
Banyak orang yang bersembunyi di balik topeng
Berusaha terlihat baik-baik saja tapi nyatanya tidak
Berusaha membahagiakan orang tetapi dia lah yang butuh bahagia
Ia hanya tidak ingin membuat orang lain merasakan hidup yang hampa
Sama seperti dengan apa yang dia rasakan.
Maka, bersyukurlah ketika menemukan orang seperti itu
Dia akan mengorbankan kebahagiaan nya hanya untuk membuat orang lain bahagia.
****
Berkumpul di basecamp sudah menjadi kebiasaan buat mereka, apalagi besok libur sekolah sehingga sejak sore hingga menjelang malam mereka lebih memilih ngumpul di basecamp menikmati kebersamaan. Meski sibuk dengan kegiatan masing-masing setidaknya mereka berada di ruangan yang sama dan sesekali ada saja yang membuat ulah hingga tawa akan hadir begitu saja.
“Rak, jangan lupa kabarin ke anak baru kalau besok kumpul di alun-alun,” perintah Bian diantara keheningan yang terjadi ia membuka percakapan. Raka yang sejak tadi menonton anime mempause dan memandang kearah Bian. Raka paling berbeda dari yang lainnya, hanya cowok itu yang termasuk kedalam kategori Wibu.
“Besok mulai ya? Apa mau perkenalan dulu?” tanya Izar yang menghentikan permainan gitarnya. Tak hanya keduanya yang berhenti, semua akan menghentikan kesibukan mereka ketika Bian sudah membuka percakapan dalam mode serius.
“Janganlah. Kita kan udah sepakat bakal di seleksi. Ogah gue kalau gabung sama anak-anak yang cuma mau numpang tenar aja apalagi kalau cewek,” protes Sonya dengan suara yang tak terlalu jelas sebab cewek itu sedang maskeran.
“Alah, bilang aja lo cemburu kan kalau gue diganggu,” goda Alfar yang sedang bermain kartu dengan Alkar dan Okta. Meski masuk ke dalam kategori pendiam, tetapi kalau sudah bergabung mereka lebih memilih untuk bermain di bandingkan menyendiri. Meski, Bian sendiri sebagai ketua tidak melarangnya, tetapi keduanya tidak mau jadi berbeda dari yang lainnya.
“Tolong kantung dong. Mau muntah nih gue,” sahut Sonya memasang wajah seolah sedang mual.
“Awas aja lo kalau jatuh cinta sama gue.”
“Aduh, sumpah. Gue kok jadi benar-benar mau muntah ya.” Lagi-lagi Sonya mengejek Alfar yang menjadi bahan tertawa dari yang lainnya. Sonya si biangnya memilih pergi dengan tawa mengejeknya.
“Memangnya, banyak anak cewek yang daftar?” tanya Zharif yang meletakkan stick psnya kemudian mendekat kearah Bian yang sedang menikmati kacang rebus. Cowok itu tergoda ketika melihat Bian yang begitu asik memakan kacang rebus sendirian.
“Dari data yang gue lihat sih, lumayan. Dari angkatan kita ada dua orang cewek, satunya yang pernah gue ceritain anak taekwondo terus satunya kayaknya lebih kenal ke Sonya deh,” jawab Raka setelah mengambil dan melihat lembar-lembar data yang resmi masuk ke Svoteens, “Eh, cewek kemarin jadi masuk gak?” sambung Raka setelah melihat-lihat dan tidak mendapatkan nama cewek yang di carinya.
“Cewek yang mana satu?” tanya Bian balik.
“Beuh, sadis kali bos kita. Banyak kali kayaknya punya cewek sampai gak hafal. Waduh, udah belajar dari master playboynya nih,” sahut Alfar menyikut Zharif di sampingnya yang tidak terima dikatakan sebagai playboy. Zharif bangkit dan mengunci kepala Alfar dengan lengannya. Keduanya yang sama-sama pandai bela diri akhirnya memulai keributan dengan perkelahian kecil.
“Jangan sampai bercanda kalian jadi sumber masalah,” celetuk Ravel yang melepaskan sarung tinjunya dan melemparnya kepada kedua temannya yang masih melanjutkan perkelahian kecil itu.
