
Seminggu ini sudah menjadi waktu yang menguras otak. Dalam menghadapi ujian mid, beberapa orang berusaha keras belajar dan mengingat kembali pelajaran agar bisa melaluinya dengan baik.
Kantin bukan lagi tempat utama yang dikunjungi ketika istirahat. Karena seperti saat ini, keadaan perpustakaan berubah 180 derajat dari hari-hari sebelumnya. Baik dari kelas satu hingga kelas dua, mencari-cari buku bahkan sempat menimbulkan perdebatan.
Sonya meletakkan tiga tumpukan buku di atas meja, disusul dengan Rosla yang membawa nya dua kali lipat dari miliknya Sonya. Sudah begitu banyak buku yang diambil membuat satu meja panjang dipenuhi oleh beragam buku di atasnya.
“Buku ini yang lo bilang?” tanya Adelia menarik kursi dan langsung duduk di samping Ravel untuk mendengar penjelasan singkat dari pakarnya. Meja panjang yang diisi oleh ke tiga belas orang saling membagi posisi untuk membantu satu sama lain.
Ada tiga orang yang paling dominan diantara yang lainnya, dan ada juga yang berada di posisi sedang. Lalu, sisanya hanya bergantung pada beberapa pihak yang diperkirakan dapat membantu mencari jalan keluarnya.
Masing-masing di bagi secara acak menjadi empat kelompok, dengan satu kelompok yang harus memiliki anggota lebih banyak dari kelompok lain. Alkar memegang kendali di kelompok empat, bersama Alfar dan Sonya yang akan menjadi tanggung jawabnya.
Izar mengambil tempat paling kanan bersama Zharif dan Rosla yang tidak terlalu memiliki beban dalam mengajari keduanya. Sementara, Okta yang dibantu oleh Dastin harus membantu Raka dengan ekstra dalam mengajari pelajaran matematika dan bahasa inggris. Tentu saja, kelompok terakhir menjadi tanggung jawabnya Ravel yang membantu Gibran, Bian, dan Adelia. Meski lebih banyak, setidaknya ia bersyukur ditempatkan bersama kelompok yang terbilang cepat memahami pelajaran.
“Bukan yang ini, Del. Yang warna biru terbitan 2018.”
Adelia menghela nafas gusar, menompang kepalanya dengan tangan kanan, menghadap Ravel yang masih asik memberi warna pada buku paket miliknya, “Lo mah ngerjain anak orang. Gue yang pendek gini disuruh ngambil buku di tempat yang tinggi,” keluh Adelia menatuhkan kepalanya di atas meja. Berulang kali ia mencari buku-buku yang di rekomendasikan dan selalu tidak sesuai.
“Ini kan?” tanya Bian meletakkan buku yang diminta oleh Ravel di hadapan cowok tersebut. Ravel mengangguk membenarkan, mengambil alih bukunya lalu memberikan buku yang sejak tadi di warnainya pada Bian.
“Kalian berdua catat dulu yang gue tandai, sekaligus sama rumusnya. Semuanya itu kemungkinan masuk ke soal nanti.” Adelia mengangkat kepalanya dan dengan berat hati mengikuti perintah Ravel untuk mencatatnya, berharap bahwa perjuangannya tidak sia-sia.
Sementara, di meja bagian depan sedang sibuk menjawab soal-soal dengan berbagai macam huruf dan angka. Okta masih berusaha keras mengajari dari soal-soal dasar, berbeda dengan Dastin yang sedang asik menjawab bentuk-bentuk soal di buku paketnya.
“Gunakan sistem eliminasi. Kalau lo nggak ngerti, lihat contoh di sampingnya.” Okta memutar arah, menghadap Dastin yang menompang kepalanya pada sebelah tangan, sementara tangan lainnya mencoret-coret kertas putih untuk menjawab soalnya.
“Udah sampai mana?”
“30.”
“Itu ngerjain sendiri?” tanya Okta kembali, tak percaya sebab setahunya cewek tersebut tidak pernah fokus memperhatikan pelajaran. Dibandingkan memerhatikan guru, ia lebih asik mencoret dan berimajinasi membuat gambar-gambar di sekelilingnya.
“Nggak. Sama setan di sebelah gue.”
“Ternyata lo lebih parah dari Alkar ya. Padahal, dia yang paling diam.”
“Nggak ada untungnya membahas sesuatu yang tidak penting. Dan ada baiknya lo diam, kalau gue bingung baru gue tanya ke elo.”
Okta mengangkat kedua bahunya, melanjutkan menjawab soal-soal di bukunya sendiri. sama seperti yang lainnya, yang sudah memiliki kesibukan masing-masing.
*****
Tiga belas orang sudah berkumpul di grup dengan bermodalkan handphone untuk menanyakan dan menjawab pertanyaan. Berada di tempat yang berbeda-beda dengan kertas serta pena berada di depan mereka.
