
Seluruh siswa dan siswi dibariskan di tengah lapangan. Alkar berdiri di depan, bersama dengan guru pembina osis dan wakil ketua osis. Setelah, seminggu melakukan proses pemilihan, akhirnya sesuai prediksi Alkar terpilih memiliki suara paling banyak.
Mendekati perayaan ulang tahun sekolah, semua dibariskan setelah seharian melakukan rapat untuk melakukan perlombaan antar kelas selama dua hari.
Alkar menggantikan guru pembina yang telah memberikan intruksi, sekarang gilirannya untuk menyampaikan informasi mengenai perlombaan yang akan diadakan besok, benar-benar mendadak sebab berdekatan dengan pemilihan anggota osis periode baru.
“Jenis lomba yang diadakan ada dua bagian, yaitu dalam bidang seni dan olahraga. Sesuai kesepakatan, untuk olahraga akan diambil pertandingan basket dan futsal. Sementara, seni akan dibebaskan. Kalian diperbolehkan untuk menyanyi, berpuisi, drama, dan nari ataupun sebagainya. Ada yang ingin dipertanyakan?” Kalimat terpanjang bukan? Yang pertama kali di dengar dari Alkar. Jabatannya sebagai Ketua Osis membuatnya harus menjadi sosok orang yang berbeda.
Tak ada yang bertanya sebab sistemnya akan seperti sama dengan tahun sebelumnya, bahkan setelah ini juga setiap ketua kelas akan berkumpu untuk membahas hal yang lebih lanjut.
“Sonya, tolong dong cek kandidat pemain kita nanti,” ucap Alfar sombong, dengan senyuman mengejek ia memandang ke Raka dan Zharif yang menatapnya kesal.
“Nggak usah ditanyakan lagi, bisalah kita menang. Setidaknya, menang dari mereka,” sahut Sonya ikutan mengejek sambil menggerakkan lidahnya ke pipi kirinya untuk menunjukkan kepada keduanya.
Raka mendumel, “Yaudah, Del. Kita nggak usah dekat-dekat sama mereka.” Raka menarik Adelia dan merangkulnya, “Mulai saat ini kita musuh!” sambung Raka membawa paksa Adelia pergi.
Zharif berlari menyusul Raka dan Adelia yang tampak sedang berbicara selama perjalanan.
“Lo nggak cemburu?” tanya Dastin tiba-tiba. Mereka melanjutkan jalan yang searah dengan ketiganya sebab keberadaan kelas yang berdampingan.
“Halah, Raka? Udah kenal gue sifat anak itu. Dia dekat sama Adelia karena sama-sama suka kucing aja. Gue jamin, mereka lagi ngomongin masalah kucing tuh.”
“Kalau matanya berbinar-binar, cuma dua alasan. Ketemu orang yang dia suka atau menceritakan kucingnya,” sambung Izar membenarkan pendapat Bian mengenai Raka.
“Tapi gue nggak pernah lihat dia suka sama cewek gitu,”
“Ada sih, Ros. Cuma dia sifatnya masih kekanakan, umurnya juga di bawah kita. Dia masih mikirin egonya buat bersenang-senang dan masalah hati itu urusan terakhir,” timpal Alfar. Akhirnya, Rosla benar-benar percaya bahwa mereka bersahabatan karena sudah saling mengenal satu sama lain.
Di sepanjang perjalanan koridor kelas dua sudah banyak gosip-gosip terdengar, mengenai kejahilan Raka yang menyebutkan Adelia pacarnya. Keduanya sempat ditanya karena berjalan berduaan dengan Raka yang merangkul Adelia dan tanpa bertanya mereka sudah menebaknya sendiri.
“Jadi beneran kata anak-anak kalian pacaran?” sekian kalinya mereka mendapat pertanyaan yang sama, bahkan Zharif sudah muak duduk di antara keduanya bagaikan nyamuk.
Raka mendecak, “Iya, kami pacaran. Jadi, berhenti gangguin cewek gue,” celetuk Raka, hampir saja Adelia menyembur tertawa kalau Raka tidak menegurnya untuk menahan tawa.
“Lah, si Adel sering digodain?” tanya Izar penasaran.
“Udah jadi asupan gue setiap hari lagi. Dia kan nggak ada teman cewek di kelas, seringnya sendirian terus. Ya pada beraksi semua cowoknya, apalagi kalau nggak ada Raka sama Zharif,” jawab Okta berpamitan untuk masuk ke kelasnya.