Raka menggelengkan kepala, kemudian kembali pada Bian yang masih menunggu jawaban, “Adelia itu, yang katanya mau beli papan skateboard lo,” jawab Raka yang sontak membuat Bian membulatkan matanya. Bian baru saja teringat, sejak dua hari yang lalu dia belum memberi kabar ke cewek tersebut.
“Gaes, gue keluar sebentar,” pamit Bian yang berjalan ke rooftop sambil mencari nomor yang kemarin sempat disimpannya. Baru saja ingin menghebungi, Bian kembali mematikan handphonenya ketika melihat Gibran yang sedang sendirian memandang ke jalanan dengan puntung rokok di tangannya yang sesekali ia selipkan di kedua bibirnya.
Pantas saja, Bian sejak tadi tak menemukan cowok itu yang biasanya selalu membuat keributan dengan yang lainnya, “Sendirian aja lo,” sapa Bian dan mengembil tempat di samping Gibran yang hanya menoleh sejenak kemudian kembali dengan pikirannya yang berkelana.
“Mau cerita? Mungkin... gue bisa bantu lo.”
“Apasih, gue gak kenapa-kenapa,” protes Gibran yang melemparkan candaan sambil merangkul Bian.
“Gue memang baru kenal sama lo. Tapi, gue tahu mana orang yang baik-baik aja dan orang yang sedang tidak baik.”
“Gak ada. Gue cuma mau nyebat aja, mangkannya ke rooftop,” bantah Gibran menaikkan sebelah alisnya. Tangan kiri ia gunakan untuk menompang tubuhnya sementara tangan kanannya sedang memegang minuman kaleng yang diteguknya hingga habis.
“Oke. Gue tunggu sampai lo siap buat ceritanya. Ya, gue cuma mau ingatin kalau kita udah kayak keluarga, jadi jangan ada yang disembunyikan. Kalau lo masih kurang percaya, gak masalah, cerita sama orang yang lo percayai di kita.”
“Bukannya gue gak percaya sama kalian. Gue belum siap buat bagi semuanya.”
“Santai aja. Kami siap tunggu lo kapan aja.”
Deringan panggilan dari handphone Gibran membuat keduanya menghentikan percakapan, Gibran sesekali melirik kearah Bian yang menatap ke jalanan di bawahnya meski ekor mata cowok itu memerhatikan Gibran sejak cowok itu mengangkat panggilannya.
“Oke. Gue langsung pulang, lo jangan pergi sampai gue datang.” Setelah mendapat jawaban, Gibran memutuskan panggilan nya dan berdiri dari tempatnya.
“Gue cabut duluan ya, ada keperluan,” pamit Gibran menyalurkan tangan nya untuk bersalaman dan menyatukan ruang tangan mereka yang terkepal.
“Hati-hati. Lo pamit ke anak-anak dulu gih, gue masih betah disini,” ucap Bian yang diangguki beserta perginya Gibran menemui yang lainnya. Bian memerhatikan hingga Gibran menghilang dari pandangannya, iya sangat yakin bahwa temannya sedang tidak baik-baik saja.
Kembali ke keperluannya yang pertama, Bian kembali mengambil handphonenya dan mengirim pesan pada Adelia.
Adelia, kan? Gue Bian yang kemarin di stan. Besok ketemuan di alun-alun ya jam 9. Kabari gue kalau udah sampai, besok.
Baru saja satu menit ia mengirim pesan, Adelia sudah membalas pesan nya.
Okay. Alun-alun pintu mana ya?
Bian terdiam sejenak kemudian kembali menyentuh huruf-huruf pada handphonenya.
Pintu selatan aja.
Dan kali ini, Adelia menjawab pesan lebih cepat dari sebelumnya.
Okay kalau gitu.
Setelah mendapat balasan terakhir, Bian berdiri dan berjalan menemui teman-temannya kembali yang sebagian sudah tak sadar. Sementara, Sonya sudah tidak ada lagi di tempat. Sudah pasti cewek itu pulang lebih awal.
“Tadi Sonya titip salam, tadinya mau pamit tapi lo lagi asik main handphone katanya,” ucap Raka yang masih tetap setia menonton film anime.
“Sama siapa dia pulang?”
