Svoteens

Svoteens
Episode 7



“Yaelah, Bang. Kalau mau duit ya kerja. Kaki sama tangan masih lengkap loh kok malah ngemis,” celetuk Zharif spontan ketika mereka dihentikan oleh senior dan memalak uang mereka.


“Jangan sok pintar lo! Junior aja belagu.”


“Bukan masalah junior senior, Bro. Kami di sekolah bayar spp juga, berarti kami punya hak kebebasan di sini.”


“Lo nggak tahu siapa kami?”


Alfar tertawa sambil memandang Raka yang juga ikut memanasi keadaan, “Lo kenal dia, nggak?” tanya Alfar dan Raka menjawabnya dengan gelengan kepala, “Mau siapa lo, kami juga nggak peduli. Siapa elo itu bukan urusan kami. Mendingan sekarang menyingkir!” sambung Alfar melangkah mendekati musuhnya.


“Udah, cabut aja. Nggak guna juga ngurusi orang kayak gini.” Kali ini Zharif menyusul Alfar bahkan ingin mendahuluinya sampai ia kembali mundur akibat dorongan dari cowok bertubuh gempal tersebut.


“Maju satu langkah, lo akan tahu akibatnya.”


Raka, Alfar, Zharif dan Gibran tertawa mendengarnya, kemudian mereka saling memandang satu sama lain. Tawa keempatnya mereda, di tengah keheningan, mereka menantang musuh dengan melangkahkan kaki bersamaan.


Salah satu musuh ingin melakukan serangan, tetapi Zharif langsung menahan tangan tersebut, “Bukan di sini. Nanti malam, kita bertanding di Ring,” ucap Zharif mendorong orang tersebut dan membuat jalan untuk teman-temannya untuk lewat.


Dan suara tawa cewek membuat langkah mereka terhenti, “Ternyata, oh ternyata. Ada juga yang berani malakkin kalian ya?” tawa Sonya dengan tangan yang terlipat di dadanya, kali ini ia tidak sendiri, Sonya berdiri bersama dengan Rosla, Fio dan Adelia.


“Wah, neng Adel udah betah aja ya. Nggak mau gabung nih? Serius? Tawaran gak berlaku untuk dua kali loh,” tanya Raka. Adelia mendelik kesal dengan pertanyaan yang sama ketika keduanya bertemu.


“Nggak dua kali apanya, dari kemarin ketemu itu terus yang dibicarain.”


“Ntah. Nggak berbobot,” sahut Adelia membalikkan badannya dan kembali menatap mading yang dikerumuni banyak orang. Sonya dan Rosla menyusul untuk mencari nama mereka yang sejak tadi ketemu. Berbeda dengan Fio, dengan tubuhnya yang tinggi, ia begitu mudah untuk menemukannya.


“Ada berita apa? Tumbenan mading penuh gini.”


“Kelas di rombak. Ini data pembagian nama per kelas. Berdoa aja semoga kalian sekelas,” jawab Sonya memandang yang lainnya yang berhamburan mendekati mading. Bahkan untuk melihat nama saja, mereka harus saling mendorong dan menginjak kaki teman di sampingnya.


“Tumbuh kok ke samping,” ejek Bian meletakkan tangannya di pundak Rosla. Tetapi, bukan hanya Rosla yang tersindir, Adelia yang mendengarnya mencebik tidak suka, “Oh iya, lo juga bocil ya. Sorry kalau kesindir, emang maksud gue gitu,” sambungnya melempar ejekan pada Adelia juga.


“Adelia Khanza Foriska. Lo masuk di kelas IPS 2” Adelia langsung mengalihkan pandangannya pada Ravel yang sudah melangkah pergi menemui Izar. Cowok itu selalu tidak bisa tertebak, bagaikan jelangkung yang hadir dan pergi begitu saja.


“Lo sekelas sama Zharif, Raka, Alkar dan Okta kalau nggak salah. Gue IPS 3, ya setidaknya kita sebelahan kelasnya,” ucap Rosla kemudian menarik Adelia untuk mencari keberadaan kelas mereka.


“Kelas gue biangnya masalah nih. Rusuh terus nantinya.”


“Bagus! Biar nggak bosen belajarnya.”


“Itu sih memangnya mau lo yang nggak mau belajar,” ejek Adelia menendang pelan kaki Rosla, sementara yang ditendang membalasnya dengan kekehan.


