Svoteens

Svoteens
Episode 16



Satu ruangan bagian atas sudah dipenuhi oleh semua anggota Svoteens generasi kedua. Alat pemanggangan sudah ada di depan mereka, dengan daging-daging yang sudah dipotong tipis ditambah bumbu penyedap rasa. Satu meja dibagi menjadi satu tempat memanjang hingga menutupi tempat dari ujung ke ujung.


“Jangan banyak makan nasi, Rak. Mendingan lo pakai nasinya sedikit, selebihnya puasin makan dagingnya aja,” saran Rosla yang heran karena cowok itu sudah mengambil tiga mangkok nasi, meski dalam ukuran yang kecil.


“Nggak afdol kalau nggak pakai nasi.”


“Dasar, benar-benar pribumi lo!”


Satu per satu daging diletakkan di atas pemanggangan, membagi cerita sambil membalikkan daging dan memakannya setelah matang, “Sayang ya, ada satu rasa yang nggak ada,” celetuk Gibran sambil membalikkan daging-daging di pemanggangan.


“Rasa apa?”


“Rasanya dicintai,” jawab Gibran memasang wajah memelasnya, bukannya merasa iba, mereka lebih menertawakannya. Bagaimana tidak, badan sebesar itu masih saja berusaha bertingkah menggemaskan.


“Ada yang berdiri tegak tapi bukan keadilan,” ucap Raka yang tiba-tiba membuka percakapan.


“Tiang!” jawab yang lainnya serentak, sebab sudah hafal dengan teka teki cowok tersebut meski di saat ini sedang booming dengan sesuatu yang berbau ke hal yang buruk.


“Ada yang tidak pernah salah tapi bukan hakim,”


“Cewek!” jawaban kali ini disahut dengan suara yang besar, bahkan mereka mengakhirinya dengan tawa mengejek pada empat cewek yang sudah memasang wajah murkanya.


“Ada yang pura-pura lupa tapi bukan Mahen,”


“Terus siapa?” tanya Alfar mewakilkan yang lainnya dengan pertanyaan dari Raka.


“Bian, dong!” sindir Raka yang berhasil membuat tawa dari yang lainnya.


“Ada yang ngelawak tapi bukan pelawak,” lanjut Bian membalas teka-teki menyindir tersebut.


“Raka, dong!” celetuk Sonya paling semangat, bahkan ia mengangkat tangannya dan menggerakkan seolah bergembira dengan jawaban tersebut.


“Ada yang cantik tapi bukan bidadari,” semua terdiam menunggu jawaban dari Raka, sementara yang memberikan teka teki tersenyum membingungkan, “Adelia, dong,” sambungnya tersenyum sambil meletakkan daging yang dipanggangnya di mangkok Adelia.


“Yee, modus!” sahut Aldian paling cepat mewakilkan yang lainnya, hingga responnya berhasil membuat suasana semakin riuh oleh tawa mengejek untuk Raka.


“Untung aja gue bawa bodyguard.”


“Lo nggak mau jadi bodyguard gue, Al?” tanya Sonya.


“Ogah kak, lo udah punya pacar juga,” tolak Aldian kembali ke bangkunya setelah mengambil minum dan memberikannya untuk Adelia.


“Siapa sih? Nggak ada gue pacar, lo aja yang jadi cowok gue, deh.”


“Terus, itu bang Alfar dianggap apa kak?” Aldian berhasil membuat Sonya terdiam kemudian melemparkan pandangannya pada Alfar yang mengancungkan jempolnya pada Aldian.


“Jadi, beneran? Lo berdua pacaran?”


“Ke mana aja lo? Dari jaman baheula kali.”


“Nggak yakin aja gue gitu, aromanya mereka lebih cocok jadi musuh bebuyutan,” jawab Bian mengeluarkan jarinya berbentuk V dengan cengirannya. Tetapi, Alfar tetap saja tidak terima. Cowok itu tetap membalas dendam, mengunci leher Bian dengan lengannya.


“Buruan makannya! Waktu kita nggak banyak.” Ravel mengingatkan. Suasana kembali hening, semua sibuk menghabiskan makanan hingga waktunya berakhir.


*****


Alfar memisahkan diri dari rombongan, mengambil parkiran khusus mobil sementara, yang lainnya mengikuti Bian memarkirkan motor. Sesuai yang direncanakan, hari ini mereka menyiapkan keperluan untuk mengadakan kemping yang akan dimulai pada sore hari.


Beberapa anggota membagi menyiapkan keperluan, terutama anggota inti yang wajib menyiapkan kebutuhan selama kegiatan berlangsung.