“Sama kembar tadi.” Bian menganggukinya lalu mengambil tempat di sofa dan membaringkan tubuhnya dengan mata terpejam. Melihat tidak ada lagi pergerakan dari Bian, Raka akhirnya kembali melanjutkan menonton.
*****
Bian memerhatikan satu per satu anggota yang masih sebagai calon dalam komunitas nya. Memang, dilihat dari jumlahnya lebih banyak dari yang di perkirakan tetapi hasilnya belum dapat di pastikan karena mereka masih perlu menyeleksi nya. Raka dan Sonya sedang memberikan beberapa pemberitahuan sementara yang lainnya sudah pada berlatih.
“Apaan sih, gue pikir bakal langsung masuk. Tahunya pakai di seleksi segala, sok bermutu kali sih. Padahal gak diresmikan dari sekolah.”
Perkataan yang didengar oleh Bian membuatnya kesal hingga akhirnya ia mengambil langkah mendekat, “Gak ada yang memaksa kalian untuk ikut, kalau gak bersedia dengan ketentuan silakan keluar. Kalau kalian bilang ini gak bermutu, silakan puaskan berkomentar, orang hebat berawal dari kedisplinan. Kalau kalian gak mau di atur, silakan keluar sekarang juga,” ucap Bian yang tanpa sadar berbicara dengan intonasi suara yang tinggi. Hingga yang sedang latihan, mereka memilih berhenti begitu juga dengan Sonya dan Raka yang saling menyikut bertanya penyebab perubahan dari ketua mereka.
“Yang berkomentar tadi silakan berdiri! Jangan sampai gue tarik lo buat berdiri.”
“Berdiri!” perintah Bian setelah tak ada satupun orang yang bergerak. Hingga di tengah keheningan, cowok berkulit coklat dengan tubuh yang jangkung berdiri di antara banyaknya orang yang menyaksikan.
“Waktu di sekolah kemarin gak dapat pemberitahuan sesuai lembaran peraturan yang dibagikan tadi, silakan berdiri. Paham kan maksud gue? Yang gak dapat informasi kalau ada penyeleksian, berdiri sekarang juga!”
Bian memandang ketiga orang yang sudah berdiri di hadapan nya saat ini dengan ekspresi ketakutan, “Kemarin, lo daftar nama sama siapa?” tanya Bian pada cowok yang pertama kali berdiri diantara yang lainnya.
“Sama... Bang Raka,” jawabnya setelah jeda beberapa saat, menjawabnya sambil memandang Raka yang memerhatikan keduanya.
“Rak, ambil posisi push up!” perintah Bian pada Raka yang menghela nafas pasrah. Ia tidak bisa membantah, karena itu sudah kesepakatan yang dibuat sebelumnya. Ia menyerahkan lembaran kertas pada Sonya dan langsung mengambil posisi push up.
“Lo sama siapa?” tanya Bian tetapi tak kunjung mendapatkan jawaban, “Jawab! Gak usah takut kalau mereka macam-macam sama lo, bilang sama gue!” sambung Bian dengan intonasi yang tinggi. Belum juga menjawab, Zharif sudah mendekat menyerahkan dirinya.
“Gue, Bos.” Zharif langsung mengambil posisi di samping Raka yang keduanya saling memberikan ejekan.
“Gue. Gak usah lo tanya lagi, gue penanggung jawab tuh anak.” Belum juga mengeluarkan suara, Alfar sudah melompat dari posisinya berdiri hingga mengambil posisi push up.
“Sekarang, gue tanya. Lo bertiga masih mau lanjut apa enggak? Kami gak mempermasalahkan, tapi kalian harus terima dengan peraturan yang ada. Udah baca peraturan yang tadi, kan?” tanya Bian pada ketiganya yang mengangguk.
“Jadi, mau lanjut apa enggak?”
“Gue lanjut Bang, sorry soal yang tadi.” Bian menganggukinya, dan menyalukan tangannya yang membuat cowok tersebutkebingungan. Setelah melihat uluran tangan, Bian memukulnya dan kembali menunjukkan baku-baku jarinya yang langsung dimengerti oleh cowok itu.
“Lo duduk! Kalian berdua?”
