Svoteens

Svoteens
Episode 12



“Lah, gue kira belum ada yang bangun tadi,” celetuk Bian terkejut melihat kehadiran Gibran dan Raka yang sudah berada di depan westafel sedang menyikat gigi. Bian mengambil pasta dan mengolesi pada sikat gigi yang dibawanya dari rumah, “Bangunin yang lain, bentar lagi subuhan.” Dengan mulut yang masih bersisa busa, Bian berteriak mengingatkan keduanya.


“Guys, bangun! Bentar lagi subuh nih,” teriak Raka dan Gibran berbarengan, mengambil bagian untuk membangunkan dengan segala cara. Menarik selimut, menendang, memukul bahkan menarik tangan hingga terduduk di tempat.


“Sumpah! Gue masih ngantuk,” keluh Ravel kembali menjatuhkan dirinya di sofa, menarik jaket miliknya hingga menutupi wajahnya.


“Gue pesan ayam cabai hijau satu.” Gibran melempar Zharif yang ngelindur memesan makanan. Raka, Bian dan Alkar tertawa mendengarnya karena hanya mereka yang berhasil bangun diantara yang lainnya.


“Ini anak tidur aja mikirin makanan.”


“Nggak heran, serakus itu orangnya,” sahut Izar yang terbangun tiba-tibe kemudian berjalan mendekati kulkas dan meneguk air putih dingin hingga habis.


“Kalian pada tidur jam berapa, sih?” tanya Alkar mengambil selimut yang dipakainya sewaktu tidur lalu melipatnya, lalu menumpuk dengan bantal lainnya.


“Setengah satu udah pada tidur sih. Cuma kita kan seharian banyak kegiatan, terus begadang jadinya gitu.”


“Masih mending, gue malah heran malam-malam handphone si Zharif bunyi terus. Nggak nyenyak gue tidur semalam. Mana yang lain pada kebo nggak terusik,” protes Ravel mengubah posisinya menjadi duduk meski matanya tetap terpejam, “Udah orang paling sibuk gue tengok.” Sambungnya menggerutu.


“Okta nggak usah dibangunin tuh?”


“Nggak usah, nanti aja kalau udah mau berangkat. Yaudah, kalian pada siap-siap aja. Si Alfar sama Zharif kayaknya lagi PMS itu.”


“Enak aja lo! Gue cowok tulen ya!” protes Alfar meraba sekitarnya mencari handphone dengan mata yang berusaha untuk melek. Matanya berhasil terbuka setelah mendapatkan cahaya dari handphonenya yang hidup, memperlihatkan waktu yang menunjukkan pukul empat kurang.


Alunan musik rock mengalun kuat dari handphone Zharif, membuat semuanya menoleh ke arah pemilik dan sumber suaranya. Bian mendekat, memerhatikan nama ‘Kathy’ yang muncul di layar. Ia merasa familiar dengan nama, nomor bahkan profil dari si penghubung.


Bian menjawab panggilan, dengan suara yang di speakerkan, “Kath?” Bian begitu yakin, bahwa suara cewek itu adalah adiknya. Tetapi, ia tidak pernah tahu bahwa keduanya memiliki hubungan, bahkan Zharif memberi lambang love pada kontak nama.


“Woi! Bangun lo!” Bian menarik kerah baju Zharif hingga terduduk di tempatnya. Sementara Zharif kebingungan dengan kesalahannya yang membuat ekspresi Bian berubah drastis, “Sejak kapan lo berhubungan dengan adik gue?!” sambungnya bertanya dengan nada tinggi.


Kath yang masih terhubung dengan panggilan mendengar jelas kemarahan saudaranya, “Bang! Bang, Bi. Sumpah, kalian jangan sampai bertengkar, deh.”


Zharif melempar pandangan pada meja yang terdapat handphonenya dan terhubung dengan Kath. Dia tidak menduga bahwa hubungan mereka akan terbongkar begitu cepat, bahkan Bian benar-benar menolak dengan keras.


“Okey, lepasin dulu tangan lo. Gue bakal jelasin.” Zharif menyerah, menarik tangan Bian yang masih mencengkram kuat kaosnya, “Gue udah jadi sama adik lo, udah masuk satu bulan,” sambungnya menghela nafas gusar.


“Gue nggak setuju!”


Seluruh anak Svoteens memandangnya bingung, terutama Zharif yang tidak dapat menahan rasa shock meski ia sudah menduganya di awal, “Kenapa? Gue sahabat lo.”


“Lo emang sahabat gue, Zhaf. Tapi, gue bukan Abang yang bodoh, ngerelain adiknya dipermainkan sama playboy macam lo!”


“Gue udah berhenti, Bi. Selama ini lo tahu sendiri kalau gue nggak ada berhubungan sama cewek lain.”


“Maaf, Zhaf. Gue nggak bisa dan gue harap lo putusin adik gue sekarang. Gue nggak bakal setuju.” Bian mengakhiri percakapannya, melangkah keluar rumah sementara Zharif langsung mengajak bicara Kath yang sudah sesunggukkan karena menangis. Ia memisahkan diri, mengubah suara panggilan menjad mode biasa.


