharif melempar es batu ke arah Raka yang dengan mudah membaca arah lemparan tersebut, alhasil ia tidak terkena dengan lemparan tersebut.


“Oh ya, Adel. Gue punya penawaran kesekian kalinya nih, lo serius gak mau gabung sama kita? Padahal enak loh, ada supir yang bersedia nganter lo kemana aja tanpa bayaran. Apa yang lo tinggal minta aja sama mereka ini,” ucap Sonya, mendapatkan sorakan tidak terima dari Raka, Zharif, Bian, Alfar dan Gibran. Sebab mereka yang selalu menjadi korban kejahilian Sonya.


“Enggak deh, gue gak biasa melakukan aktivitas fisik kayak gitu. Gue mah cuma bisa bagian seni aja,” jawab Adelia dengan cengiran.


“Tapi, lo gak masuk ke ekskul musik tuh?” Izar membuka pertanyaan, ya cowok yang jarang berbicara itu tanpa sadar ikut menimpali percakapan jika membahas hal yang dia sukai, contohnya dalam bidang musik.


“Gue sempat belajar, tapi udah nyerah sendiri sih. Cuma bisa main piano aja.”


“Kalau Adel mah suka nya di kepenulisan sama melukis aja. Selebihnya bisa aja, tapi fisik nya gak terbiasa jadi cepat capek gitu,” sahut Rosla. Meski terbilang baru mengenal, tetapi Rosla tipe orang yang terbuka jadi mudah untuk Rosla mengetahui apa saja tentang cewek itu.


“Oh iya, sebelum gue lupa. Karena Bian pernah bantuin gue beliin hadiah buat adik gue, jadi adik gue ngundang kalian juga ke acara ulang tahunnya.”


“Wihh, makan-makan dong ya,” sahut Alfar heboh. Gibran yang berada di samping Alfar, menendang kaki cowok itu dari bawah meja. Terkadang, Alfar memang terbilang norak meski apa yang dia inginkan begitu mudah di dapatkan.


“Terus, gimana kami mau datang? Alamat rumah lo juga gak punya,” tanya Fio dengan tangan yang sibuk mengaduk minumannya dengan sedotan.


“Ah iya, nanti gue share loc aja. Mau dikirim ke siapa?”


Yang lain saling memandang satu per satu, “Lo ada nomor Bian, kan? Kirim ke dia aja,” jawab Rosla mewakilkan yang lain dan mendapatkan persetujuan. Adelia menganggukinya, dan mengirimkan lokasi rumahnya pada Bian.


Diantara keheningan yang sedang terjadi, handpone Raka yang berada di atas meja berdering dengan panggilan berasal dari Ghoba. Semua memandang Raka dengan kebingungan, mereka tak pernah mendengar nama yang menurut mereka aneh dan Raka sendiri tidak pernah menceritakannya.


Daripada menjelaskan, Raka lebih memilih mengangkat panggilan dengan mode serius kemudian berdiri membuat semuanya terkejut, “Gawat! Anak-anak berantem sama anak Pak Begu,” ucap Raka yang langsung keluar dari tempat begitu juga dengan lainnya mengikuti Raka yang mengetahui tempatnya.


Zharif, Alfar, Gibran dan Bian menarik paksa keempat cowok yang masih tetap melwan melemparkan baku hantam. Bian, menekukkan kaki cowok betubuh jangkung itu hingga membuatnya menghentikan serangan ke lawan, berbeda dengan Bian, Zharif lebih memilih menahan dengan memeluk erat cowok yang tingginya tak seberapa darinya, Alfar dan Gibran mereka lebih menyakiti dengan menampar atau menjitak teman satu tim mereka.


“Kalian berempat bawa ke markas. Seperti biasa, Izar, Okta, Alkar, sama Ravel kalian bantu urus masalahnya.”


“Lo mau ke mana?” tanya Ravel sambil melirik ke arah anak didik Pak Begu yang berusaha untuk kabur.


“Gue mau lapor sama guru BK dulu, kita gak punya hak ngasih hukuman kalau di sekolah,” jawab Bian melangkahkan kakinya menyusuri koridor kelas dengan kedua tangan berada di dalam saku. Meski terlihat tenang, sebenarnya Bian sedang memikirkan solusi untuk hal yang di hadapkannya nanti agar tidak menghasilkan masalah baru.


*****


“Kalian ambil minum sana di dalam tuh,” perintah Gibran menujukkan dengan menggerakkan kepalanya pada kotak yang berada di sudut mobil. Tetapi, tak ada yang bergerak selain keadaan menunduk, “Gak ada penawaran dua kali dalam kamus hidup gue,” lanjutnya membuat cowok yang ia jitak kepalanya memandang Gibran dengan penuh pertanyaan.