“Lanjut bang,” jawab keduanya berbarengan lalu kembali ke posisi setelah mendapat perintah dari Bian. Setelah sudah yakin selesai, ia menemui ketiga temannya yang sudah ribut saling menghina satu sama lain.
“Push up 50 kali!” perintah Bian yang mendapatkan wajah cengo dari ketiganya. Bian melipat kedua tangannya menatapi ketiga temannya yang memelas memohon pengurangan hukuman, “Ngebantah? Yaudah, 100 jadinya,” sambungnya menahan tawa mendengar protesan yang lebih banyak.
“Mangkannya, telinga itu di pasang. Terus, memori otak di ganti deh. Baru juga paginya di kasih arahan, siangnya udah lupa aja.”
“Yaudah, 30 kali. Besok-besok kalau kalian gini lagi, gak ada pengurangan.”
Zharif dan Alfar langsung push up dengan lihai, berbeda dengan Raka yang kesusahan karena ia terbilang jarang olahraga. Berbeda keduanya yang dari badan saja sudah terlihat kalau Raka dibawah keduanya.
“Gue tinggal bentar ya, ada keperluan.”
Bian melirik jam tangan di pergelengan tangannya, sambil berlalu meninggalkan yang lainnya untuk bertemu dengan Adelia sesuai janjinya. Baru beberapa menit berjalan menuju pintu utara, ia sudah mendapat kabar dari Adelia yang sudah tiba di tempat. Ia meletakkan skateboard di tanah dan menggerekkan kaki kanannya, mengatur kecepatan agar tiba lebih cepat.
Sesekali ia kembali menginjak bagian tail dari decknya kemudian mengangkat skateboardnya pada bagian nose. Setelah melewati tangga, ia kembali menjatuhkan papan skateboardnya lalu memainkannya kembali.
“Sorry gue telat.”
Adelia yang sejak tadi memainkan handphone dalam keadaan berdiri, kedatangan Bian membuatnya menghela nafas lega. Ia pikir, Bian lupa karena tak kunjung membalas pesannya dan begitu juga dengan membacanya.
“Oh, oke. Gak masalah,” jawab Adelia seadanya. Bian mengajak jalan, hingga keduanya berjalan beriringan tanpa percakapan. Hening, keduanya lebih memilih diam dan ragu untuk memulai percakapan. Hingga, Bian yang tak menyukai suasana ini akhirnya mengalah.
“Jadi, cowok lo juga suka main skateboard?”
“Hah? Cowok?” Adelia memandang Bian dengan kening yang berkerut, sepertinya cowok itu salah mengartikan kalau dia membeli barang yang untuk cowok itu, mungkin di kira untuk pacarnya, “Ah, maksud gue cowok itu, buat adik gue. Bukan seperti dugaan lo,” jelas Adelia yang di balas Bian dengan cengengesannya.
“Sorry. Jadi, adik lo? Kelas berapa?”
“Baru masuk SMK. Dia mau ulang tahun, jadi ya gue gak ngerti soal ini. Teman-teman gue juga gak ada yang punya hobi kayak gitu, untung aja kemarin gue ikut temani teman gue buat cari ekstrakulikuler itu.”
“Eh, teman gue juga gabung ke komunitas kalian tuh.”
“Oh ya? Siapa?” tanya Bian yang berusaha ikut dalam pembicaraan setidaknya untuk mengubah suasana yang semula nya kaku agar lebih rileks. Ya, untung saja Adelia bukan tipe orang yang pendiam, jadi ia tidak perlu mencari topik pembicaraan.
“Rosla Fara. Kemarin dia daftar sama Sonya.”
“Ah, gue gak tahu orangnya,” jawab Bian menyentuh tengkuknya canggung.Sementara, Adelia membalasnya hanya dengan senyuman. Keduanya menghentikan percakapan ketika sudah berada di toko yang di maksudkan oleh Bian. Adelia lagi-lagi dibuat terpana dengan dekorasi dan arsitektur toko tersebut.
“Bang Ro! Barang yang gue pesan kemarin masih ada?” tanya Bian meletakkan kedua tangannya pada meja panjang itu, tempat yang di jadikan untuk pembayaran. Bang Ro, pemilik nama itu bangkit dari bangkunya sampai pandangan Adelia bertemu dengan Rosfdy.
