Svoteens

Svoteens
Episode 22



Upacara bendera telah selesai setelah melalui panjangnya amanat yang disampaikan oleh kepala sekolah. Seluruhnya tidak diizinkan kembali ke kelas, melainkan tetap di tempat dan duduk di lapangan untuk mendengar intruksi lanjutan.


“Saya mendapatkan laporan kalau banyak yang melanggar aturan. Jadi, untuk hari ini kita akan mengadakan razia kembali. Keseluruhan dan dibantu oleh guru-guru yang lainnya.”


Suasana berubah menjadi begitu menakutkan, belum lagi dengan lima guru yang sudah memainkan gunting di tangannya untuk mencari mangsa dan memuaskan diri. Tidak ada yang bisa untuk kabur, bahkan info razia hanya diketahui oleh guru-guru saja.


“Saya begitu bangga dengan Gibran yang bisa berulang kali menghindari razia,” celetuk Kepala Sekolah menyindir Gibran yang menyengir mendengarnya. Gibran sudah setahun membiarkan rambutnya panjang bahkan sudah bisa diikat seperti saat ini.


Semua hanya bisa menerima keadaan. Beberapa barang yang sudah selayaknya disita diletakkan di bagian depan, dan mengejutkannya puluhan papan skateboard menjadi salah satu barang incaran untuk razia kali ini.


“Kalian pada bawa ya?” tanya Alkar memandang satu per satu temannya. Bagian anggota inti, ada sekitar lima orang yang membawa dan selebihnya berasal dari anggota lainnya.


“Kacau nih, sebentar lagi bakalan ada perlombaan. Gue nggak menjamin kalau kita bisa latihan dengan baik.”


“Jadi, bagaimana, Bi?” tanya Alfar pada Bian yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan teman-temannya.


“Nanti gue cari solusinya. Gue usahakan bicara sama Kepala Sekolah.”


Semua barang yang disita sudah terkumpul di sebelah Kepala Sekolah, salah satunya buku lima yang membuat suasana bertambah menjadi ricuh, mencari tahu siapa pemilik barang tersebut.


“Gue tahu itu punya siapa,” cicit Raka menatap barang yang diangkat tinggi-tinggi itu. Sementara, teman-temannya memandangnya untuk meminta jawaban dari pertanyaan di kepala mereka, “Gue pernah lihat si Vino bawa barang itu,” sambungnya.


“Serius lo?”


Raka menganggukinya, “Tapi, dia itu orang yang paling super licik. Gue jamin nggak akan ada yang tahu siapa pemiliknya.”


Sesuai perkataan Raka, tidak ada yang berhasil mengetahuinya bahkan para guru lebih memilih untuk menyerahkannya pada guru BK untuk mencari dalangnya.


*****


Semua anggota dan siswa-siswi lainnya menyaksikan dengan jelas bagaimana papan skateboard yang patah serta dibakar di belakang sekolah. Bian datang dengan wajah kusutnya, merasa bersalah ketika melihat pandangan temannya tertuju untuknya karena tak berhasil mencegahnya.


Di balik kekecewaan mereka, beberapa orang terang-terangan mengejek penderitaan tersebut. Mereka meninggalkan halaman belakang sekolah dan kembali ke kelas untuk tidak melampiaskan emosi pada orang lain.


“Jadi bagaimana solusinya? Nggak semua dari kita mampu buat beli lagi. Tahu sendiri keadaan ekonomi saat ini,” tanya Raka menarik bangku dan ikut berkumpul bersama yang lain.


“Bu Rara suruh anggota inti kumpul di ruang OSIS.” Alkar menyampaikan informasi di tengah keheningan dan mempin jalan yang lainnya. Sudah ada Guru BK yang menunggu lalu masuk tanpa berbasa-basi lebih dulu.


“Ibu udah bilang sama kalian dari awal. Kalian ini belum resmi masuk sebagai ekstrakurikuler jadi nggak bisa seenaknya menggunakan papan skate. Sekarang, sudah begini dan ibu nggak bisa bantu apa-apa.”


Semua terdiam tertunduk mendengarkan, “Ibu dan Bian sudah seberusaha mungkin bicara dengan Kepala Sekolah. Jawaban sama saja karena kalian nggak punya wewenang di sini. Jadi, mau bagaimana? Ibu dapat kabar dari Raka kalau beberapa bulan ke depan ada lomba dan tanpa itu kalian nggak akan bisa latihan semaksimal mungkin,”


“Bulan berapa perlombaannya, Raka?”


“Selesai semester satu, Bu.”


Ibu Rara mengangguk, memandang kesepuluh anggota yang terdiam dan lebih memilih memandang lantai, “Waktu kalian masih banyak. Sekarang, ibu mau kalian fokus ke kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dulu. Bulan depan nanti ada turnamen antar sekolah, dan beberapa dari kalian akan mewakilinya.” Ibu Rara membolak-balikkan kertas berisi info tentang turnamen sekolah.


“Kalian ikut ekstrakurikuler olahraga apa aja?”