“Gue mau tanya masalah polinomial nih,” tulis Raka pada grup yang sudah kembali terdiam setelah menjawab pertanyaan dari Rosla, “Soalnya, diketahui suku banyak f (x) = x³- 2x² - x – 5. Nilai f(x) untuk x = 3 adalah ...” sambung Raka kembali menulis soal dan mengirimkannya di grup.
“Sekarang, dari kelompok 4 yang jawab pertanyaan.” Alkar melemparkan soal kepada kelompok 4 sebab Sonya sudah mewakilkan menjawab pertanyaan dari Rosla, kini ia mendapat giliran untuk melemparkan pertanyaan dari Raka pada kelompok lain.
“Siapa yang bisa?” tanya Ravel pada Bian, Gibran dan Adelia.
“Kayaknya boleh dicoba,” jawab Gibran.
“Gue juga sanggup.”
“Yaudah gini aja, kita masing-masing jawab dan berikan jawabannya. Nanti untuk menjelaskannya, yang jawabannya benar,” saran Adelia yang disetujui oleh keduanya. Mereka saling mengerjakan masing-masing dan mendapatkan hasil yang sama.
“Lo mau penjelasan dari siapa, Rak?” tanya Ravel mewakilkan.
“Adel aja deh, lebih simple kayaknya.”
“Okey. Gue langsung ya, karena X = 3. Jadi, lo ubah angka X nya itu menjadi 3. Misalnya 5x jadinya 5(3).”
“F(3) = (3)³ - 2(3)² - 3 – 5. Gitu aja?”
“Maksudnya?”
“Lihat ke 2(3)². Lo kalikan dulu 3 ke angka 2 kecil di atas kemudian kalikan ke angka 2 di depan 3 itu.”
Grup hening beberapa saat menunggu Raka untuk menyelesaikan soal tersebut. Setelah lima menit kemudian, ia memberikan jawaban yang didapatkannya, “Jawabannya 1 ya?”
“Benar!”
“Lah, mudah juga ternyata. Makin cinta gue sama matematika.”
“Tahu sendiri nanti, Rak. Soal yang lo pelajari nggak bakal sesuai dengan ekspektasi lo, 360 derajat berbeda,” jawab Izar dengan menambahkan emot tertawa dan mengejek.
“Benar tuh, sama kayak lo mikir bakal diterima tapi nyatanya enggak. Nyakitin,”
“Curhat nih? Itu sindiran buat siapa sih? Lo tahu nggak, Bi?” Rosla ikut membalas pesan di grup. Karena waktu belajar yang ditetapkan sudah habis dan pertanyaan dari Raka adalah penutupnya.
“Bongkar aib lo!”
“Oh iya, gue mau kasih info sekalian. Selesai ujian nanti kita rapat buat kegiatan kamp anggota 3 hari 2 malam.”
“3 hari 2 malam? Berarti mulainya jum’at sore?” tanya Alfar setelah sekian lama hanya menjadi penyimak saja.
“Rencananya gitu, ada yang nggak bisa?”
“Kayaknya gue sih nggak bisa, soalnya izin dua malam susah bos. Apalagi sabtu, lagi pada ramainya yang keluar,”
“Iya juga sih, lo sama Gibran nggak bakalan bisa. Yaudah, nanti gue bicarain lagi sama Robert. Yang lainnya aman sentosa?”
“Aman sih gue.”
“Sama, gue ikut-ikut aja.”
“Del, lo mau ikut?” tanya Sonya mewakilkan yang lainnya setelah sudah lama merundingkan masalah tersebut.
“Gue up deh, soalnya acara peresmian dan gue anggota juga enggak.”
“Lo ikut aja, bantu kami buat dokumentasi. Soalnya, kami pasti pada ikut kegiatan semua,” saran Alkar yang biasanya menjadi korban lainnya untuk mengambil gambar.
“Nanti gue pikirin lagi deh.”
“Nggak ada yang bisa lo pikirkan lagi. Mau sama siapa lo di rumah? Aldian juga ikut kamp, Del. Yakin lo? Sama Hargi aja di rumah?” Dastin menimpali.
“Hargi kan agak lain orangnya, sama kayak Zharif.”
“Ngapa bawa-bawa nama gue terus sih,” protes Zharif.
“Emang orang tua lo ke mana, Del?”
“Singapura tuh, dua bulan di sana. Mangkannya, dia sering ngekorin Aldian,” jawab Rosla dengan emot ketawanya.
“Langsung aja catat namanya, Son. Kalau nggak nanti Aldian pasti nggak ikut kita,” perintah Bian yang langsung mendapatkan balasan dari Sonya yang memberikan emot jempolnya.
“Jangan lupa! Oleh-oleh buat kita, Del.”
“Aman.”
Perbincangan mereka di akhiri, dengan Izar yang langsung menutup grup dan hanya mengizinkan adminnya saja. Malam ini, mereka harus mempersiapkan diri, karena besok adalah waktu belajar terakhir sebelum menghadapi ujian mid semester. Mereka berharap, bahwa usaha seminggu ini akan menghasilkan sesuatu yang baik.