“Cewek lo? Pintar juga lo cari cewek, Bro. Cakep,” tutur Ro menepuk pundak Bian dengan kekehannya. Bian yang mengeluarkan protes sambil menyingkirkan tangan Ro di pundaknya sambil mendecak membuat cowok itu mengeluarkan tawa mengejek.
“Panggil aja nama orang jelek di samping gue ini, Bang Ro,” celetuk Bian memperkenalkan. Ro menyikut perut Bian, tidak terima dengan ejekan cowok tersebut yang menyebutnya jelek. Ya kalau dibandingan oleh Bian, Ro memang kalah. Tetapi, berkat gingsul serta bulu mata panjang cowok itu menurut Adelia masih lumayan meski memiliki kulit kecoklatan.
“Adelia.” Adelia membalas menjabat tangan Ro yang masih berangkulan dengan Ro.
“Yaudah, lo lihat-lihat aja dulu. Kalau ada cocok nanti diperbandingkan sama papan yang udah gue pesan sebelumnya.” Adelia menganggukinya, dan melangkahkan kaki meninggalkan kedua cowok yang langsung berbincang.
“Kebetulan lo datang, ada barang baru tuh. Mau?”
“Boleh. Sekalian sama pesanan gue, Bang Ro.” Bian mendekati Adelia yang masih mengamati mulai dari papan, sepatu, dan peralatan lainnya.
“Lo mau lihat yang sepaket gak?”
“Sepaket itu apa aja?”
“Tergantung sih, ada yang papan, sepatu sama tas. Ada yang juga papan, sepatu sama topi. Ada juga yang lengkapnya, dari papan, sepatu, tas, topi terus kaos kaki.” Adelia mengangguk dan menyetujui, ia pun mengikuti Bian yang berjalan menaiki anak tangga hingga ke lantai dua. Mereka bertemu dengan Ro yang sedang mengambil papan skate dan meletakkan di meja besar.
“Ini barang barunya, sama itu pesanan lo yang ada sepaketnya. Kali aja lo mau.”
Bian menelengkan kepalanya, mengajak Adelia untuk melihat pesanan dia yang memang sebelumnya di pesan untuk Adelia, “Gimana?” tanya Bian setelah memerhatikan Adelia yang sejak tadi hanya menatap peralatan skateboard itu yang tersusun rapi.
“Sentuh aja. Gak usah takut, silakan di lihat kualitasnya.”
“Gak paham soal kualitas atuh bang. Ambil sepaket deh bang, berapaan ya?” Adelia membalikkan badannya, menoleh pada Ro yang sudah meletakkan lengannya pada bahu Bian.
“Abang kasih diskon deh, tapi... lo jawab dulu, punya hubungan apa sama si curut ini?”
“Bang, jangan ngaco deh. Lo buat dia gak nyaman tau,” protes Bian menendang tungkai kaki Ro kemudian menjauh, “Ayo, bayarnya di bawah. Bang, barang nya antar ke rumah dia aja,” sambungnya mengikuti Adelia yang sudah turun lebih awal.
Setelah melakukan pembayaran, keduanya kembali berjalan beriringan. Bian pun mengajak Adelia untuk melihat teman-temannya yang lain, kebetulan juga teman Adelia termasuk bagian dari anggota Svoteens.
*****
“Oke. Kita istirahat dulu ya. Kalian bisa ambil minuman di mobil. Udah ada yang jaga tuh,” ucap Raka mengintruksi bersamaan dengan bubarnya calon anggota menuju mobil untuk menyegarkan dahaga. Baru saja ia ingin melangkah, kedatangan Bian dengan Adelia membuat cowok itu mengulas senyum. Begitu juga dengan yang lainnya, kebingungan karena tidak mengenal cewek yang bersama dengan Bian.
“Bos gue ternyata udah besar ya,” celetuk Zharif berteriak dan langsung mendapatkan pelototan dari Bian. Bukan hanya Zharif, Alfar juga ikutan menggoda hingga Adelia mau tidak mau menjadi tertunduk untuk menyembunyikan wajahnya.
