Svoteens

Svoteens
Episode 3



Diantara pencapaian dan proses


Banyak dari orang yang menyukai hasil yang dicapai.


Bukan proses yang dilaluinya untuk menghasilkan apa yang dia inginkan.


Padahal, mereka nggak sadar saja bahwa berkat proses itulah mengajarkan mereka untuk menjadi orang yang kuat.


*****


Kali ini, lapangan yang biasanya terlihat ramai hanya karena kegiatan olahraga berubah seketika dengan kehebohan dari ujung ke ujung. Beberapa dari mereka sibuk membagikan brosur atau menjelaskan hal-hal yang bersangkutan pada orang yang berdatangan. Bukan, mempromosikan barang atau makan ataupun event. Kegiatan kali ini sudah menjadi kegiatan utama di sekolah pada tahun ajaran baru untuk menyambut siswa dan siswi baru.


Sejak sore kemarin, mereka sudah disibukkan dalam mencapai keberhasilan untuk hari ini. Dan setidaknya, mereka bersyukur karena kali ini tidak ada stand yang memiliki masalah. Berbeda dengan sebelumnya yang hancur karena angin kencang serta hujan atau pula dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.


“Gue keliling dulu ya, mau ambil dokumentasi buat OSIS,” ucap Alkar yang menyerahkan brosur di tangannya kepada Bian.


“Oh iya, lo kan OSIS. Tapi, lo bawa kamera?”


“Ada. Gue simpan di mobil tadi. Sorry nggak bisa bantu sampai akhir.”


“Santai aja kali, yang lain juga masih ada.”


Alkar melangkahkan kakinya pergi dan Bian kembali menemui satu per satu siswa-siswi yang masih mengenakan seragam sekolah dari SMP asalnya.


“Lo Bian? Ketua Svoteens, 'kan?” Bian menaikkan sebelah alisnya pada cewek dengan rambut sebahu yang baru saja menerima brosur darinya. Bian tidak mengenali cewek itu, tetapi dari pakaian dan tanda garis dua biru di lengan seragam cewek itu membuatnya yakin bahwa mereka seangkatan.


“Sorry, lo siapa?”


“Gue Dastin Pratiwi,” jawabnya mengedarkan pandangan orang yang dikenalnya karena ia datang bukan datang tanpa tujuan.


“Justin?”


Dastin memutar kesal bola matanya, selalu saja ada orang yang salah mendengar ketika ia menyebutkan namanya. “Dastin bukan Justin. Tolong ya, D sama J itu dibedakan,” protes Dastin kemudian lebih memilih meninggalkan Bian dan menuju pada Raka yang berada di belakang stand.


“Eh, lo datang juga? Gue pikir lo bakal nolak mentah-mentah tawaran gue,” sambut Raka menyuruh Dastin untuk duduk di depannya dengan meja kecil di antara keduanya. Dastin masih terlalu fokus mengedarkan pandangannya ke sekeliling, menikmati dekorasi yang berbeda dari banyaknya stand yang lain.


Mereka menyediakan stand yang menarik perhatian, beberapa jejeran skateboard disusun dengan rapi. Dan lebih menarik perhatian, mobil jenis VW Campervan dengan gambar skateboar di badan mobil serta tulisan Svoteens di bawahnya.


“Ini formulir pendaftarannya,” ucap Raka dengan senyuman simpulnya


“Maksud lo?”


“Tanpa lo bilang juga gue udah tahu kalau lo bakal bergabung,” jawab Raka bangkit dan meletakkan pulpen di atas kertas formulir pendaftaran nya, “Sonya! Tolong temani dia buat isi data ya,” sambung Raka pada Sonya yang sejak tadi hanya memerhatikan kegiatan teman-temannya yang lain.


“Dia? Mau gabung? Lo serius?” tanya Sonya tak percaya setelah meneliti pakaian Dastin yang terlihat tak biasa dari yang lainnya.


“Kenapa? Mata lo minta di congkel ya?! Nggak sopan menilai orang kayak gitu,” sahut Dastin dengan sensi, menatap Sonya balik sambil melipat kedua tangannya. Sampai akhirnya, Sonya tersenyum lebar menyalurkan tangannya dan bukannya membalas, Dastin hanya menatap tangan Sonya kemudian memandang dengan alis mengerut.