“Kamu mau putusin aku?” tanya Kath dengan suara yang terbata-bata menahan tangis. Zharif menghela nafas gusar, baru saja ia berencana membicarakan dengan baik tetapi Bian sudah mengetahui dan merusak semuanya.


“Nggak akan, Kath. Aku bakal bicarain lagi nanti sama dia, biarin dulu kepalanya mendingin. Tapi, kamu nggak masalah kalau kita...”


“Kamu bilang bakalan pertahanin aku. Walaupun, Bang Bian nggak setuju dengan hubungan kita. Tapi kamu malah ngajak break, berarti kamu udah menyerah, kan?”


“Kath, jadi kita mau bagaimana? “


“Kita backstreet. Nggak ada pilihan lagi, kalau kamu memang nggak mau, yasudah kita sudahi saja.”


“Oke, kita backstreet. Nanti aku hubungi lagi, mau subuhan sama anak-anak.” Kath mengakhiri panggilannya, dan Zharif langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lalu berwudhu. Menyusul anak Svoteens yang sudah menunggu di depan untuk berangkat ke masjid.


*****


“Mereka bertiga itu ngapain sih?” tanya Sonya kesal. Melihat ketiganya saling mendekati dan menghindar. Hampir belasan menit terjadi, tetapi tidak ada rasa lelah terus berdiri sementara yang lain sudah beristirahat di tempat setelah berjuang keras latihan.


“Zharif sama Kath lagi ngerayu Bian buat dukung hubungan mereka.”


“Oalah, gitu.” Adelia datang tiba-tiba, membawa dua bingkisan di kedua tangannya dan begitu juga yang dibawakan oleh Aldian. Keduanya meletakkan di tengah-tengah agar dapat mengambilnya sendiri.


“Memangnya kenapa nggak setuju?” tanya Aldian yang mengambil tempat dan ikut memerhatikan atraksi konyol yang dilakukan oleh ketiga orang di depan mereka. Bahkan menjadi pusat perhatian pengunjung lainnya.


“Lo nggak tahu? Dia kan terkenal playboy.”


“Lah, terus apa salahnya? Kan orang jahat nggak salah kalau bertaubat,” ucap Aldian kembali mempertanyakan alasan logisnya, sementara yang mendengar hanya tertawa menanggapinya.


“Oh iya, Rak. Ini ada titipan buat lo.” Adelia berbicara di keheningan, mengeluarkan tas kesayangannya Raka yang sering dibawanya ke mana-mana. Ia mengambil dan membuka isinya.


“Bokap gue nitip sama lo?” tanyanya, melihat-lihat isi tas yang sudah ada kartu atm, kartu kredit, dompet dan kartu apartemen yang tidak dikenalinya.


“Menurut lo, gimana?”


“Gue nggak terlalu percaya, soalnya bokap gue aja sibuknya minta ampun. Mana sempat ngurusi hal beginian,” gumam Raka yang hanya dapat didengar oleh Adelia.


“Hargi yang nitip sama lo. Sebelumnya dia bilang jangan kasih tahu ke lo. Tapi, maaf. Gue nggak bisa, bukan karena dia cowok gue. Lo harus lihat sisi lain dari orang, Rak. Jangan selalu menilai sesuatu itu buruk, semua bisa berubah, sama yang seperti Aldian bilang tadi.” Adelia menanggapinya dengan suara yang rendah agar tidak dapat didengar oleh orang lain.


“Susah, Del. Gue tahu kalau salah, tapi gue juga belum bisa meskipun di sini bukan dia yang salah.”


“Lo gengsi, Rak. Bener, kan?” Raka terdiam mendengarnya, “Nggak perlu sekarang, gue tahu lo butuh waktu. Gue tahu kalau lo orangnya pemaaf dan gue nggak mengada-ngada soal ini.”


“Hidup gue nggak seenak yang mereka bayangin,” celetuk Raka tanpa sadar, menjatuhkan kepalanya di pundak Adelia dan memerhatikan sekeliling yang sudah kembali berlatih dengan tawa yang berhasil membuat kerutan di sekitar matanya.


“Mereka yang terlihat baik-baik saja, tidak selamanya baik.”


“Menurut lo, apa yang membuat lo bahagia?”


Adelia langsung menunjuk pada sekumpulan anggota Svoteens yang berlatih bersama, “Lo nggak ada niat selingkuh, kan?” tanya Raka yang tidak paham dengan maksud dari jawabannya Adelia.


Adelia tertawa, “Maksud gue itu, sahabat. Mereka yang paling mengerti dengan keadaan gue. Seburuk apapun gue, mereka masih terima kekurangan itu.”


Raka mengangguk menyetujuinya, dan ia sangat berharap bahwa semuanya tidak akan berakhir dalam waktu yang singkat. Ah, tidak. Ia berharap agar semuanya tidak akan pernah berakhir.