“Wih, mancay kali ketua kita. Udah dapat gandengan aja, Pak?” Robert yang juga datang ikut menggoda Bian dengan suaranya yang lantang. Bian hanya bisa menggelengkan kepalanya, berjalan dengan santai meski matanya menyorot pada temannya satu per satu.
“Lo Adelia, kan?” tanya Izar setelah Adelia tiba di dekatnya dan Sonya. Adelia memandang Izar sejenak kemudian mengangguk, dia gak kenal dengan Izar tetapi dengan cowok itu yang mengetahuinya membuat Adelia kebingungan, “Lo ceweknya Hargi, kan?” tanya Izar kembali yang membuat tak percaya bagi yang mendengar dan mengenal Hargi. Anggukan Adelia meyakinkan Izar dengan apa yang pernah ia lihat.
“Dia pacarnya cowok itu?” Raka langsung mendekat, menatap Adelia seolah meyakinkan bahwa yang di dengarnya benar atau tidak. Anggukan Adelia dengan raut kebingungan membuat Raka menghela nafas gusar, “Lo kenapa harus jadian sama abang tiri gue sih? Dia itu playboy, astaga,” sambung Raka menggelengkan kepala tak percaya.
“Memangnya kenapa sama Argi?"
“Lo udah berapa lama sama dia?” tanya Zharif yang langsung nimbrung ke obrolan. Hampir semua mengenal Hargi, sebab Raka sering menceritakan tentang cowok itu, dan lagi Raka orang yang terbuka, tidak menyembunyikan apapun dari mereka.
“Mau setengah tahun lah.”
“Bah, beda dua bulan sama Kesya,” umpat Alfar yang memandang ke seluruh temannya kemudian melihat Adelia menggeleng.
“Kalian kenal sama Argi juga?”
“Siapa sih yang gak kenal sama cowok...” Baru saja ingin menjelaskannya, Raka langsung mendapatkan tatapan dari Bian untuk tidak mengatakannya.
“Sudahlah, itu urusan dia sama Argi. Kalian gak usah ikut campur.”
“Aduh, Bian. Lo sendiri punya adik cewek, kan? Gimana rasanya kalau lo punya adik cewek tapi di permainkan sama orang lain.” Kali ini Ravel membuka suara, ia ikut menyetujui dengan yang lainnya karena dari penglihatannya, Adelia bukan anak cewek yang buruk.
“Udah, jangan cari ribut kalian. Kebohongan gak akan bertahan lama.”
“Sebenarnya, ada apa sih dengan Argi Mempermainkan apa ya?”
“Nanti lo tahu sendiri, intinya lo jauhi Hargi.”
Perkataan dari Izar menjadi penutup dari perbincangan mereka, Sonya menepuk tangannya memanggil semua anggota untuk kembali ke barisan. Begitu juga dengan anggota inti yang berdiri di hadapan anggota baru keseluruhan.
“Adel, tunggu sini sebentar ya. Gue titip barang, soalnya mau pada kumpul semua.” Adelia mengangguk, menyetujui permintaan dari Sonya yang saat itu juga pergi menyusul yang lainnya.
“Oke. Jadi, kali ini kita bakal ada sesi perkenalan sama anggota inti. Nah, sebelah kanan gue ini anggota lama, ada 7 orang anggota inti yang duanya sudah pindah kota dan satunya Bian sebagai ketua baru. Nah, sebelah kiri gue ini ada 10 orang sudah dengan adanya Bian sebagai Ketua. Jadi, untuk lebih lanjutnya, mereka akan memperkenalkan diri masing-masing.”
Raka mengambil langkah mundur dan berdiri disamping Zharif, sementara Robert duluan maju untuk memperkenalkan dirinya.
“Okay gue Robert Roy. Ketua yang disebut sebagai generasi pertama. Mungkin beberapa udah pada tahu kalau gue kelas tiga. Ya, meski gue sudah tidak menjabat sebagai ketua tapi sesekali gue bakal bantu kalian untuk belajar. Dan gue harap kalian bersungguh-sungguh dengan komunitas ini." Robert hanya mengatakan sepatah dua kata, kemudian mundur dan menepuk pelan pundak Fio.
