
BIAN LUKAS ARCHAIC
Dering alarm suara ayam berkokok tak juga membangunkan Bian dari tidurnya, sudah lima kali alarmnya berbunyi tetapi cowok itu masih enggan untuk beranjak dari kasur. Jam yang sudah menunjukkan pukul enam pagi tidak membuatnya ketakutan untuk terlambat ke sekolah. Karena hidupnya serba keenjoyan.
Cowok tinggi dengan tubuh yang berisi itu adalah anak pertama dari dua bersaudara. Bukan seperti bayangan cowok berotot pemilik roti sobek, ia terbilang sering ikut dalam olahraga ataupun gym, tetapi sampai saat ini bentuk tubuh yang dia inginkan sampai sekarang hanya harapan saja. Ya setidaknya dia bersyukur, masih memiliki tubuh untuk kategori cowok cool bukan seksi.
“Astaga, Abang! Bangun woi!” teriakan menggema dengan suara khas perempuan yang melengkik itu berasal dari Kathrina Lianda Archaic, adik perempuan Bian yang berada di bangku SMA kelas satu itu.
“Ayam jantan lo udah berkokok dari tadi, masih aja kebo. Gue yang baru masuk kamar lo aja udah pekak rasanya.”
“Maklum, telinga gue belum di kerok selama setahun,” sahut Bian yang mendudukkan dirinya dengan mata yang masih terpejam.
“Dih jorok lo. Sana buruan! Bunda udah siapin sarapan tuh.”
“Iya-iya, bawel.”
Kath hanya menggelengkan kepalanya, kemudian keluar dari kamar Bian setelah menutup pintu kamar abangnya tersebut. Suara alarm dari handphone Bian kembali berbunyi, dan kali ini benar-benar membuat Bian melek dengan kesal. Ia merampas handphonenya di atas nakas dan menyentuh layar ke samping.
Bian mengerjapkan matanya berulang kali kemudian menguap dengan lebar, setelah hampir mengumpulkan semua moodnya ia turun dari ranjang
“Kapan perut gue bisa sixpack,” ucap Bian menuju kulkas sambil sesekali menggaruk-garuk perutnya. Setelah berada di depan kulkas, Bian menegedarkan pandangannya ke sekeliling kulkas, ia terlupa tujuan utamanya untuk membuka kulkas. Ia kembali menguap hingga akhirnya ia mengambil botol berisikan air mineral dan meneguknya hingga setengah.
Setelah itu, Bian langsung menyiapkan dirinya untuk berangkat ke sekolah dan sebentar lagi mungkin saja sahabatnya akan menjemputnya.
*****
Hentakan sepatu Bian menyentuh anak tangga membuat kedua perempuan di meja makan mengalihkan pandangan ke arahnya. Cowok itu menuruni tangga masih dengan rasa kantuknya, terlihat dari tadi yang tak berhenti menguap.
“Kok nggak langsung pakai seragam? Kamu mau bolos? Ini masih hari pertama sekolah, Bian,” komentar Lianda setelah Bian sudah tiba di meja makan. Nggak asing 'kan dengan namanya? Ya nama tengah Kath menggunakan nama bundanya sementara nama belakang Bian dan Kath menggunakan nama ayah mereka..
“Benar di komplek aja? Jangan sampai terlambat ke sekolahnya. Kurang-kurangi bolosnya juga, udah kelas dua kamu itu.”
“Lo nggak salah?...”
“Kath, ngomong apa itu?” tegur Lianda yang di balas cengiran dari Kath dan Bian ikut mengejek adiknya.
“Iya, Bunda. Keceplosan. Maksudnya, abang kalau main pasti bau keringatlah badannya, belum juga sampai sekolah udah bau.”
“Abangmu ini 'kan beda, punya sejuta aroma wangi di tubuh. Jadi, kalau keringat nggak ngaruh, malah tambah wangi.”
“Wangi apanya, buluk yang ada. Bau asem pasti, mangkannya nggak ada yang mau sama abang.” Lagi-lagi Kath membalas perkataan Bian di sela-sela makannya. Lianda sendiri hanya menyimak kedua anaknya yang terkadang sesekali ada aja pertengkaran kecil yang terjadi.
“Enak aja. Laris manis nih, banyak yang ngantri.”
“Dih, kayak yang bener aja.”
Bunyi klakson menghentikan perdebatan antara keduanya, Bian langsung meneguk habis minumannya dan menemui Bunda nya tanpa lupa melakukan kebiasaan mengecup pipi Bunda nya. “Berangkat sama supir aja ya, abang gak bisa antar. Belajar yang bener,” ucap Bian pada Kath, mencium kepala dan mengacak rambut adiknya.
“Bian, sebentar!” Bian yang baru saja ingin melangkah pergi, langsung dihentikan oleh Lianda yang mengambil bingkisan dari dapur, “Ini kasih teman-teman kamu, takutnya mereka belum sarapan,” sambungnya yang mengikuti Bian hingga keluar.
Bian menyerahkan kantung berisi bermacam-macam roti ketika menemui temannya yang beberapa orang mengobrol di luar. “Wah, makasih, Bunda. Bunda baik banget sih, makin cinta deh,” sahut Raka menggoda sambil melipatkan jari jempol dan telunjuknya menjadi love.
“Dasar, ganjen,” protes Bian menjitak kepala Raka hingga cowok itu mengaduh kesakitan.
“Yaudah, Bunda. Kami langsung berangkat ya. Takut kesiangan.” Sonya mewakilkan dan menyalami Lianda dengan diikuti oleh yang lainnya. Semua sudah naik ke mobil, hanya tersisa Bian, Alfar dan Raka yang memilih menikmati perjalanan sejenak dengan bermain Skateboard.
“Hati-hati ya.”
Lianda memerhatikan hingga mobil itu sudah tak terlihat lagi olehnya. Jika di tanyakan mengenai perasaannya, sudah pasti ia sebagai seorang Ibu takut anaknya mengalami hal yang tak diinginkan. Tetapi, gimana juga ia percaya dengan anaknya yang sudah mengerti sendiri pada hal yang buruk atau benar. Ia sebagai orang tua hanya bisa mengingatkan saja.