“Kami gak dihukum?”


“Lo tahu kesalahan lo?” tanya Raka melipat kedua tangannya, menatap penuh imintidasi kepada keempatnya.


“Kami melanggar peraturan ke sepuluh, tidak boleh bertengkar karena alasan sepele,” jawab cowok bertubuh pendek yang sempat mendapatkan pelukan cengkraman dari Zharif.


“Menurut kalian masalahnya sepele?” tanya Zharif yang langsung dibalas keempatnya dengan gelengan, “Kalau gitu, jelaskan alasan kalian bertengkar,” sambung Zharif memerintah.


“Ya gini aja, kalau kalian bisa lari tinggal pilih mau masuk futsal atau basket? Kita punya relasi. Basket sama futsal juga berhubungan sama lari. Kalian pikirkan aja dulu, nanti kabari ke gue,” perintah Raka yang mengakhiri percakapan dan lebih memilih menyibukkan diri dengan handphonenya.


“Kalian bertiga ke ruang BK. Bian sama yang lain udah di sana nungguin. Oh iya, usahakan jujur aja, masalah ektrakurikuler ini udah keterlaluan kalau kalian gak diizinkan masuk.”


Ketiganya mengangguk, berpamitan dan meninggalkan parkiran sekolah menuju ke ruangan konseling. Ruangan yang menjadi hal paling ditakutkan di sekolah, bagi mereka itu adalah penentu antara hidup dan mati. Mau tidak mau, mereka harus menghadapi.


“Far, gue pinjam baju lo dong,” pinta Zharif yang sejak tadi tidak bisa mengalihkan pandangannya dari handphone yang terus menyala. Setelah perginya ketiga junior tersebut, ia langsung mengambil handphone, membalas pesan dengan tersenyum aneh.


“Buat apa?”


“Ngedate sama siapa lagi lo?”


Raka dan Alfar menanyakan hal yang berbeda berbarengan, keduanya melemparkan pandangan kemudian mengangkat kedua bahu dengan tawa yang tertahan. Alfar mendesah, ia sudah tahu jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh Raka. Ya, Raka sudah sangat hafal dengan kebiasaan dari Zharif.


“Sama adik kelas. Cakep, sumpah,” celetuk Zharif meletakkan handphonenya di atas sofa bersebelahan dengan dia duduk.


Mobil sebagai tempat markas berjalan mereka terbilang sangat berguna, ditambah dengan modifikasi bisa membuat tempat menjadi luas, mencukupi keseluruhan anggota inti beserta barang-barang yang di butuhkan setiap waktu.


“Siapa namanya?” tanya Alfar mengambil gitar Izar yang terletak berdekatan dengannya dan memetik sinar gitarnya.


“Kathrina kalau gak salah, nama panjangnya gak tahu gue.”


“Serius lo? Itu adiknya Bian, woi!”


“Eh, beneran?”


“Adik sahabat sendiri aja gak kenal,” celetuk Alfar tanpa memandang Zharif yang memandangnya tidak suka.


*****


“Ayuk, naik!” Adelia memandang Raka dan teman-temannya yang ikut menemuinya dengan motor, “Tempat tongkrongan dia bukan di sini. Nanti kalau lo ke sana sendirian, buat nungguin gue, bahaya.  Buruan naik!” sambung Raka memberikan helm kepada Adelia dan membantunya untuk naik.


“Kenapa lo malah bawa teman sih. Kalau gini, sama aja mereka tahu.”


“Gue gak punya wewenang masuk kandang musuh. Syarat masuk markas mereka harus bawa anggota inti.”


“Loh, kalau gitu bisa nambah masalah di kalian. Apalagi, aku putusnya dengan adanya kalian. Argi pasti buat alasan yang gak masuk akal.”


“Tenang! Gue punya banyak teman jenius,” kekeh Raka seraya memainkan gas motornya.


“Rak! Berhenti di depan aja. Jangan masuk dulu,” celetuk Gibran yang berhasil mendahului Raka untuk menyampaikan perintah dari ketuanya, Bian. Karena, mereka juga membutuhkan kesiapan, jika salah langkah, akan menimbulkan masalah untuk kedua pihak.


Sesuai yang diperintahkan, Raka berhenti di tempat yang tersembunyi tetapi dapat melihat target dari kejauhan, “Lo lihat ke dalam. Hargi ada di sana tuh.” Adelia memperlihatkan cengiran kepada Gibran.


“Gue minus dan gak bawa kaca mata”


“Yee! Si somplak!” celetuk Alfar dengan gelengannya. Berbeda dengan Adelia yang masih dengan cengirannya.


