
RAKA PRASETYA
Pulang di malam hari dan masih menggunakan pakaian sekolah dibaluti oleh jaket kulit sudah menjadi kebiasaannya setiap hari. Jika tidak bermain dengan anak Svoteens, maka Raka akan meluangkan waktunya ke perpustakaan sekolah hanya untuk menonton anime.
Tapi untuk kali ini, ia akan singgah ke rumah bukan untuk tidur melainkan mengambil bajunya dan menginap di rumah Alfar. Meski, belum dijamin mendapatkan izin, sebab kehadiran mobil Ayahnya sudah di pastikan kepala keluarga itu sedang berada di rumah.
“Baru pulang, Rak? Sini makan bareng dulu!” ajak perempuan paruh baya yang sudah menjadi ibu tirinya selama tiga tahun ini. Raka tidak terlalu membenci perempuan itu, hanya saja ia belum bisa menerima pengganti dari ibu kandungnya. Dan yang paling menyebalkan adalah keberadaan anak dari ibu tirinya, Hargi.
“Nggak usah, Bu. Udah ditunggu di depan sama anak-anak.”
“Loh, bagus kalau gitu. Ajak aja, kebetulan ibu lagi masak banyak.” Ayahnya sudah membuka suara, dan tidak ada lagi yang bisa membantangnya.
Tidak semuanya, hanya ada Ravel, kembar, Zharif, dan Bian yang masuk paling terakhir. Keberadaan mereka sudah membuat semua kursi penuh.
Semua jenis makanan satu per satu di bawa dan diletakkan di atas meja oleh pelayan, “Loh, Adelia? Lo sejak kapan di sini?” tanya Raka, baru menyadari kehadiran Adelia yang duduk di samping Hargi. Mungkin, ia tidak mengetahui karena terlalu malas untuk melihat ke arah cowok tersebut.
“Tadinya mau Ayah kenalin, tapi kamu udah kenal duluan. Jadi, nggak perlu pendekatan lagi dong sama calon kakak ipar kamu.”
“Kakak ipar apanya? Aku nggak punya saudara, Yah. Kalau pun aku punya kakak ipar, pastinya bukan dari dia,” bantah Raka meneguk minumannya hingga setengah.
Matthew tidak terlalu mempermasalahkan sifat Raka, karena bagaimana pun anaknya tersebut memang sangat dekat dengan ibu kandungnya hingga tidak begitu mudah menerima orang baru.
Makan malam berlalu dalam keheningan, begitulah yang terjadi jika berada di dalam keluarga keturunan darah biru. Semua pada menikmati makanan sendiri-sendiri hingga setengah jam berlalu, Matthew membuka pembicaraan kembali, “Jadi, bagaimana kabar keluarga kalian?” tanyanya.
“Baik-baik aja, Om.” Bian mewakilkan menjawabnya.
“Bagus kalau begitu. Oh iya, jangan lupa datang ke perjamuan keluarga nanti ya. Kamu juga, Adelia. Harus datang, sekalian kenalan dengan keluarga besarnya Hargi.”
Raka membantahnya, “Ayah jangan lupa, kalau dia bukan dari keluarga kita.”
“Cukup, Raka! Kamu semakin keterlaluan. Ayah selama ini diamin tingkah kamu karena Ayah tahu kalau kamu belum bisa menerima...”
“Ralat, Yah. Tidak akan pernah bisa. Seharusnya, dia tahu diri.”
“Lo yang seharusnya tahu diri! Kalau saja nggak ada lo dan nyokap lo, gue dari awal udah nggak perlu hidup kesusahan, gue seharusnya udah bahagia sama Ayah, orang tua kandung gue sendiri. sementara, nyokap lo adalah perusak di hubungan Ibu dan Ayah gue.”
Raka terkekeh, “Lo ngehalu ya?”
“Gue nggak masalah kalau lo mau coba tes DNA”
Raka memandang Ayahnya untuk meminta penjelasan. Suasana sepi semakin cekam perasaan, “Maaf, mungkin lebih baik kami tidak ikut dalam pembicaraan ini. Rak, kami tunggu di luar ya.” Bian dan yang lainnya mengundurkan diri dari pembicaraan tersebut.
“Om, Tante. Saya juga izin ya. Terima kasih buat makan malamnya, maaf Pita nggak bisa bantu beres-beres,” pamitnya, menendahkan kepala berpamitan kemudian menyusul anak Svoteens yang sedang menunggu di luar.
“Lo pulang sama siapa, Del? Mau gue antar?”
