Svoteens

Svoteens
Episode 6



“Ngumpul nggak kita malam ini?” tanya Raka meletakkan minumannya di atas meja kemudian melangkahi bangku dan mendudukinya. Kegiatan MOS sudah berlalu, dan sekolah sudah memulai pembelajaran meski tidak seefektif biasanya dan terkadang juga dibarengi dengan kegiatan rapat oleh guru untuk memasuki tahun ajaran baru.


“Gak bisa. Adelia udah ngasih kabar ke gue, buat nanti malam datang,” jawab Bian yang mendapat lirikan dari yang lainnya, bahkan Alfar berulang kali menyenggol dengan senyuman yang menurut Bian menjijikan.


“Udah sampai mana prosesnya, Bos?”


“Proses apa?”


“Pura-pura polos nih orang,” celetuk Alkar tiba-tiba. Membuat suasana hening sejenak kemudian berganti menjadi tawa yang membingungkan bagi orang yang tak memahami maksudnya.


Alfar meletakkan tangannya di dahi Alkar, “Perasaan gak demam deh. Kesambet nih jangan-jangan.”


“Dih, sibuk amat sih lo! Singkirin tangan lo, kuman,” sahut Alkar menepis tangan Alfar yang masih juga mencoba untuk menggodanya.


“Anak-anak juga pada diajak nggak? Biar gue kabari.”


“Iya, Rak. Katanya untuk anak-anak Svoteens dibebaskan.”


“Asikk!! Makan besar dong kita.”


“By the way, adiknya anak mana?” tanya Izar memanjangkan tangannya ke tengah-tengah meja, menggapai kacang kulit yang di letakkan di tengah-tengah. Semua menunggu jawaban dari Bian, karena cowok itu yang terbilang dekat dengan Adelia meski terbilang diam-diam.


“Seingatku sih anak SMK. Baru masuk deh, berarti seangkat sama adik lo, Gib. Adik lo masuk SMK, kan?” Gibran yang sejak tadi terdiam terkejut kemudian menganggukinya, “Yaudah. Nanti kita ngumpul aja dulu. Zhaf, jangan lupa jemput Sonya,” sambungnya.


“Siap bos! Tuan putri aman di tangan pangeran,” kekeh Zharif menaik turunkan kedua alisnya.


*****


“Beneran ini rumahnya?” tanya Alfar ketika sudah menghentikan motonya dan mematikan mesin motornya.


“Central Sukajadi Residence kan ini?” Bian berbalik tanya, memerhatikan sekelilingnya kemudian kembali menoleh ke handphonenya, “Beneran kok. Sebentar gue hubungi Adel dulu,” sambungnya mendial nomor Adelia. Tetapi, tak lama gerbang sudah di buka oleh seorang cowok yang tidak dikenal oleh mereka.


“Anak-anak Svoteens, kan?”


“Hah?” kompak semuanya menjawab dengan kebingungan.


“Okai. Teman Adelia, kan? Gue adiknya, langsung masuk aja. Motor pada bawa ke dalam aja.”


Bian memandang teman-temannya, ia masuk lebih awal dan mengikuti tuan rumah dari belakang, “Bang Bian, kan? Terima kasih udah bantuin kakak gue. Aldian,” ucap Aldian mengalurkan tangannya dan berjabat tangan dengan Bian beserta yang lainnya.


Suara hentakkan kaki dengan lantai membuat pandangan mereka beralih. Adelia menuruni tangga dengan hotspan dan kaus putih sebahu. Aldian yang melihat penampilan kakaknya langsung mengambil langkah lebar untuk menghampiri Adelia, “Ganti pakaian lo, Adelia,” perintah Aldian dengan menekankan pada nama Adelia.


“Kenapa sih? Biasanya gue juga kayak gini di rumah.”


“Kenapa lo tanya? Teman gue cowok semua, dan lo juga bawa teman lo yang juga ada cowok. Lo pikir gue adik apaan, ngelihat kakaknya jadi pusat perhatian cowok. Gue gak mau tahu, ganti sekarang atau gak gue bilang sama Papa.”


“Ck! Bawel lo.” Adelia kembali ke kamarnya menggunakan pakaian yang lebih layak dan manusiawi. Kemudian, menghampiri anak Svoteens yang tengah berkumpul di pondok taman belakang.


“Posesif bener adik lo,” celetuk Sonya ketika Adelia sudah mengambil tempat di sampingnya. Sementara, yang cowok sedang bercerita tentang hal yang tidak dipahami oleh cewek.


