Svoteens

Svoteens
Episode 25



Lapangan tampak ricuh karena satu angkatan berkumpul untuk meminta persetujuan dari Kepala Sekolah agar diizinkan turun ke jalan mendukung kegiatan turnamen antar sekolah. Baru saja bell istirahat berbunyi, mereka sudah pada turun ke lapangan di tengah teriknya matahari.


Para guru dan kepala sekolah sekaligus perwakilan dari siswa dan siswi, Alkar. Ikut merundingkan permasalahan tersebut dan menunggu keputusan akhirnya.


“Lo yakin kita bakal dapat persetujuan?” seorang cowok yang berada di satu angkatan sama menepuk pundak Bian. Cowok yang paling berpengaruh di angkatan, disebut-sebut sebagai pangeran karena wajahnya yang tampan.


“Nggak seratus persen sih, tapi dari tahun ke tahun memang biasanya setiap sekolah turunkan semua siswa-siswinya untuk supporter.”


“Yaudah, kabari gue keputusan akhirnya. Gue masih ada urusan,” ucapnya menepuk pundak Bian kembali.


“Paling juga nge-bucin sama cewek lo di kantin,” jawab Bian dengan tepat sehingga membuat yang digodanya tertawa sebelum menghilang di keramaian.


Hampir satu sekolah dibuat patah hati, siapa lagi penyebabnya kalau bukan dari cowok itu yang sudah memiliki kekasih. Kalau kalian berfikir cantik tentu saja salah besar, satu sekolah sudah mengenal sifat tertutup dari ceweknya tersebut. Kadang, cantik memang tidak menjamin dia menarik.


“Masih lama ya? Capek nih, mana panas banget lagi,” keluh Sonya merendahkan tubuhnya duduk di lapangan dengan menjadikan Alfar penghalang panasnya matahari.


“Yaudah, kita berteduh aja. Kali ini cuma bisa serahkan sama Alkar buat bicara,” ucap Bian memerintah. Satu per satu mundur, berteduh di bawah pohon dan tetap berada di sekitar lapangan.


Setelah lima belas menit, akhirnya Alkar membawa berita yang membahagiakan. Semua diizinkan pulang untuk bersiap-siap dan akan kembali ke sekolah dalam beberapa menit ke depan agar konvoi ke temenggung.


“Ada yang mau pulang dulu?”


“Nggak usah lah, Bi. Semalam juga udah pada dibilang kalau kita langsung, kita makan siang aja di depan sekolah. Setengah jam masih cukup buat kita makan,” saran Okta yang disetujui oleh yang lainnya.


“Ros, lo ikut?”


“Ikutlah! Gue udah cari alasan buat bohong masa nggak ikut juga,” jawab Rosla.


“Ya nggak usah ngegas juga kali, Mbak.”


“Lo berangkat sama Kath nanti, gue udah bilang sama dia buat nampung lo,” ucap Bian mengenakan helmnya lalu menaiki motornya.


“Masa gue aja. Sonya, Dastin sama Adelia ikut juga lah,” protes Rosla mengenakan helm juga. Sebab mereka akan makan lebih dulu ke tempat terdekat di sekolah.


“Oh tidak bisa, Sonya harus sama gue. Iya, ‘kan?” Alfar menepuk pundak Bian untuk meminta persetujuan. Dan Bian mengangkat jempolnya menyetujui.


“Bilang aja lo mau berduaan sama Adelia.”


“Nggak bisa, Rosla kusayang. Mikirin tuh kaki lo, jalan aja susah. Kath juga udah bawa temannya. Jadi, lo harus sama dia,” ucap Bian mengusap rambut Rosla dan berakhir mendapatkan tepisan.


“Apa salahnya sih lo sama temannya si Kath, banyak kali alasannya,” gerutu Rosla naik di motor Okta yang menurutnya lebih nyaman.


“Dia tuh perhatian sama lo. Jarang-jarang loh bisa dapat perhatian dari Bian,” celetuk Raka terkekeh melihat Rosla yang terus mendumel.