“Gue yang ngantar dia,” sahut Hargi yang sudah mengenakan jaket kulitnya, dan kunci motor di tangannya. Pita memutar tubuh, menghadap pada sumber suara yang mendekatinya.
“Kenapa kamu keluar? Aku udah hubungi Aldian, kok. Kebetulan dia main dekat sini.”
Pita mengangguk menyetujui, dan Hargi menuju bagasi mengambil motornya, “Gue duluan yah.” Pita menyusul, mengenakan jaket yang sebelumnya di kenakan oleh Hargi kemudian memakai helmnya. Keduanya masih menarik perhatian hingga menghilang di balik pagar rumah yang tertutup.
“Tolong cubitin gue dong. Kayaknya gue lagi mimpi deh, si makhluk buas bisa lembut gitu?” celetuk Zharif. Alkar yang mendengar permintaan tersebut mengabulkan, mencubit lengan Zharif hingga pekikan keluar dari mulutnya.
“Gue cuma melakukan apa yang lo suruh,” jawab Alkar ketika mendapat pelototan tersebut.
“Kalau kayak gini sih udah nggak salah lagi si Adel balikan sama Hargi. Apalagi, orang yang udah tobat gitu biasanya sih setia.” Alfar mengeluarkan pendapatnya, tetapi bukannya menanggapi, mereka lebih memilih memalingkan wajah pada Bian yang sejak tadi tergeming.
Tidak ada yang berani membuka suara, bahkan kehadiran Raka membawa koper semakin membuat suasana lebih kebingungan. Mereka berdiri berhadapan, dengan pikiran yang berkelana masing-masing.
“Sumpah! Ini kenapa jadi awkward sih?” celetuk Zharif kesal, “Lo juga? Kena bawa koper segala? Memangnya kita mau holiday?” sambungnya bertanya pada Raka yang tidak dalam mood untuk bercanda.
“Bacot lo!” protes Raka memutar bola matanya kesal.
“Jadi, lo mau bawa ini ke mana?”
“Urusan gue. Biar gue yang cari jalan keluarnya sendiri.” Raka meletakkan kopernya pada bagasi mobil yang akan dibawanya. Mereka kembali melanjutkan perjalanan ke rumah Gibran untuk menginap.
*****
“Zhaf, bagi rokok lah.” Raka keluar menyusul Zharif dan Alfar yang sedang menikmati nikotin di luar ruangan. Keduanya, tidak ingin membuat rumah tersebut menjadi penuh asap apalagi dengan keadaan bundanya Gibran yang sedang sakit.
“Sejak kapan lo nyebat? Nggak usah banyak tingkah, entar batuk-batuk lo jadinya.” Zharif menolaknya, menaikkan sebelah kakinya pada kursi yang di duduki.
“Gue nggak cupu-cupu amat kali. Udah pernah nyoba beberapa kali aja, kalau lagi setres.” Raka mengambil rokok berwarna putih kemudian menghidupkan pematik api.
“Oiya, yang memotivasi lo buat keluar dari rumah tuh apa?”
“Motivasi? Hama tidak boleh menjadi parasit.” Jawaban dari Raka membuat kedua temannya bingung keheranan. Zharif menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan memandangi Alfar yang ikut kebingungan.
“Itu peribahasa atau apaan sih?” tanya Alfar pada Zharif yang menggeleng bingung.
“Lo aja nggak ngerti, apalagi gue.”
“Oh iya ya, ranking lo kan 30an,” celetuk Alfar mengejek.
“Sialan lo! Lo mah pintar karena saudaranya Alkar aja.”
“Seenaknya lo ngomong, emang dari sananya gue pintar walaupun nggak belajar. Cuma gue kelihatan **** aja kalau bareng kalian.”
Keduanya saling berdebat, tak peduli dengan kehadiran Raka yang sejak tadi hanya memerhatikan. Melemparkan cacian dan umpatan sudah menjadi kebiasaan, tetapi untuk kali ini Raka sedang tidak ingin bergabung.
“Cabut lah gue! Sakit mata lihat rumah tangga bertengkar tiap waktu.” Raka mematikan sumbu rokoknya, kemudian memilih bergabung bersama kaum yang masih waras.
Baru saja masuk, Raka sudah dilempar oleh bungkusan snack yang masih utuh. Ahkhirnya, ia tahu alasan teman-temannya yang tidak bosan berada di dalam ruangan. Bola dan cemilan menjadi sesuatu yang komplit untuk membuat mereka dalam posisi wenak.