Svoteens

Svoteens
Episode 24



Baru saja latihan untuk turnamen antar sekolah telah selesai. Semua kembali ke loker masing-masing untuk mengganti pakaian yang sudah basah oleh keringat. Tak ada yang meninggalkan ruangan ganti tanpa membersihkan diri, sebab cuaca lebih panas dari waktu latihan sebelumnya.


“Anak-anak pada ke rumah sakit,” ucap Raka menyampaikan informasi dari grup. Raka memang tidak langsung mengganti pakaian, ia memilih untuk bersantai di meja panjang dalam ruangan ganti sambil mengecek handphonenya.


“Ngapain?” tanya Bian keluar dengan rambut yang basah karena air. Cowok itu sudah mengganti pakaiannya, bahkan tubuhnya sudah harum karena aroma dari sampo dan sabun yang disimpan di dalam loker.


“Rosla kecelakaan waktu pulang sekolah.”


Jawaban dari Raka membuat semuanya terkejut. Alfar yang masih dengan busa sampo di kepalanya, memperlihat separuh tubuhnya untuk meyakinkan yang didengarnya.


“Izar sama Alkar udah di sana.” Ravel mengambil hoodie di lokernya dan memakainya langsung. Ia menyisir rambutnya yang basah dengan jari-jari tangan berulang kali, kemudian memasang sepatunya di samping Zharif.


“Lebih cepat lagi, nanti nggak ke kejar dengan jam besuknya,” perintah Bian memindahkan pakaiannya ke dalam kantung lalu disimpan di dalam tasnya.


Setelah meyakinkan semuanya telah selesai, mereka menuju rumah sakit yang disebutkan oleh Raka dan kebetulan tidak jauh dari sekolah. Setengah jam sudah cukup untuk mereka tiba di rumah sakit tanpa adanya hambatan sebab jalanan yang sedang lenggang.


“Astaga, Ros. Lo segitu demennya ya, mau jadi pembalap kayak Zharif,” komentar Gibran berulang kali melemparkan decakan dan gelengan melihat lebam dan goresan merah di kaki serta tangan Rosla.


“Di mana lo kecelakaan?”


“Perempatan lampu merah mau ke jalan perumahan regata,” jawab Rosla tersenyum tipis, lalu duduk di atas brankar dibantu oleh Izar.


“Terus yang nabrak lo gimana? Kabur dia?”


“Ada kok. Tadi juga barusan aja keluar buat bayar administrasinya. Dari tadi dia temani gue juga,” jawab Rosla.


“Lo nggak ada niat buat nuntut?” tanya Zharif mengambil jeruk di atas nakas dan memakannya tanpa dosa. Sudah tahu bagaimana kehidupan cowok itu serba keenjoyan bahkan menganggap semuanya keluarga.


Rosla menggeleng tersenyum, “Tapi, lo beruntung sih, Ros. Yang nabrak lo orangnya cakep, udah gitu mau bertanggung jawab lagi. Idaman `kan, Del?” celetuk Sonya menyenggol Adelia yang hanya ikut menyetujuinya.


“Udah ditabrak kok beruntung,” jawab Alfar menggelengkan kepalanya.


Suara pintu yang bergesekan dengan lantai membuat pandangan beralih, cowok itu memandang satu per satu dengan canggung kemudian menggangguk menyapa.


“Semuanya sudah saya urus. Karena teman-teman kamu sudah pada datang, saya pamit duluan, Dek. Masih ada keperluan soalnya. Besok saya datang lagi ke sini,” ucapnya ramah.


“Iya, Kak. Terima kasih,”


“Kalau gitu saya duluan ya,” ucapnya mengangguk berpamitan kemudian pergi tanpa lupa menutup pintu kembali.


“Kedip, woi. Kedip! Itu mata udah mau keluar gue lihat,” protes Alfar kesal. Ia mengusap wajah Sonya yang sejak tadi fokus memandang walaupun sudah tak terlihat lagi.


“Tuh, kayak gitu cowok idaman. Tanya aja tuh sama Adelia, pasti dia pilih itu orang daripada Bian.”


Adelia tidak menjawab, ia menyengir kemudian mengangkat kedua bahunya tak memperdulikan perkataan dari Sonya yang sebenarnya untuk memanasi Alfar.