“Terus kenapa lo juga sama Izar?” tanya Zharif yang baru menyadari Adelia sudah duduk di atas motornya Izar. Bahkan pemiliknya juga tidak sadar dengan keberadaan Adelia di belakangnya.


“Lebih nyaman. Sakit pinggang gue naik motor lo pada, bisa-bisa encok gue seharian,” jawab Adelia meletakkan kedua tangannya di jok yang masih luas sebab Izar masih berdiri di motornya.


Rosla tertawa mengejek, “Tertolak langsung.”


*****


“Mau taruhan? Lo kalah harus turuti kemauan gue.”


“Kalau gue menang, lo harus bujuk Adelia buat ngedate sama gue.” Sonya menyetujuinya dan keduanya berjabat tangan untuk menyepakati taruhan tersebut. Taruhan yang hanya diketahui oleh keduanya tanpa ada pihak lainnya.


“Semangat, Bro. Jangan lupa wajib menang!” beberapa dari yang lainnya berteriak memberikan semangat.


Bian menyusul Zharif yang sudah masuk ke gedung bersama pelatih dan pemain lainnya untuk persiapan. Sementara, yang tidak ikut, berbaris menunggu giliran untuk masuk lewat bangku penonton.


Suasana tampak riuh karena pertandingan dari sekolah lain, kedua sisi memiliki supporter yang berteriak mendukung di pertandingan menit-menit terakhir.


“Siapa lawan kita?”


“SMK Hang Nadim.”


“Kalau kata Bian lawan yang susah rata-rata dari sekolah yang negeri. Tapi kalau untuk Maritim juga harus diwaspadai, badan mereka besar-besar.”


“Nggak usah lima besar, juara 1 aja udah cukuplah,” celetuk Rosla yang mendapat jitakan dari Raka.


Pertandingan sudah berakhir, kini giliran sekolah mereka untuk bersiap-siap melanjutkan pertandingan. Kedua tim saling mendiskusikan sebelum menginjakkan kaki di lapangan untuk memulai pertandingannya.


Wasit meniup peluitnya sebagai pertandingan di mulai. Masing-masing mengambil posisi, dan setelah wasit melambungkan bolanya, pertandingan pun dimulai.


Kedua tim saling menempat posisi dan bermain sesuai dengan arahan yang telah diberikan. Mendribble bola kemudian melemparkannya ke teman, dan memasukkan ke dalam ring ketika merasa dalam posisi yang sudah sesuai.


Pertandingan terasa begitu mendebarkan, keduanya saling bersaing mengejar point hingga peluit panjang dibunyikan sebagai akhir dari pertandingan. Setiap pemain berangsur keluar dari lapangan dan memberikan salam, berbeda dengan bangku penonton yang berteriak senang karena kemenangan, dan membubar barisan karena kekalahan.


Menang dan kalah memang selalu berdampingan. Jika, kalah berarti kamu memang harus berproses untuk lebih baik lagi. Dan menang tidak selamanya akan membuatmu berada di tempat tertinggi.


Lagu sayonara selalu mengalun di akhir sesi setiap pertandingan bersama dengan bubarnya menggantikan sekolah yang lainnya.


“Good luck buat pertandingan nanti malam,” teriak Sonya ketika menyambut pemain dari sekolahnya yang sudah keluar dari gedung.


Dalam tiga, ada satu pertandingan yang akan diadakan. Dan untuk tiga hari selanjutnya akan ada pertandingan futsal kemudian takraw. Semua berlalu dalam waktu dua minggu yang benar-benar harus membuat mereka mengejar materi yang tertinggal.


“Untuk nanti malam, yang cewek nggak diizinkan ikut. Khusus untuk cowok aja.” Keputusan dari kepala sekolah sudah bulat dan tidak dapat diganggu gugat. Kini mereka bersiap-siap untuk pulang membersihkan diri kemudian kembali lagi saat pukul delapan malam.


“Gue tunggu janji lo,” bisik Bian mengingatkan sebelum menyusul yang lainnya, yang sudah pergi lebih dulu.


Perjuangan tidak akan pernah berhenti, tetap di tempat atau melangkah itu adalah sebuah pilihan.


 



Indoor TUMENGGUNG ABDUL JAMAL di Batam