
Alunan musik dari Eminem – Not Afraid terdengar begitu keras. Mobil yang sangat jarang ada di Indonesia membuat beberapa pandangan beralih. Tak hanya dari jenis mobil dan musik yang terdengar, tiga cowok yang tengah asik memainkan papan skateboard semakin menarik perhatian banyak orang.
Jalanan di sekitar perumahan elit sudah pasti sepi, sehingga memudahkan mereka untuk berolahraga pagi lebih awal sebelum masuk ke lingkungan yang bagi mereka membosankan, apalagi kalau bukan sekolah.
“Makin lelet aja lo, Far. Mangkannya jangan nyebat mulu,” komentar Sonya yang sejak tadi menghadap ke belakang, memperhatikan ketiga temannya yang mengejar mobil dengan papan skateboard.
“Bawel ah lo! Kayak pernafasan lo se gede tong aja.”
“Emang iya,” jawab Sonya memeletkan lidahnya, kemudian kembali ke posisi duduk menghadap keenam temannya lagi yang asik dengan kesibukkan masing-masing. Izar yang sibuk dengan gitar di tangannya, Ravel yang sibuk dengan game di gadgetnya, dan Zharif serta Gibran yang tengah sibuk bermain kartu.
Di antara keempatnya yang duduk di hadapannya, lain halnya dengan dua cowok yang terkenal dengan kejeniusannya. Okta dan Alkar berada di bagian depan mobil, menyetir dan membicarakan tentang pengetahuan yang sama sekali tak dipahami oleh Sonya.
Berada di antara kesembilan cowok dengan karakter yang berbeda, awalnya membuat ia risau dan tidak masuk akal. Belum lagi, ia hanya satu-satunya cewek yang harus memahami keadaan dari kesembilannya. Tetapi, dibalik semuanya ia mengerti dan merasa nyaman. Mereka menghadapinya layaknya Ratu-menuruti semua keinginannya-. Setidaknya, Sonya mensyukuri itu.
“Woi! Buruan naik! Setengah jam lagi mau masuk nih,” ucap Zharif menampakkan wajahnya keluar mobil dan pintu samping langsung dibuka oleh Gibran. Okta tak menghentikan mobilnya, hingga Bian, Alfar dan Raka langsung berlari mengejar mobilnya dengan menenteng papan skate di tangan mereka.
Bian dan Alfar sudah berada di atas mobil, berbeda dengan Raka yang berlari ke pinggir jalan setelah melihat cewek yang mengenakan seragam sekolahnya. “Cepat naik!” perintah Raka yang langsung meletakkan papan skate ke jalan dan kaki kanannya berada di atas papan skate.
“Maksudnya?”
“Lo bakal telat kalau jalan kaki. Cepat naik ke papan skate gue! Biar susul mobil teman gue tuh, keburu jauh.”
Dan Raka bersyukur dengan jalan yang sedikit miring, memudahnya untuk mengatur lebih banyak kecepatan. Hingga Sonya akhirnya menyuruh Okta menghentikan mobil. Raka dan cewek yang bersamanya langsung masuk ke mobil. Gelak tawa mengisi ruangan membuat suasana tampak ramai, meski begitu sebagai cewek yang tak kenal dengan para penghuni harus merasakan kecanggungan.
“Ini silakan diminum.” Sonya menghampiri dan memberikan air mineral yang diambilnya dari box pendingin.
“Terima kasih.”
“Santai aja. Gak usah canggung, mereka gak bakal aneh-aneh kok.”
“Son, baju gue tadi mana sih?” tanya Raka membalikkan badan setelah sejak tadi sibuk mencari seragamnya di bagian tempat penyimpanan.
“Lo itu ya, gue cewek! Masih aja sebut gue Son. Tuh di atas pala lo emang baju siapa sih?”
“Ya gak tahu aja kalau dia rabun. Baju tepat di depan mata aja gak nampak, apalagi aku yang di depan matamu,” sahut Zharif yang mendapat sorakan dari lainnya.
“Yailah, si playboy ini mulai deh,” jawab Bian akhirnya, setelah sekian lama duduk mendengar dan memperhatikan teman-temannya.
Mobil yang dibawa oleh Okta tanpa sadar sudah berhenti di parkiran sekolah khusus untuk pelajar. Hanya butuh lima belas menit, Okta sudah membuat mereka tidak mendapatkan hukuman di hari pertama masuk setelah liburan kenaikan kelas.