Svoteens

Svoteens
Episode 23



TWINS GRISTOV JONATHAN


 


“Selamat pagi, Emak. Selamat pagi, Abah. Mentari hari ini berseri indah.” Dengan begitu ceria mengucapkan sapaan pagi mengikuti irama lagu sebenarnya, Alfar menuruni tangga sambil memutari kunci motor di jarinya. Ia sudah mengenakan seragam lengkap, dengan balutan hoodie putih kesayangannya.


“Alkar udah bangunin kamu dari tadi. Kebiasaan kamu, waktu mau mepet baru berangkat ke sekolah,” komentar Friska meletakkan segelas susu putih di depan Alfar yang sudah ikut bergabung untuk sarapan.


“Oh iya, Mama sering dengar katanya kamu udah punya pacar. Tetangga bilang sering lihat kamu bareng sama dia. Kenapa nggak diajak ke rumah?”


Alfar memandang saudara kembarnya yang mengangkat kedua bahu tak acuh. Ia tidak menjawab pertanyaan tersebut dan lebih memilih untuk mengabiskan sarapan sebelum keduanya memaksa menjawab.


Bunyi klakson terdengar, ia menghentikan makan kemudian berpamitan menemui Sonya yang sudah menunggu di motor maticnya. Alfar langsung meninggalkan perkarangan rumah setelah mengenakan helmnya, tingkahnya tentu saja membuat pertanyaan di kepala Sonya.


“Lo kayak dikejar-kejar setan aja,” celetuk Sonya meletakkan handphonenya lalu memegang pundak Alfar untuk berpegangan.


“Kalau aja dari awal lo setuju buat gue kenalin ke keluarga, nggak bakal seheboh ini gue.” Sonya memajukan kepalanya untuk mendengar lebih jelas.


“Berarti orang tua lo belum tahu `kan? Gue cuma belum siap aja, Far. Lo tahu sendiri kita nggak satu agama.”


Tak ada lagi percakapan di antara keduanya hingga Alfar menghentikan motornya di perkarangan sekolah. Sonya meletakkan helmnya dan merapikan rambutnya kembali, kemudian menyusul Alfar yang sudah berjalan meninggalkannya.


*****


Berbeda dengan saudara kembarnya, kali ini Alkar datang lebih terlambat dari biasanya sebab harus mengantarkan pesanan mamanya ke tetangga. Ia meletakkan tasnya di atas meja lalu duduk memerhatikan Raka dan Zharif yang sudah sibuk memainkan handphonenya.


Baru saja beberapa menit menikmati lamunannya, Dastin datang meletakkan tumpukkan buku di atas mejanya, lebih tepatnya kumpulan komik milik Alkar yang sudah dibacanya.


“Sudah selesai? Lebih cepat dari dugaan,” kata Alkar heran. Ia masih ingat,  dua hari yang lalu memberikan dua puluh lima komik dalam satu judul.


Alkar mengambilnya dan meletakkan di laci meja, “Gue butuh lanjutannya,” pinta Dastin mengambil duduk di depan Alkar. Ia masih menunggu persetujuan, setelah mendapatkannya barulah ia akan pergi dari hadapan Alkar lalu kembali keesokan harinya untuk menagih.


“Besok gue bawa sampai episode lima puluh.”


Dastin menggelengkan kepalanya, “Seratus. Segitu nggak akan cukup buat gue,” pinta Dastin me-negonya.


“Gue nggak bakalan sanggup bawa sebanyak itu ke sekolah.”


Alkar menghela nafas, ia tidak pernah berfikir bertemu cewek sekaku Dastin bahkan melebihi sifatnya. Setidaknya ia berharap untuk tidak memiliki hubungan lebih dengan sifat cewek yang seperti itu.


*****


Sonya dan Alfar tidak dapat membantahnya lagi karena kedatangan orang tuanya membuat keduanya harus menjelaskan semuanya. Baru saja menghentikan motor di depan rumah keluarga Gristov, Sonya merasa sial sebab tiba di waktu yang tidak tepat.


Mobil putih itu menghalangi jalan, seorang perempuan paruh baya dengan menenteng tas menemuinya dan Alfar yang saling bertatap mencari jalan keluar, “Kamu Sonya, `kan? Masuk dulu, ada yang mau tante bicarakan,” Sonya mengangguk setelah memandang Alfar untuk meminta persetujuan kemudian mengikuti orang tua perempuan dari Alfar yang masuk lewat pintu samping.


Sementara, Alfar memasukkan motor matic Sonya ke halaman rumah dan menunggu papanya yang masih berada di mobil.


“Sekarang, kalian jelaskan semuanya. Kenapa kalian lebih memilih backstreet padahal mama tidak pernah melarangnya.”


Alfar mengangkat kedua bahunya, menarik bantal sofa dan diletakkan di atas pahanya. Dibandingkan membantu Sonya, ia lebih memilih menatap layar televisi yang memperlihatkan tontonan kartun.


“Alfar,” panggil Friska memperingatkan.


“Mama harusnya tanya sama Sonya, aku udah berusaha ngajak dia tapi dianya yang enggak mau jadi menantu mama. Katanya, mama galak,” sahut Alfar tanpa dosa. Friska melotot tidak terima, ia melemparkan bantal di sebelahnya ke arah Alfar.


“Yang Alfar bilang itu beneran, tanya aja sama orangnya. Dia takut mama nggak setuju kalau kami pacaran,” sambungnya membela. Friska mengalihkan pandangan pada Sonya yang tertunduk ketakutan menjelaskan. Berbeda dengan Alfar, ia tertawa mengejek, mengingat sikap bar-bar Sonya berubah menjadi seorang putri yang ketakutan.


Friska menunda pertanyaan lebih lanjut. Kehadiran Alkar mengganggu konsentrasinya, ia menarik Alkar untuk duduk di sampingnya dan memperkenal Sonya yang tersenyum kikuk, “Ma, kami sudah saling kenal. Jadi mama nggak perlu kenalin lagi,” ucap Alkar.


“Tapi, kamu tahu nggak? Masa, mama dibilang galak, mangkannya dia nggak mau kenalan sama mama,” curhat Friska manja. Dari yang terlihat, sudah dapat menebak bahwa Friska lebih dekat dengan Alkar ketimbang saudara kembarnya yang memiliki sifat sama dengan Gristov.


“Ma, aku lapar nih. Lebih baik kita makan dulu,” pinta Alkar mengalihkan pembicaraan. Friska langsung menyetujui dan dengan semangat menuju dapur untuk memasak sekaligus menyambut orang baru dalam keluarnya. Baginya, ia harus membuat masakan yang enak untuk mendapatkan hati menantunya.


Namun, tetap saja mereka tidak dapat menghindar pertanyaan tersebut. Friska menatap tidak percaya, ketika mendengar alasan keduanya untuk bersembunyi darinya. Berulang kali Friska melemparkan pandangan pada Alfar dan Sonya yang memperlihatkan wajah serius seolah mengatakan bahwa perkataan Sonya benar.


Terakhir, Friska memandang Sonya kemudian tersenyum dengan canggung.