Svoteens

Svoteens
Episode 1



“Siapa yang bisa jadi perwakilan untuk bicara ke kepala sekolah?” tanya Bian setelah semua anggota inti sudah pada berkumpul di hadapannya. Dia yang kali ini dipilih menjadi ketua di antara anggota lainnya, awalnya ia sempat bersikeras untuk menolak tawaran tersebut dari Robert–mantan ketua sebelumnya–belum lagi banyaknya anggota sebelum yang sudah menginjak kelas tiga, jadi hanyalah Bian yang menurut mereka layak menggantikan.


Mungkin, anggota inti Svoteens yang, pertama tak sebanyak sekarang ini. Dan ketika Robert mengetahui Bian yang mendapatkan anggota inti lebih banyak darinya, cowok itu terus melemparkan pujian dan acungan jempol.


Ya, bagi Bian dia juga tidak akan bisa sampai di sini jika tidak dibantu oleh yang lainnya. Untuk Gen dua ini memang tidak seperti sebelumnya, anggota inti semua berada di angkatan yang sama dengannya.


“Kita juga gak bisa gegabah asal pilih orang, Pak Ketu,” jawab Raka menanggapi dengan keseriusan. Itulah mereka, ada kalanya waktu santai dijadikan untuk bercanda tetapi untuk sesuatu yang menentukan kebaikan mereka akan mengeluarkan semua pendapat tanpa segan. Bagi mereka demokrasi itu wajib.


“Kalau gue sih udah pasti nunjuk Alkar, soalnya dia bagian OSIS. Sudah pasti pendapatnya bakal diterima.” Kali ini Alfar membuka suara, memilih saudara kembarnya yang saat itu tidak dapat hadir dalam rapat.


“Nggak bisa, Far. Alkar lagi sibuk-sibuknya ngurus anak MOS. Kita gak bisa terlalu membebankan dia, masalah Alkar itu jalan kedua aja," bantah Sonya yang disetujui dengan yang lainnya, begitu juga dengan Alfar yang tidak mempermasalahkan sarannya tertolak.


Memang, hari pertama MOS bagian OSIS sudah pasti sibuk, belum lagi Alkar yang sudah dari awal ditunjuk sebagai calon OSIS angkatan selanjutnya. Pembina OSIS sudah menentukan karena kinerja Alkar yang bagus.


“Okta? Lo gimana? Bersedia gak?”


“Gue? ... boleh deh, tapi jangan gue aja kali.”


“Ya enggak mungkin lah, gue pastinya juga ikut. Izar, Ravel, lo berdua juga ikut ya. Kali ini gue hanya bisa berharap sama kalian bertiga. Untuk hasilnya nanti, gue minta tolong buat Sonya siapkan untuk tenda standnya. Raka sebar informasi dan selebihnya bantu Sonya buat dekor sama persiapan barangnya. Sekaligus rencana buat menarik perhatian. Gue harap, di sini kita bisa buktikan kalau kita nggak sekedar main-main. Kita punya tujuan.”


Yang lainnya menyetujui pendapatnya Bian, sebab ialah ketua yang sudah pasti memimpin dan bertanggung jawab. Meski membagi per masing-masing tugas, Bian sudah pasti tetap membantu juga.


“Udah, 'kan? Gue haus nih, dari tadi kita bicara nggak ada pesan minum,” keluh Zharif yang mendapat delikan dari yang lainnya. Sementara, si empu hanya memberikan cengirannya hingga memperlihatkan gingsulnya.


“Gak usah sok ditampakin tuh taring lo. Sok manis, najis!” protes Gibran menendang kaki Zharif yang kebetulan berada tepat di depannya.


“Yaudah, lo pesan deh. Kayak biasa ya, bilang sama Bude Nun.”


Zharif menurutinya, berjalan dengan terseok akibat tungkai kakinya yang masih merasakan nyeri. Dibalik penderitaannya, yang lain melemparkan tawa mengejek.


*****


Suasana kantor kali ini terlihat berbeda. Okta, Bian, Izar, dan Ravel berusaha menahan diri agar tidak mengeluarkan emosi ketika menghadapi beberapa guru yang secara terang-terangan menolak keinginan mereka.


“Menurut saya itu tak ada masalahnya, selama tujuannya untuk kebaikan,” jawab guru perempuan yang menjabat sebagai guru konseling. Ya, sebagai guru dalam pembinaan, sudah pasti mengatakan pendapat dengan bijaksana. Ibu Rara, guru itu bukan menjadi musuh bagi banyaknya siswa dan siswi di sekolah.