Rosla menarik lengan Dastin untuk bergandengan di sisi kanannya dan Adelia sejak tadi sudah memeluk lengan kirinya. Ketiganya, meninggalkan Alfar dan Sonya yang berjalan bersisian tanpa bergandeng tangan seperti orang lain jika berpacaran.


“Del, hubungi Bian. Ketemuan di dekat toko distro.” Adelia mengiyakan, menghubungi dan memberi tahu apa yang disampaikan oleh Alfar sebelumnya.


“Ada berapa banyak yang mau dibeli?” tanya Rosla menarik Dastin untuk melihat catatan dari Sonya. Alfar tidak ingin ikut dengan kesibukan keempat perempuan itu, ia lebih memilih mengedarkan pandangan untuk mencari rombongan teman-temannya.


“Mereka udah datang,” ucap Alfar. Mereka ikut menoleh ke arah pandangan Alfar di mana kedelapan cowok itu berjalan bersamaan sehingga menarik perhatian banyak orang.


Meski tidak berlebihan seperti di film-film, tetapi sudah kodratnya perempuan akan tertarik jika melihat sesuatu yang bening-bening. Memang tidak terlalu istimewa, tetapi setidaknya mereka memiliki kelebihan masing-masing. Hanya  saja, selalu ada orang yang memiliki banyak kelebihan, contohnya tahu sendiri.


“Masih sempat-sempatnya buat tebar pesona,” celetuk Adelia yang berhasil membuat Alfar mengalihkan pandangannya pada cewek itu.


“Lo jealous? Walaupun nggak sepopuler Argi, tapi Bian bisa memikat semua orang.”


“Lah, yang bilang gue cemburu siapa? Ngaco lo!” protes Adelia tertawa kecil. Ia menyusul Sonya, dan Dastin yang sudah berjalan lebih dulu, berbeda dengan Rosla yang terlalu malas untuk bergerak cepat.


Alfar menyusul Adelia, tidak henti-hentinya menggoda cewek tersebut, “Ngaku deh lo! Suka kan sama Bian?” tanya Alfar meletakkan tangannya pada bahu Adelia.


Sonya menggeleng heran, ia mendekati Alfar dan menarik paksa untuk berhenti menggoda Adelia, “Jangan godain anak orang terus! Nanti dia sadar sendiri, nggak usah dipaksa,” ucap Sonya memberikan trolinya pada Alfar, “Semua keperluan udah gue kirim ke grup sesuai dengan kelompok kemarin.”


Semua berpencar memisahkan diri sesuai dengan kelompok belajar.


“Mau sampai kapan lo anggap gue asing?” pertanyaan Bian membuat Adelia menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badan. Tidak ada Ravel dan Gibran di belakang mereka, kedua cowok itu sudah memisahkan diri untuk mengambil bagian yang lain.


“Jauh, Del. Jauh berbeda dari sebelumnya. Gue cuma mau lo anggap gua sama kayak anak yang lainnya, bukan jadi orang yang nggak pernah kenal dan canggung. Apa salahnya, lo anggap gue sebagai teman lo sama seperti yang lain.”


“Lo terlalu banyak menduga. Gue nggak sedekat yang lo lihat. Karakter gue bukan sebagai orang yang senang bergaul, gue akan merespon kalau mereka yang memulainya. Sementara, lo juga ikut terus diam. Gue tahu, lo ngira kalau gue menghindar dari lo. Kalau memang gue menghindar, gue nggak akan pernah ikut kegiatan kalian.”


Adelia mengambil beberapa bahan sesuai catatan, ia memandang bingung ke troli yang hampir penuh dengan makanan ringan, “Lo kenapa ngambil yang nggak ada di catatan?” tanya Adelia pada Bian yang sudah pasti pelakunya.


“Cemilan tambahan gue.” Adelia mengedikkan bahunya, kembali melanjutkan jalan untuk mencari kebutuhan lainnya.


“Itu kenapa lo ambil juga?”


“Lo aja bisa masa gue nggak.”


“Tapi nggak bakal bisa kalau dibuat di sana.”


“Yang bilang gue buat di sana siapa sih? Gue itu mau buat cookies di rumah terus tinggal di bawa pakai toples,” jawab Adelia. Bian mengangguk membenarkan dan mengambil banyak bahan-bahan yang sempat diambil Adelia untuk membuat cookies.


“Sekalian buatin buat gue,” ucap Bian menjelaskannya dengan cengiran khas cowok itu. Adelia membalik badan, menahan diri agar tidak tertawa melihat kelakuan cowok tersebut, “Tolong ya, kalau mau ketawa ya ketawa aja, nggak usah ditahan,” sambungnya menyindir Adelia.


“Tahu aja lo!” kata Adelia memukul pelan lengan Bian kemudian membantu menarik troli, menghampiri teman-teman lainnya yang sudah menunggu antrian di kasir.


