
Berada di situasi ujian terakhir agak melegakan sekaligus merumitkan sebab sebagian besar orang lebih giat belajar pada hari pertama dan rasa malas akan selalu tiba menjelang hari terakhir ujian, salah satunya saat ini. Masih ada puluhan orang lainnya yang masih berada di kelas mengerjakan soal, sementara waktu akan habis dalam beberapa menit ke depan.
Satu per satu mengumpulkan lembaran jawaban. Kini, suasana makin mendebarkan untuk yang masih berada di ruangan. Mengerjain soal dengan cepat, menyusul temannya yang sudah berada di luar menunggunya. Tetapi, semua itu tidak berlaku untuk mereka setelah satu minggu mendengarkan arahan dari Alkar.
Tiga belas orang itu masih duduk di tempat, mengerjakan soal masing-masing atau menelitinya kembali hingga waktu habis. Ketimbang menghabiskan waktu di luar, mereka sepakat menghabiskan waktu penuh ujian untuk menyelesaikan soal.
“Waktu tinggal sepuluh menit lagi.” Wali kelas yang menjadi pengawas di hari ujian terakhir, memerhatikan anak didiknya yang tersisa di dalam ruangan. Tak ada suara selain dari kertas yang di bolak-balikkan oleh pemiliknya.
“Jangan terlalu serius dong! Sepi banget nih, nggak seru. Nyontek dong, Rak. Biasanya juga kalau ngerjain latihan nyontek,” goda Bu Rara yang tidak mendapatkan respon dari lainnya sebab mereka sudah taruhan jika bersuara maka akan mentraktir semuanya malam ini.
Begitu juga kelas lainnya yang juga tak kalah heningnya. Di ujung kelas, Gibran sudah menghabiskan banyak penghapus hanya untuk memperbaiki jawaban essainya. Sementara, Alfar sudah menggigit belakang penanya, memikirkan jawaban dari pertanyaan yang pernah dibacanya, kemudian menyilang huruf b.
“Waktu sudah habis,” ucap Ibu Vita bersamaan dengan bell berbunyi, sebagai tanda ujian berakhir dan masa merumitkan itu akan terjadi lagi dalam beberapa bulan ke depan.
“Kalian berdua ngapain lama-lama ngerjain, paling juga jawabannya nggak semuanya benar.” Izar yang akan keluar kelas menghentikan langkahnya, kemudian membalik menghadap wali kelasnya kembali.
“Memang, nggak menjamin nilai sempurna. Tapi, setidaknya dia masuk KKM dan sudah berusaha dibandingkan dengan yang lainnya, lebih memilih menyontek atau menjawabnya ngasal.”
“Saya juga setuju yang dikatakan oleh Izar. Seharusnya ibu kagum dengan mereka, biarpun mereka nakal, mereka tetap menjalankan perintah kepala sekolah untuk keluar kelas setelah bell berbunyi bukan sebelumnya,” sahut Ravel kemudian keluar dari ruangan kelasnya.
Mereka melangkah ke kelas IPS 2 yang masih diberikan izin untuk meneliti soal kembali. Ibu Rara tersenyum menyapa, “Kalian baru pada keluar?” tanyanya.
“Kenapa pada asem gitu mukanya? Memangnya soalnya susah? Iya, Izar? Soalnya susah ya?” sambungnya bertanya.
“Kalau menurut saya enggak bu. Tapi ibu sih salah nanya sama saya, tanya tuh yang sering jadi biang kerok masalah,” sahut Izar membuat Ibu Rara tertawa dan berjalan ke pintu kelas.
“Jadi, yang biang kerok, gimana soalnya?” tanyanya menyandar pada pintu kelas, menahan tawa melihat Alfar dan Gibran.
“Masuklah bu KKM. Ya cuma, tahu aja wali kelas kami yang satu kubu sama Pak Begu. Masa, ngumpul waktu bell kena semprot dibilang sok pintar,” keluh Alfar mengadu.
Gibran mengangguk membenarkan, “Nggak apa. Orang hebat berasal dari mereka yang merendahkan. Jadi acuan dong, buktikan kalau kalian tidak seperti yang dibilang orang-orang itu. Pendapat orang itu nggak akan ada habisnya.”
Ibu Rara pamit sejenak, melangkah ke meja guru dan menunggu pengumpulan lembar jawaban. Setelah itu, semua berkumpul di dalam ruangan untuk membagi cerita ke guru bimbingan konseling tersebut.
“Jadi, kalian belajar bareng kapan?”
