Svoteens

Svoteens
Episode 13



“Sayu koool, sayur koool. Makan daging jingan dengan sayur koool.” Lagi-lagi anak Svoteens membuat kegaduhan di kantin, memainkan tangan bersentuhan dengan meja yang dijadikan sebagai alat musik gendang. Berteriak menyanyikan lagu yang tengah populer dan selalu menekankan nyanyian ketika menyebutkan nama hewan tersebut.


“Digoyang, Mang!” teriak salah satu cowok yang duduk bersebrangan, membantu Zharif memainkan meja meski ia tidak mengenal dengan kelompok tersebut.


“Anak mana tuh?” tanya Okta meletakkan mangkok bakso yang dipesannya. Bergabung menikmati makanan sambil melihat pertunjukan yang sedang berlangsung.


“Geng motor Rogex.”


“Bukannya itu sering konflik sama geng motornya, Zharif.”


“Itu kan di luar sekolah, kalau udah di dalam sekolah mana ada lagi urusan itu,” jawab Bian.


“Oh iya, Bang Robert udah nanya kapan kita ngadain peresmian anggota baru dan penutupan anggota lama.” Sonya menghentikan keributan yang terjadi, meski tak sepenuhnya memerhatikan sebab Zharif dan Raka masih sibuk menampilkan pertunjukan.


“Selesai ujian mid semester lah. Dua minggu lagi kita ujian mid semester,” sahut Ravel yang mendapatkan info dari Alkar selaku ketua OSIS.


“Nggak terasa aja udah mau ujian. Jadi, kegiatan kita tunda, bos?”


“Sesuai kesepakatan, kita tidak mengganggu sekolah. Minggu ini mungkin jadi latihan terakhir sebelum ujian, jadi ada waktu seminggu untuk belajar lah.” Bian mematikan handphone setelah menandai tanggal yang dipastikan untuk ujian mid semester.


“Mau seberapa lama juga gue nggak bakal bisa nyantol secepat itu,” celetuk Raka kembali ke tempat, meneguk minumannya hingga habis.


“Tapi, kayaknya gue nggak bisa ikut latihan juga. Seminggu buat gue nggak cukup untuk ngulang pelajaran. Soalnya, pulang sekolah gue juga langsung kerja.” Okta memperbaiki kaca matanya yang turun.


“No problem. Gibran juga pasti sibuk. Lagi pula, kita belum ada jadwal untuk ikut pertandingan kok.”


Mereka mengangguk menyetujui, di tengah keheningan yang terjadi, suara handphone dari seluruh anggota inti Svoteens berbunyi. Masing-masing membuka pesan dari grup yang dikirimkan oleh Alkar.


‘Hari ini ada razia. Setelah istirahat kedua. Razia dilakukan oleh wali kelas + Guru BK dan pembina OSIS’


Mendapatkan pesan itu, semua yang berada di tempat langsung berhamburan keluar kantin dan menuju kelas untuk mengambil barang yang kemungkinan akan di sita. Sementara, Alkar sudah lebih dulu berada di kelas setelah melalui rapat dengan pembina OSIS.


Sebenarnya yang membuat mereka khawatir hanyalah barang-barang biasa, mulai dari makeup, headset – karena sering dipakai waktu belajar – dan papan skateboard.


‘Razia rambut juga nggak nih?’ tanya Gibran membalas chat di grup tersebut.


‘Razia rambut cuma menjelang ujian semester aja.' Izar yang tetap di ruangan musik tidak ikutan untuk menyembunyikan barang. Sebab ia sudah pasti tidak membawa barang yang dilarang secara diam-diam.


“Lo ada bawa make up  nggak? Hari ini ada razia?” tanya Izar meletakkan handphonenya pada saku bajunya. Sementara, yang diajak bicara menghentikan permainan gitarnya lalu memandang Izar setengah berfikir.


“Nggak ada. Gue biasanya cuma minta sama temen aja.”


“Dih, nggak modal.”