“Untung aja lo cewek, Del,” kata Raka memutar tubuhnya menghadap Adelia dengan kekehannya.


“Lah, memangnya kenapa?”


“Bisa gue bawa ke KUA lah. Gemes gue lihatnya,” jawab Raka yang mendapatkan sorakan dari teman-temannya. Bahkan Alfar tidak segan menjitak kepala Raka.


Bian turun dari motornya, dia yang memisahkan diri akhirnya mendekat sambil memberikan handphonenya kepada Adelia, memperlihatkan hasil jepretannya di mana Hargi sedang merangkul dan bercanda dengan perempuan lain.


Ditengah keheningan yang terjadi, Bian membuka suaranya, “Hubungi dia!”


Adelia mengembalikan handphone Bian, kemudian menghubungi Hargi berulang dan tidak mendapatkan balasan, “Dia tuli kali ya? Kita aja kedengaran suara dering sampai ke sini,” omel Zharif yang masih memantau keberadaan Hargi.


“Eh, dia mau angkat itu!” celetuk Alfar membuat yang lainnya terdiam.


“Lagi di mana, Gi?” tanya Adelia membuka suaranya, menjauhkan pandangannya dari banyaknya cowok yang ingin tahu. Bian yang masih berada di depan Adelia, menarik handphonenya dan mengubah suara ke mode speaker.


“Ya aku lagi ngumpul sama teman-teman. Ada apa sih?”


“Seharusnya aku yang nanya, kamu yang kenapa. Udah sebulan aku hubungi gak pernah bisa.”


“Kamu tahu sendiri aku udah kelas 3. Udah sibuk ngurusi sekolah, seharusnya kamu ngertiin aku,” bantah Hargi membuat Raka sebagai adik tirinya sudah tidak tahan untuk melemparkan bogeman.


“Ngertiin kamu? Kamu aja gak ngertiin aku. Aku udah sabar, Gi. Berulang kali lihat kamu sama cewek lain. Kamu yang gak pernah ngertiin aku.” Adelia seberusaha mungkin untuk tidak mengeluarkan air mata, karena baginya itu juga tidak berguna.


“Terus mau kamu apa?”


Adelia memandang sekelilingnya, meminta bantuan jawaban dari yang lainnya. Sampai suara speaker google yang dibuat Gibran membuat semuanya melongo, “Aku tunggu kamu di luar.” Suara perempuan dari google membuat Adelia menahan tawanya. Bahkan Raka, Alfar dan Zharif tidak henti-hentinya menendang kaki cowok tersebut saking geramnya.


“Aku udah di luar. Aku tunggu kamu di sini,” ucap Adelia kembali berbicara dengan Hargi. Sementara, Bian dan teman-temannya berpisah untuk mengambil jarak lebih jauh dari Adelia meski tetap memantaunya.


“Kamu di luar mana? Kamu tahu dari mana tempatku?”


“Jangankan tempat kamu, kamu yang lagi ngerangkul cewek itu aku juga tahu.”


Hargi langsung mengkhiri panggilannya, dan tidak lama ia sudah berdiri di depan Adelia, “Aku mau kita putus aja. Aku udah capek sama sikap kamu yang gak pernah menghargai aku.”


“Ya kalau itu mau kamu, oke. Aku turuti. Gak hanya kamu cewek di dunia ini,” jawab Hargi kemudian melangkah pergi meninggalkan Adelia yang menghembuskan nafas dan berjongkok di tempatnya berdiri. Ia gak menangis, untuk seorang pecundang, semua itu gak pantas baginya.


“Ngapain juga sih nangisin dia?” ucap Raka ikut merendahkan tubuhnya di hadapan Adelia yang mengangkat kepalanya.


“Yang bilang gue nangis siapa sih? Perut gue nih dari tadi bunyi terus, laper.” Raka memutar kesal bola matanya, lagi-lagi dia yang ingin berperan baik sebagai penolong dan membuat orang baper berakhir dengan memalukan.


“Jadi, dia bilang apa?” Izar membuka suaranya, meski sejak tadi mengenakan headset tetapi ia mengetahui pembicaraan dari yang lainnya.


Adelia menggeleng, “Gak ada. Gue bilang putus lalu dia setuju. Yaudah, gitu aja.”


“Lo mah cewek jadi jadian, orang diputusin nangis. Ini mah santai aja,” ujar Zharif menimpali.


“Lah, ngapain juga. Gak penting. Yaudah, gue mau cabut dulu. Thanks, bantuannya.” Adelia merapihkan rambutnya kemudian melangkah menjauh hingga ke pinggir jalan menunggu kendaraan umum.