“Kenapa nggak coba lo chat aja tuh kakak tadi, si Rosla pasti ada nomornya,” saran Dastin yang mendapat tatapan tajam dari Alfar.


“Mampus! Kualat `kan lo,” ejek Alfar tertawa terpingkal-pingkal melihat raut wajah dari Bian yang berubah drastis. Bian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, berulang kali menarik dan menghembuskan nafasnya agar tidak terbawa emosi dengan kelakuan absurd dari Sonya.


“Sabar, Bro. Sabar,” ucap Raka mengusap punggung Bian seolah ikut sedih padahal sejak tadi ia berusaha menahan tawanya.


“Udah gue bantu nih, selebihnya bisalah lo atur sendiri kalau mau ngedate.”


“Apa salahnya lo comblangin dengan teman sendiri?”


“Jangan! Bian kalau marah itu nyeremin. Lagi serius aja serem apalagi ditambah marah, beuhh, semua barang bisa kena lempar,” jawab Sonya melebih-lebihkan.


“Terserah! Puas-puasin lo lah, up to you.” Bian memilih untuk duduk di samping Ravel yang sejak tadi hanya mendengarkan.


“Semua kembali ke point pertama, cewek selalu benar!” Zharif memukul pelan dadanya dengan tangan yang terkepal, kemudian mengangkat tangannya sejajar dengan bahu dan menggerakannya dua kali.


“Lo ambil libur berapa hari, Ros?” tanya Dastin duduk di atas brankar Rosla, lalu membantu memijatnya dengan lembut.


“Keputusan dari dokter. Gue sih berharap masih bisa lihat turnamen kalian,” jawab Rosla.


“Gak menjamin bisa sih kalau itu, gue dengar kabarnya yang ikut lomba sama kelas pilihan aja untuk pergi. Soalnya masih dalam kegiatan belajar mengajar, kepala sekolah nggak izinkan,” kata Alkar memberikan informasi yang berhasil membuat mereka menghela nafas pasrah.


“Kalau kelas tiga nggak menjamin, mereka pasti sibuk buat segala macam ujian. Kemungkinan kelas satu sama dua.”


“Tunggu aja info selanjutnya, sabtu ini setelah senam akan diberitahu,” lanjut Alkar bergabung duduk di samping Izar yang sudah berbaring memenuhi setengah sofa.


“Oh iya, Rak. Lo udah balik ke rumah ya?” tanya Sonya di tengah keheningan. Raka memandangnya heran kemudian menganggukinya, “Nggak usah sampai bengong gitu, gue dapat informasi dari si Adelia, katanya lo juga udah baikkan sama abang tiri lo,” sambungnya memakan apel dari tangan Alfar yang sudah dikupas kulitnya.


“Gimana fasilitas lo? Aman?” kembali Zharif ikut melemparkan pertanyaan sambil tersenyum mengejek.


“Sebelumnya, waktu gue kabur juga si Hargi nitip barang gue sama Adelia buat dikasih ke gue. Nggak semuanya sih, cuma dompet sama kunci motor aja,”


“Dompet aja atau dompet sekaligus kartu-kartu harta karun lo?”


Raka menyengir, “Itu sih juga termasuk,” jawabnya.


“Ada baiknya juga lo akur, walaupun peran ibu kandung nggak sebaik ibu tiri, tapi gue ancungin jempol juga buat ibu tiri lo yang masih memperlakukan lo seperti anaknya sendiri,” ucap Ravel menyetujui pilihan Raka untuk berbaikan.


“Berarti lo juga setuju dong kalau Adelia jadi kakak ipar lo,” celetuk Alfar mendapatkan lemparan yang mengenai punggungnya karena berhasil memanasi Bian, padahal sejak tadi cowok itu lebih memilih untuk mendengarkan saja.


Raka tidak menjawab melainkan ikut tertawa bersama yang lainnya. Terkadang, kebahagiaan itu begitu sederhana. Hanya saja, tak semua orang bisa memilikinya, apalagi memiliki sesuatu yang berharga meski semula berawal dari teman tetapi kini mereka sudah bersatu layaknya keluarga yang utuh.


Do not say, sahabat tidaklah penting. Because, suatu saat lo akan merindukan kenangan bersama mereka. Nikmati sebelum kehilangannya.