“Lo langsung diterima tanpa seleksi. Selamat! Gue suka sama tipe cewek kayak lo. Ayo gue bantu isi datanya." Sonya menarik tangan Dastin untuk menjabat tangan nya, lalu mengambil kursi dan duduk bersebelahan dengan Dastin, “Gue sering kesal sama cewek-cewek yang bergabung cuma untuk kepopuleran apalagi cari perhatian sama anak-anak cowoknya. Jadi, kalau cewek harus benar-benar gue seleksi,” sambung Sonya menjelaskan sikapnya tadi. Dastin menganggukinya dan mulai mengisi data yang tak terlalu berlebihan itu.


“Nanti gue undang ke grup buat informasi selanjutnya.”


Baru saja ingin bangkit pergi, Raka datang menghalangi jalannya. “Udah isi 'kan? Karena lo udah resmi masuk, jadi tolong bantuin ya," ucap Raka tanpa persetujuan dari Dastin, cowok itu langsung menariknya untuk keluar dan menghadapi lapangan yang bertambah ramai.


*****


“Di sini deh kayaknya.”


Kedua cewek itu memerhatikan stand di depan mereka yang sebagian besar adalah kaum adam, berbaris menunggu antrian untuk mendaftar. Stand paling sederhana dari yang lainnya, belum lagi anggota resminya bersikap tidak peduli dan lebih disibukkan dengan urusan masing-masing.


“Lo yakin? Mau daftar ke ekstrakurikuler ini? Dari pandangan gue aja udah agak gimana gitu.”


“Heh, jangan menilai sesuatu dari penampilan luarnya. Ayo, temani gue ngantri!” keduanya mengambil antrian untuk masuk ke ekstrakurikuler lari. Dan baru saja ingin mengambil duduk, pandangan tidak mengenakan langsung di dapati oleh keduanya.


“Lo mau masuk? Yakin? Kalau nggak bisa mending mundur, jangan bebani orang.”


“Maksud lo apa? Semua orang juga berhak kali pilih sesuai dengan keinginannya.”


“Lo anak kelas berapa sih? Belagu kali jadi cewek, untung aja lo cewek.”


“Emang kenapa kalau gue cewek? Lo pikir gue takut. Cowok kayak lo itu yang pantas disebut sampah! Pengecut! Gue Rosla Fara kelas sebelas IPS. Cari gue kalau lo udah siap.” Rosla Fara, cewek itu langsung menarik sahabatnya untuk meninggalkan tempat yang baginya memuakkan. Biarlah, ia tidak peduli ketika banyak sepasang mata yang memerhatikannya. Setidaknya ia ingin memberi tahu kalau mereka akan berakhir dengan penyesalan jika masih tetap dengan pilihan itu.


“Keren! Dari tahun ke tahun nggak ada perubahan mereka itu, makin bobrok.” Sonya yang menyaksikan perdebatan tadi berakhir mengangkat jempolnya kearah Rosla yang melemparkan pandangan membingungkan, “By the way, lo berdua seangkatan sama gue, 'kan? Kenapa baru pilih ekstrakurikuler?” sambung Sonya menatap ke arah dua cewek di hadapannya bergantian.


“Bukan gue. Cuma Rosla aja, dia baru pindah soalnya.”


“Oh iya, nama lo siapa?”


“Gue Adelia Feronika.”


Sonya menganggukinya kemudian memberikan brosur kepada Rosla yang sejak tadi mengamati beberapa stand lainnya. “Mau coba lihat punya kami? Kalau mau, ayo masuk biar gue jelaskan,” ucap Sonya menggerakkan kepalanya menunjukkan pada standnya yang berada di belakangnya.


Rosla melangkahkan kakinya, karena sebenarnya sejak tadi ia begitu tertarik ketika melihatnya tetapi ia tak begitu yakin setelah melihat spanduk dengan gambar skateboard. “Gue mau lihat-lihat dulu ya, nanti gue temani lo lagi.” Adelia memisahkan dirinya ke bagian koleksi dan perlengkapan untuk skateboard.