“Memangnya pada nggak tahu kalau dia udah punya pacar?” tanya Bian yang berhasil membuat mereka tertawa mendengarnya, ah tentu saja mereka itu tidak termasuk dengan Dastin dan Ravel.
“Lo ke mana aja, astaga,” kata Rosla yang masih tidak bisa menahan tawanya.
“Lo ketinggalan jaman, bro. Gue pikir lo tahu. Duh, pantesan dia jomblo terus,” ejek Alfar yang bertos ria dengan Sonya untuk mengejek Bian.
“Terus yang waktu di rumah Raka itu?”
“Sandiwara, bro. Lo tahu, sandiwara?”
Bian menepis tangan Alfar dari pundaknya, dia tidak habis pikir alasan bersandiwara keduanya untuk mengatakan balikan, “Alasannya apa? Nggak masuk akal sandiwara tapi ke orang tua.”
Tak ada yang membuat Bian puas dengan pertanyaannya. Mereka hanya mengangkat kedua bahu tak peduli kemudian kembali ke meja untuk menceritakan hal lain sampai guru masuk kelas atau bell istirahat berbunyi.
*****
Alfar menggeser tangan Sonya yang sejak tadi mengganggunya bermain kartu dengan Okta, Gibra dan Ravel. Cewek itu nggak sendiri, Rosla dan Adelia ikut mengganggunya. Menyisir alis dan bulu mata untuk mengetahui siapa pemilik yang terpanjang.
“CK! Kalian bertiga itu ngapain sih? Gue lebih suka kalian tuh kayak Dastin, diam ngadem bukan pecicilan kayak cacing kepanasan.” Sonya membungkam mulut Alfar agar diam, sementara Adelia dan Rosla yang beraksi. Rosla melanjutkan pekerjaan Sonya dan Adelia mengambil foto.
Tingkahnya tidak luput dari pandangan dan tawaan orang yang melihatnya, “Si Alfar nggak panjang kali, cuma lentik aja,” komentar Adelia setelah melihat gambarnya. Sonya dan Rosla berhenti menyiksa Alfar lalu mendekat ke Adelia untuk melihat hasilnya.
“Untung gue pakai kontak lensa,” Adelia mendekat ke Bian yang sedang tertidur di pojok kelas. Rosla dan Sonya mengikuti Adelia, menjadikan Bian sebagai target selanjutnya.
Sonya menyisir alis dan bulu mata Bian dengan kuas alis miliknya, sesekali ketiganya cekikikan lalu melakukan aksinya kembali. Adelia sudah mengambil foto tetapi masih saja ketiganya berusaha untuk mengganggu Bian yang masih asik tertidur.
Bukannya Bian yang terbangun, melainkan Raka yang duduk bersebrangan menggeleng melihat kelakuan ketiganya, “Dia itu tidur kayak kebo,” ucap Raka mengubah arah tidurnya membelakangi.
Setelah berkali-kali mendapatkan gangguan, Bian membuka matanya, melihat ketiga cewek yang tertawa dan berlari menjauh. Bian mengangkat kepalanya, merenggangkan ototnya dengan mulut yang menguap lebar, “Orang ini nggak bisa sekali aja berhenti ganggu gue,” keluh Bian menggaruk kepalanya.
“Jangankan elo, Alfar yang main kartu aja diganggu juga,” jawab Dastin kembali sibuk dengan handphonenya.
Lagi-lagi ketiganya tidak mendapat kepuasan, mereka saling pandang seolah saling mengetahui siapa target selanjutnya, “Ravel,” sapa ketiganya berbarengan tetapi tidak mendapat respon.
“Ravel, ih. Vel.”
Ravel menjawabnya dengan deheman, “Ish, Ravel!”
“Apa sih, apa?” tanya Ravel kesal, mengangkat kepalanya, memandang ketiga cewek di depannya yang memasang senyuman ngerayu, “Terserah! Gue larang pun nggak bakalan bisa,” sambung Ravel kembali fokus pada kartu di tangannya.
“Tuhkan, bener yang gue bilang. Ravel itu tuh, perfect. Jadi nggak usah diragukan lagi,” tutur Sonya menilai dan disetujui oleh yang lainnya.
“Aduh, kalian ini. Cicing lah, berisik kali,” protes Izar menghentikan permainan gitarnya. Dia mengusap kepalanya kesal, sejak tadi konsentrasinya untuk membuat lagu terganggu hanya karena suara dari ketiganya.