Adelia menghela nafasnya, “Bukan lagi. Kalau temannya datang gue malah disuruh tetap di kamar. Sampai makanan juga dia belain bawa masuk ke kamar gue. Heran gue lihatnya.”


“Bersyukur lah lo punya adik kayak gitu. Dia cuma mau lindungi lo dari bejatnya cowok,” jawab Ravel melipat kedua tangannya di dada dan bersandar pada tiang pondok, “Gue yang sebagai cowok aja mengakui sih,” sambungnya masih memandang Adelia dan Sonya.


“Keren dong adik lo. Comblangin ke gue gitu.”


“Dih, di depan mata udah ada ngapain harus cari yang lain sih?” protes Raka melempari Sonya dengan kulit kacang di tangannya.


“Memangnya siapa, Rak?” sahut Gibran menggoda.


“Ya gue lah, kurang sempurna apa coba gue ini.” Raka tersenyum menaik turunkan alisnya. “Kaya? Jangan diraguin, putih, humoris. Apa lagi yang kurang?” sambungnya meneguk minuman hingga habis.


“Kurang cakep lo mah. Humoris aja gak cukup. Yang dibutuhin itu penampilan. Kalau cowok jadikan cewek bahan untuk memamerkan. Cewek juga gitu dong.” Rosla datang dengan membawa nampan berbagai macam buah kemudian mengambil tempat di samping Adelia.


“Okei. Jadi menurut lo siapa yang paling ganteng?”


“Gue? Ya jelas Ravel lah. Anak blasteran cuy. Punya lesum pipi lagi, kalem gak bar bar kayak kalian,” jawab Rosla. Ravel hanya mengangkat kedua bahunya acuh dan lebih fokus ke handphonenya menontong pertandingan tinju.


“Lo Adel? Siapa?”


“Gue?” Adelia memandang satu per satu cowok di depannya saat ini. kemudian mengangkat kedua bahunya, “Menurut gue sih semua orang punya kelebihan masing-masing. Jadi, gak usah saling membandingkan aja. Selera orang ya berbeda-beda, ya intinya lo pada juga punya pasangan nantinya,” jawaban Adelia membuat beberapa menahan kekecewaan.


“Gak bisa gitu, harus memilih dong.”


“Udah deh, daripada ribut mendingan kita main truth or dare aja.” Zharif menghentikan perdebatan yang terjadi. Mengambil kartu berisi tantangan yang selalu di bawanya dan menjelaskan ketentuan bermainnya.


Raka melempar koinnya dan menangkapnya kembali, “Truth.” Raka mengambil kartu dengan tulisan truth di punggungnya.


“Pernah suka sama pacar atau gebetan teman?”


Raka memutar bola matanya, “Pernah. Tuh punya si Bian,” jawabnya membuat pandangan menoleh ke arah Bian.


“Gue? Siapa?”


“Sok-sok an lupa lo. Si Katya lah,” sahut Alfar menepuk pundak Bian dan merangkulnya.


“Kapan gue bilangnya? Gak ada. Gosip dari siapa itu? Lo ya, Gib? Zhaf? Oh jangan-jangan lo lagi, Far?”


“Masih aja beralibi, udah ke sebar satu sekolah lo ngeDM dia lagi,” jawab Gibran sambil menggigit pipet dari minumannya.


“Anjing. Itu kerjaan si Raka, woi!. Dia balas DM si Katya lewat akun gue. Biang kerok lo, Rak.”


“Ya mana gue tahu berakibat fatal gini,” elak Raka membela dirinya, mengambil sisa es batu di dalam gelas dan mengunyahnya, “Udah lanjut lagi.” sambungnya memberikan koin kepada Gibran di sampingnya.


“Pernah gak kamu marah dengan salah satu pemain tapi dipendam? Ungkapkan sekarang.” Gibran terdiam, membuat yang lainnya saling memandang kebingungan.


Baru saja ingin menjawabnya, handphonenya berdering. Gibran mengangkat panggilan dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah. Ia mengakhiri panggilannya dan langsung mengenakan sepatunya, “Nyokap gue lagi di bawa ke rumah sakit. Gue cabut duluan. Del, titip salam buat adik lo,” ucap Gibran langsung berlari menuju halaman depan. Yang lain juga pada menyusul meninggalkan Bian yang mewakilkan untuk berpamitan.


Adelia menahan Bian yang ingin pergi, “Gue boleh ikutan ke rumah sakit, nggak?” Bian menganggukinya, menarik Adelia hingga ke halaman depan dan menyusul yang lainnya.


