Svoteens

Svoteens
Episode 26



ZHARIF ALDINO


Cowok pemilik gingsul itu berulang kali memainkan gas motornya. Ia sudah bersiap di garis start dan mengalahkan lawannya yang juga sudah bersiap di sampingnya.


Suara deruman motor bersahutan membuat suasana semakin riuh, lawan Zharif tidak mau kalah untuk memainkan gasnya dan menunjukkan bakatnya untuk sampai di garis finish.


Kedua pandangan mereka terfokus pada cewek dengan pakaian minimnya, berdiri memegang kedua bendera di kedua tangannya. Kedua motor itu melaju dengan sangat kencang ketika bendera dinaikkan ke atas sebagai tanda memulainya balapan.


Pertandingan berlalu begitu sengit, keduanya saling beradu menarik gas untuk lebih cepat dari lawan. Setelah menghadapi begitu panjangnya laluan jalan, keduanya tiba di garis start dengan menyisakan bekas dari gesekan aspal dan ban.


Zharif melepaskan helmnya, kemudian meniup ujung poninya. Keduanya saling berjabat tangan sebagai akhir pertandingan untuk malam ini. Setelah bercengkrama sepatah kata, Zharif turun dari motor menemui rombongan orang yang menunggunya.


“Ini hadiah yang gue janjikan.”


Baru saja tiba, seorang perempuan didorong mendekat ke arahnya. Zharif menyengir lalu menyingkir dari tubuh perempuan yang akan menarik lengannya, “Gue nggak butuh hadiah lo, Bos,” ucapnya melepaskan tangan  yang melingkar di lengannya.


Mereka tertawa mendengar perkataan Zharif, “Tobat lo? Mustahil seorang Zharif bisa tobat,” ucap cowok yang paling tua dari lainnya, sudah pasti ia yang paling berkuasa di sana.


“Ya sebanarnya memang salah,” jawab Zharif berusaha untuk seramah mungkin.


“Sok suci lo!” hinanya dengan melemparkan ludah yang hampir mengenai sepatu Zharif.


“Oh iya, gue juga mau bilang, kalau gue keluar dari geng ini.” Zharif melangkah tanpa meminta persetujuan. Hanya saja, ia tidak terlalu peduli dengan konsekuensi yang diterima.


Zharif ditarik untuk membalikkan badan, dan di saat yang bersamaan, pukulan kuat mengenai wajahnya. Tidak hanya satu, tiga orang lainnya atas perintah dari ketua membantu untuk menghabisi Zharif di tempat.


Tentu saja ia tidak tinggal diam. Zharif menangkis pukulan, lalu memberikan serangan tepat di dada orang tersebut dengan kakinya. Tapi, mau bagaimana juga tidak ada orang yang bisa menahan serangan ketika di hadapkan pada lawan yang memiliki kekuatan seimbang dan jumlah yang banyak.


Di tengah perkelahian sengit, mobil patroli terdengar. Beberapa orang berhasil untuk melarikan diri dengan motor, dan hanya orang yang tidak beruntung berakhir di bawa ke kantor untuk menyelesaikan permasalahannya.


*****


“Kenapa lo bawa Kath?” tanya Zharif berbisik pada Bian.


“Dia yang ngangkat telp lo, bukan gue.  Kalau aja bukan dia bisa diam-diam gue bawa Bu Rara ke sini,” jawab Bian meninggalkan keduanya dan menemui Ibu Rara yang sedang bersama petugas.


“Tolong ibu tanda tangani di sini.” Sesuai intruksi, Ibu Rara mencoreti kertas itu dengan tinta dan bersalaman dengan petugas untuk membawa Zharif keluar.


“Sekarang, kalian pulang aja, udah terlalu malam. Ibu tunggu penjelasannya besok, Zharif. Dan ini yang terakhir kalinya ibu bisa bantu kamu.”


Bian mengantar Ibu Rara sampai di parkiran dan meninggalkan kedua insan yang membutuhkan waktu untuk berbicara. Ia pun menunggu, memainkan handphone sambil sesekali memandang keduanya yang masih berdiri di depan parkiran.