*****


“Woahhh!! Bener ya, rumput tetangga lebih hijau dibandingkan di halaman sendiri,” celetuk Gibran, memperlihatkan sebagian kepalanya pada kelas yang di atasnya tertulis IPS 2. Tidak tanggung-tanggung, ia mengeluarkan suara yang besar hingga seisi kelas memalingkan wajah ke arah pintu.


Gibran langsung masuk ke kelas setelah menemukan teman-temannya yang sedang duduk di bangku paling belakang, “Bosen gue di sana. Nggak ada hiburan,” celetuknya mengambil bangku dan membawanya mendekat ke bangku Zharif.


Gibran memperhatikan sekeliling kelas yang ramai, kemudian beralih pada Zharif dan Raka yang masih bermain game, “Si Adelia, Alkar dan Okta ke mana?” tanyanya setelah tak berhasil menemukan orang yang dicarinya.


“Alkar sama Okta ke perpustakaan. Kalau Adelia lagi sama Ketua kelas, ngurusi masalah kelas.”


Di tengah keasikan bermain game, Raka mengumpat karena panggilan seseorang hingga membuat permainannya terhenti. Namun akhirnya, ia hanya menghela nafas ketika nama Bian muncul di layarnya. Dengan tak enak hati, Raka mengangkat panggilan tersebut, “Jangan nonton nggak bener terus lo. Ke perpustakaan sini, bantuin anak kelas lo bawa buku,” perintah Bian yang langsung memutuskan sambungan tanpa mau mendengar penolakan dari Raka.


“Cabut! Di suruh ke perpus, sebelum bos ngamuk.” Raka mendahului, melangkah sambil memasukkan handphonenya ke saku celananya.


“Baru tahu gue kalau si Adelia bawel,” kata Zharif ketika melihat Adelia yang sedang berdebat dengan Ketua Kelas mereka di depan ruang guru. Keduanya sama-sama tidak mau kalah, bahkan tidak memperdulikan Zharif, Raka dan Gibran yang sedang lewat.


“Jangankan dia, gue juga kesal lihat itu cowok dari awal. Lebih parahnya lagi, dia keras kepala, nggak bisa dengarin pendapat orang.”


“Tapi bukannya kalian voting? Kenapa nggak Alkar atau Okta?”


“Voting? Yang benar aja, baru juga datang udah ditunjuk pengurus kelasnya.”


“Dia bukannya anak donatur ya?” tanya Zharif yang diangguki oleh Raka. Ya, Raka apa saja tahu tentang informasi yang jarang diketahui orang.


“Okta sama Alkar di belakang. Kalian nanti bawa buku-buku di depan ini.” Baru saja masuk ke perpustakaan, Bian sudah memberi perintah dan menunjuk pada buku-buku yang sudah tersusun menurut mata pelajaran.


“Gebetan lo sama cowok lain tadi tuh.” Gibran menepuk pundak Bian yang sedang memperhatikan Izar - berbicara dengan pengurus perpustakaan -.


“Tahu lah dia, mereka berdua tadi ke sini kok. Kan, Bu Rara.”


“Serius? Mantap tuh, punya wali kelas perhatian gitu,” sahut Gibran lalu meninggalkan kerumunan temannya, menemui Okta yang masih menyusun buku paket Bahasa Indonesia.


Gibran hanya memperhatikan Okta, “Kenapa? Jarang-jarang lo kayak gini,” tanya Okta, memandang Gibran yang masih berdiri di tempatnya.


“Lo masih kerja di sana?” Okta mengangguk, memahami maksud dari pembicaraan Gibran. Ia mengambil beberapa buku dan memberikannya ke Gibran, kemudian sisanya Okta mengangkat dan menyimpannya di meja dengan Gibran yang mengikutinya.


“Belum ada penerimaan karyawan baru. Tapi gue punya kawan, dia juga lagi coba buka bisnis dan kabarnya lagi cari karyawan. Pulang sekolah, lo kosong?”


Gibran meletakkan buku-buku di atas meja, “Bukannya kita latihan hari ini?” tanya Gibran dan Okta menggelengkan kepalanya.


