
Sopo bilang kita takut,
Kepala kita memang paling batu
Anak metal ngangguk-ngangguk,
Anak dugem ayo geleng-geleng
Sudah mendapatkan julukan di sekolah, kelas ini menjadi kelas yang paling rusuh ketiga diantara yang lainnya. Sementara, dua kelas yang mendapat julukan tersebut di miliki oleh senior di kelas tiga.
Kedua puluh cowok sudah mengambil posisi di bagian depan dan belakang kelas, menggunakan batang sapu dan pel untuk dijadikan gitar. Dan biang rusuh berada di meja guru, mengenakan headphone yang hanya menutup telinga kanannya sementara tangannya seolah menjadi disc jockey.
Alunan lagu ngebit berasal dari speker yang tersambung dari handphone Zharif. Lagu jadul dari project POP memenuhi ruangan kelas yang sudah dipersiapkan tertutup rapat. Pembagian posisi membuat mereka seolah mengikuti alunan lagu bersaing antara metal dan dugem.
Cewek-cewek di kelas tidak dapat menahan tawa melihat keadaan yang sudah urakan. Bagian depan dipimpin oleh Raka mengambil versi dugem yang menggelengkan kepala sementara Zharif sebagai metal menganggukkan kepalanya.
Berbeda jauh dengan kedua cowok itu, Alkar dan Okta hanya bisa menggelengkan kepala melihat hal memalukan dari sahabatnya meski keduanya sudah terbiasa dengan sikap bar-bar tersebut.
“Bukan superstar, Zhaf!” saran salah satu cewek di kelas setelah lagu sudah berakhir. Zharif langsung mengganti lagunya dan mengubah posisi dengan menggeserkan meja dan kursi bagian tengah ke belakang hingga bagian kelas di depan benar-benar kosong.
“Andai aku Pasha Ungu, semua wanita kan memburuku.” Raka menyanyikan lirik pertama dengan tongkat dijadikan mikrofon, “Bila aku Ariel Peterpan, kau yakin ngefans karena gua keren.” Kali ini Zharif melanjutkan liriknya, sambil berdiri di kursi dengan menggunakan tongkat untuk dijadikan mikrofon juga.
“Tapi kenyataan aku bukan siapa-siapa. Kuingin engkau mencintaiku apa adanya.”
Seisi kelas menyanyikan bagian reff bersamaan, “Kubukan superstar kaya dan terkenal. Kubukan saudagar yang punya banyak kapal. Kubukan bangsawan, kubukan priyayi. Kuhanyalah orang yang ingin dicintai.”
Baru saja ingin melanjutkan lirik selanjutnya, pintu kelas terbuka lebar. Seketika semua berhenti dan memandang ke luar kelas dengan musik yang langsung di hentikan oleh Zharif, “Kalian disuruh keluar berbaris di lapangan.”
“Serius lo?” tanya Raka yang menghampiri Izar selaku ketua kelas dari kelas sebelah.
“Ada yang ngelapor, terus daritadi kelas kalian di panggil lewat pusat informasi.” Izar memberi jalan. Seisi kelas keluar berbarengan, meski tidak semuanya yang membuat rusuh, tetapi mereka ikut andil karena tidak menghentikannya.
Seisi koridor dipenuhi oleh anak-anak angkatan yang memerhatikan bahkan saat harus menuruni tangga beberapa adik kelas juga tidak mau ketinggalan. Di depan kantor sudah ada guru BP yang menunggu dan bersiap memberi hukuman di teriknya matahari.
“Berdiri sampai waktunya istirahat!”
Alkar menghela nafas pasrah, mengatur barisan menjadi empat baris menghadap ke tiang bendera yang berada di depan mereka. Butuh setengah jam untuk bisa lepas dari hukuman dan mau bagaimana pun mereka harus bertahan hingga waktunya istirahat.
“Beruntung depan gue ada si Zharif. Matahari sedikit kehalangan sama dia.” Adelia menggeser tubuhnya untuk mendekati bayangan dari Zharif, begitu juga yang dilakukan oleh cewek lainnya. Untung saja, yang melakukan kesalahan sadar dan tidak melakukan protes sama sekali.
