
“Siapa aja yang izin hari ini?” tanya Bian meletakkan papan skateboardnya bersama dengan milik anggota lainnya. Ia memerhatikan satu per satu anggota yang tampak lebih sedikit dari biasanya.
“Pada nyusul nanti, Bang.” Salah satu anggota menjawabnya. Bian menganggukinya, kemudian menemui Raka yang menjadi bagian informasi tentang anggotanya yang lain.
“Ravel motornya mogok, Bos. Nah, Zharif izin mau ngedate katanya,” ucap Raka menyampaikan informasi lebih dulu tanpa dipinta. Bian mengiyakannya kemudian ikut berbaring di atas terpal yang disediakan dan menatap langit dengan bulan yang lebih terang dari biasanya.
“Besok-besok gue juga izin deh buat ngedate.”
“Ngadate sama siapa lo? Gebetan lo aja udah balikan sama mantannya,” sindir Izar yang menghentikan permainan gitarnya, lalu meletakkan gitarnya dalam posisi yang berdiri, “Barusan gue lihat lagi doi jalan sama pacarnya,” sambungnya memprovokasi.
“Baru tahu gue si Izar jahil. Adelia aja lagi di rumah ngejar deadline naskahnya, barusan aja videocall sama kami,” jelas Rosla. Bian menendang kaki Izar yang tak jauh dari tempatnya berbaring, sementara yang biangnya menangkat dua jarinya berbentuk V, seolah mengatakan bahwa ia sedang bercanda.
“By the way, Gibran nggak datang ya?” Rosla mengedarkan pandangannya pada beberapa perkumpulan dari anggota Svoteens tetapi tak menemukan orang yang dicarinya, “Padahal gue mau sampaikan permintaannya Adelia,” sambungnya kembali menatap handphone dan mengetuk layarnya pada keyboard.
“Permintaan apa?” tanya Sonya yang tiba-tiba datang bersama Dastin dengan beberapa cemilan di kantung kresek yang mereka bawa. Raka membagikan minuman dan cemilannya, dan Sonya serta Dastin menggantikan tempat berbaring Raka sebelumnya.
“Gue nggak tahu jelasnya, dia cuma nitip cake aja.”
Alfar yang sejak tadi diam, memfokuskan dirinya pada gadget, tiba-tiba berdiri dan mengambil kunci mobil dari Alkar, “Gue jemput Ravel dulu, kunci lengkap kan di mobil?” Okta mengangkat jempolnya, seolah mengatakan bahwa semua persiapan ada. Alfar pergi ke pintu selatan dengan papan skateboardnya.
“Bilang sama orangnya langsung deh.” Pandangan sontak menoleh pada Rosla yang tiba-tiba berbicara di antara keheningan yang terjadi. Ia memberikan handphonenya pada Bian yang mengernyit heran, “Adelia,” bisik Rosla membuat yang lainnya mengulum senyum.
“Kenapa gue?”
“Ada yang mau disampaikan katanya.” Dengan ragu Bian mengambil handphone Rosla. Sementara, yang lainnya saling bertos ria karena rencana tiba-tiba dari Rosla kemungkinan akan mengubah keadaan.
Tidak beberapa lama, Bian mengembalikan handphone Rosla kemudian menjauh dengan papan skate yang dibawanya. Setelah sudah jauh dari keramaian, ia duduk di atas papan skateboardnya dan menghubungi seseorang dengan wajah yang berubah lebih baik.
“Gabut gue, main kartu yuk!” ajak Raka yang langsung mengeluarkan kartu dari tasnya. Tas yang selalu ia bawa ke mana saja dan lengkap untuk keperluan mendesaknya.
“Kira-kira si Bian tahu nggak kalau adiknya lagi ngedate sama Zharif?” tanya Raka sambil melakukan kocokan pada kartunya kemudian membagikannya.
“Sejak kapan mereka dekat?” Bukannya menjawab, Okta kembali melemparkan pertanyaan sambil mengeluarkan kartu bergambar love dengan angka tujuh.
“Gue juga baru tahu beberapa hari yang lalu sih. Tapi, gue nggak yakin kalau Bian bakal setuju. Tahu sendiri gimana kelakukan si Zharif yang nggak cukup satu cewek.”