“Beberapa ekstrakurikuler udah mulai hari ini, jadi di tunda. Tanya aja tuh ke ketua.” Bian yang merasa terpanggil mendekat dan menggerakkan kepalanya menanyakan maksud keduanya menyebut namanya.


“Nanti nggak jadi latihan?”


“Oh, enggak. Kita ambil Sabtu dan Minggu aja. Kalau masalah ngumpul, ya sebisanya aja.”


“Gue izin ya nanti, ada urusan,” ucap Gibran.


“Aman.Gue cabut dulu, mau ke Rooftop.” Gibran memandang Okta meminta penjelasan, pasalnya hanya Bian yang pergi sementara teman nya yang lain masih berada di perpustakaan.


“Pantes. Mukanya asem gitu. Gue kira dia dekat sebatas teman aja.” Okta mengangkat kedua bahunya, kemudian melenggang menyusul Alkar yang kesusahan membawa buku-buku.


“Ternyata, setiap orang punya masalah tersendiri. Dikira gue aja yang hidupnya paling menderita,” kata Gibran mengalihkan dirinya ke teman-temannya yang sedang mengangkat buku-buku untuk di bawa ke kelas masing-masing.


*****


“Betah amat lu di sini sendirian, dicariin sama Adelia tadi,” ucap Sonya menuntup kembali pintu rooftop dan mendekati Bian yang duduk di sudut bangunan, memperhatikan kendaraan berlalu lalang.


“Udah ketahuan bohongnya lo. Mana mungkin dia cariin gue.”


“Bener kan tebakan gue, lo mah kalau badmood pasti urusan sama cewek. Bian mah semuanya bisa kecuali urusan cewek. Belajar sama Zharif sono,” goda Sonya meletakkan minuman dingin di tangan Bian kemudian membuka minumannya dan meneguknya.


“Tahu dari mana lo?”


“Dari... Rosla. Si Adelia cerita ke Rosla terus gue kepo.” Bian hanya diam, tidak merespon perkataan Sonya. Masih asik memerhatikan jalanan meski pikirannya sedang berkelana, “Tapi menurut gue, yang di bilang Adelia ada benarnya,” sambungnya membuat Bian spontan menoleh ke arah Sonya.


“Dia bilang apa?”


“Lo tahu sendiri dia baru aja putus dari Hargi, ya dia nggak mau kalau hubungan lo nantinya dibilang pelampiasan aja buat berhenti berurusan sama Hargi.”


“Persetan sama omongan orang. Nggak peduli gue.”


“Itu menurut lo. Seharusnya lo bisa terima pendapatnya dia, apalagi si Hargi udah tahu kalau kita dalang nya di balik putusnya mereka. Tinggal tunggu waktu aja si Hargi balas dendam.”


“Jadi maksud lo dia mau meminimalisir keadaan? Kok itu cewek bodoh banget sih, Hargi nggak akan pernah bisa di baik-baikkin, yang ada dia dijadikan umpan.”


“Heran gue, cewek yang lo suka di katain gitu.”


“Coba lo pikir, dari awal udah gue kasih tahu, jangan lagi tanggapin si Hargi. Ngeyel nya kebangetan, heran gue lihatnya,” sahut Bian meneguk habis minumannya.


“Ada satu informasi lagi yang mau gue bilang, dan gue yakin lo pasti bakal marah besar dengarnya,” Bian menatap Sonya, menunggu cewek itu untuk menjelaskan maksud dari perkataannya yang membuat ia penasaran. Baru saja ingin menjawab, suara pintu terbuka dengan kasar, Raka muncul dengan wajah kelelahannya akibat terburu-buru menaiki anak tangga.


“Bos! Adel balikan sama Hargi,” ucap Raka dengan nafas yang tidak teratur. Bian menghela nafas gusar, menjatuhkan tubuhnya menentuh lantai dan menatap langit-langit yang sudah keabu-abuan.


Sementara, Sonya dan Raka saling memandang berbicara dari hati ke hati hingga keduanya memilih meninggalkan Bian sendirian di rooftop untuk memperbaiki moodnya.


Bian menutup matanya, menikmati keheningan dengan hembusan angin yang membuat udara semakin dingin. Tetapi, barang yang terlempar dan mengenai perutnya berhasil membuat moodnya semakin buruk.