Tidak seperti beberapa sekolah yang di mana guru BK akan selalu untuk di benci. Namun, kali ini Ibu Rara yang termasuk ke dalam guru yang paling disukai, membimbing anak yang nakal dengan cara baik, ia berada di pihak yang mengerti bagimana keadaan anak remaja saat ini.


Semakin mengekangnya, maka mereka akan semakin membangkang. Karena kenakalan sudah menjadi jati diri seorang remaja, tetapi sebagai guru ia akan selalu mengingatkan batasan-batasannya.


“Baik dari mana ya, Bu? Sudah jelas kegiatan mereka nggak akan ada kebaikkannya.”


“Maaf ya, Pak. Maksudnya bapak nggak ada kebaikan dari mananya? Tahun kemarin saya ikut lomba atas nama sekolah, dan hasilnya membanggakan, bukan? Jadi, jangan melihat sesuatu dari luarnya, Pak. Kami berhak juga berkreativitas dengan jalan yang kami inginkan,” jawab Bian menyuarakan pendapatnya.


Sebenarnya, sejak tadi ia ingin berbicara tetapi atas keinginan Ibu Rara untuk tidak membantahnya, ia akhirnya memilih untuk bungkam. Tetapi, kali ini yang menurutnya jika cara diam mereka tidak akan mendapatkan hasil, Bian memilih untuk menyuarakan pendapatnya.


“Nah, benar tuh, Pak. Tahun angkatan Robert juga kemarin pernah dapat juara, 'kan?” kali ini Guru Bahasa Indonesia menyetujui pendapatnya Bian. Saat ini, yang menjadi masalah hanya pada Guru Matematika. Sejak awal berada di kantor ia sudah melakukan penolakan tanpa mendengar penjelasan dari Bian sekali pun.


“Ya tapi masalahnya, nggak masuk akal. Kita ngadain ekstrakurikuler yang bahkan sekolah lain tidak mengadakannya.”


“Loh, bukannya bagus ya, Pak. Bisa jadi, dengan pertama kali kita buat, dari sekolah lain bisa mengikuti jalan kita. Itu lebih bagus lagi, gimana nggak harumnya nama sekolah kita,” jawab Izar yang terlihat santai dengan posisi berdirinya di samping Ravel. Kedua cowok itu lebih memilih berdiri dan sedikit menjauh dari yang lainnya.


“Ya gak bisa. Skateboard itu bukan termasuk olahraga toh.”


“Siapa bilang, Pak? Ya, semua orang juga tahu kalau skateboard itu bukan olahraga yang sama dengan bapak pikirkan. Skateboard ini 'kan olahraga aksi pak,” timpal Okta menanggapinya.


Suasana menjadi hening sejenak, hingga Ravel membuka suaranya. Ia menghembuskan nafasnya kemudian berjalan mendekat. “Gini aja deh, Pak. Terus terang saya yang sudah pastinya yang lain, juga guru-guru bingung dengan alasan bapak. Bisa lebih menjelaskan dengan hal yang masuk akal? Masalahnya, dari awal hanya bapak yang tidak setuju.”


“Jelas! Banyak anak skater itu yang nakalnya nggak bisa dimaafkan lagi. Berulang kali kalian ngelanggar peraturan, bisa jadi dengan ini kalian lebih merasa terbebaskan, jadinya buat masalah terus.”


“Okay, jadi karena itu? Kalau gitu, bagaimana menurut bapak dengan anak didik bapak? Pak, kami juga tahu, yang masuk ke bagian ekstrakurikuler lari banyak yang merokok di belakang kantin. Bapak aja yang nggak tahu gimana kelakuan mereka.”


Bian menepuk kedua bahunya, menghentikan keributan yang mulai terjadi. “Okelah, gini aja. Kami nggak jadi buat ekstrakurikuler baru. Tapi, kasih kami izin buat ngadain promosi barengan dengan yang lainnya.”


“Mana bisa gitu!”


“Tenang, Pak. Kami nggak akan ngadain latihan di sekolah kok. Apalagi ... di jam sekolah.” Bian akhirnya memilih bangkit untuk menyelesaikannya, “Yaudah, kalau gitu kami izin keluar,” sambung Bian melangkahkan kaki pergi setelah menyalami semua guru di hadapannya, begitu juga dengan ketiganya.


Baru saja menutup pintu ruang guru, ketiganya langsung disambut oleh teman-temannya yang lain, juga bagian dari anggota lama.