“Paling juga nanti kena karmanya,” hina Izar yang mendapatkan sorakan dari lainnya, sorakan yang diikuti dengan tawa mereka membenarkan tanggapan Izar atau berharap semuanya terkabul. Karena bagi mereka, Zharif termaksud orang yang kebal, tak memperdulikan nasihat dari orang lainnya. Menunggu waktu yang tepat, ia akan menyesal dengan sendirinya.
“Kaus kaki lo udah berapa lama nggak dicuci sih, Rak? Bau bener!” Raka melotot tidak terima atas tuduhan yang ditujukan untuknya. Raka mengangkat kakinya, mengarahkan pada Okta di depannya.
“Cium nih! Udah ganteng-ganteng gue datang malah dikatain bawa kaus kaki. Si item tuh!”
“Ngapa nama gue disebut, elah?”
“Kaus kaki lo udah berapa lama nggak dicuci? Gue jadinya yang kena!”
“Apasih! Baru gue ambil nih,” bantahnya melepaskan dan melemparkan kaus kakinya pada Raka, “Hidung lo tuh yang bau, udah lama nggak dibersihin, malah nuduh orang,” sambungnya kembali fokus memainkan game online pada handphonennya.
“Lah, hidung si Okta nih. Ngapa gue lagi yang kena sih? Udah kayak Raisa gue, serba salah.”
“Jadi cewek sana biar selalu benar!” timpal Alkar meletakkan papan skateboardnya setelah berulang kali berlatih sendirian. Ia mengedarkan pandangannya, memerhatikan Bian yang memisahkan diri dan tampak asik berbicara dengan seseorang,
“Woi, Bos! Jadi latihan kagak nih? Jangan ngebucin terus di pojokan!” teriak Alkar membuat seluruh anggota memandang Bian dan bersorak menggoda sang ketua. Bian menganggukinya, mengangkat jempolnya kemudian mendekat setelah mengakhiri panggilan.
“Gimana gue bisa absen coba.” Bian meletakkan papan skatenya kemudian memanggil semua anggota untuk berkumpul di dekatnya, “Padahal wakil ada. Bahaya kalau nggak ada gue, bisa terbengkalai semuanya.”
“Jauh lebih sedikit dari biasanya. Rak, hubungi yang udah nggak hadir tiga hari!” Raka menganggukinya, menghubungi beberapa orang yang tidak hadir tanpa adanya keterangan, “Yaudah, kita langsung...”
Perkataan Bian terhenti karena salah satu orang yang mengangkat tangannya, “Ada anggota baru, Bang!” Bian langsung melemparkan tatapan pada Raka yang tidak menyampaikan informasi tentang anggota padanya.
Raka menyengir, seolah tahu maksud dari perkataan Bian, “Gue pikir lo udah tahu. Jadi, nggak gue sampaikan deh,” jawabnya membela diri. Bian menggeleng heran, kemudian melemparkan kembali pandangannya pada adik kelasnya.
“Yang anggota baru temui gue, selainnya ikut arahan dari Izar dan Raka. Dan untuk yang cewek, kalian bisa temui Sonya.” Satu per satu bangkit memisahkan diri dan keperluannya, sementara anggota inti berkumpul untuk mendengar arahan dari Bian, “Mulai dari teknik dasarnya aja!” sambungnya memerintah.
“Bang!” Bian yang sejak tadi mengawasi anggotanya, kini berpaling pada orang yang baru saja memanggilnya. Bian tertawa kecil melihat Aldian berdiri kaku di depannya dengan papan skate yang begitu dikenalinya. Ia tidak menyangka bahwa Aldian akan datang sendiri tanpa menerima undangan darinya untuk masuk ke anggota.
“Apa kabar?” tanya Bian menyalurkan tangannya, dan keduanya bersalaman.
“Baik, Bang! Gue boleh jadi anggota?”
“Nggak ada yang larang sih. Lo tahu info dari mana?” tanya Bian mengambil duduk di bebatuan yang lebih tinggi dari aspal, kemudian Aldian ikut duduk setelah diperintahkan oleh Bian.
“Kak Adel, sih. Kemarin, dia hubungi Bang Raka karena kan Bang Raka bagian informasi. Jadi, dikasih info kalau hari ini harus datang untuk isi formulir.”