Ravel berdiri di sana, memandang Bian sambil memakai sarung tinjunya. Menunggu Bian yang menerima tantangannya untuk melampiaskan kemarahan. Ravel bukan seperti yang lainnya, ia sosok yang paling berbeda. Bukannya memberikan nasihat atau menyemangati, ia lebih mengajak Bian untuk meluapkan kemarahannya.


“Tawaran gue nggak berlaku dua kali.”


Bian berdiri di tempatnya, kemudian mengambil sarung tinju di bawah kakinya dan mulai memasang sarung tinju di kedua tangannya, “Sejak kapan lo ke sekolah lebih milih bawa ini ketimbang buku,” tanya Bian melakukan pukulan Cross, karena pukulan yang tiba-tiba itu, Ravel tidak mampu untuk mengindarinya.


“Sadis lo. Gue belum siap juga,” celetuk Ravel meregangkan kembali otot-otot lehernya dan mengambil posisi, “Kata anak-anak lo baru kali ini kayak gini, untuk urusan hati lagi. Bucin lo,” sambungnya tanpa mengeluarkan wajah mengejeknya.


“Nggak peduli gue. Sebentar lagi juga gue lupain masalah ini”


Keduanya saling melemparkan pertanyaan dan menjawab di sela-sela penyerangan yang mereka lakukan, “Jadi rencana lo setelah ini apa?”


“Lanjutin keinginan dia. Kembali asing contohnya.”


“Yakin lo?”


“Dia aja yakin dengan rencana bodohnya, kenapa gue harus nggak yakin.”


Ravel mengangkat kedua bahunya, kemudian keduanya saling menyerang tanpa membawa istilah sebagai sahabat. Tidak memperdulikan wajah satu sama lain yang sudah menimbulkan memar-memar.


*****


“Bude Nun! Teh obengnya 2 ya!” teriak Alfar yang berhasil membuat suasana kantin tambah ramai.


“Okay Bang!” Orang disebut Alfar mengangkat jempolnya kemudian kembali sibuk melayani pembeli yang sedang berbaris menunggu antrian.


“Yang lain pada ke mana?” tanya Bian membuka baju seragamnya, menyisakan kaos putih yang sudah basah karena keringatnya. Gibran yang baru datang, memberikan es batu kepada Bian dan Ravel untuk mengompres lebam pada wajah keduanya.


“Masih pada di jalan katanya, anak kelas IPS 2 masih pada rapat dengan wali kelas mereka.”


“Sonya?” tanya Bian meneguk habis teh obeng yang baru saja diantarkan.


“Sonya lagi sama Rosla di bangku belakang. Katanya nanti kalau gabung, si ehem canggung gitu,” jawab Alfar mengangkat kepalanya menunjuk pada bangku yang diduduki Rosla dan Sonya.


Satu per satu anggota inti Svoteens datang, dengan diikuti Adelia dari belakang yang meski masih berjarak jauh dengan mereka, “Mau ke mana, Del?” tanya Raka membuka percakapan seolah berbasa-basi.


“Ke belakang. Duluan ya.” Di tengah berlalunya Adelia, mereka pada melemparkan tawa untuk Raka dan menjahilinya. Yang sebenarnya tidak ditujukan untuk cowok itu, melainkan pada Bian yang sejak tadi hanya diam tak merespon.


“Ngebet bener lo putus hubungan sama si Adel, Bos. Udah langsung hapus pertemanan aja.”


“Baru tahu gue kalau Ketua Svoteens kekanakan gini,” komentar Izar yang berhasil membuat Bian melemparkan tatapan menghunus, “Ya itu udah keputusan dia, nggak seharusnya karena hal ini lo sampai memutuskan hubungan. Lo berhak marah, tapi jangan kekanakan,” sambungnya. Bian tidak segan-segan melemparkan batu es yang kecil dan berhasil mengenai kepala Izar.


“Mulut lo nggak pernah disteril ya? Asem banget,” protes Bian mengambil teh obeng di depannya, tanpa peduli siapa pemiliknya dan ikhlas atau tidaknya.


“Eh, 15 menit lagi mau Dzuhur. Cabut! Ke masjid!” satu per satu mereka bangkit dari tempat, tinggal Okta yang sendiri kebingungan karena ia berbeda kepercayaan dari yang lainnya. Sampai akhirnya, Okta menyusul dan lebih menunggu di luar masjid sambil bermain gawai.