
“Kesepakatan kita, bagaimana?” tanya Sonya berbisik. Sikapnya dengan Bian membuat curiga sekitar, dua orang itu tidak biasanya menjauh dan berbicara begitu dekat agar tidak diketahui oleh orang lain.
“Gue udah menang, Son. Tinggal janji lo aja ditepati,” jawab Bian tidak memperdulikan pandangan sekitarnya yang ingin tahu.
“Tapi, lo nggak menang juara satu.”
“Lo nggak ada bilang itu sama gue, kok jadi berubah tiba-tiba syaratnya,” protes Bian menarik Sonya untuk menjauh kembali dari yang lainnya. Belasan temannya berusaha memanjangkan telinga untuk mendengarkan pembicaraan rahasia tersebut.
“Yaudah, gini aja biar deal. Kita seimbang, gue bantuin lo dan lo ikuti perintah gue.”
“Perintah apaan? Yang jelas dong, jangan gaje gini,” tanya Bian memandang teman-temannya yang mengalihkan pandangan agar tidak terciduk memerhatikan.
“Nggak susah, yang penting deal nggak?”
“Oke, deal. Tapi kalau aneh-aneh gue nggak bakal setuju.” Keduanya bersepakat.
Sayangnya, kesebelas orang tersebut terlambat datang, mereka sudah membicarakannya kemudian bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Bian dan Sonya memisahkan diri dan sibuk dengan urusan masing-masing.
“Oh iya, gue dapat undangan nih,” ucap Raka tiba-tiba membuka tasnya yang sejak tadi dibawanya ketika berbaris karena terlambat. Ia mengeluarkan FineArt paper yang dilapiskan oleh plastik putih, kemudian memberikannya pada Bian.
Semua mendekat, penasaran dengan undangan yang dimaksudkan oleh Raka. Mereka berteriak takjub, saling memandang lalu berteriak bahagia setelah melihat tulisan yang mengatakan ‘collaboration skateboard’. Sudah pasti, acara itu akan dihadiri oleh komunitas skateboard lainnya.
“Tanggal berapa?” tanya Izar heran karena tidak tertera tanggal kegiatannya.
“Gue udah tanya, katanya minggu depan.”
“Gak sabar gue, nunggu minggu depan terasa lama banget,” jawab Sonya melompat kesenangan sambil memegang lengan Alfar.
“Kabarnya, dari singapura juga diundang . Kepulauan Riau juga sebagian besar diundang, tapi perkiraan nggak semuanya bisa datang.”
“Woah, banyak cogan nih.” Rosla langsung mendapat jitakan dari Gibran setelah mengatakannya. Rosla yang tidak terima membalas dengan memukul lengan cowok itu.
“Kabari anggota yang lainnya, minggu depan wajib untuk datang. Kalau nggak kena skors seperti biasa,” perintah Bian memberikan undangan itu kembali pada Raka untuk difoto dan diinfokan ke anggota lainnya.
Raka menganggukinya. “Tapi anggota baru banyak yang belum mahir.”
“Nggak masalah, besok bukan ajang untuk perlombaan. Mereka bisa belajar dari orang luar, siapa tahu semakin semangat latihannya,” jawab Alkar yang disetujui oleh Bian.
“Oh iya, jangan lupa kartu anggotanya, Son. Segera diselesaikan!” Sonya mengacungkan jempolnya. Kemudian, mereka kembali ke kelas masing-masing menunggu pelajaran dalam menit kesepuluh ke depan.
*****
“Lo ada koin nggak?” tanya Raka tiba-tiba datang ke kelas lain dan menanyakan hal yang sama pada temannya.
“Ada, koin seribu. Kenapa?” Rosla kembali bertanda, ia mengambil dompetnya dan membuka resleting di pinggir dompet kemudian menunjukkannya pada Raka.
“Jangan yang itu, sakit nanti.” Raka menolak, mendatangi yang lainnya dan menanyakan hal yang sama.