“Hay, gue Fio Andini. Gue sepupu Robert dan satu-satunya cewek di generasi pertama. Gue menjabat sebagai sekretaris sekaligus bendahara sama kayak Sonya. Dan gua turut senang kalian bergabung, padahal dulu anggota gak sebanyak ini. Pokoknya, berusaha lah untuk jadi yang terbaik.”
“Gue Nelson Aldian. Ya, kalian gak bakal ketemu gue di sekolah. Jujur, gue semulanya anggota sampai karena suatu kebodohan gue akhirnya gue keluar dari sekolah dan keluar dari komunitas ini. Kalau kalian mau tahu kesalahan gue, gue dulu pecandu narkoba. Iya, gue ngelanggar aturan komunitas sampai gue ngundurin diri dan melakukan rehabilitas.” Nelson memandang satu per satu temannya, dan rangkulan beserta jitakan dari Robert mampu membuatnya tertawa,
“Kalau bisa di bilang, gue nyesal, benar-benar nyesal berada di posisi itu. Gue berharap dengan berceritanya gue di sini, bukan menjadikan kalian buat ikut ke jalan buruk gue, gue mau kalian berhenti berfikir tentang di sana. Kenapa? Karena masalah tidak akan di selesaikan dengan itu. kalian punya sahabat dan keluarga, anggaplah kita semua ini keluarga. Jadi sebagaimana kesulitan kalian kami akan berusaha untuk membantu kalian. Kalian gak sendiri, itu intinya,” sambungnya, mengakhiri dengan senyuman.
“Michael? Lo lagi!” perintah Bian pada Michael yang sejak tadi hanya memerhatikan dari belakang, bersandar pada tubuh Alfar dengan tangan yang terlipat di depan dada nya.
“Duh, malas gue. Lo aja deh, gak ada kesan-kesan nya hidup gue. Gak bisa jadi pelajaran,” protes Michael mendumel. Fio yang melihat sikap Michael menarik telinga cowok itu hingga tiba di depan diantara yang lainnya.
“Gue Michael Rolan. Panggil Mike. Kelas dua. Agama Kristen. Jabatan sebagai penasehat. Dan gue berhenti karena fokus sekolah,” ucap Michael dengan raut malasnya, bahkan ia sempatnya menguap di hadapan yang lainnya. “Udah kan? Di bilang agak menariknya hidup gue. Ngeyel sih,” sambungnya protes dan menyingkir dari yang lainnya.
“Kita gak usah kenalan deh, nanti juga kenal sendiri. By the way, Gibran belum datang juga?” tanya Raka mengedarkan pandangan nya kesekeliling. Tetapi, tak menemukan Gibran diantara keramaian.
“Eh iya, pantesan tadi kok berasa ada yang kurang. Sohib gue menghilang ternyata,” celetuk Zharif langsung mengeluarkan handphone nya dan mendial nomor Gibran sambil memandang mencari keberadaan teman nya tersebut, “Anjir, gak diangkat.” Zharif kembali menghubungi tetapi tetap tak ada balasan.
“Tadi sih katanya udah di jalan, paling bentar lagi sampai. Tahu aja rumah nya kan jauh dari alun-alun,” jawab Bian setelah mengecek handphone nya yang tak lagi mendapat kabar dari Gibran, “Lo pada lanjut kegiatan lain aja, biar gue yang nyusul dia.” Bian memasukkan handphone nya lalu berlari dengan cepat menuju parkiran untuk mengambil motornya. Belum saja sampai di parkiran, Bian tanpa sengaja melihat Gibran yang memerhatikan dari jauh dengan wajah yang berbeda.
“Gib? Wajah lo kenapa?!” tanya Bian ketika berdiri di depan Gibran yang langsung memakai topi dan masker mulut untuk menutupi lukanya. Bian yang tidak tinggal diam, langsung mengambil topi dan menurunkan masker tersebut.
“Lo gak bisa terus menerus bersembunyi. Gue mau, sekarang lo ceritakan semua masalah lo,” perintah Bian dengan nada serius. Gibran menghela nafas, mau tidak mau ia harus menceritakan semuanya tanpa kebohongan sedikitpun. Dan penjelasan tersebut berhasil membuat Bian terkejut tak percaya dengan apa yang di alami oleh temannya tersebut.