“Baru hari ini Kath nggak ingatin, tapi udah ada aja masalah,” ucap Kath menghembuskan nafas gusar, “Udah tahu kalau Bang Bian nggak setuju, tapi masih aja buat tambah nggak percaya,” sambungnya memandang Zharif yang tertunduk.


“Aku capek, Kath. Sekali aja kamu ngertiin aku.”


“Seharusnya, kamu dengarin penjelasan aku, Kath. Besok aku jelasin semuanya, sekarang kamu pulang aja dulu, besok aku jelasim semuanya.” Kath tersenyum simpul kemudian masuk ke mobil bersebelahan dengan Bian yang sedang menyetir.


“Hati-hati, Bi. Thanks udah bantuin gue.”


Bian menganggukinya, kemudian pergi tanpa berbasa-basi. Ia tahu bahwa keadaan keduanya sedang tidak baik, meski ia belum mendengar penjelasan sebenarnya, tetap saja ia kecewa dengan sahabatnya.


“Baru pulang, Zhaf? Semalam ini kamu dari mana aja?”


Zharif dikejutkan dengan pertanyaan serta lampu yang tiba-tiba menyala. Perempuan paruh baya yang sudah beberapa bulan tidak bertemu sapa kini berada di depannya dengan daster. Bukannya menjawab, cowok itu mendekat dan memeluk erat-erat, menumpahkan segala kerinduan pada sosok orang tuanya.


“Ma, kapan pulangnya? Kok nggak ada kasih kabar sih?”


Keduanya duduk di sofa ruang keluarga tanpa melepaskan pelukannya, “Tadinya mama sama papa mau kasih kejutan. Tapi, tahunya kami yang dapat kejutan. Jadi, kenapa dengan wajah kamu?”


“Nanti aja ya, Zharif mau makan dulu, udah lapar. Papa di mana?” tanya Zharif menarik mamanya untuk menemaninya makan.


“Papa lagi di ruang kerja, bentar lagi juga keluar karena suara kamu. Makan dulu, mama ambilkan mau ambilkan minum buat kamu.” Jeha melangkan kakinya kemudian kembali membawa teko kaca dan gelas untuk Zharif. Kedatangannya bersamaan dengan keluarnya Dewa dari ruangan kerja.


“Astaga, anak siapa sih ini? Pulang-pulang buat orang tuanya serangan jantung,” celetuk Dewa membolak-balikkan wajah Zharif ke kanan dan ke kiri untuk melihat lebamnya.


“Nyesel aku, Pah. Coba aja aku keluar dari awal, pasti nggak bakal kayak gini.”


“Kamu keluar dari svoteens?”


Zharif menggeleng dengan mulut yang masih penuh, “Geng motor itulah. Mereka nggak terima terus baku hantam deh, terus petugas patroli datang di saat yang tepat sekali, sampai Zharif di bawa ke kantor untuk tanda tangan perjanjian,” jelasnya.


“Jadi penjaminnya siapa?”


“Guru BK aku, Mah.”


“Ini terakhir kalinya, Zharf. Papa nggak mau lagi dengar kamu bermasalah, kalau terulang lagi kita kembali ke kesepakatan bersama, kamu ikut ke Jakarta,” ucap Dewa mengingatkan. Mau tidak mau, ia hanya bisa mengiyakannya dan berusaha untuk tidak lagi terlibat.


“Besok mama sama papa ke sekolah, mau bicara dengan guru kamu tentang masalah ini. Dan, mungkin lewat guru kamu mama sama papa beri kepercayaan untuk memantau kamu.”


“Guru BK aku aja ya, Ma.”


“Kenapa nggak wali kelas kamu aja?”


“Jangan, galak! Kasihan, kalau bumil marah-marah. Nanti anaknya mirip sama aku pula, bisa-bisa jadi gosip satu sekolah,” jawab Zharif membuat kedua orang tuanya tertawa menggelengkan kepala, meski begitu mereka tetap mengiyakan permintaan dari Zharif, anaknya.



Ini jembatan barelang di Batam yang sering digunakan sebagai tempat wisata dan saat malam terkadang dijadikan tempat balapan.