“Buat apa koin? Lo mau ngamen?” tanya Alfar heran. Cowok itu sejak tadi sedang bermain PUBG dengan Sonya yang juga berada di sampingnya.
“Ya nggak ada lah. Kalau mau koin cari aja tuh di jalanan, banyak biasanya,” jawab Alfar masih seperti sebelumnya tidak melihat ke arah Raka.
“Ah, jawaban lo nggak pernah ngasih solusi,” celetuk Raka meninggalkan Alfar yang menyadari kepergian Raka, ia mengangkat bahu tak peduli dan kembali fokus pada gamenya.
“Bi!” kali ini Raka menganggu Bian yang tengah asik tertidur dengan headset di telinganya. Raka menarik headsetnya kemudian menggoyangkan badan Bian berlang kali tanpa lupa memanggil namanya.
Sebutin nama gue tiga kali, maka gue akan terbangun
Yakali, itu tidak berlaku untuk Bian yang merupakan Raja dalam hal tidur. Dia akan bangun sesuai dengan keinginannya, atau sesuatu yang mempengaruhi tidurnya.
Kesepuluh kalinya, Bian terbangun dengan mata yang berkedip berkali-kali agar tidak tertidur kembali. Ia ingin mengatakan sesuatu tetapi terasa sulit untuk melakukannya.
“Lo ada koin emas nggak?”
Bian hampir saja mengumpat, karena Raka yang membangunkannya hanya untuk sebuah benda kecil berwarna keemasan itu, “Di dompet gue. Ambi aja.” Ia mengurungkan niatnya, kemudian kembali tertidur setelah menjawabnya dan tidak memperdulikan apa yang dilakukan Raka pada dompetnya.
Raka kembali ke kelasnya, dengan senyuman bahagianya. Menghampiri teman cewek sekelasnya, memberikan koin dan minyak kayu putih yang dimintanya dari Adelia. Cowok itu langsung membalik dan membelakang teman ceweknya. Tahu untuk apa? Dikerokin.
Raka tidak pernah berhenti membuat orang memandangnya heran, bahkan Adelia sampai menyembur tawa di sudut kelas paling depan ketika melihat kelakuan Raka yang sejak tadi begitu rusuh hanya untuk dua hal itu.
Sendawa keluar dari mulutnya, besert gesekan koin menyentuh kulitnya. Mereka sudah terlalu biasa mendengarnya, meski begitu tidak ada yang merasa jijik. Ya, paling tidak berteriak jijik dan memukulnya, tetapi setelah itu semua menganggap itu hal yang biasa.
“Mangkal di mana semalam lo?” tanya Zharif mengejek.
“Belakang BCA. Kenapa? Lo mau jadi pelanggan gue?”
“Dih, sorry. Gue masih normal.” Zharif menggidik ngeri dan menjauh dari Raka yang melemparinya dengan botol mineral milik temannya yang lain.
“Raka! Bolot minuman gue tuh, kan jadinya berbusa.”
“Halah, berbusa aja pun. Masih bisa itu diminum,” protes Raka membela dirinya.
“Mata lo bisa diminum. Nyebelin banget sih.”
“Iya, gue tahu kok. Gue ngangenin.”
“Mata lo suwek!” bantingan kursi terdengar, bukannya meminta maaf, Raka menyengir melihat cewek yang keluar dari pintu kelas dengan perasaan marah. Satu per satu menuduh Raka yang mengganggu orang lain dan membuatnya marah.
Meski memiliki sifat yang urakan, setidaknya Raka masih bertenggung jawab. Saat istirahat, ia membelikan minuman yang sama dan meletakkannya di meja tanpa sepengetahuan orangnya. Kadang, tidak semua orang memiliki sifat yang jahat, kebanyakan orang tidak mengerti jati diri dari setiap orang.
THARA!!
INI KARTU UNDANGANNYA!!
JANGAN LUPA UNTUK DATANG YA!!!