“Seminggu sebelum ujian sih, Bu,” jawab Sonya mewakilkan yang lainnya, menarik kursi dan duduk di samping guru kesayangannya.
Ibu Rara mengangguk, “Sebentar juga, tapi dari hasil kalian memuaskan, ada peningkatan terutama buat Raka, Gibran, Zharif dan Sonya. Yang lebih mengejutkan, Alfar peningkatannya tinggi kali.” Mereka menatap Alfar dan memberi salutan dengan pencapaian tersebut.
“Nah, yang ibu khawatirkan ke kamu, Bian. Kamu ada masalah apa? Nilai kamu menurun walaupun nggak jauh tapi takutnya seterusnya akan menjadi masalah.” Suasana berubah menjadi hening, sementara Bian menggaruk tengkuknya bingung.
“Paham, Bu.”
“Yaudah, ibu ke kantor dulu ya. Kalau ada kegiatan, jangan lupa dong hubungi Ibu. Ibu kan juga mau jadi anak gaul.” Selepas kepergiannya Bu Rara, semua berkumpul menatap ke arah Bian dan mengelilingi cowok tersebut, menuntut penjelasan yang seharusnya mereka ketahui.
“Gue benar-benar ngerasa kacau, Bi. Lo tanggung jawab gue di kelompok, dan gue pikir lo sesuai harapan gue. Mangkannya, gue lebih fokus ke Gibran dan Adelia.” Ravel mengela gusar, menyandarkan tubuhnya di bangku menunggu penjelasan.
“Eng, kayaknya gue tunggu di luar aja deh.” Ravel menarik tangan Adelia untuk menyuruhnya kembali duduk di tempatnya.
“Gue rasa ini ada hubungannya sama lo.” Adelia cengo, memandang yang lainnya tak memberikan kejelasan selain memandang Bian minta penjelasan.
“Dari awal lo buat kita bingung, Bi. Lo nggak biasanya jarang bicara gini. Lo ada masalah? Cerita! Lo maksa kami cerita, nyuruh kami cerita masalah ke lo, meyakinkan lo bisa dipercaya tapi lo sendiri nggak percaya ke kita.”
Bian mengangkat kedua bahunya, menompang kepalanya pada tangan kiri, memandang teman-temannya yang memaksanya untuk bicara. Ia terus berusaha menahan diri tidak tertawa melihat ekspresi khawatir dari temannya.
Pletak!
Dastin sudah tidak bisa menahan diri, ia memukul lengan Bian dengan kertas soal yang digulungnya, “Senang gue, banyak banget yang khawatir sama gue.” Bian tertawa kecil, menyandarkan tubuhnya dengan kaki yang bertumpu pada kaki lainnya.
“Nggak ada masalah yang serius. Cuma beban gue makin bertambah gara-gara si Zharif. Dua minggu lebih si Kath puasa ngomong sama gue, bahkan udah nggak terlihat di matanya.”
Zharif tertawa keras mendengarnya, bahkan hingga ia memegang perutnya yang sakit karena tak berhenti tertawa, “Pintarnya cewek gue,” ucapnya membanggakan.
“Jadi, masalah sebelumnya apa?” tanya Rosla yang berhasil membuat tersentak kaget. Ia tidak menjawab melainkan memberikan senyuman tipis tapi pahit.
“Entahlah, gue cuma takut untuk berakhir yang sama seperti anak lainnya.”
“Anak lainnya? Maksud lo?”
Bian menghela gusar, “Orang tua gue bertengkar seminggu yang lalu. Bahkan, bokap gue sampai pindah ke apartemen.” Zharif terdiam mendengarnya, begitu juga dengan yang lainnya memerhatikan Bian, yang masih memperlihat senyuman tipisnya.
“Nggak percaya gue! Kita semua hampir tahu gimana nyokap sama bokap lo yang bahagia.”
“Yang terlihat tidak menjamin seperti apa sebenarnya. Tapi, yang gue lihat orang tua lo itu saling sayang, Bi. Menurut gue memang ada kesalahpahaman dan lo sebagai anak yang paling besar harus cari jalan keluarnya,” ucap Ravel.
“Kath tahu?”
“Enggak. Gue nggak mau buat dia beban. Masalah lo sama dia aja udah buat dia berubah gitu.”
“Cuma satu jalan keluar, lo ajak orang tua lo bertemu dan bicarakan semuanya.” Bian menyetujui saran dari Izar. Mereka akhirnya menghentikan percakapan dan pulang untuk bersiap-siap karena setelah ini party akan segera di mulai.