“Takraw, Basket, Voli, dan Futsal,” jawab Bian mewakilkan yang lainnya.


“Siapa aja itu?”


“Saya dan Zharif, Basket; Takraw, Raka; Voli, Ravel; Futsal, Gibran dan Alfar.” Kembali, Bian yang menjawab pertanyaannya sebab jabatannya sebagai ketua.


“Saya cheerleader, Bu.”


“Yang ikut turnamen kalian harus maksimalkan di sana dulu dan selebihnya yang tidak ikut, tolong dicari jalan keluarnya. Kalau ada masalah, hubungi ibu dulu, mengerti?” semua menjawabnya bersamaan.


“Karena belum ada informasi kejelasannya, untuk sekarang ini bagaimana rencana kalian menghadapi lomba tiga bulan mendatang?”


“Saya mau coba ngajukan proposal ke beberapa perusahaan, Bu. Begitu juga dengan para senior yang sudah sering bantu-bantu kami,” jawab Bian.


“Bantu kalian? Seberapa sering?”


“Berulang kali. Beberapa dari mereka juga pekerja dan memang visi dan misinya ingin menambah minat dalam kegiatan skateboard. Sebelumnya, basecamp kami juga sebagian dari bantuan mereka.”


“Kamu bisa menjaminnya?” Bian mengangguk dengan mantap, “Kalau begitu, nanti ibu juga usahakan dari teman-teman ibu yang lainnya. Karena, sebentar lagi waktu istirahat habis, kalian bisa kembali ke kelas,” sambung Ibu Rara memerintah. Mereka berpamitan dan pergi setelah memberi salam.


Baru saja keluar dari ruangan, mereka sudah di hadapkan pada suasana membingungkan. Adelia berdiri canggung, sementara yang lainnya tetap memandang untuk meminta kejelasan atas keinginannya datang.


“Ada apa, Del?” tanya Raka membuka pertanyaan. Ia memandang kedua temannya yang masih bersikap dingin karena adanya kesalahpahaman. Meski sudah mendapatkan kejelasan, tetap saja keduanya seolah tak mengenal.


“Ada yang mau gue bicarain sama Ravel,” jawab Adelia memandang Ravel yang memiliki lebam pada wajahnya. Tak hanya cowok itu, Bian juga memilikinya sebab semalam mereka meluapkan emosi di Ring atas saran dari Gibran, tetapi tetap saja keduanya bersikap dingin.


Ravel mengangguk, berjalan lebih dulu dengan kedua tangan berada di sakunya. Tapi, tak lama ia membalik badan memandang Bian, “Lo juga ikut,” ajaknya kembali melanjutkan perjalanan. Ketiganya saling mengikuti dalam jarak yang jauh, Ravel paling depan, Adelia di tengah dan Bian tetap dalam posisi mengikuti keduanya di urutan terakhir.


“Lebih cepat dari yang gue duga,” komentar Ravel menarik bangku dan duduk di depan Adelia.


“Kebetulan aja. Namanya Putra, satu kampus dengan kakak lo,” Adelia memperlihatkan foto Putra di handphonenya, “Kakak lo itu orangnya friendly, jadi semua hal tentang dia dengan mudah diceritakan. Gue tahu ini baru kemarin sore dan kakak lo kirim fotonya tadi pagi,” sambungnya.


“Terus bagaimana?”


“Gue nggak bisa cari sejauh itu. Tadinya gue mau minta tolong sama Raka tapi harus ada persetujuan dari lo dulu.” Ravel memberikan handphone Adelia kembali.


“Kalau bagusnya kayak gitu, gue nggak masalah. Tapi, sebenarnya gue cuma butuh informasi orangnya aja, selebihnya gue masih bisa cari cara.”


Adelia menganggukinya, “Gue mau tanya, sejak kapan kakak lo mulai kayak gitu?”


“Maksud lo mabuk-mabukkan dan sering ke diskotik?”


Bian melemparkan pandangan shok ke arah Ravel. Sejak tadi ia tidak mengerti alur pembicaraan keduanya, sampai akhirnya ia tahu sendiri ujung dari kesalahpahaman yang terjadi. Tetapi, tetap saja ia tidak percaya dengan apa yang didengar.


“Sebulan yang lalu? Kenapa? Ada yang janggal?”


“Lebih tepatnya gue tahu perubahan kakak lo karena si Putra. Kayaknya, lo memang harus selesaikan masalah ini dengan cepat.” Ravel menganggukinya, kemudian Adelia berpamitan meninggalkan Ravel dan Bian untuk berbicara.


“Jadi, sekarang lo udah tahu semua dan nggak perlu marah sama gue lagi.” Bian mengangkat kedua bahunya, mengikuti arah tujuan pandangan Ravel pada perkarangan sekolah, “Gue butuh bantuan lo, tapi nggak sekarang. Setelah semuanya selesai, gue bakal bicarain lagi,” sambung Ravel. Keduanya kembali ke kelas setelah melihat guru di ujung koridor.