Bian hampir aja tertawa melihat tingkah Aldian yang kaku dan dingin, sifat yang sama dengan beberapa sahabatnya, “Jadi, kamu udah isi datanya belum?” tanya Bian yang mendapatkan gelengan, “Yaudah kalau gitu ikut gue ke markas!” Aldian menganggukinya, mengikuti Bian yang keluar dari perkarangan coastarina dan melangkah ke parkiran.
“Adelia nggak ada niat masuk?”
Aldian menghentikan tangannya untuk melanjutkan mengisi data keanggotaan, padangan yang tak biasanya membuat Bian heran. Wajahnya tampak tak begitu menyukai Bian bahkan lebih dingin dari biasanya, “Kenapa? Lo ada yang ingin dibicarakan ke gue? Wajah lo memperjelas kalau lo nggak suka sama gue.”
“Gue nggak jadi daftar.” Aldian meletakkan kembali pulpen di tangannya yang semakin membuat Bian tidak dapat berpikir jernih dengan perubahan yang tiba-tiba, “Gue nggak mau dengan masuknya gue ke sini bisa buat lo jadi bebas dekatin kakak gue.”
Bian tidak dapat menahan tawanya, tangan tak berhenti penepuk pundak Aldian yang mnyernyit tidak suka, “Menarik! Gue memang suka dengan kakak lo, tapi sayangnya kakak lo sendiri udah milih orang lain,”
“Kakak gue udah ada pacar?”
“Tanya sendiri sana sama kakak lo. Kalau udah isi datanya, simpan aja di sana! Gue mau ngelatih anak yang lainnya dulu.” Bian melangkah, menyembunyikan kedua tangannya pada kantung dengan kaki yang tak berhenti membuat papan skate bergerak.
*****
“Jadi, sebelum mulai latihan gue bakal kasih kalian pengetahuan dulu tentang skateboard." Izar berada diantara yang lainnya, sementara Raka dan Okta mengambil posisi untuk mengikuti arahan dari wakil, Izar.
“Menurut gue kalian udah pada tahu bentuk-bentuk papan skateboard dan fungsinya. Beberapa alat pendukung, baik dari sepatu, perlengkapan keamanan – helm, bantalan lutut, dan bantalan siku – yang dipakai oleh Raka.”
“Gue juga mau kasih tahu, menggunakan pengaman bukanlah hal yang memalukan. Kalian bisa menggunakan itu untuk menghidari cedera. Gue rasa bagi pemula diwajibkan menggunakannya atau kalian bisa meminjam dengan anggota inti karena beberapa dari kami sudah setidaknya lebih unggul dari kalian,” sambung Alkar menjelaskannya. Ia tidak akan segan berbicara jika berhubungan dengan sesuatu yang berbau ilmu.
“Teknik dasar paling utama adalah menentukan kaki yang akan di letakkan di depan. Sudah pada tahu?” tanya Izar memerhatikan satu per satu anggota baru yang berdiri sesuai arahan dan menentukan posisi kaki mereka.
“Kalian boleh mencoba posisi goofy seperti Alkar. Atau bisa seperti Okta dan Raka yang menggunakan posisi Reguler. Kalian bisa menanyakan ke mereka kalau kebingungan memilih posisi kaki.”
Beberapa menit mencoba, salah satu anggota mengangkat tangan bertepatan dengan kembalinya Bian bersama Alfar dan Ravel, “Kak, bagaimana kita harus menentukan posisi kaki?”
“Menurut lo gimana, Bos?” tanya Okta menyikut Bian yang datang dan mendengarkan pertanyaan tersebut.
“Mudah saja. Kalian menendang bola dengan kaki apa? Itu yang diletakkan di depan. Atau lebih jelasnya gunakan kaki yang paling kuat.” Bian meletakkan papan skatenya di tanah dan meletakkan kaki kirinya di atas papan,
“Selanjutnya, kalian harus menyeimbangkan tubuh di atas papan. Silakan di coba,” perintah Bian tersenyum melihat Aldian yang kembali ke barisan dan langsung mengikuti intruksi.
Bian memperhatikan satu per satu, meski berulang kali gagal melakukannya, mereka kembali mengulanginya sampai benar-benar bisa. Sepertinya rencana Izar yang mengajari dasar adalah suatu yang baik, dengan begitu mereka akan bisa berproses lebih baik.