“Handphone gue mana, Rak?”
“Mana gue tahu, Zhaf. Waktu si Izar datang kan kita langsung keluar kelas. Mana ada lagi ngurus handphone lo.”
*****
Barisan bubar, dengan kulit yang memerah dan perlahan akan berubah menghitam. Keringat sudah membasahi badan bahkan hingga seragam mencetak jelas karena basah. Bukannya langsung ke kantin, mereka mengambil tempat teduh, di bawah pohon yang bergerak mengikuti arah angin.
Sepatu sudah terlepas, menyisahkan kaos kaki putih yang lembab. Sementara, Raka dan Zharif mewakilkan untuk membeli minuman dari uang yang sudah terkumpulkan, “Astaga, Del. Wajah lo merah kali.” Rosla datang, mendekati Adelia yang langsung merebut minuman dari Rosla dan meneguknya.
“Nih, gue bawa face paper.” Rosla mengeluakan bungkusan biru dari sakunya. Sudah pasti yang lain ikut memintanya dan menempelkan pada wajah yang mengandung banyak minyak.
“Kita nggak ada rapat, kan?” tanya Rosla pada anggota svoteens yang ikut duduk setelah hukuman berakhir. Rosla kebetulan ada janji dengan Adelia ikut turun bersama.
“Mau ke mana?”
“Kantin atas. Biasa lah mau ketemu crush.” Rosla menggandeng Pita, membawanya pergi tanpa peduli wajah kebingungan dari Bian.
“Crush apaan dah?”
“Lah, lo hidup di jaman apa sih? Crush itu artinya gebetan atau lebih tepatnya orang yang disukai,” jawab Okta mewakilkan dari lainnya yang memandang aneh karena pertanyaan dari Bian.
“Lo mainnya kurang jauh sih.” Alfar menimpali. Mulutnya tidak berhenti mengunyah es batu dari sisa teh obeng yang sudah habis diminumnya, “ By the way, kita di sini aja nih? Nggak ada mau ke kantin?” tanya Alfar setelah mendengar perutnya yang berbunyi minta diisi.
Zharif berjalan lebih dulu, setelah membantu Raka membagikan minuman untuk teman sekelasnya, “Oh iya, gimana rasanya kerja di sana, Gib?” tanya Zharif memperlambat langkahnya agar bisa berdampingan dengan Gibran. Tak lupa meletakkan tangganya pada pundak cowok tersebut yang untungnya tinggi keduanya tak jauh berbeda.
“Lumayan. Bosnya juga baik, tapi yang terpenting gue bisa cukupi kebutuhan aja udah bersyukur.”
“Jujur, gue masih bingung alasan lo. Sebelumnya, lo mau cari kontrakan dan sekarang kerja? Gue bukannya mau ikut campur urusan lo, tapi Gib, lo punya kami. Memangnya kita apa sih selama ini?” tanya Zharif memiringkan kepalanya, menghadap Gibran yang enggan menoleh ke arahnya.
“Gue setuju. Kami tahu masalah ini, Bian, Ravel dan Okta udah tahu masalah sebenarnya. Dan kami nggak berusaha mencari tahu karena kami percaya kalau lo bakal cerita semuanya. Tapi sampai sekarang? Ayolah, sudah sejauh ini, apa masih nggak bisa kita disebut keluarga?” timpal Raka ikut mengeluarkan pendapatnya.
“Sorry. Gue nggak bermaksud, tapi kalau kalian mau tahu kebenarannya, nanti malam datang ke rumah lama gue, kita ketemuan di gang ya.”
“Loh, kenapa harus ke sana?”
Bian datang diantara ketiganya, “Nanti kalian tahu sendiri kok. Sekalian bantu beres-beres buat pindah rumah.” Bian mengambil duduk berhadapan dengan Gibran yang masih menjadi topik perbincangan.
“Banyak barang yang mau di bawa ya? Biar gue pakai campervan,” tanya Okta yang juga disetujui oleh anggota lain.
Gibran menggeleng, “Nggak usah, aku udah sewa pick up kok. Banyak perabotan juga yang mau dibawa.”
“Yaudah kalau gitu nanti kabari aja mau ngumpul pukul berapa!”
*****