Sonya tidak dapat menahan tawa melihat isi troli penuh yang dibawa oleh Bian, bahkan yang lainnya hanya bisa menggelengkan kepala, sudah hafal dengan kebiasaan cowok itu membeli cemilan.


Sebenarnya, Sonya sengaja menyuruh Bian dengan Adelia agar cowok itu gengsi untuk membeli banyak makanan, tetapi tetap saja ia tidak tahu malu, bahkan Adelia juga ikut membeli tambahan untuknya.


“Benar-benar couple goals lo berdua,” ejek Raka menggelengkan kepalanya mengikuti tingkah Izar, jangan lupa dengan badan yang disandarkan pada troli. Raka memang selalu bisa mengikuti gaya orang lain.


“Astaga! Ini apaan?” tanya Zharif mengangkat


“Awas aja lo semua kalau minta besok ya! Nggak akan gue kasih, mau sampai lo pada berlututpun nggak akan pernah!” jawab Bian.


Rosla ikut mendekat, memerhatikan barang belanjaan di dalam troli, “Lo mau buat cookies, Del?” tanya Rosla yang dijawab anggukan oleh kedua orang di depannya, Adelia dan Bian, “Kalau gitu lo kurang banyak beli bahannya, beli lagi dong! Gue minta besok,” sambungnya membujuk.


“Enak aja lo! Tadi ketawa ngehina sekarang sok-sok an pasang puppy eyes buat minta. Nggak mempan sama gue!”


“Gue minta sama Adelia kok bukan sama lo,” sanggah Rosla melempar ejekan.


“Tapi gue beli bahan tuh, sana lo beli pakai duit lo sendiri,”


“Yaudah, lo juga sana buat sendiri cookiesnya,” sahut Adelia yang berhasil membuat Bian terdiam protes. Cowok itu melempar tatapan tidak terima, mendorong trolinya di belakang Ravel. Jangan lupa, tawa mengejek untuknya berhasil membuat moodnya semakin buruk.


“Waspada! Tahu aja kalau Bian udah badmood, semua orang kena imbasnya.” Okta mengingatkan, mendorong toli satu langkah, menyusul beberapa pengantri lainnya.


“Dari kucing langsung berubah jadi serigala.” Izar ikut membenarkan, sementara, yang dijadikan bahan bicara sudah memilih diam memasang wajah asamnya.


“Mirip banget sama si mentel, kucingnya si Raka.”


“Lo punya kucing, Rak? Luarnya sok buas, dalemnya lembut juga ya,” goda Rosla terkekeh.


“Jenis kucing apa, Rak?”


“Campuran anggora dengan persia.”


“Betina atau jantan?” tanya Adelia kembali dengan mata yang berbinar.


“Betina lah, Adelia. Namanya aja mentel,” komentar Zharif kesal, sementara Adelia hanya memberikan cengirannya.


“Kapan-kapan gue pinjam kucing lo ya. Kucing gue peaknose, nanti anaknya gue bagi ke lo, deh.” Adelia mencoba membujuk. Raka hanya mengangguk mengiyakan sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.


Sekarang, giliran mereka untuk membayar belanjaan dengan dibantu oleh beberapa kasir lainnya. Hingga setengah jam, mereka keluar dengan belanjaan  yang disimpan di troli.


“Del, gue bagi juga dong anaknya nanti,” pinta Sonya yang disetujui oleh Adelia.


“Kalau ada kucing betina mendingan lo sama punya si Bian. Cantik sumpah! Keluarganya pecinta kucing semua, sampai simpan ruangan khusus kucing lagi.” Raka mendekati Adelia dengan troli yang masih di tangannya. Cowok itu kalau sudah membahas tentang kucing, maka tidak ada lagi yang lebih menarik perhatiannya.


“Ras apa?”


Raka memundurkan jalannya, mendekati Bian yang jalan paling terakhir, “Ras kucing lo apa?” tanya Raka yang tak mendapatkan jawaban, melainkan lirikan tajam dari Bian, “Ih, baperan nih,” sambungnya menggoda.


“Ih, Bian baik deh. Cakep lagi,” bujuk Adelia tersenyum aneh dengan kepala yang dimiringkan menoleh ke arah Bian.


“Ngapain lo?!”


“Dih, si abang lagi sensi. PMS ya, Mas? Orang mau ngambil barang gue kok.” Adelia mengambil alih troli belanja dari tangan Bian kemudian mendorongnya berdampingan dengan Raka.


“Heh, itu juga ada punya gue.”


Adelia berhenti kemudian membalik ke arah Bian yang masih di belakang, “Katanya lo mau di buatin? Mumpung gue lagi baik hati dan tidak sombong,” jawab Adelia kembali menyusul lainnya yang sudah menunggu di depan.