*****


“Bagaimana keadaan, Bunda?” Gibran langsung melemparkan pertanyaan kepada adiknya yang tengah duduk di bangku luar kamar. Sementara ia memerhatikan bundanya dari kaca luar.


“Dokter udah ngecek. Gak ada masalah yang serius. Bunda lagi istirahat,” jawabnya dengan kepala yang tertunduk kemudian mengangkat kepalanya, menatap Gibran dengan serius, “Bang, kita gak bisa kayak gini terus. Semakin lama, keadaan Bunda bisa semakin parah,” sambungnya.


Gibran menghela nafas, mendekati Jay dan meletakkan tangannya di kepala adiknya tersebut, “Tenang aja. Nanti gue akan usahain. Sekarang, pikirkan sekolah lo aja dan serahin semuanya sama gue,” Jay menganggukinya dan kembali menangkup wajahnya.


“Gue ke administrasi dulu. Kalian tunggu di sini sebentar.” Gibran melangkahkan kaki dengan berat. Dia tidak yakin bisa membayar administrasi dengan perekonomian mereka yang tidak seberapa.


Sementara, Bian menelengkan kepalanya kepada anggota yang lainnya. Mereka seolah mengerti maksud dari ketua tersebut mendekat dan mendengarkan arahan, “Gue ada, uang di tabungan gue cukup buat biayanya,” ucap Ravel yang langsung bisa membaca keadaan.


“Sementara, kita pakai uang kas kita aja dulu. Untuk nantinya, kita topak topak atau cari jalan keluar lainnya. Sonya,” saran Bian kemudian mengajak Sonya untuk menyusul Gibran yang ternyata sudah tidak lagi berada loket pembayaran.


“Sini tangannya, gue obati dulu,” Jay mengangkat kepalanya, memandang Adelia dan Rosla yang tersenyum ke arahnya. Karena tidak mendapatkan jawaban, Adelia dengan inisiatif sendiri mengambil tangan Jay untuk membersihkan dengan alkohol, “Gue punya adik seumuran lo. Baru masuk SMK juga di Tuna Bangsa. Lo SMK  di mana?” sambung Adelia membuka keheningan.


“Tuna Bangsa,” jawab Jay singkat tetapi berhasil membuat Adelia kaget.


“Bagus, dong. Nama adik gue Aldian Grayza Foriska. Bilang aja lo adiknya teman gue. Eh, jangan lupa juga main-main ke rumah.”


“Makasih kak,” ucap Jay setelah tangannya sudah di perban oleh Adelia.


“Gak usah sungkan. Gue gak tahu apa yang terjadi, tapi lo tahu apa yang terbaik buat diri lo sendiri.” Adelia menempelkan plester pada wajah Jay yang sedikit terluka, “Selesai,” sambungnya tanpa lupa memberikan senyuman.


“Lo udah jadi yang terbaik kok. Meski bukan di mata orang lain, tapi di keluarga lo. Semua akan ada jalan keluarnya.” Kali ini Rosla yang menyemangati, memberikan tepukan pada pundak Jay.


“Udah larut, yang cewek pulang aja dulu. Kalau cowok ada yang bisa tinggal, silakan. Kalau nggak juga nggak apa,” ucap Ravel ditengah keheningan yang sedang terjadi. Mereka juga baru menyadari, bahwa sudah menunjukkan pukul 10 malam.


“Yang mau pulang siapa?”


“Gue pulang, ada keperluan sama bokap soalnya.” Izar satu-satunya yang membuka suara. Sementara, yang lainnya memilih untuk tetap menemani.


“Jam besuk udah habis, Bang. Yang tinggal cuma boleh dua orang aja,” kata Jay membuat yang lainnya saling melemparkan pandangan.


“Yaudah, kalian pulang aja. Takutnya juga ganggu pasien yang lainnya. Besok juga udah mulai belajar efektif.” Setelah melakukan perundingan, akhirnya mereka lebih memilih untuk kembali pulang ke rumah masing-masing.


“Del, lo sama gue aja. Kalau Bian nanti kejauhan juga, beda arah,” saran Izar dan Adelia hanya menganggukinya. Mau dengan siapa juga, ia tidak begitu masalah.


“Lo antar Rosla aja, dia di batu aji. Biar Adelia sama gue,” bantah Okta. Mereka pun pulang dan berpisah di bundaran menuju ke rumah masing-masing.