“Gimana hasilnya?” tanya Robert meletakkan lengannya pada bahu Bian dan mengajak pemimpin itu meninggalkan ruangan guru. Begitu juga dengan yang lainnya, turut ikut dan menyimak pembicaraan Bian.


“Cukup memuaskan.”


“Cukup? Yang benar aja, harusnya memuaskan. Kalau cukup berarti ada kendala,” sahut Fio Andini, satu satunya perempuan yang masuk ke anggota Svoteens generasi pertama dan kebetulan juga sepupuan dengan Robert Roy–cowok yang menjadi Ketua pada generasi pertama–


“Nah, udah ketebak, 'kan? Jadi gini, ya kalian tahu sendiri siapa guru yang menolak kegiatan kita dengan keras.”


“Pak Begu itu lagi? Selalu aja sih biang keroknya dia, heran gue.”


“Beuh, kalau gue yang di ruangan itu. Udah pasti langsung gue kasih jari tengah tepat di muka dia. Gak sadar apa gitu, bobroknya anak didik dia,” sahut Gibran meneguk minumannya hingga habis.


“Ya kalau urusan itu 'kan rencana utama kita. Yang terpenting, masalah stan kita dapat persetujuan.” Perkataan Izar disetujui oleh yang lainnya, karena saat ini bagian terpenting mereka adalah menyiapkan tempat untuk promosi kegiatan skateboard mereka di dua hari ke depan.


“Sonya, persiapan gimana?” tanya Bian pada Sonya yang sejak tadi disibukkan berdiskusi dengan Alfar dan Zharif. Cewek itu tak menjauhkan pandangannya dari buku di atas meja serta pulpen di sela-sela jarinya.


“Hampir selesai, cuma kami juga bingung masalah tempat. Kita mau pakai mobil kita apa ambil tenda stand?”


“Menurut gue sih lebih bagus pakai dua-dua nya, mobil itu bisa jadi bagian unik buat tertarik anak lain. Sementara, untuk hal dalam pemajangan kalian bisa gunakan tenda,” saran Nelson Aldian, anggota sebelumnya yang memiliki kedudukan dalam pusat informasi.


“Gue setuju tuh sarannya,” jawab Raka mewakilkan yang lainnya untuk menyetujuinya.


“Oke, kalau gitu urusan udah kelar. Tinggal perlengkapannya aja nanti.” Sonya kembali disibukkan, mencatat pendapat dari Nelson ke dalam buku jurnalnya.


“Kalau lo gimana, Rak?”


“Aman. Gue udah pesan brosur sama spanduknya.”


“Lusa loh, udah dikonfirmasi itu bisa?”


“Bisa kok katanya, kenalan gue. Jadi, katanya bisa diduluankan.”


“Oke kalau gitu. Masalah biaya, nanti urus sama Sonya aja pakai uang kas kita.” Dalam pembentukan awalnya, mereka langsung membentuk bagian-bagian kepengurusan.


Dari anggota inti yang baru hanya memiliki sembilan anggota inti, dengan Bian sebagai ketua. Izar, Okta dan Alkar sebagai penasehat karena ketiganya pemilik kepala dingin begitu juga karakter yang lebih pintar dari yang lainnya.


Raka sebagai pusat informasi yang sudah pasti ia pintar dalam hal IT dan memiliki banyak relasi. Zharif, Alfar dan Gibran sebagai keamanan sebab mereka yang memiliki badan yang lebih besar, juga pernah mengikuti pelatihan bela diri.


Terakhir, Sonya bagian bendahara sekaligus sekretaris, yang sudah pasti karena ia satu-satunya anggota inti berjenis kelamin perempuan.


“Eh, kalau gitu kami cabut duluan ya. Masih ada urusan,” pamit Robert mewakilkan yang lainnya, “Sukses bro. Gue tunggu kabar keberhasilannya,” sambungnya mempertemukan telapak tangan dan menyatukan baku tangan mereka. Robert menepuk pundak Bian sebelum melakukan hal yang dengan yang lainnya.


“Jadi Bos, makan kali ini termasuk bagian kas gak nih?” goda Zharif menaik turunkan kedua alisnya, dan tingkahnya mendapatkan pukulan pada kepalanya yang berasal dari Raka.


“Bayar juga nggak pernah, mau nya gratisan terus. Nggak tau diri mah lo.”


“Gue sih enjoy aja, 'kan lo donaturnya.”


“Bodo amat, Zhaf. Bodo amat dah gue.”