“Mau bergabung?” baru saja beberapa beberapa menit melihat-lihat, suara cowok membuatnya membalikkan badan dengan terseyum canggung.


“Enggak. Gue cuma mau lihat-lihat aja.”


“Yakin? Cuma mau lihat? Nggak ada niat mau bergabung gitu?” Gibran kembali melontarkan penawaran yang di jawab Adelia dengan gelengan kepala.


“Gue nggak bakal bisa. Hobi gue itu cuma diam di tempat dan fokus sama satu hal aja.”


“Biar gue tebak, pasti lo anak sastra?” tebakan Gibran diangguki oleh Adelia yang kemudian kembali fokus dengan berbagai jenis papan skateboard, “Sorry, gue nggak bisa temani lo lama-lama. Nanti teman gue suruh gantiin deh, kali aja lo bisa ada keinginan buat gabung,” sambung Gibran berlalu meninggalkan Adelia yang kembali meneliti pandangan di depannya.


“Kayaknya lo tertarik sama barang-barang itu." Kedatangan cowok dengan kulit putih itu membuat Adelia tersenyum menganggukinya, “Gue Raka. Nama lo?” Raka menyalurkan tangannya yang dibalas oleh Adelia.


“Adelia.”


Raka menganggukinya. “Oke, Adelia. Ada yang mau lo tanyakan?” tanya Raka mengambil duduk dan mengamati Adelia dengan senyuman tipis.


“Gue bisa beli papan skateboard yang itu nggak?”


Raka mengikuti pandangan mengikuti arah pandangan Adelia yang menatap pada papan skateboard dengan desain serigala. “Ah, sorry-sorry gue gak bisa bantu lo buat dapatin itu papan. Sumpah, yang punya sama buasnya kayak desain itu gambar,” jawab Raka yang langsung panik karena papan skateboard itu kesayangannya Bian.


“Yah, gak boleh ya?”


“Sorry. Lo kan cewek ambil yang cocok sama lo aja deh, biar gue bantu sama yang punya. Soalnya, semua papan skateboard di sini udah ada yang punya.”


Baru saja ingin membujuk Adelia, keduanya dikejutkan dengan kedatangan Bian yang tiba-tiba dengan menanyakan hal yang terjadi sambil menepuk pundak Raka.


“Ada apaan sih? Gue lihatin dari tadi lo kayak ada masalah,” tanya Bian memandang Raka dan punggung Adelia yang masih memperhatikan desain pada papan skateboard di depannya.


“Lo bicara sama dia deh, Bos. Soalnya, gue nggak bakal bisa bantu. Tahu sendiri gue orangnya nggak enakan.”


“Emang dia mau apa?”


“Papan Skateboard kesayangan lo tuh.” Bian mengangguk setelah mendapatkan informasi dari Raka mengenai cewek dengan rambut sepinggang di hadapannya.


“Kalau lo mau, gue bisa tunjukkin toko yang bisa buat lo puas dengan desain keinginan lo sendiri.”


“Maksud lo, bisa request desain gitu ya?” tanya Adelia langsung membalikkan badan dan tak dapat menahan keterkejutannya ketika melihat orang yang berbeda. Ia melirik kebelakang cowok di depannya yang di mana Raka sudah tidak ada lagi di tempatnya.


“Ya sesuai yang lo bilang, nggak hanya papan skateboard sih. Tokonya juga menyediakan semua peralatannya.”


“Kalau sepatunya gitu ada juga?”


“Ada. Lo mau cari model cowok? Soalnya dari lo yang tertarik sama papan gue, itu bukan untuk style cewek.”


“Ya emang bukan buat gue sih. Emang buat cowok. Eh, jadi itu papan skatenya punya lo?” tanya Adelia yang diangguki oleh Bian dengan antusias.


“Jadi, berminat? Kalau mau, simpan kontak lo nanti kalau sempat gue temani. Soalnya kalau nggak langganan harganya lebih tinggi.”


Adelia mengiyakan, mengambil handphone Bian dan menyimpan nomornya. Hingga kedatangan Rosla menghentikan percakapan keduanya dengan Adelia yang lebih dulu berpamitan.