“Bukannya nggak modal, memang malas aja. Paling juga parfum, itu juga gue simpan di loker, pakainya waktu jam olahraga aja,”


“Lo dapat info dari mana?” sambung Adelia bertanya. Sesekali memerhatikan jarinya yang menekan senar dan menghafal setiap kunci gitar.


“Alkar. Bentar lagi udah mau masuk, latihannya sampai sini aja ya.” Adelia menyetujuinya, menyimpan gitar dan kursi yang dipakainya ke tempat semula. Menunggu Izar untuk kembali ke kelas bersamaan, meski tak sekelas setidaknya ruangan mereka berdampingan.


“Gila! Banyak banget yang bawa make up!”


Puluhan bahkan ratusan dari berbagai jenis alat make up diletakkan di tengah lapangan dengan para pemiliknya dan harus siap disaksikan oleh seluruh siswa siswi di sekolah.


“Sonya aja ketangkap juga. Dia bawa apa memangnya?”


“Lipstik katanya,” jawab Raka ikut memerhatikan dari lantai dua, depan kelasnya.


“Lip tint lah namanya,” sahut Adelia membenarkan. Kedelapan cowok itu melempar pandangan ke paling kiri, di mana Adelia ikut berdiri memerhatikan siswa dan siswi yang sedang di hukum.


“Lo nggak kena ya? Hampir setiap cewek kena hukum padahal.”


“Dia kan team nggak modal. Tukang minta aja sama orang,”


“Seenaknya ya lo ngomong!” protes Adelia menjambak rambut Izar yang berada di sampingnya. Setelah puas, ia melepaskan tarikan dan kembali fokus ke lapangan.


“Pantesan muka lu buluk ya, glowingan juga adik kelas,” ejek Zharif yang tertawa puas setelah mendapatkan pelototan protes dari Adelia.


“Gue item juga gara lo sama Raka. Kalau nggak karena kalian, mana mungkin gue dihukum di lapangan kemarin.”


“Iya juga sih.” Raka membenarkannya dengan memperlihatkan cengirannya.


“Eh tapi, kok kalian pada nggak kena? Curang ya? Nanti gue bilang pembina deh, kalau kalian dapat info razia dari Alkar.”


Raka menarik kucir Adelia kesal, “Lo pikir kami apaan bawa make up kayak gitu. Cowok tulen gini, lo mah remehin Ravel,” ucapnya membingungkan.


“Kenapa jadi Ravel ya?”


“Ya iya, dia bilang kita cowok jadi jadian. Masa, Ravel sesempurna itu dibilang nggak normal. Kalau gue cewek juga, udah gue deketin tuh orang.” Mendengar kejujuran itu, mereka menjauh meninggalkan Raka yang sendirian. Memandang dengan tatapan aneh dan takut menjadi incaran selanjutnya.


“Gue baru tahu kalau ternyata si Raka diam-diam suka sama Ravel.” Adelia berbicara dengan Izar dengan gaya berbisik-bisik tetapi dapat didengar jelas oleh orang yang dibicarakan.


“Bangsat lo semua! Gue masih waras, woi!”


Raka terus mencoba mendekat tetapi tetap saja yang lainnya mengindar hingga Rosla, Sonya dan Dastin datang setelah menyelesaikan hukuman, “Kalian pada ngapain?” tanya Dastin memandang teman-temannya satu per satu.


“Lihat tuh! Mereka jahat bener, bilang gue nggak normal.”


“Lo dibilang nggak normal?” tanya Rosla meyakinkan pendengarannya dan Raka mengangguk membenarkan.


“Jadi, menurut lo kalau lo itu normal?”


“Yaiylah.”


Dastin menggeleng, “Memang nggak tahu diri,” hina Dastin kemudian pergi ke kelas bersamaan dengan suara tawa menggema mengejek Raka. Begitu puas menggejek bahkan hingga membuat mereka terbatuk-batuk.


“Mampus lo! Mampus! Makan tuh karma.” Dengan kesal, Raka kembali ke kelasnya. Meninggalkan teman-temannya yang saling memandang kemudian kembali tertawa.Suatu hal yang kecil tanpa sadar bisa membuat mereka bahagia. Moment terpenting seperti itu tak akan pernah terlupakan.